NASKAH DRAMA RAPUH
RAPUH
ROFIAD DAROJAD DIYANINGSIH
TOKOH
DAN PENOKOHAN
1. Amika:
seorang gadis yang hidupnya sangat bergantung pada ibunya. Saat dia dalam masa
yang sulit ia mudah percaya dengan orang lain. Namun dalam hal kehormatan dan
harga diri dia selalu berpegang teguh akan menjaganya.
2. Ibu
Tanti: Seorang janda sekaligus ibu yang setia kepada suami dan anak gadisnya. Seorang
wanita pekerja keras dan penyayang yang senantiasa menjaga kehormatannya.
3. Ibu
Astri: Seorang mucikari yang sangat rakus, pembohong, kejam, dan sombong. Dia
akan melakukan apapun demi uang.
4. Dua
pengawal bu Astri: setia kepada majikannya
5. Pak
Kartono: seorang pengusaha yang suka bermain wanita
RAPUH
BABAK
I
MALAM HARI DI KEDIAMAN
AMIKA DAN IBUNYA
ADEGAN
1
AMIKA DAN IBUNYA DUDUK
BERDUA DI RUANG KELUARGA, ENTAH KENAPA IBU AMIKA TIBA-TIBA MERASA KHAWATIR
MELIHAT ANAK GADISNYA
Ibu Amika: (mengelus
lembut kepala putrinya) “Nak, kamu adalah satu-satunya harta yang paling
berharga untuk ibu, kamu sekarang sudah dewasa, ibu harap kamu bisa jaga diri
baik-baik. Selalu jadi anak kesayangan ibu ya nak, jadilah perempuan yang
senantiasa menjaga kehormatannya walaupun harus dengan tangannya sendiri. Ibu
tidak bisa selamanya menjaga Amika.”
Amika: “Ibu jangan bicara
seperti itu, Amika masih membutuhkan ibu.”
Ibu Amika: “Amika, kamu
tahu sendiri, ibu ini sakit-sakitan, ibu bisa pergi kapan saja.”
Amika: “Ibu tega
meninggalkan Amika sendiri, Amika takut bu.” (memeluk erat ibunya)
Ibu Amika: “Kamu tidak
perlu takut nak, kamu pasti bisa, anak ibu ini perempuan yang hebat.” (mengelus
lembut kepala putrinya)
ADEGAN
II
DI RUMAH AMIKA, TEPATNYA
DI KAMAR IBUNYA, DI SAAT AMIKA MEMBUKA PINTU IBUNYA MASIH TERTIDUR LELAP
Amika: “Bu, ibu, bangun
bu sarapannya sudah siap.” (mengetuk pintu)
Karena tidak ada jawaban,
Amika masuk ke kamar ibunya
Amika: “Ibuuu, sayangnya
Amika, bangun bu.. sarapannya siap, ada nasi goreng kesukaan Ibu.” (sambil
mengelus-ngelus rambut ibunya)
Ibunya tak kunjung bangun,
Amika panik dan menangis
Amika: “Ibuu… Ibuuu…Ibuuuuuuuu
(mengoyak-ngoyak tubuh ibunya).”
IBU AMIKA TELAH TIADA.
ADEGAN
III
AMIKA BERMAIN PIANO DI
DEPAN JASAD IBUNYA DENGAN EMOSIONAL PENUH KESEDIHAN, RAMBUTNYA AWUT-AWUTAN, AIR
MATANYA MENGALIR DERAS. (DI DALAM ADEGAN INI MENUNJUKKAN AMIKA YANG SANGAT
FRUSTASI DENGAN KEPERGIAN IBUNYA YANG MENDADAK ITU)
BABAK
II
ADEGAN
I
DUA MINGGU KEMUDIAN,
SETELAH KEPERGIAN IBU AMIKA YANG MENGGORESKAN LUKA BEGITU DALAM. TIBA-TIBA ADA
SESEORANG YANG DATANG KE RUMAH AMIKA
Seseorang: “Thok…thok…thok…Assalamualaikum”
(suara dari luar rumah)
Amika: “Waalaikumsalam” (membukakan pintu)
Seseorang: “Hai gadis
cantik, saya Ibu Astri, boleh saya masuk?” (penampilan layaknya orang kaya dan
membawa dun pengawal)
Amika: “Iya silahkan.”
(membukakan pintu lebih lebar)
Bu Astri: “Kamu ini gadis
yang sangat malang, kamu jangan menambah kemalanganmu dengan berdiam diri di
rumah, kamu harus bangkit nak, kamu tidak boleh seperti ini.” (duduk di kursi)
Anak Buah: (berdiri di
belakang bu Astri)
Amika: (masih terdiam)
Bu Astri: “Ibu dengar
kamu sangat lihai memainkan piano?”
Amika: “Tapi saya sudah
berhenti bermain piano Bu.” (raut muka acuh)
Bu Astri: “Kamu harus
mengasahnya lagi nak, kalau kamu seperti ini terus, ibumu akan sedih di sana.”
(merayu)
Amika: (berpikir sejenak)
“Benar juga ya, pasti ibu kecewa denganku kalau aku terus meratap seperti ini” (bicara dalam
hati)
Bu Astri: “Sudahlah,
tidak usah berpikir lama-lama, saya akan membuat karir kamu menjadi gemilang
lagi.” (mencoba meyakinkan)
Amika: “Bagaimana saya
bisa mempercayai ibu? Dan apa yang harus saya lakukan Bu?” (menatap bu Astri)
Bu Astri: “Saya ini orang
baik-baik, setelah ini kamu ikut saya, kamu akan saya jadikan pianis di kafe saya, bagaimana?” (dengan
wajah yang begitu meyakinkan)
Amika: “Baiklah, saya
ikut dengan anda.”
ADEGAN
II
AMIKA DIBAWA KE HOTEL
OLEH BU ASTRI, NAIK KE LANTAI TIGA DAN MASUK KE KAMAR NOMOR 305, AMIKA
DIBERIKAN KEPADA LAKI-LAKI HIDUNG BELANG BERNAMA PAK KARTONO
Pak kartono; (mencoba
menyentuh Amika)
Amika: “Jangan sentuh
saya atau saya akan bunuh diri.”
Pak Kartono: “Kamu ini
sudah saya bayar mahal, kamu tidak hanya akan saya sentuh nantinya,
hahahahahaha.” (tertawa terbahak2)
Amika: “Biadab! Apa-apaan
ini, anda menjual saya?” (menunjuk Bu Astri)
Bu Astri: (tertawa
terbahak-bahak) “Daripada kamu mati sia-sia karena kemalanganmu, mending saya
jual dulu baru kamu mati, kan lumayan.”
Amika: (matanya melotot)
“Ternyata anda lebih menjijikkan daripada anjing kelaparan (meludah) lebih baik saya mati karena
kemalangan saya, daripada saya harus mati tanpa kehormatan saya.”
Anak buah: “Sudahlah kamu
menyerah saja, kamu akan hidup bahagia penuh dengan harta dengan pak Kartono.”
(senyum-senyum)
Amika: “Tutup mulut
kalian yang busuk itu!”
Anak buah 1: “Tak ada
yang bisa kamu lakukan sekarang, berserah diri saja”
Amika: “Siapa bilang,
saya akan adukan kalian pada ibu saya.”
Anak buah 2: “Ibumu itu
sudah mati, kau rupanya sudah gila ya” (tertawa)
Amika: “Maka saya akan
menemuinya.” (lompat dari lantai 3)
Semua tediam sejenak,
tidak ada yang bergeming, sedikit heran dengan Amika si anak yatim piatu.
Bu Astri: “Ikuti dia,
saya tidak mau tahu, kalian harus kejar dia!” (wajah tegang)
Pak Kartono: “Bagaimana
ini bu, saya sudah membayar mahal ini”
Bu Astri: “Tenang saja
Pak, dia tidak akan bisa lepas dari tangan saya, Bapak akan segera
mendapatkannya kembali” (menunduk)
Pak Kartono: “Baiklah,
saya beri kesempatan, saya yakin dia masih hidup” (pergi meninggalkan kamar)
Anak buah bu Astri
melihat ke bawah, disangka pingsan oleh mereka, ternyata Amika berhasil kabur.
Anak buah: (wajah panik)
“Bu Astri! Gawat Bu! Dia lolos Bu, ternyata dia masih bisa berjalan!”
Bu Astri: “Syukurlah dia
masih hidup, cepat kejar dia!”
Anak buah bu Astri
bergegas mengejar Amika, dan akhirnya mereka bertemu Amika di jalan buntu,
lutut Amika berdarah, dia kelelahan
Anak buah 1: “Berhenti
kamu gadis malang, sudah lelah kami mengejarmu” (tersengal-sengal)
Amika: “Maka dari itu,
lepaskan saja aku!”
Anak buah 2: “Jangan
mimpi kamu, ini sudah di ujung jalan, kamu tidak bisa lari kemana-mana lagi,
sekarang menyerahlah”
Amika: “Kalau aku tidak
bisa lari dari dunia ini, maka aku akan lari ke alam baka!”
Anak buah: (mendekat ke
arah Amika) “Sudah jangan bicara ngawur, ayo cepat ikut kami” (memegang tangan
Amika)
Amika: (menampik tangan
anak buah bu Astri) “Jangan sentuh aku, kalian tidak akan bisa merenggut kehormatanku,
lihat ini, apakah kalian masih mau membawaku?” (mencakar wajahnya sendiri dan menghunuskan
kayu ke alat kelaminnya)
Dua anak buah bu Astri hanya
terdiam dan heran, begitu kuat wanita ini mempertahankan harga dirinya. Padahal
banyak wanita di luar sana menjual kehormatan demi harta. Dalam tragedi itu,
Amika tewas dengan keadaan terhormat, kedua anak buah bu Astri merasa iba daan
merekapun memakamkannya dengan terhormat di sisi kubur ibunya
…………
Profil Penulis
Rofiad Darojad Diyaningsih lahir di
Wonogiri, 18 Agustus 1999, di tahun ini (2019) berumur 20 tahun dengan status
seorang mahasiswa Universitas Negeri Malang yang mengambil jurusan Sastra
Indonesia prodi Pendidikan. Ia sering menulis cerpen pada saat masa SMP hanya
untuk dibaca oleh teman-temannya, setelah ia masuk MA Ponorogo sebagai seorang
santri dia mulai berhenti menulis, hingga akhirnya ia masuk perguruan tinggi
dan mengambil jurusan sastra Indonesia sehingga memaksanya untuk berkarya
kembali mulai dari menulis puisi, cerpen, dan naskah drama.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi