NASKAH DRAMA PRAHARA KAKAO














PRAHARA KAKAO
Qurrota Akyun


DRAMA SATU BABAK
PRAHARA KAKAO
QURROTA AKYUN

Sinopsis: Drama ini menceritakan kehidupan seorang anak laki-laki yang hidup serba kekurangan bernama Bima. Keadaan keluarganya sangat memprihatinkan yaitu Emak, Bima, dan Lili. Ayahnya sudah lama meninggal sehingga Bima putus sekolah untuk mencari barang-barang bekas.
Dimulai pada pagi hari, Emak dan Bima sedang berdialog sambil sarapan. Sarapan seadanya tanpa meja. Emak menyuruh Bima ke sekolah untuk belajar meskipun dari kaca jendela. Bima tidak mau karena malu dan sering ditertawakan siswa di sekolah itu. Bima pergi mencari barang maupun botol bekas.  Suatu ketika, Bima memulung dan melewati sekolah yang biasa ia datangi. Bima bertabrakan dengan salah satu anak yang sekolah sampai tersungkur, terjadi saat waktu pulang sekolah. Orangtua anak itu marah besar kepada Bima. Orangtua anak itu adalah seorang pengusaha yang cukup sukses di daerah itu. Pengusaha tersebut memaki-maki Bima atas ketidakpantasan Bima berada di sekitar sekolah tersebut. Watak pengusaha sangat berbeda dengan yang sering ia perlihatkan kepada msyarakat luas. Tujuannya untuk membangun citra baik di masyarakat. Setelah kejadian tersebut, Bima sering melamun. Bima melamun andai saja dia hidup berkecukupan, maka ia bisa sekolah, menuntut ilmu, tidak perlu susah payah memulung demi sesuap nasi untuk bertiga. Bima tidak akan mendengar cacian manusia-manusia sombong. Bima mendapatkan bantuan dari pamannya untuk sekolah. Kemudian ia melanjutkan sekolah sampai SMA. Lalu melanjukan ke Univeristas, dan mendapat banyak prestasi. Sehingga keluarga Bima keadaannya menjadi lebih baik



Siang yang terik, tiga petani kakao sedang beristirahat setelah bekerja keras bagai kuda sejak pagi buta. Mereka berjalan dengan gontai menuju salah satu gubug, di mana mereka menaruh bekal. Pak Cece membuang nafas besar sambil membuka caping lalu duduk sambil mengipas-ngipaskan caping pada tubuhnya. Pak Ibas dan Pak Santo ikut menyusul Pak Cece berjalan menuju gubug.
Pak Cece         : (duduk sambil mengipas-ngipaskan caping pada tubuhnya )                                    “ Gustii, panas sekali hari ini! Ini apa lagi nih?” (menyentil                                ulat kecil yang ikut dari berkebun dan mengusap kaos yang                              ditempeli ulat)
Pak Ibas          : (sambil duduk di kanan pak Cece) “Ada apa Pak Ce, kok                             heboh dewe”
Pak Cece         : “Ini lo ada ulat yang biasa ada di daun kakao, baru saja                                 nempel di kaos.” (sambil menunjuk ulat yang sudah                                             dibuang di tanah) 
Pak Santo        : (duduk di sebelah kanan pak Ibas) “Kalo itu yo wes biasa                            lah Pak. Setiap hari juga ke kebun to.”
Pak Cece         : “Iya, takut kalau gatal nanti”
Pak Ibas          : “Udah Pak, santai ae. Bisa dibilang, kita ini udah kebal                                 dengan hal begituan.”
Pak Santo        : “Ya Pak, setiap hari kita kan selalu di sini. Jadi kebal dengan                     hal-hal bawaan kebun.”
Pak Cece         : “Ya wes, monggo kita makan siang dulu.” (mengambil bekal                        dan membuka bungkusan nasi yang dibawa dari rumah)
Pak Ibas dan Pak Santo ikut membuka bungkusan nasi masing-masing. Bungkusan dari daun pisang, isinya nasi dan lauk tahu tempe telur dan tak lupa ada sambel klotok khas nya orang ke kebun atau ke sawah. Mereka memakan bekal sambil berbincang-bincang.
Pak Santo        : “Saya jadi ingat, ada cerita yang dulu sedang terkenal di                              internet. Kalau ndak salah namanya Mbok Minah, pernah                               mengambil tiga buah kakao. Lalu dipenjarakan karena                            ketahuan pak mandor yang sedang berkeliling .”
Pak Cece         : “Ohh cerita itu to, itu sudah lama sekali. Sepele sekali, tetapi                        akibatnya sampai dipenjara.”
Pak Ibas          : “Parah sekali sih itu Pak, padahal kabarnya si Mbok Minah                                    itu sudah minta maaf dan sudah dikembalikan kakao itu pada                          mandornya. Tapi si mandor ini melaporkan ke pihak                                               perkebunan dan dibawa kasus itu ke pengadilan.”
Pak Santo        : “Itu bagaimana ya, kok bisa sampai dipenjara? Apa karena                                     hukum yang bisa dibeli?”
Pak Cece         : “Bukan begitu, memang secara peraturan perundang-undangan, Mbok Minah bersalah. Itu kan termasuk tindakan mencuri toh Pak. Itupun hakimnya dengan berat hati memberikan sanksi hukum tersebut lantaran hal tersebut sepele sekali. Tetapi pihak perkebunan yang tidak punya hati, membawa kasus tersebut ke meja hijau, padahal kakaonya sudah dikembalikan. Dengan berat hati, hakim memberikan Mbok Minah hukuman bui selama satu bulan 15 hari.”
Pak Ibas          : “Tapi ya Pak, kalau kata saya, si Mandor ini tidak punya hati, tidak punya belas kasihan.” (nada mulai meninggi)
Pak Santo        : “Tidak punya hati bagaimana toh Pak, si Mandor kan bekerja sesuai tanggung jawabnya. Apabila ada kesalahan maupun terjadi sesuatu, tentunya akan menjadi tanggung jawab si Mandor. Bukan begitu? ”
Pak Ibas          : “Ya tidak punya hati toh Pak, si Mbok ini kan sudah tua dan masih berusaha untuk mencari makan dengan bekerja keliling, serabutan. Tua renta dan hidup kekurangan. Kok ya tega melaporkan pada pihak perkebunan demi diadili dengan benar. Kalau si Mandor berperikemanusiaan ya pasti dibiarkan saja, toh barang kakao yang diambil pun sudah dikembalikan. Mengapa harus diperpanjang lagi?”
Pak Santo        : “Ya itu, mungkin mereka melaporkan pada pihak kepolisian untuk memperingatkan semua orang agar tidak menyepelekan.”
Pak Ibas          : “Tetap saja, kalaupun mau melaporkan ya harus lihat-lihat, siapakah dan mana kasus yang perlu diangkat pada meja hijau.”
Pak Cece         : “Bapak-bapak, kita mengapa berdebat panjang seperti ini, mereka melaporkan pada pihak kepolisian juga pasti ada alasannya kan. Mungkin mereka ingin memperingatkan semua orang, kalau setiap perbuatan akan ada akibatnya. Mungkin supaya semua orang tau bahwa perkebunan mereka tidak bisa disepelekan.” (menata posisi tempat duduk agar lebih nyaman, sambil melerai pak Santo dan pak Ibas) 
Pak Santo        : “Kalau begitu, seharusnya peraturan harus lebih dirinci lagi ya. Seberapa besar kasus yang diangkat pada meja hijau. Agar tidak kejadian lagi ceritanya Mbok Minah."
            Pak Ibas sudah menghabiskan bekal makan siang dan membuang bungkus di keranjang tempat sampah. Disusul Pak Santo dan Pak Cece juga sudah selesai. Kemudian satu persatu minum air putih dalam botol 1,5 liter.
Pak Santo        : “Alhamdulillah, sudah kenyang saya. Kalau begini, setelah                         makan memang paling enak untuk tidur.” (sambil mengusap-              usap perut yang sedikit buncit akibat kekenyangan)
Pak Ibas          : “Ya, mumpung masih ada waktu”
Pak Cece         : “Nah, berarti dari cerita Mbok Minah tadi kita bisa ambil                pelajarannya. Ndak usah aneh-aneh, kalau memang itu bukan               milik kita ya nggak usah diambil.”
Pak Santo        : “Ya, karena hukum tajam ke bawah tumpul ke atas.”
Pak Ibas          : (sambil menyenggol pundak pak Santo) “Waduh, seperti tau                    saja artinya Pak Pak.”
Pak Santo        : “Sudah, tidak apa-apa Pak, namanya juga pernah sekolah.              Supaya gaya sedikit, boleh lah.”
Ketika mereka bertiga sedang bersantai sambil menunggu makanan tercerna dengan baik, tiba-tiba seorang anak berlari dengan tergesa-gesa. Lalu disusul oleh seorang di belakangnya terlihat mengejar anak tersebut. 
Pak Mandor : (berlari terengah-engah mengejar anak yg berlari di depannya, sambil berteriak pada anak itu) “Woi! Berhenti!!”
Pak Cece, Pak Ibas, dan Pak Santo yang melihat peristiwa kejar-kejaran tersebut langsung menangkap anak kecil tersebut. Lalu disusul si Mandor dengan nafas yang terengah-engah. Pak Cece memegang lengan anak kecil itu, sedangkan yang lainnya berdiri di samping mengerubung anak kecil itu. 
Riki                 : “Lepaskan, ihh lepaskan aku.” (meronta-ronta) "Lepaskan aku Pak." (nada memelas karena lelah) 
Pak Cece         : “Tidak, kamu kenapa berlari-larian?”
Pak Mandor    : “Akhirnya kamu kena juga, lelah saya mengejar mu”
Pak Cece         : “Nama kamu siapa, Nak. Mengapa kamu dikejar-kejar?”
Riki                 : “Saya Riki.” (menjawab singkat dan suara pelan)
Pak Ibas          : Loh Rik, kamu kenapa bisa di sini. Dimarahi bapakmu lho nanti, keluyuran sampai jauh.
Pak Mandor    : “Bocah ingusan ini, baru saja ketahuan oleh saya mau mengambil kakao di perkebunan.”
Pak Cece         : “Astaghfirullah. Benar itu nak? Kamu mengambil kakao?”
Riki                 : “Saya tidak mengambil kok. Saya tadi baru mau mengambil, belum sampai mengambil sudah dikejar bapak ini. Ya saya lari lah.”
Pak Mandor    : “Halahh, kamu itu masih kecil sudah mengambil yang bukan milikmu. Kalau besar nanti kamu mau jadi apa? Mau jadi pencuri? Masih orok gini sudah macam-macam” (berkata dengan marah)
Pak Ibas          : “Hei Rik, minta maaf dulu.”
Riki                 : “Maaf, maafkan saya.” (nada pelan seperti akan menangis)
Pak Mandor    : “Maaf, maaf.” (nada mengegas) “Enak saja kamu hanya minta maaf, kamu kira perkebunan ini milik nenek moyang mu apa? Senaknya saja hanya mau minta maaf.” (sambil marah dan memaki riki)
Pak Santo        : “Sudahlah Pak, maafkan saja anak ini.” (nada pelan untuk membujuk pak Mandor)
Pak Mandor    : “Tidak! Sekarang kamu ikut saya saja ke kantor polisi. Biar kamu tau akibatnya.” (nada keras)
Riki                 : “Tidak mau!”
Pak Mandor    : “Ayo! Ikut aku sekarang juga.” (sambil menarik tangan Riki dari tangan pak Cece)
Pak Cece, Pak Ibas, dan Pak Santo : “Lho lho Pak. Tunggu dulu.” (Pak Ibas menari tangan Riki sebelah, pak Mandor terhenti begitu juga Riki)
Pak Cece         : “Kasihan Pak. Riki kan masih kecil, bagaimana mungkin dia mau dilaporkan ke kantor polisi. Lagipula, anak ini tidak mengambil hanya saja mau, belum sampai terambil.”
Pak Ibas          : “Lebih baik kita selesaikan saja di sini.”
Pak Mandor    : “Tidak bisa! Hal ini sudah menjadi tanggung jawab  saya sebagai mandor di perkebunan ini." (sambil menunjuk-nunjuk tanah)
Pak Santo        : Tanggung jawab ya tanggung jawab, Pak. Tapi, tetap memiliki kemanusiaan. Anak kecil dipenjara itu memangnya berpengaruh apa pada pihak perkebunan?
Pak Cece         : Tolong lah Pak. Tidak perlu dilaporkan ke pihak berwajib.
Pak Ibas          : Begini saja, Pak. Bagaimana kalau kami saja yang menyelesaikan masalah ini. Kami yang akan memberitahu anak ini. Agar tidak mengulangi perbuatan seperti tadi.
Pak Santo        : Tolong Pak Mandor. Biarkan kami saja yang menyelesaikan permasalahan anak ini. Anak ini masih kecil, kalau sampai dipenjara nanti masa depannya bagaimana? Bisa saja masa depan Riki ini rusak akibat memiliki riwayat pernah dipenjara, padahal masalah tersebut adalah hal yang sepele.
Pak Mandor    : (nada menurun sambil berpikir) Hmm, bagaimana ya. Tapi ini masih menjadi tanggung jawab saya. Apabila masalah ini sering terjadi, maka perkebunan akan rugi. Dan akan banyak orang yang semakin berani mencuri di perkebunan ini. Saya tidak mau hal itu terjadi.
Pak Ibas          : Kami akan berbicara pada anak ini, agar dia tidak lagi mengulangi perbuatan seperti tadi dan seterusnya. Biarkan masalah ini tidak diperpanjang, karena apabila sampai ke pihak yang berwajib toh memerlukan biaya juga.
Pak Santo        : Boleh ya Pak Mandor. (nada membujuk)
Pak Mandor    : Baiklah kalau begitu. Saya akan menyerahkan masalah ini pada kalian bertiga. Beritahu anak ini agar tidak datang lagi untuk mencuri di perkebunan.”
Pak Cece         : “Terima kasih Pak Mandor, hati-hati di jalan.”
Pak Mandor    : “Ya, kalian jangan lama-lama. Setelah selesai, segera kembali ke kebun!”
Pak Santo        : “Baik Pak.”
Setelah Pak Mandor pergi, Pak Ibas menarik Riki untuk ikut ke gubug, diikuti dengan Pak Cece dan Pak Santo. Kemudian mereka duduk mengelilingi Riki yang berada di tengah.
Pak Ibas          : “Rik, sekarang kamu cerit dulu sama Pak Dhe, kamu tadi kenapa? Ceritakan detailnya, kalo tidak pak Dhe aduin ke bapak kamu loh ya.”
Riki                 : “Jangan laa Pak Dhe, jangan aduin Riki pada Bapak. Bapak kan    serem banget kalau marah-marah.”
Pak Santo        : “Makanya, kamu ceritain yang benar. Kejadiannya seperti apa tadi, gara-gara ngambil satu buah saja sampai dikejar kamu? Benar itu?”
Riki                 : “Tadi Riki sedang main-main di sekitar perkebunan. Karena Riki penasaran sekali dengan coklat yang ada di pohon,  jadi saya ambil satu dong Pak Dhe. Selama ini aku hanya tau coklat di minimarket tapi belum pernah merasakan.”
Pak Cece         : “Coklat yang di minimarket itu berbeda dengan yang di kebun. Coklat di minimarket itu sudah dimasak, sudah dikasih gula dan tambahan-tambahan lain. Kalau yang di kebun rasanya ya pahit.”
Pak Santo        : “Kenapa penasaran segala, pahit masih saja dicoba.”
Riki                 : “Saya kan tidak tahu Pak Dhe. Kalau say tahu ya saya tidak mengambil. Rasanya pahit lagi.”
Pak Ibas          : “Kamu sekarang sudah tau kan? Kalau begitu jangan berani mengambil di sini ya. Perkebunan ini milik orang, bukan punya bapak kamu. Kamu tidak bisa seenaknya mengambil yang bukan milikmu, meskipun itu tak seberapa.”
Pak Santo        : “Lain kali jangan diulangi lagi ya, kamu bisa dipenjara kalau sampai mengulanginya lagi. Karena hukum di negara ini tidak jelas.”
Pak Cece         : “Kita kalau salah sedikit, bisa saja kena hukuman. Jangan sampai itu terjadi pada kita.”
Riki                 : “Sudah ya Pak Dhe, saya mau pergi main lagi. Bosan saya diceramahin mulu.”
Pak Ibas          : “Sebentar, pengen main pergi saja. Kamu janji dulu, tidak akan mengambil yang bukan milikmu.”
Pak Santo        : “Kamu jangan nakal seperti tadi lagi ya.”
Riki                 : “Iya, iya Pak Dhe. Tidak akan saya ulangi lagi.”
Pak Ibas          : “Awas ya, kalau sampai nakal. Nanti bakal saya aduin ke bapak kamu. Biar kamu dimarahi bapak kamu sampai kapok.”
Riki                 : “Yahhh, jangan laa Pak Dhe. Takut kalau bapak marah. Serem sekali.”
Pak Cece         : “Ya makanya, jangan nakal lagi.”
Riki                 : “Iya deh Pak Dhe.”
Pak Ibas          : “Ya sudah. Kamu main lagi sana. Jangan macem-macem lo.”
Riki                 : (menyalami dan mencium punggung tangan Pak Ibas, Pak Cece, dan Pak Santo ) “Pergi duluan ya Pak Dhe, Assalamualaikum.”
Pak Cece, Pak Ibas, dan Pak Santo : “Waalaikumsalam. Hati-hati” (sambil melambai pada Riki)
Pak Santo        : “Alhamdulillah, masalah ini tidak sampai ke meja hijau.”
Pak Cece         : “Memang ya, kalau diselesaikan secara kekeluargaan akan lebih damai.”
Pak Ibas          : “Alhamdulillah Pak, tidak harus susah-susah berurusan dengan hukum di negara ini.”
Pak Santo        : “Sudah Pak, ayo kembali bekerja merawat kakao-kakao di sini.”

Profil Penulis
Qurrota Akyun, lahir di kota yang terkenal dengan kota santri yaitu Jombang pada 4 September 1998 dan tinggal bersama orangtua di Jombang. Qurrota Akyun telah menempuh pendidikan sejak SD, SMP, dan SMA di kota kelahirannya. Merantau ke kota Malang untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi di Universitas Negeri Malang.


Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK