NASKAH DRAMA REMBULAN MENJADI ANCAMAN


REMBULAN MENJADI ANCAMAN
Oleh: Nurul Laili Puspitaningrum

BABAK 1
            Suatu hari, ada seorang anak perempuan yang hidup dengan ibunya. Ia dirawat dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kemana-mana ia selalu bersama dengan ibunya, ibarat perangko dan amplop. Di situ ada si anak, di situ pula ada ibunya. Si anak itu bernama gadis dan ibunya bernama aminah. Mereka tinggal di suatu desa yang jauh dari kehidupan perkotaan. Mereka hanya tinggal sebatang kara tanpa hadirnya seorang ayah atau suami. Ibu sekaligus ayah bagi anaknya itu rela menjadi apa saja demi menghidupi sang anak. Suatu hari ketika sang anak ingin pergi mencari uang demi mengubah nasibnya dan ibunya.
Aminah           : “Senang sekali rasanya hatiku karena anak yang selama ini aku banggakan ternyata sudah tumbuh besar dan cantik.”
Gadis               : “Ah, Ibu bisa saja. Aku kan jadi malu, Bu.” (mukanya memerah menandakan malu)
Aminah           : “Aku hanya takut satu hal, Nak.”
Gadis               : “Kenapa, Bu?” (mendekati Ibunya)
Aminah           : “Kan kamu sudah beranjak dewasa, suatu saat pasti kamu akan menikah dan meninnggalkan Ibu.” (raut wajah menjadi sayu)
Gadis               : “Tidak, Bu. Aku akan membahagiakan Ibuku ini karena kita telah berdua ke mana-mana dan tidak bisa dipisahkan.” (mencoba menghibur Ibunya)
Aminah           : “Baiklah, Nak. Aku sangat senang mendengarnya.”
BABAK 2
Sang ibu dan anak kemudian masuk ke dalam rumah karena hari sudah semakin petang. Setiap hari sang ibu bekerja dengan semangat demi untuk membahagiakan sang anak. Sang anak tidak tega melihat sang ibunya bekerja dengan begitu lelah karena faktor umur dan kesehatan sang ibu yang sering sakit-sakitan. Dalam benak Gadis ada pikiran bahwa Gadis akan merantau ke luar kota, ia berpikir bahwa itu jalan satu-satunya untuk mengubah nasibnya karena jika hanya tinggal di desa yang sangat tertinggal maka tidak akan ada perubahan. Namun, di sisi lain Gadis juga memikirkan dampak kepergiannya ke luar kota. Di pikirannya, ibunya akan tinggal bersama siapa dan tidak mungkin ia akan mengajak ibunya juga untuk ke luar kota. Keesokan harinya Gadis akan mencoba memberanikan diri untuk membicarakan masalah tersebut kepada ibunya.
Gadis               : “Bu, aku kan sudah besar dan aku ingin merantau ke kota untuk mengubah nasib kita agar kita tidak kesusahan lagi”.
Aminah           : “Kamu mau ke mana, Nak?”
Gadis               : “Tidak tahu, Bu. Yang penting aku akan membuktikan ke Ibu bahwa aku mampu dan kita tidak akan kesusahan lagi
Aminah           : “Kenapa harus jauh sekali? Kan kamu bisa bekerja di sini agar kita tidak berjauhan. Bagaimana Ibu hidup sendiri tanpa kamu?” (suasana menjadi lebih sedih)
Gadis               : “Aku tidak akan lama, Bu. Aku hanya mencari uang dan aku ingin membahagiakan Ibuku ini.” (memeluk Ibunya)
Aminah           : “Iya Nak. Aku mendukung keputusanmu dan di sini aku akan mendoakanmu.” (dengan berat hati)
            Keesokan harinya, gadis bersiap-siap mengemasi barang yang akan dibawanya. Sebenarnya berat untuk mereka berdua karena gadis masih belum tega untuk meninggalkan ibunya sendiri. Tapi apa daya, gadis berkeinginan untuk mengubah nasib. Keesokan harinya, gadis berangkat dengan tangisan air mata, masih ragu antara pergi atau tidak. Ia berpamitan kepada ibunya.
Gadis               : “Bu......” (air mata menetes)
Aminah           : “Pergilah, Nak. Ibu di sini akan mendoakaanmu. Jangan lupakan ajaran agamamu.”
Gadis               : “Gadis janji kepada Ibu jika Gadis sudah sampai di kota akan segera mengabari Ibu.” (memeluk Ibunya)
            Beberapa jam kemudian...
Aminah           : “Anakku sudah sampai apa belum ya?” (risau)
            Aminah mondar-mandir hingga hari berganti malam dan sudah beberapa hari anaknya masih belum memberikan kabar kepadanya. Ia sangat khawatir kepada anaknya yang entah selama ini masih belum memberikan kabar. Setiap hari ia melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan dengan anaknya namun kali ini ia sendiri tanpa seseorang yang menemaninya. "setiap pagi aminah melakukan ibadah sholat subuh.
Aminah: “Ya Tuhan, anakku di mana? Mengapa tidak mengabari aku?” (meneteskan air mata)
            Seusai sholat Subuh, Aminah menjalani hari-harinya tanpa anaknya. Ia mencoba bekerja sendiri, makan sendiri, bahkan ia mencoba berpikir positif mengenai anak semata wayangnya itu. Ketika ia berangkat bekerja menuju ladang, ia bertemu Pak Tejo ketua RT di desa tersebut. Aminah mencoba bertanya mengenai tempat anak-anak desa merantau.
Aminah           : “Pak, anak-anak yang di desa ini merantau biasanya ke mana? Kok anak saya belum ngasih kabar ya. Apa jauh sekali sehingga tidak sempat untuk mengirim surat kepadaku”.
Tejo                 : “Waduh, Bu. Saya tidak tahu karena mereka juga hanya pamit saja dan tidak memberikan alamat atau tempat di mana mereka akan bekerja. Di sana yang jelas berbeda dengan kehidupan kita di sini. Mereka pasti ingat denganmu, hanya saja anakmu masih lelah baru perjalanan jauh” (mencoba menenangkan Aminah)
Aminah           : “Saya sangat khawatir dengan Gadis. Sudah lama ia berangkat namun belum mengabari saya.”
Tejo                 : “Mungkin dia sedang sibuk. Doakan saja anakmu agar tidak terjadi hal yang buruk.”
Aminah           : “Aku pasti mendoakan namun kau tau kan aku ke mana-mana pasti dengan anakku dan saat ini aku harus bekerja sendiri tanpa ada teman di rumah.”
Tejo                 : “Sabar, Bu. Mungkin Tuhan memberikan jalan yang terbaik.”
Aminah           : “Baiklah. Aku akan menjalaninya sesuai dengan takdir Tuhan. Pasti semua akan indah”.
Tejo                 : “Ya, berdoalah sana demi kebaikan anakmu. Aku yakin pasti anakmu punya niatan baik untukmu.”
            Setelah berbincang lalu Aminah pergi ke ladang untuk menjadi buruh tani yang gajinya tidak seberapa banyak. Demi mencukupi hidupnya, ia rela bekerja tanpa mengenal waktu. Tak disadari umurnya sudah mulai tua renta dan ketahanan fisiknya sudah menurun. Ia sering sakit karena ia juga memikirkan keadaan anaknya. Bagaimana tidak khawatir, namanya saja orang tua.
BABAK 3
            Telah enam bulan usai ia meninggalkan ibunya demi niat yang baik yakni mengubah nasib keluarganya. Hidup di Jakarta yang serba mewah ia bekerja sebagai karyawan pabrik yang digaji lumayan banyak. Telah lama lupa dengan keadaan ibunya di kampung halaman, Gadis lebih memilih menikah dengan orang Jakarta agar hidupnya enak tidak seperti di desa.
Gadis               : “Aduh!” (bertabrakan dengan teman laki-lakinya hingga terjatuh)
Riyan               : “ Maaf! Kamu tidak apa-apa kan?”
Gadis               : “Gak kenapa-kenapa kok”
Riyan               : “Syukurlah kalau begitu”
Gadis               : “Yaudah, aku balik ke mejaku. Selamat bekerja”
Riyan               : “Dia menyemangatiku, yes yes yes” (katanya dalam hati)
            Setelah beberapa jam kemudian Riyan mengirim pesan kepada Gadis dan mengajak Gadis untuk makan siang bersama. Mungkin sejak bertabrakan tadi Riyan menjadi ada rasa dengan Gadis.
Riyan               : “Aku tunggu di kantin, ya!”
Gadis               : “Iya, kamu duluan saja. Saya masih ada pekerjaan. Nanti aku nyusul.”
Riyan               : “ Oke deh, aku pesankan sekalian atau bagaimana?”
Gadis               : “Tidak usah, sebentar lagi aku ke sana kok”
Riyan               : “Ya udah deh, aku duluan.”
Gadis               : “ Hati-hati”
Riyan               : “Iya, pasti kok.”
Setelah beberapa menit kemudian....
Gadis               : “Hai” (sambil menghampiri Riyan)
Riyan               : “Ayo kita pesan makan! Kamu makan apa?”
Gadis               : “Aku ingin mie ayam saja deh, minumya air putih”
Riyan               : “Ini makananmu”
Gadis               : “Terima kasih”
            Semenjak itu Gadis dan Riyan semakin dekat dan mereka menikah tanpa restu dari Ibu Gadis. Gadis sebenarnya juga malu untuk membicarakan latar belakangnya. Maka dari itu, Gadis menyembunyikan asal-usulnya dari keluarga Riyan.
BABAK 4
Aminah           : “Ya Allah, bagaimana ya kabar anakku? Sudah bertahun-tahun tetapi belum saja memberikan kabar kepadaku” (sambil menulis surat untuk anaknya seusai sholat)
            Aminah tidak tau di mana anaknya tinggal, ia hanya bisa menuliskan sepucuk surat seusai sholat lima waktu. Surat-surat itu terkumpul di dalam vas dari tanah liat karena ia tidak tau lagi akan mengirimnya ke mana.
Tejo                 : “Bu Aminah, saya mendengar ibu menangis. Kenapa?”
Aminah           : “Aku sudah tua dan renta, anakku tidak ada kabar. Bagaimana aku harus mengurus diriku sendiri sedangkan aku sudah sering sakit”
Tejo                 : “Coba nanti akan ku tanyakan pada anak-anak lain yang merantau. Mungkin mereka tau di mana anakmu.”
Aminah           : “Terima kasih, Pak. Aku sangat menunggunya.”
Tejo                 : “Tenang saja, doakan saja yang terbaik.”
Aminah           : “Ya Tuhan, Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tolong beri tau anakku bahwa aku menunggunya di sini” (sambil meneteskan air mata)
Tejo                 : “Istriku menitipkan makanan untukmu, makanlah. Jangan terlalu memikirkan Gadis.”
Aminah           : “Tidak usah repot-repot sebenarnya”
Tejo                 : “Kami tidak merasa direpotkan.”
Aminah           : “Aku selalu merepotkan kau dan istrimu. Terima kasih banyak”
Tejo                 : “Sudah sepantasnya aku membantumu, kau tetanggaku dan kau sudah tua tidak ada siapa-siapa lagi.”
            Sebulan kemudian ....
Aminah           : “Ya Tuhan, aku sudah tidak bisa terbangun dari tempat ini. Hanya Tejo dan istrinya yang mengurus aku.”
Tejo                 : “Sudahlah, tidak apa-apa. Justru aku senang. Aku pulang dulu, ambil makanan untukmu.”
            Beberapa menit kemudian..
Tejo                 : “Assalamualaikum, assalamualaikum. Kok tidak menjawabnya.” (masuk ke dalam) Innalillahi”
            Tejo keluar memberi tahu tetangga yang lain bahwa Aminah sudah meninggal dunia dan para warga berbondong-bondong ke rumahnya.
BABAK 5
Riyan               : “Kamu kenapa sih, Ma? Daritadi kok diem aja”
Gadis               : “Kok perasaanku tidak enak ya, Yah. Aku seperti mendapat firasat ntah tentang apa.”
Gadis               : “Apa yang terjadi dengan Ibu ya, aku bahkan selama ini tidak memberikan kabar.” (gumamnya dalam hati)
Riyan               : “Mungkin hanya kecapekan kamu, istirahatlah sana. Aku berangkat kerja dulu.”
Gadis               : “Hati-hati” (sambil mencium tangan suaminya)
Riyan               : “Kamu juga” (sambil berangkat)
Gadis               : “Aku harus menengok Ibu, tapi rumahku sangat jauh. Bagaimana aku ijin ke suamiku.”

Menunggu suaminya pulang, Gadis akan memberitahukan semua tentang asal-usulnnya. Ia berharap keadaan rumah tangganya baik-baik saja.
Riyan               : “Assalamualaikum”
Gadis               : “Walaikumsalam” (membuka pintu)
Riyan               : “Kenapa kamu belum tidur?”
Gadis               : “Aku sengaja menunggumu. Aku ingin jujur kepadamu.”
Riyan               : “Bukankah kamu jujur denganku selama ini? Apa yang harus dibicarakan?”
Gadis               : “Aku meminta padamu untuk jangan marah kepadaku.”
Riyan               : “Cepat bicaralah!”
Gadis               : “Sebenarnya ibuku masih hidup dan tinggal di desa. Semenjak aku merantau di Jakarta aku tidak pernah memberinya kabar. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Aku malu juga mengakui identitasku karena aku miskin di desa.”
Riyan               : “Kurang ajar, beraninya kamu seperti itu dan meninggalkan ibumu sendiri?”
Gadis               : “Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu, namun aku malu jika kamu tau bahwa aku miskin. Aku mencintaimu”
Riyan               : “Tidak usah banyak alasan, cepat kita bertemu ibumu”
            Mereka melakukan perjalanan jauh untuk menemui Ibu Gadis dan sampailah di desa tempat ibunya tinggal.
Gadis               : “Ini rumahku, sebentar aku akan memanggil Ibuku. Pasti ia senang aku sudah pulang”
Riyan               : “Tapi rumah ini seperti sudah tidak ada penghuninya lagi. Apakah kamu yakin ini rumahmu?”
Gadis               : “Ibu, ibu, Gadis pulang, Bu!” (mengitari pintu depan dan belakang)
Tejo                 : “Mengapa kau pulang setelah kau tega meinggalkan ibumu sendiri selama bertahun-tahun?”
Gadis               : “Di mana ibuku? Kenapa bilang seperti itu?”
Tejo                 : “Ibumu sudah meninggal dunia”
Gadis               : “Tidak mungkin, itu semua tidak mungkin.” (membuka pintu)
Tejo                 : “Cari saja, ibumu sudah dimakamkan saja kau tidak tahu”
Riyan               : “Di mana makamnya?”
Tejo                 : “Ayo cepat aku antarkan ke makamnya dan minta maaflah atas perbuatanmu yang meinggalkannya demi keenakan dunia”
Gadis               : (menangis tanpa bicara apa-apa)
            Setelah itu mereka kembali ke rumah. Tanpa disengaja ada guci besar berisikan kertas tentang surat yang ditulis sang ibu kepada anaknya namun, ibunya tidak mengerti akan mengirim ke mana. Semenjak saat itu Gadis begitu menyesal namun, ia tidak bisa mengembalikan ibunya lagi. TAMAT.


Tentang Penulis
Nurul Laili Puspitaningrum. Dia biasa dipanggil Nurul. Dia sebagai mahasiswa Sastra Indonesia. Dia lahir di Blitar, 18 September 1998. Menurutnya, menulis naskah drama adalah sebagian dari proses belajar untuk menjadikannya lebih baik dalam hal mengajar nanti.





Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK