NASKAH DRAMA POHON TREMBESI
NASKAH DRAMA
POHON TREMBESI
IZZUL ISLAM AZALINA
Tokoh:
Pak Kilan
Istri Pak Kilan
BAGIAN 1
Pada hari yang telah ditentukan para
warga berkumpul di area yang cukup luas dekat dengan pohon Trembesi dan kebun
buah-buahan milik desa, semua berkumpul untuk merayakan hari panen raya setelah
musim panen telah usai. Mereka membawa segala hasil bumi untuk dikumpulka dan
dibagikan kembali kepada seluruh warga desa.
PAK KADES NAIK KE ATAS PANGGUNG DAN
MEMULAI PIDATONYA KEPADA SELURUH WARGA YANG HADIR
Pak Kades : (Membenarkan posisi celannya yang agak kendor karena
perutnya yang buncit)
Assalamu’alaikum wr wb, hadirins semuanya pada hari ini kita sangat
berbahagia, dimana usaha kita selama satu musim telah dibuhkan hasil yang baik
oleh Tuhan. Kita harus tetap bersyukur kepada yang ada di atas, semua
berkat-Nya dan kekuasaan-Nya. Semua yang telah kita hasilkan selama satu musim
telah kita syukuri dengan membawa apa yang ada ke lapangan ini. Tetapi kebun
yang ada di samping kita harus tetap terawat. Oleh karena itu, saya menunjuk
dari salah satu warga yang harus meawat tempat ini dan juga kebun milik desa agar tetap bisa menghasilkan panen yang
melimpah untuk kita semua. Apakah kalian setuju?
Warga :
Setujuuuuuu!!!
WARGA MEMBUBARKAN DIRI DAN KEPALA DESA TURUN DARI PANGGUNG MENEMUI
SALAH SEORANG WARGA YANG BERNAMA SUKILAN ATAU BIASA DIPANGGIL PAK KILAN
Pak Kades : (Berjalan menuju bawah Pohon Trembesi diaman Pak Kilan dan
istrinya duduk memegangi cangkul)
Apakah
bapak sudah ada pekerjaan untuk bulan ini?
Pak Kilan : Jangankan pekerjaan pak, tenaga untuk bekerja saja kami
tidak ada. Untuk hari ini saja kami belum makan dari kemarin malam. Bukankah
begitu istriku?
Istri Pak Kilan : Betul apa yang dikatakan oleh suamiku Pak
Kades, harta yang kami miliki hanya gubuk reyot dari bambu di sebelah sana dan
juga cangkul ini pak.
Pak Kades : Baiklah, saya mengerti bagaimana kondisi Pak Kilan dan juga
istri. Sebenarnya sudah lama saya ingin menawarkan pekerjaan ini untuk bapak,
tapi karena sebelumnya kami kira belum perlu orang untuk mengurus kebun
buah-bauhan ini dan juga sumber air yang ada di sebelah sana (Sambil menujukkan
tempat sumber yang biasa digunakan oleh warga desa) Pohon Trembesi pun juga
perlu dirawat juga.
Pak Kilan : (Menundukan kepala sejenak sambil memegangi cangkul dan
kemudian mendongak menghadap Pak Kades memasang wajah memelas) Kami sangat
senang mendengarkan kabar gembira ini, tapi tidak ada yang bisa kami makan lagi
pak?
Pak Kades : (Memandang wajah bapak Sukilan dan mengela napas
panjang)Untuk seminggu pertama kalian berdua dapat makan ditempatku setelah itu
bapak akan mendapatkan imbalan pertama, gunakan sebaiknya agar dapat cukup
sampai akhir bulan.
PAK KADES MENINGGALKAN PAK KILAN DAN JUGA ISTRINYA, MEREKA BERDUA TETAP
BERADA DI BAWAH POHON TREMBESI
Istri Pak Kilan : Bagaimana kita bisa merawat tempat ini pak?
Bukankah berita sudah beredar dimana-mana?
Pak Kilan : Iya bagaimana lagi istriku? Tidak ada pekerjaan lagi yang
bisa kita kerjakan, semua sudah kita usahakan. Lihatlah! Hanya cangkul pada
diriku.
Istri Pak Kilan : Baik pak, kita pulang dulu sebelum matahari
terbenam.
Bagian
2
AMANAT
YANG SUDAH DISAMPAIKAN PAK KADES KEPADA PAK KILAN SUDAH DILAKUKANNYA BERSAMA
SANG ISTRI, MEREKA BERDUA SETIAP PAGI MEMBERSIHKAN KEBUN BUAH-BUAHAN DAN JUGA
MERAWAT POHON AGAR TIDAK TERSERANG HAMA, SETIAP SORE KEMBALI KETEMPAT TERSEBUT
UNTUK MENJENGUK SUMBER AIR YANG BIASA DIGUNAKAN OLEH WARGA DESA
Pagi
hari
(Lampu
panggung dimatikan untuk menunggu Pak Kilan dan istrinya masuk dan siap dengan
posisi di bawah pohon Trembesi setelah membersihkan kebun buah)
Istri Pak Kilan :“Pak hidup kita kok begini-begini saja ya pak,
apa bapak tidak bosan setiap pagi hanya pergi ke kebun membersihkan kebun”
Pak Kilan : “Ya mau gimana lagi buk, kitakan hanya orang miskin yang
mendapat belaskasihan, masih untung kita tidak mati kelaparan di gubuk itu,
sudah untung kita masih diberi pekerjaan oleh Pak Kades untuk menggarap kebun
ini”
Istri Pak Kilan : (KESAMPING MEMBELAKANGI PAK KILAN) “Aku
kepingin hidup lebih untung lagi pak, memang menjadi orang miskin tidak enak,
tapi terus terjebak dalam kemiskinan merupakan prinsip orang yang bodoh tanpa
mau berusaha untuk meninggalkan kemiskinan, pak”
Pak Kilan : (MENDATANGI ISTRINYA) “Jalan mana lagi yang harus kita
tempuh istriku, semua sudah kita lakukan tanpa membuahkan hasil apa-apa, coba
kau ingat kembali”
Istri Pak Kilan : “Tapi masih ada yang belum kita lakukan pak,
hanya satu, satu . . .”
Pak Kilan : “Apa itu istriku, hanya satu yang kita lakukan?”
Istri Pak Kilan : “Hanya satu perilaku, pak”
Pak Kilan : “Hanya satu?”
Istri Pak Kilan : “iya, hanya satu pak”
Pak Kilan : “Hanya satu cara?”
Istri Pak Kilan : “Apakah
bapak tidak berfikir untuk melakukan hal yang lebih mudah untuk menjadi kaya
seperti yang dilakukan oleh orang lain, mereka yang di luar sana meminta
kekayaan kepada sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan luar biasa, tetapi
harus melalu ritual agar apa yang kita inginkan dapat terwujud pak”
Pak Kilan : (MERASA
BINGUNG) “Bukankah perbuatan tersebut melanggar syariat islam?”
Istri Pak Kilan : “Sekarang
bukan saatnya berbicara tentang agama pak, keadaan kita yang sekarang ini sudah
tidak penting membicarakan hal yang berbau syariat yang terpenting bagaimana
sekarang kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan”
Pak Kilan : “Aku tidak
pernah ingin malukan hal yang berbau maksiat, sudah cukup apa yang telah
terjadi kepada orang-orang yang melanggar aturan Tuhan, mereka telah tersiksa
untuk itu, apakah kau tidak menjadikan pelajaran untuk dirimu, bagaimana Tuhan
telah menegur hamba-Nya yang tidak taat”(MENINGGALKAN ISTRINYA SENDIRI DI BAWAH
POHON TREMBESI, MEMBAWA CANGKUL KERJANYA KEMUDIAN PULANG KE RUMAH)
Istri Pak Kilan : (MELIHAT
KEPADA POHON TREMBESI DENGAN TERDIAM SEOLAH-OLAH MENGHARAPKAN SESUATU) “Aku
sudah tidak ingin hidup miskin seperti ini”
Bagian 3
(Lampu
menyorot kepada istri pak Kilan)
ISTRI
PAK KILAN TETAP TERMENUNG DI BAWAH POHON TERSEBUT SAMPAI LARUT MALAM (TERDENGAR
SUARA JENGGONGAN ANJING HUTAN YANG SAMAR-SAMAR SALING BERSAUTAN) TERLIHAT ISTRI
PAK KILAN DENGAN POSISI DUDUK BERSILA DI BAWAH POHON BERKOMAT-KAMIT MEMBACA
MANTRA.
(HEMBUSAN
ANGIN TIBA-TIBA MENJADI LEBIH KENCANG DAN TERDENGAR DESISAN-DESISAN SEPERTI
ORANG YANG MEMILIKI TUBUH BESAR DAN SUARANYA TERDENGAR BERAT)
(Muncul
bayangan-bayangan yang mencoba mendekati istri pak Kilan dan menjauh, datang
lagi dan menjauh juga, berulang berkali-kali)
(Lampu
menjadi merah dan terdengar suara tangisan seperti seorang anak kecil)
MUSIK
MUNCUL DENGAN MENANDAKANSUARA YANG KACAU
ISTRI
PAK KILAN TETAP DUDUK TANPA MENGHIRAUKAN KEADAAN DI SEKITARNYA
ANGIN
SEMAKIN KENCANG MENGHEMBUS POHON-POHON BERGOYANG TANPA ARAH, SUARA GEMURUH
BEGITU KERAS, ANJING-ANJING ALAS BERSAUTAN TIADA HENTI, LAMPU MERAH
BERGERAK-GERAK MENANDAKAN KONDISI YANG SANGAT KACAU
TIBA-TIBA
MUNCUL SUARA TAK TAU ARAH
“AAAAHHHHHHHHH,
AAAAAAHHHHHHH, ENGKAU TERMASUK ORANG-ORANG YANG MERUGI, JALAN YANG KAU PILIH,
SALAAAHHH”
MUNCUL
SUARA HENTAKAN KAKI
ISTRI
PAK KILAN DIDATANGI MAHLUK YANG MEMILKI PERAWAKAN BESAR HITAM TINGGI BANYAK
MEMILIKI BULU DISELURUH BADANNYA, SELURUH TUBUH ISTRI PAK KILAN DISELIMUTI OLEH
MAHLUK TERSEBUT DAN . . . .MENGHILANG BERSAMANYA.
TIDAK
TAU KEMANA PERGI ISTRI PAK KILAN
PAK
KILAN TERLIHAT BERLARI MENUJU POHON TREMBESI TERSEBUT
Pak
Kilan : “ISTRIIIIIKKKKUUUUUUU,
ISTRIIIIIIIKKKUUUUU, DIMANA KAU?, KEMANA KAU?, JANGAN TINGGALKAN AKU SENDIRI,
TEMPAT DI LUAR SANA TIDAK AMAN BAGIMU, (menangis di atas batu samping pohon
Trembesi)
PAK
KILAN BERDIRI DAN BERGUMAN MERASAKAN KESEDIHAN DITINGGAL PERGI ISTRINYA
TERDENGAR
SUARA TERIAKAN YANG BERASAL DARI BALIK POHON TERMBESI
“Aaaaaaaaaaaarrrrrrrrkkkkkkkk”
PAK
KILAN MELIHAT APA YANG TERJADI DAN TERLIHAT SANGAT KAGET MENUTUP MULUT DENGAN
KEDUA TANGANNYA, BERLARI MENUJU TEMPAT ISTRINYA TERGELETAK DAN MEMBAWA KE DEPAN
PANGGUNG,
Pak
Kilan : “Bangunlah istriku,
bangunlah”
“Dulu, kita pernah berada di tepian terjauh sebuah
jarak, kau berlarian disepanjangnya, mulutmu memberi isyarat jika kau sedang
berteriak-teriak, menyampaikan sesuatu padaku, entah tentang apa, aku hanya
mampu sedikit menebak jika kau sedang bekerja keras mengertikan hal penting
padaku. Tapi hal itu lenyap diantara jarak yang begitu jauh. Apalagi di tepiku
terlalu riuh, di sini terlalu bising, aku melihatmu tapi aku tak bias
mendengarmu. Kau tak ingat semua itu?
Istriku, kenapa kau diam? bukankah jarak telah sepakat kita jadikan mayat, bicaralah, teriaklah, sekeras-kerasnya, sejadi-jadinya. Kekasihku, Kekasihku, Kekasihku ... Setelah begitu dekat, kenapa kau jadi membisu. Jika kau tak mampu lagi berteriak, berbisiklah, di tempat sunyi begini bisikmu tentu akan terdengar, tentu akan sempat kudengar.
Sayangku, berbisiklah, kita telah di tepi yang sama. Sebelum sama-sama kita berangkatkan keinginan kembali hidup yang lebih baik. Bukankah kau ingin sekali hidup yang lebih baik dari sebelumnya? Kau masih belum lupa bukan. Berbisiklah istriku. Rasanya sudah sangat lama tak mendengar mesrah suaramu, apalagi degup kemarahanmu yang selalu membuatku berpulang pada kesadaran memperbaiki diri dan memperbaikkan yang tidak baik. Berbisiklah sayang, kita tak akan pernah bias menjalin hubungan dalam diam begini. Kekasihku, masih sanggupkah kau berdiam? Istriku, Istriku ...”
LALU PAK KILAN DATANG MENDEKAT DENGAN ISTRINYA YANG TERGELETAK DI DEPANNYA DAN MENGELUS WAJAHNYA
“Istriku, Istriku, Istriku, ... (Kepedihannya membabi buta)"
IA BERTERIAK MENGHIDUPI KEPERGIAN ISTRINYA SEMBARI MENANGIS. MATANYA MULAI MELIHAT PADA DAHAN DAN RANTITNG POHON TREMBESI SEOLAH MENYIMPAN DENDAM YANG BEGITU DALAM. BERIRING MUSIK YANG KEMBALI TUMBUH DARI RONGGOA-RONGGA UDARA. LALU PERLAHAN ALUNAN KEHARUAN ITU MEREDUP.
“Kekasihku, seperti inikah caramu memperdalam rasa sayangku untukmu? Kau pikir dengan berdiam aku akan berhenti menyayangimu? Kau pikir dengan kebisuanmu aku akan kembali hidup seperti semula: tidak! Aku akan selalu bersamamu istriku. Kau dengar istriku? Aku akan selalu bersamamu.”
Istriku, kenapa kau diam? bukankah jarak telah sepakat kita jadikan mayat, bicaralah, teriaklah, sekeras-kerasnya, sejadi-jadinya. Kekasihku, Kekasihku, Kekasihku ... Setelah begitu dekat, kenapa kau jadi membisu. Jika kau tak mampu lagi berteriak, berbisiklah, di tempat sunyi begini bisikmu tentu akan terdengar, tentu akan sempat kudengar.
Sayangku, berbisiklah, kita telah di tepi yang sama. Sebelum sama-sama kita berangkatkan keinginan kembali hidup yang lebih baik. Bukankah kau ingin sekali hidup yang lebih baik dari sebelumnya? Kau masih belum lupa bukan. Berbisiklah istriku. Rasanya sudah sangat lama tak mendengar mesrah suaramu, apalagi degup kemarahanmu yang selalu membuatku berpulang pada kesadaran memperbaiki diri dan memperbaikkan yang tidak baik. Berbisiklah sayang, kita tak akan pernah bias menjalin hubungan dalam diam begini. Kekasihku, masih sanggupkah kau berdiam? Istriku, Istriku ...”
LALU PAK KILAN DATANG MENDEKAT DENGAN ISTRINYA YANG TERGELETAK DI DEPANNYA DAN MENGELUS WAJAHNYA
“Istriku, Istriku, Istriku, ... (Kepedihannya membabi buta)"
IA BERTERIAK MENGHIDUPI KEPERGIAN ISTRINYA SEMBARI MENANGIS. MATANYA MULAI MELIHAT PADA DAHAN DAN RANTITNG POHON TREMBESI SEOLAH MENYIMPAN DENDAM YANG BEGITU DALAM. BERIRING MUSIK YANG KEMBALI TUMBUH DARI RONGGOA-RONGGA UDARA. LALU PERLAHAN ALUNAN KEHARUAN ITU MEREDUP.
“Kekasihku, seperti inikah caramu memperdalam rasa sayangku untukmu? Kau pikir dengan berdiam aku akan berhenti menyayangimu? Kau pikir dengan kebisuanmu aku akan kembali hidup seperti semula: tidak! Aku akan selalu bersamamu istriku. Kau dengar istriku? Aku akan selalu bersamamu.”
IA PANDANGI KEKASIHNYA. DENGAN SENYUM-SENYUM MUNGIL,
KEPEDIHANNYA TERASA SEMAKIN PAHIT. DIAMBILNYA PARANG DI SEBELAH KANAN TUBUHNYA,
IA AMBIL RANTING-RANTING YANG CUKUP BESAR DAN MELETAKKAN DI SAMPING ISTRINYA.
MENGAMBIL TALI PADA SAKUNYA DAN MENGIKAT RANTING TERSEBUT PADA TUBUH ISTRINYA.
IA KEMBALI PADA RANTING DAN MENGIKATKAN TALI DAN MENYAMBUNGKAN PADA TUBUH
ISTRINYA. SOROT MATA DAN SENYUMAN PAHIT MENGANTARNYA PADA KEKASIHNYA. IA
MEMANDANG SEKUJUR TUBUHNYA. LALU, MUSIK MENINGGI, MENGIRING. MENGIRINGI
PANDANGAN PAK KILAN DENGAN PENUH RASA.
TUBUH ISTRINYA TIDAK MAU BERDIRI, TETAP TIDAK BERDAYA
YANG HANYA SEONGKOK DAGING MENGGANTUNG DI BAWAH POHON TREMBESI. SOROT MATANYA
ADALAH KEKECEWAAN.IA TAK MENEMUKAN KESEPAKATAN DENGAN KEKASIHNYA. LALU, GETAR
TUBUHNYA BERHENTI. KEMARAHANNYA MELEDAK.
“Kau sungguh keterlaluan sayang! Ketika udara adalah hirup yang menembus jantung yang telah kita sepakatkan hidup dari satu degup saja, kau masih saja berdiam. Lihatlah tempat itu (batu), meski kini hanya tertinggal kekosongan, tempat itu begitu gencar bercerita tentang kenangan, begitu riuh dengan masa lalu, lihatlah, dengarlah! Dulu kau selalu bilang: “sayang, buanglah kenangan itu ke tong sampah, sebaik-baik kenangan adalah seburuk-buruk keinginan, seindah-indah masa lalu adalah sepahit-pahit kenyataan. Tong sampah adalah tempat yang tepat untuk yang telah usai, hanya yang tak punya pilihan yang sanggup untuk memulung harapan dari tong sampah. Sebab segalanya telah tertanam di dalammu.” Kau juga sering membentakku untuk tidak berlama-lama di depan cermin, pemandangan tubuh tak memberi apapun pada harapan. Lalu kau lempar cangkul dan sebilah parang ke depan pintu, mengantarkan isyarat untuk segera bergegas ke ladang, katamu: “Bukan hanya melihat, kau juga harus merasakan, mendengarkan dan memberikan kebaikan untuk sesuatu di luar diri sendiri. Cermin bukanlah diri sendiri. Cermin itu adalah kenyataan. Dirimu adalah kenyataan darimu.”
Oh kekasihku sayang, bicaralah.”
LALU MATANYA KEMBALI PADA MURKA. KECEWA YANG TELAH MATANG. AMBIL PARANG KEMBALI PADA DIRINYA DAN MEMEGANG ERAT-ERAT BENDA TERSEBUT, KEMUDIAN MENDATANGI POHON TREMBESI YANG BEGITU BESAR. IA AYUNKAN PARANG PADA DIRINYA KEPADA POHON TERSEBUT, BERKALI-KALI SAMPAI DIRINYA TIDAK KUAT PADA AYUNAN BERIKUTNYA, IA MENYIMPAN DENDAM BEGITU DALAM. KEMBALI PADA TUBUH ISTRINYA YANG MENGGANTUNG DI BAWAH POHON.
“Butuh berapa cinta untuk membangkitkanmu, butuh berapa derita untuk membuatmu kembali mengerti betapa berharganya hidup, butuh berapa kesalahan untuk menuntaskan kerinduanku akan kemarahanmu, butuh berapa penjara untuk melahirkan pemberontakanmu! Apa dengan kebisingan yang sebegini pesing kau masih tega berdiam dan biasa-biasa saja!”
Ia terdiam, menatap tajam ke tubuh istrinya yang tak berdaya. Mengambil tali dan mengikatkan pada pohon trembesi tersebut.
“Inikah dirimu sayang, inikah tubuh terakhirku yang aku persembahkan untukmu? Inikah degup yang terakhir kali aku perdengarkan untukmu? Sebegini rumitkah kau, kekasihku ... ?”
“Kau sungguh keterlaluan sayang! Ketika udara adalah hirup yang menembus jantung yang telah kita sepakatkan hidup dari satu degup saja, kau masih saja berdiam. Lihatlah tempat itu (batu), meski kini hanya tertinggal kekosongan, tempat itu begitu gencar bercerita tentang kenangan, begitu riuh dengan masa lalu, lihatlah, dengarlah! Dulu kau selalu bilang: “sayang, buanglah kenangan itu ke tong sampah, sebaik-baik kenangan adalah seburuk-buruk keinginan, seindah-indah masa lalu adalah sepahit-pahit kenyataan. Tong sampah adalah tempat yang tepat untuk yang telah usai, hanya yang tak punya pilihan yang sanggup untuk memulung harapan dari tong sampah. Sebab segalanya telah tertanam di dalammu.” Kau juga sering membentakku untuk tidak berlama-lama di depan cermin, pemandangan tubuh tak memberi apapun pada harapan. Lalu kau lempar cangkul dan sebilah parang ke depan pintu, mengantarkan isyarat untuk segera bergegas ke ladang, katamu: “Bukan hanya melihat, kau juga harus merasakan, mendengarkan dan memberikan kebaikan untuk sesuatu di luar diri sendiri. Cermin bukanlah diri sendiri. Cermin itu adalah kenyataan. Dirimu adalah kenyataan darimu.”
Oh kekasihku sayang, bicaralah.”
LALU MATANYA KEMBALI PADA MURKA. KECEWA YANG TELAH MATANG. AMBIL PARANG KEMBALI PADA DIRINYA DAN MEMEGANG ERAT-ERAT BENDA TERSEBUT, KEMUDIAN MENDATANGI POHON TREMBESI YANG BEGITU BESAR. IA AYUNKAN PARANG PADA DIRINYA KEPADA POHON TERSEBUT, BERKALI-KALI SAMPAI DIRINYA TIDAK KUAT PADA AYUNAN BERIKUTNYA, IA MENYIMPAN DENDAM BEGITU DALAM. KEMBALI PADA TUBUH ISTRINYA YANG MENGGANTUNG DI BAWAH POHON.
“Butuh berapa cinta untuk membangkitkanmu, butuh berapa derita untuk membuatmu kembali mengerti betapa berharganya hidup, butuh berapa kesalahan untuk menuntaskan kerinduanku akan kemarahanmu, butuh berapa penjara untuk melahirkan pemberontakanmu! Apa dengan kebisingan yang sebegini pesing kau masih tega berdiam dan biasa-biasa saja!”
Ia terdiam, menatap tajam ke tubuh istrinya yang tak berdaya. Mengambil tali dan mengikatkan pada pohon trembesi tersebut.
“Inikah dirimu sayang, inikah tubuh terakhirku yang aku persembahkan untukmu? Inikah degup yang terakhir kali aku perdengarkan untukmu? Sebegini rumitkah kau, kekasihku ... ?”
DIIRINGI MUSIK YANG SENDU SEMAKIN MEMUNCAK
IA BERJALAN SANGAT PELAN MENGAMBIL BATU, MELETAKKAN DAN IA NAIK KE ATAS
BATU TERSEBUT, MERAPATKAN TALI DAN MELETAKKAN PADA BAGIAN LEHER TUBUHNYA. iA
MEMANDANGI UNTUK TERAKHIR KALINYA TUBUH ISTRINYA YANG ADA DI SAMPINGNYA. iA
MELOMPAT DARI BATU YANG IA PIJAK DAN IKUT MENGGANTUNG BERSAMA ISTRINYA.
MUSIK SUDAH PADA PUNCAKNYA DAN BERAKHIR DIIKUTI DENGAN LAMPU PANGGUNG YANG
IKUT MATI.
- SELESAI -
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi