NASKAH DRAMA RENATA











RENATA
Oleh: Imama


DRAMA PERSONAE
§  RENATA                                : Seorang perempuan gigih, pekerja keras dan juga ambisius. Renata berprofesi sebagai penjahit disebuah rukoh kecil yang disewanya. Kesahariannya hanya ia isi dengan kegiatan menjahit dan menjahit, dimana itu memang pekerjaannya sejak ia lulus dari perguruan tinggi dengan jurusan Tata Busana. Namun, karena pangkat yang ia sandang, ia menjadi sombong dan selalu menganggap remeh orang lain. Renata selalu beranggapan tak ada yang lebih bagus atau tak ada yang bisa menandingi hasil jahitan dirinya dan selalu beranggapan hasil jahitan orang lain tak berkualitas. Hingga suatu ketika karena sifat sombong yang ia miliki membuatnya usahanya hancur.
§  IBU RENATA                        : Ibu Renata adalah perempuan yang mempunyai sifat penyabar dan juga bijaksana. Ia selalu sabar ketika menasehati Renata, walaupun nasehatnya tak pernah digubris atau didengarkan, tapi ia tetap menasehatinya dengan sabar.
§  MELANI (pelanggan setia)    : Seorang wanita yang merupakan pelanggan setia Renata, ia memiliki sifat ceria, baik, tapi kalau dibuat kecewa sifatnya akan berubah seratus delapan puluh derajat dari sifat aslinya. 
§  PELANGGAN A dan B         : Seorang wanita yang merupakan pelanggan Renata juga, mereka sebenarnya memiliki sifat yang baik dan ramah, namun karena dibuat kecewa akhirnya muncul sifat mereka yang suka mengompori, mencaci dan menyebarkan aib orang lain  
§  ANAK PELANGGAN A       : Seorang gadis yang merupakan anak dari pelanggan A, ia memiliki sifat pendiam dan penurut.


BABAK I
PAGI YANG CERAH, DISEBUAH RUKOH KECIL DUDUKLAH SEORANG PEREMPUAN MUDAH DIBELAKANG MESIN JAHIT PORTABLE SINGER KESAYANGANNYA SAMBIL MENJAHIT BERMACAM-MACAM PAKAIAN. SUARA MUSIK MENJADI TEMAN KERJANYA.
BAGIAN 1
RENATA BERANJAK DARI DUDUKNYA, LALU MULAI MENATA DAN MERAPIKAN RUKOHNYA, KARENA SEBENTAR LAGI WAKTUNYA BUKA.
Renata: “hmm...”. (menata rukohnya dengan santai sambil bernyanyi mengikuti alunan musik).
Melani (Pelanggan setia): “Assalamualaikum...” (tidak ada jawaban)
Melani (Pelanggan setia): Assalamualaikum (kembali mengucapkan salam, lalu masuk menghampiri Renata yang sedang beres-beres sambil bernyanyi).
Renata: (kaget), loh kamu Mel!?
Melani (Pelanggan setia): “Hmmm” (dengan wajah masam)
Renata: “kenapa mukamu kok masam gitu? Tumben”
Melani (Pelanggan setia): “masih nanyak lagi! Aku sudah dari tadi mengucapkan salam, tapi tak kunjung kau jawab, dan pada akhirnya aku langsung masuk” (sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada dan dengan muka cueknya)
Renata: “benarkah? Maafkan aku, karena aku tak mendengar ucapan salammu (berjalan menuju DVD nya, lalu mematikan DVD tersebut), aku belum membuka rukoh ini, makanya aku menyalakan musik agar tidak sepi sambil menata rukohku sebelum aku membukanya”.
Melani (Pelanggan setia): “oke oke tidak apa, aku sudah memaafkan. Sekarang sudah dibuka kan?”.
Renata: “Iya sudah ku mau buka ini (berjalan ke arah pintu, lalu membalik tulisan “Tutup” menjadi “Buka”). Lantas kau mau apa ini?”
Melani (Pelanggan setia): “lagi banyak orderan kamu?” (melihat kearah tumpukan kain yang sudah dibentuk dan tinggal dijahit).
Renata: “lumayan” (sambil menganggukkan kepala). Lantas ka mau apa ini?” (kembali bertanya).
Melani (Pelanggan setia): “eeeh iya sampai lupa tujuan utamaku datang kemari (geleng-geleng kepala), aku mau menjahitkan kain ini” (sambil mengeluarkan kain dari tas yang iya pegang dari tadi).
Renata: “untuk siapa?” (sambil melihat-lihat kain kepunyaan Melani).
Melani (Pelanggan setia): “untuk diriku sendiri lah Ren”.
Renata: “oooh oke. Ada contoh gambar sendiri atau mau melihat gambar desain model-model pakaian/baju yang aku buat?”
Melani (Pelanggan setia): “lihat gambar-gambar desainmu boleh? Soalnya aku sangat menyukai hasil karya-karyamu dari pertama kamu mendesain dan menjahit pakaian sampai sekarang pun aku tetap sangat menyukainya” (dengan muka sumringan).
Renata: “tentu boleh lah mel kau kan pelanggan pertamaku dulu dan kamu juga pelanggan setiaku dari awal aku buka usaha ini sampai sekarang” (dengan muka merasa tersanjung, lalu berjalan ke sebuah rak untuk mengambil buku desainnya lalu diberikan kepada Melani) niih dilihat-lihat terlebih dahulu, kalau sudah menemukan yang cocok beritahukan aku, biar ku ambil ukuran mu (kembali berjalan ke arah mesin jahitnya).
Melani (Pelanggan setia): “iya Ren, terimakasih..
Renata: hmmm sama-sama (sambil melanjutkan pekerjaan menjahitnya).
Melani (Pelanggan setia): (mulai melihat-lihat desain baju di buku milik Renata).
Renata:  (Tetap dalam keadaan semula di belakang mesin portable singer kesayangannya sambil menjahit pakaian yang udah iya bentuk dan dipotong-potong).
Melani (Pelanggan setia): Ren kayaknya aku mau desain yang ini untuk baju yang aku jahitkan ke kamu kira-kira  menurutmu gimana, bagus tidak?
Renata: Tentu bagus itu karya siapa dulu (dengan menunjukkan senyuman smirknya) dan itu bagus cocok buat kamu.
Melani (Pelanggan setia): Siiip daah kalau gitu, aku mau kau menjahitkan baju untukku dengan desain yang telah aku pilih dari buku desain-desaimu (tersenyum bahagia).
Renata: Baik kalau begitu mari ku ukur dulu badanmu (berjalan mengambil meteran pita, lalu mulai mengambil ukuran badan Melani sambil mencatatnya) sudah mel.
Melani (Pelanggan setia): Oke..kira-kira kapan selesai Ren? Soalnya mau ku pakai di acara nikahan saudaraku
Renata: Kapan acaranya?
Melani (Pelanggan setia): 3 Minggu lagi
Renata: Baik kalau begitu datang lah kemari 2 Minggu lagi
Melani (Pelanggan setia): Beneran ya? (Dengan muka mengintimidasi) aku tak mau masalah seperti beberapa bulan lalu terulang kembali, aku tak akan memaafkanmu kalau sampai itu terjadi lagi.
Renata: Iya iya.. tenang saja percayalah padaku (dengan muka tersenyum).
Melani (Pelanggan setia): Baik kalau gitu, aku pamit dulu mau ada urusan soalnya (beranjak dari duduknya lalu bersalaman dengan Renata dan pamit, lalu berjalan berjalan kearah pintu).
Renata: Oke,, hati-hati dan terimakasih 
Melani (Pelanggan setia): Assalamualaikum
Renata: Waalaikumsalam....(kembali melanjutkan pekerjaannya).

BAGIAN 2
SE-JAM KEMUDIAN SAAT SEDANG MELANJUTKAN PEKERJAAN MENJAHIT KAIN YANG SUDAH RENATA BENTUK DAN SUDAH DIPOTONG-POTONG, TIBA-TIBA ADA PELANGGAN LAGI YANG DATANG KE RUKOHNYA UNTUK MENJAHITKAN PAKAIAN PADA RENATA.

Pelanggan A: Assalamualaikum..permisi sebelumnya..
Renata: Waalaikumsalam..silahkan masuk (beranjak dari pekerjaannya dan menghampiri pelanggan tersebut dan mempersilahkan untuk masuk ) silahkan duduk.
Pelanggan A: baik terimakasih mbak (tersenyum)
Renata: ada yang bisa saya bantu? (dengan rama)
Pelanggan A: begini saya ingin menjahitkan pakaian baju kebaya untuk anak saya ini buat dipakai di acara wisuda (sambil melirik kearah anaknya).
Renata: kalau boleh tau kapan acara wisudanya ya?
Pelanggan A: bulan depan mbak.
Renata: oooo iya…sudah punya contoh gambar  desain sendiri atau mau melihat gambar desain-desain saya?
Pelanggan A: ooh itu anak saya sepertinya sudah memilih gambar desain baju kebaya waktu itu (melihat keanaknya sambil bertanya) bukan begitu nak?
Anak Pelanggan A: o iya mbak saya sudah memilih gambar desain baju kebaya waktu itu (tersenyum)
Renata: baik kalau begitu tak apa, boleh kirimkan gambarnya ke WA saya. Itu nomer WA saya (menunjuk ke arah papan nama yang dibawahnya tertera nomer WA dirinya)
Anak Pelanggan A: baik mbak (mengangguk, lalu melihat Smart Phone nya dan mengirim gambar tersebut ke Renata) sudah mbak
Renata: baik saya lihat bentar (mengambil Smart Phone nya dan melihat gambar yang telah dikirim oleh anak pelanggan A). baik kalau begitu saya akan mengambil ukuran badanmu terlebih dahulu (beranjak dari duduknya, lalu mengambil meteran pita dan sebuah buku beserta pena di dalamnya) mari mbak saya ukur terlebih dahulu”.
Anak Pelanggan A:  “iya” (beranjak dari duduknya supaya Renata dapat mengambil ukuran dirinya).
Renata: “permisi ya (meminta izin. Lalu mulai mengambil ukurannya anak pelanggan A semabari mencatatnya) sudah mbak, terimakasih”.
Anak Pelanggan A: eeh iya mbak sama-sama” (mengangguk sambil tersenyum).
Pelanggan A: “ini kira-kira kapan selesainya mbak?” (bertanya pada Renata).
Renata: bulan depan kan ya acara wisudanya?” (kembali bertanya).
Pelanggan A: iya mbak, lebih tepatnya tanggal 28 Oktober”.
Renata:  “berarti masih tinggal sebulanan ya bu. Baik kalau begitu tanggal 23 Oktober ibu atau mbaknya bisa datang kembali kesini untuk mengambilnya” (tersenyum sambil melihat kearah ibu dan anak tersebut).
Pelanggan A: “baik mbak kalau begitu, terimakasih. Saya dan anak saya pamit dulu” (bangun dari duduknya lalu bersalaman pada Renata dan pamit) “Assalamualaikum” (mengucapkan salam secara berbarengan dengan anaknya).
Renata: waalaikumsalam…” (membereskan kain milik pelanggan A, lalu ia kembali melanjutkan pekerjaan menjahitnya yang sempat tertunda).

BAGIAN 3
HARI SEMAKIN SIANG DAN PELANGGAN YANG DATANG KE RUKOH RENATA UNTUK MENJAHIT PAKAIAN KIAN BERTAMBAH. MEMBUAT RENATA SELALU TERGANGGU PEKERJAAN MENJAHITNYA. RENATA MULAI MERASA REPOT SENDIRI KARENA HARUS MELAYANI SENDIRIAN PARA PELANGGANYA YANG DATANG UNTUK MENJAHITKAN PAKAIAN KEPADA DIRINYA, HINGGA AKHIRNYA DATANG SEORANG IBU-IBU YANG TERNYATA ADALAH IBUNYA RENATA.

Renata: (berbicara pada dirinya sendiri) huuuft……hari sudah mulai siang dan pengunjung pun dari tadi berdatangan seakan tak ada hari esok”.
Ibu Renata: asaalamualikum...”
Renata: Waalaikumsalam (sambil mencium tangan Ibunya dan bertanya), Ibu dari mana siang-siang begini?
Ibu Renata: eh..Ibu tidak sedang dari mana-mana. Ibu hanya ingin kesini melihatmu bekerja dan mengantarkan makan siang untukmu Ren (sambil membuka rantang makanan yang dibawanya), ayo makan siang dulu, baru setelah itu lanjutkan lagi pekerjaanmu.
Renata: Baik bu..apakah Ibu sudah makan?
Ibu Renata: Ibu sudah makan sebelum kesini Ren.
Renata: Ooo yasudah kalau begitu Renata makan dulu.
SESAAT SETELAH RENATA BARU SELESAI MAKAN, TIBA-TIBA ADA ORANG YANG DATANG DAN MENGUCAPKAN SALAM.
Renata+Ibu Renata: Waaalaikusalam (jawab Renata dan Ibunya secara bersamaan)
Renata: Ada yang bisa saya bantu Bu?
Pelanggan B: Begini mbak saya ingin menjahitkan kain ini menjadi sebuah gamis, dan saya mau model seperti ini (menunjukkan sebuah foto gamis pada Renata).
Renata: Waah bagus sekali, cocok dengan Ibu nya (sambil tersenyum)
Pelanggan B: apa kira-kira mbak sanggup.
Renata: Insyaallah sanggup. Kalau boleh tau ini bajunya mau dipakai kapan ya Buk?
Pelanggan B: Kurang lebih sebulan lagi Mbak.
Renata: Oalah masih cukup Buk (teresenyum). Baik Buk mari saya ukur terlebih dahulu.
Pelanggan B: Oooh iya mari Mbak.
Renata: Alhamdulillah sudah…Ibuk bisa datang kembali kesini 4 hari sebelum acara Ibuk.
Pelanggan B: Baik Mbak kalau begitu terimakasih, saya pamit dulu. Mari Buk (tersenyum, pada ibu Renata), assalamualaikum.
Renata+Ibu Renata: Waaalaikusalam (jawab Renata dan Ibunya secara bersamaan).
SETELAH KEPERGIAN PELANGGAN TERSEBUT, IBUNYA MENGHAPIRI RENATA.
Ibu Renata: Ren apa tidak sebaiknya kamu mencari orang yang bisa menjahit untuk dijadikan karyawan agar bisa membantu meringankan pekerjaanmu. Ibu liha pelangganmu kian hari makin bertambah, nanti takutnya keteteran dan tidak selesai pada waktu yang telah kamu janjikan pada pelangganmu (sambil menatap kearah Renata).
Renata: Aku pikir tidak perlu Bu, karena kurasa (berdiri) aku masih sanggup melakukannya.
Ibu Renata: Kamu yakin dengan keputusanmu, karena ibu lihat akhir-akhir ini orderanmu semakin banyak, dan rata-rata kamu berjanjikepada mereka untuk mengambil pakaiannya diwaktu yang hampir bersamaa. Yakin akan selesai dg waktu yang singkat dengan pekerjaan sebanyak itu?
Renata: “Yakin lah Bu (dengan percaya dirinya)..Lagian aku tak yakin Bu, kalau misal memperkerjakan orang lain untuk menjadi karyawanku hasil jahitan mereka tak akan sebagus dengan hasil jahitanku, karena hasil jahitanku adalah jahitan kelas atas dan tak da tandingannya”.
Ibu Renata: Kamu tak boleh berkata seperti itu Ren.
Renata: Laah kan benar Bu. Secara aku kan lulusan S1 Tata Busana, kan tidak sebanding dengan mereka yang hanya lulusan SMK, atau mungkin hanya lulusan SMP. Pasti hasil jahitan mereka kurang berkualitas.
Ibu Renata: Astaufirullah Renata (berteriak)…kamu tak boleh begitu, kamu tak boleh meremehkan dan menganggap rendah orang lain (dengan muka kecewa). Kamu tak pernah tau sekreatif apa mereka, mungkin hasil jahitan mereka lebih bagus daripada hasi jahitanmu.
Renata: Kok jadi Ibu yang sewot sih. Kan aku hanya ngomong berdasarkan faktanya dan apa adanya (dengan wajah yg sudah tersulut emosi).
Ibu Renata: Terserah kamu. Jangan sampai kau menyesal dikemudian hari. Assalamualaikum” (lalu keluar dari rukoh Renata).
Renata: Waalaikumsalam…
Renata: “Ibu kenapa sih?.. kan aku hanya ngomong yang sebenarnya. Emang ada yg salah dengan omonganku gitu? Heran aku” (Berbicara pada dirinya sendiri dan kembali duduk).

BABAK II

BAGIAN 1
HARI BERJALAN BEGITU CEPAT. JAHITAN RENATA SEMAKIN MENUMPUK DAN MULAI ADA BEBERAPA YANG TERBENGKALAI, SEDANGKAN PAKAIAN PARA PELANGGAN SUDAH SAMPAI PADA WAKTUNYA PENGAMBILAN.
Renata: “Haaaaaah....., kenapa hari berjalan begitu cepat Ya Gustii, sedangkan jahitanku ada beberapa yang belum ku selesaikan, dan besok hari pengambilannya.” (mendesah, lalu berbicara pada dirinya sendiri dengan ekspresi wajah yang begitu gelisah).
SAAT MALAM TIBA RENATA SEMAKIN RESAH DAN GELISAH MEMIKIRKAN JAHITANNYA YANG BELUM IA SELESAIKAN.
Ibu Renata: “Ren kenapa wajahmu kok kelihatan gelisah dan ketakutan seperti itu?”
Renata: “Aku bingung bu apa yang harus ku katakan pada pelanggan-pelangganku besok”
Ibu Renata: “Loh ada apa dengan besok?” (dengan ekspresi heran).
Renata: “Besok adalah waktu pengambilan pakaian pelangganku, sedangkan ada beberapa jahitan yang belum sempat kuselesaikan bu” (menatap ibunya dengan wajah gelisah).
Ibu Renata: “Hmmmm….. kan waktu itu itu Ibu sudah pernah mengingatkan ke kamu Ren untuk mencari karyawan agar bisa membantu pekerjaanmu. Nah kalau sudah begini kamu bisa apa? Ingat waktu berjalan begitu cepat”.
Renata: “Bukannya tidak mau mencari karyawan Bu, hanya saja aku takut pelanggan-pelangganku kecewa karena hasil jahitannya tidak sebagus punyaku, jika aku merekrut karyawan untuk membantu pekerjaanku”.
Ibu Renata: “Kamu tidak boleh seperti itu Ren, kalau kamu belum mencobanya”.
Renata: “Aku tidur dulu Bu, lelah” (berjalan menuju kamarnya).
Ibu Renata: “Ren ren..” ( geleng-geleng kepala).

BAGIAN 2
WAKTU TERUS BERJALAN DAN PAGI PUN DATANG.
Renata: (Tergesa-gesa untuk segera pergi ke Rukohnya, dengan ekapresi yang begitu gelisa. Hingga pas sampai di rukoh pun masih dengan ekspresi wajah yang sangat gelisah),, “hufffttt”.
RENATA MULAI MENGERJAKAN JAHITANNYA YANG BELUM SEMPAT DIA SELESAIKAN, HINGGA PADA AKHIRNYA DATANG PARA PELANGGAN DATANG UNTUK MENGAMBIL JAHITANNYA PADA RENATA.
Renata: “Sepertinya ada yang datang” (bergumam pada dirinya sendiri).
Para Pelanggan: “Assalamualaikum…….” (secara bersamaan).
Renata: “Waalaikusalam…” (jawab renata). Silahkan duduk.
Melani (Pelanggan setia): Bagaimana Ren dengan jahitan kita?
Para Pelanggan: “Iya mbak bagaimana? Sudah pasti selesai kan?”
Renata: “Hmm,,, mohon maaf sebelumnya mbak-mbak, ada beberapa yang belom selesai hari ini, mohon maaf sekali” (dengan ekspresi wajah yang ketakutan).
Pelanggan B: “apa termasuk juga punya saya??” (dengan ekspresi agak sinis)
BELUM SEMPAT RENATA BERBICARA UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN PARA TETANGGA….
Renata: “Tiiiiid……” (kebingungan karena pembicaraannya dipotong tiba-tiba).
Para Pelanggan: “Loh kok bisa sih mbak, bukannya mbak bilang waktu itu kalua jahitannya kami akan selesai hari ini, kok malah ingkar janji” (dengan muka sinis dan sedikit marah).
Pelanggan A: “Betul mbak,,,,, kok kamu ingkar janji”
Pelanggan B: “Harusnya mbak kalua sekiranya tidak mampu menyelesaikan, ya bilang dari awal kalua tidak sanggup (dengan sinisnya)….nah kalau seperti ini terus bagaimana???”
RENATA TIDAK DIBERI KESEMPATAN UNTUK BERBICARA OLEH PELANGGAN, HINGGA AKHIRNYA……
Para Pelanggan: “Kok malah diam?” (menatap kea rah Renata semua).
Renata: “Gimana saya mau berbicara, kalau saya dari tadi tidak diberikan kesempatan untuk bicara!”
Melani (Pelanggan setia):  “Kok kamu malah ngegas sih Ren”
Pelanggan A: “Harusnya kita yang marah, bukan kamu” (melengos)
Renata: “Ya saya minta maaf, kan kalian tau kalau saya  mengutamakan kualitas daripada kuantitas, saya mengerjakannya juga sendiri tanpa bantuan orang lain”.
Anak Pelanggan A: (hanya diam memperhatikan perdebatan antara Ibunya dan para pelanggan lain dengan Renata).
Pelanggan B: “Harusnya kamu punya karyawan agar bisa membatu pekerjaanmu dan tak mungkin ada kejadian seperti ini!”
Melani (Pelanggan setia): “Iya Ren harusnya kamu memperkejakan orang lain untuk membantumu” (mengiyakan pendapat pelanggan B).
Renata: “Kan saya sudah bilang kalau saya mengutamakan kualitas daripada kuantitas, jadi saya takut kalau memperkerjakan orang lain kualitas jahitan saya akan turun atau tak sesuai dengan harapan para pelanggan”.
Para Pelanggan: “Kualitas sih kualitas sih mbak, tapi kalau tidak selesai seperti ini, apanya yang akan berkualitas….mengecawakan iya” (denagn muka sinis).
Pelanggan A: “Kalau tidak niat untuk apa membuka jasa jahit pakaian, jika pada akhirnya seperti ini” (marah-marah sambil menunjuk ke arah Renata).
Para Pelanggan: “Makanya kalau jadi orang jangan terlalu sombong mbak, pakek sok-sok an tidak mau memperkerjakan orang lain karena takut kualitasnya jelek, apalah,,,halah pretttt”
Renata: “Kok kalian semua pada maki-maki saya sih, kan ini tak sepenuhnya salah saya” (dengan ekspresi marah).
Pelanggan B: “Lah terus kalau bukan salahmu salah siapa bego??” (dengan kemarahan yang mulai memuncak).
Para Pelanggan: “Sudah tau salah, masih aja nyolot ngaku gak salah”
Renata: “iya ya salah saya.. semuanya salah saya” (marah dan emosi menjadi satu)
Pelanggan b: “Baru nyadar mbak” (dengak ekspresi mengejek).
Melani (Pelanggan setia): “kita udah DP loooh waktu itu” (semakin mengompori).
Pelanggan A: “Naahhh….betul itu, mending kembalikan DP kita..lagian kan pakaian kita belum diselesaikan” (santai tapi tetap dengan emosi) “iya nggak???” (bertanya pada para pelanggan yang lain).
 Para Pelanggan: “iyaa kembalikan” (dengan nada tinggi dan emosi).
Renata: “tidak bisa begitu, pakaian kalian sudah setengan jalan saya kerjakan”.
Para Pelanggan: “lah terussss kitaharus bilang wooow gitu”
Melani (Pelanggan setia): “Halaaaaah kelamaan, mending kita pulang aja, males liat mukanya”
Pelanggan B: “betull, ayo kita pulang saja, dan kasih tahu ke orang-orang kalau mau jahit pakaian jangan disini, gak becus”(beranjak dari duduknya)
Renata: “he mbak-mbak tidak usah menjelek-jelekkan saya pada pelanggan saya yang lain ataupun orang-orang diluar sana,,, lagian ini kan permasalahan kita, jadi tidak usah bawa-bawa orang lain untuk menjatuhkan saya”
Para Pelanggan: “serah kita dongg,,,kita mah bodoh amat sama reputasi pekerjaan kamu mbak” (berjalan kea rah pintu keluar).
Pelanggan A: “Halahhh kelamaan mending kita pulang daripada dengerin bacotan dya yang tak bermutu itu” (mengompori para pelanggan yang lain untuk segera pulang).
Renata: “Heeee mbak tidak bisa begitu” (berteriak, namun semuanya sudah terlambat karena para pelanggan sudah pergi, dan Renata hanya bisa duduk bersimpu di depan pintu sambil memikirkan reputasi dirinya untuk kedepannya gimana)…
PARA PELANGGAN PULANG DAN MEMBERITAHU PADA ORANG-ORANG UNTUK TIDAK MENJAHITKAN PAKAIANNYA DI TEMPAT RENATA. DENGAN CEPAT BERITA TERSEBUT TERSEBAR LUAS, DAN HINGGA PADA AKHIRNYA RUKOH RENATA SEPI TAK ADA PELANGGAN SATUPUN YANG DATANG UNTUK MENJAHIT.

 BABAK III

BAGIAN 1
KINI HANYA KEHANCURAN DAN PENYESALAN YANG DAPAT RENATA TERIMA DAN RASAKAN. SEMUANYA TELAH HANCUR BAIK KARIR MAUPUN REPUTASI DIRINYA DIMATA PARA PELANGGANNYA.
SETELAH KEJADIAN ITU RUKOH RENATA MENJADI SEPI DAN TAK ADA SATU ORANG PUN ATAU PELANGGAN YANG DATANG UNTUK MENJAHIT PAKAIAN PADANYA. KINI KESAHARIAN RENATA HANYA MELAMUN DAN MELAMUN MERATAPI KISAH HIDUPNYA YANG BENAR-BENAR SUDAH HANCUR KARENA ULAH DIRINYA SENDIRI.
Ibu Renata: “Renata kamu kenapa akhir-akhir ini kok banyak diam dan selalu melamun?” (dengan muka penasaran, karena beberapa minggu ini anaknya banyak diam dan sering melamun).
Renata: “Tidak kenapa-kenapa kok Bu”    
Ibu Renata: “Kalau ada apa-apa cerita ke Ibu Ren” (menghampiri Renata).
Renata: “beneran  kok Bu aku tak papa” (tersenyum pada Ibunya).
Ibu Renata: “Yakinnn?” (memastikan kembali karena belum yakin pada jawaban Renta).
Renata: “Baik aku akan cerita, tapi Ibu harus janji tidak akan memarahi aku”.
Ibu Renata: “Ceritakan, siapa tau ibu bisa membantu”
Renata: “begini Bu, aku lagi ada masalah di rukoh dengan para pelangganku” (dengan muka yang sangat menyedihkan).
Ibu Renata: “Iya apa masalahnhya” (mulai kesal, karena Renata berbelit-belit dan tidak cepat menceritakannya).
Renata: “Aku mau menutup Rukoh Bu…hhh” (menghembuskan nafas).
Ibu Renata: “Loh kenapa Ren kok mau kamu tutup, bukannya pelangganmu banyak ”
Renata: “Justru karena pelangganku banyak dan sekarang mereka sudah pergi semua, dan sekarang taka ada satu pun orang yang yang dating lagi ke rukohku untu menjahitkan pakaiannya bu, kalanu dihitung dari kejadian itu sudah tiga minggu taka da pelanggan yang datang” (dengan air mata yang terus menetes), “pekerjaan, reputasi, dan karirku sudah hancur bu, rasanya aku ingin mati saja” (terus menangis).
Ibu Renata: “kenapa semuanya bisa terjadi ren? Kenapa?? ceritakan pada Ibu dengan lengkap” (dengan ekspresi sedih karena tidak tega melihat anaknya yang merasa hancur seperti itu).
Renata: “Mereka kecewa karena jahitannya mereka tidak selesai sesuai dengan waktu yang telah aku janjikan Bu, padahal aku sudah berusaha lembur siang dan malam untuk menyelesaikannya”.
Ibu Renata: “Kalau ceritanya begitu, ya itu memang salahmu Ren, lagian dulu sudah pernah mengingatkanmu untuk merekrut orang untuk jadi karyawan agar bisa membantu pekerjaanmu” (dengan ekspresi datar) “kalua sudah begini kamu akan menyalahkan siapa, makanya kalua orang tua ngomong itu di dengerin”.
Renata: “Kok Ibu mah ikut-ikutan menyalahkan aku sih, ini tidak sepenuhnya salahku…..lagian kalua aku memperkerjakanorang lain aku takut kualitasnya tidak sama denga hasil jahitanku”.
Ibu Renata: “Kalau bukan salahmu salah siapa Ren…dalam keaadaan seperti ini kamu masih aja berfikiran seperti itu, buang sifat sombong dan egois mu itu, Ibu tak pernah mengajarimu seperti itu” (dengan emosi).
Renata: “Terus aku harus apa Bu????”
Ibu Renata: “Kalau kamu masih tetap menyimpan sifat sombong dan egoismu itu, maka kamu akan hancur karena ulah dirimu sendiri Ren….Ibu sudah berulangkali memberitahumu, tapi kamu tak pernah mendengarkan Ibu…sekarang terserah kamu” (pergi ke kamarnya dan meninggalkan Renata sendiri di ruang tengah).
Renata: “kenapa semua orang menyalahkan aku sih, sampai-sampai Ibuku sendiri aja menyalahkan ku......apa mungkin bener kalau aku ini terlalu egois??” (berbicara pada dirinya sendiri). Kalau begini terus aku pengen mati saja, tak ada lagi yang bisa ku harapkan dalam hidupku, karir dan reputasiku sudah hancur, lantas untuk apa aku hidup (masih berbicara pada dirinya sendiri dengan berteriak dan menangis ).

BAGIAN 2
KEESOKAN HARINYA RENATA TIDAK KELUAR DARI KAMARNYA SAMA SEKALI, HINGGA IBUNYA MERASA SANGAT KHAWATIR KARENA HANYA SUARA ISAK TANGIS DAN SESEKALI SUARA TERIAKAN YANG TERDENGAR DARI KAMAR RENATA, KEADAAN SEPERTI ITU BERLANGSUNG SAMPAI BERHARI-HARI. HINGGA AKHIRNYA IBUNYA MERASA SEDIH DENGAN KEADAAN RENTA LALU MENGHAMPIRI KAMAR RENATA.
Ibu Renata: Tok tok tok... “Ren (mengetuk sambil memanggil). Ren.......kamu kenapa nak?? Ren buka pintunya Ibu mau bicara”.
Renata: (diam tak ada suara).
Ibu Renata: “Ren..... buka pintunya Ibu mau bicara nak”.
Renata: (tetap diam tak ada suara).
Ibu Renata: tok tok tok (kembali mengetuk pintu kamarnya) “Renata ayo buka pintunya,, Ibu mau bicara nak”.
Renata:  “Ada apa Bu???”
Ibu Renata: (kaget, melihat keadaan Renata seperti mayat hidup) “Ya Allah nak kenapa kamu seperti ini, mukamu sembab dan Ibu perhatikan kamu semakin kurus nak, maafkan Ibu...”
Renata: “Kenapa Ibu minta maaf? Emangnya Ibu ada salah apa sama aku?”
Ibu Renata: “Maafkan Ibu karena membuat kamu semakin terpuruk, karena sikap Ibu padamu yang tak acuh dan juga perktaan Ibu malam itu”
Renata: “Ibu tak salah kok, dan perkataan Ibu memang benar...sekarang aku sadar bahwa semua ini memang salahku yang terlalu sombong dan egois, karena gelar yang aku sandang hingga membuatku takabur dan selalu menganggap remeh orang lain”.
Ibu Renata: “Ibu gak maksud memjokkanmu malam itu ren, Ibu hanya takut kamu terbelenggu dalam kesombonganmu”.
Renata: “Iya Bu sekarang aku sadar kalau emang salah, aku malah sangat berterimakasih sama padamu Bu, berkat Ibu aku bisa sadar dengan kesalahan yang aku lakukan”.
Ibu Renata: “Alamdulillah kamu menyadarinya sebelum semuanya terlambat Ren”
Renata: “Iya Bu. Aku juga mau bangkit dari keterpurukan ini dan aku mau memulainya dari awal lagi, aku mau membuka lembaran baru, dan yang pasti aku mau mencari orang yang mau bekerja denganku”.
Ibu Renata: “Ibu turut bahagia nak karena akhirnya kamu bangkit dari keterpurukanmu, dan  semoga semuanya dilancarkan”.
Renata: “Iya Bu semoga dan terimakasih Bu karena selalu mendukungku” (tersenyum).
Ibu Renata: “Nah itu baru Renata anak Ibu” (tersenyum dan memeluk Renata).
AKHIRNYA RENATA KEMBALI BANGKIT DARI KETERPURUKANNYA DAN IA MEMBUKA LEMBARAN BARU DENGAN MEMULAINYA KEMBALI DARI NOL, DAN SEJAK SAAT ITU RENATA MENCARI ORANG UNTUK DIJADIKAN KARYAWANNYA AGAR BISA MEMBANTU PEKERJAANNYA. DAN SEJAK SAAT ITU PULA RENATA MULAI MEMPROMOSIKAN BUTIK DAN JUGA TEMPAT JAHIT YANG IA RINTIS KEMBALI DARI NOL DAN SEKARANG BUTIK DAN TEMPAT JAHIT NYA KEMBALI RAMAI SEPERTI DULU LAGI.
_TAMAT_
TENTANG PENULIS
Penulis  bernama Imama. Biasanya orang-orang memanggil  dengan sebutan Imey. Lahir di Sumenep, 16 Maret 1999. Penulis merupakan anak ke-2 dari tiga bersadaura dari kedua orang tuanya. Mereka tinggal di Desa Kasengan, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep. Ia pernah menempuh pendidikan di SDN 2 Kasengan, MTsN 1 Sumenep, MAN 1 Sumenep, dan sekarang adalah mahasiswa aktif S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universtas Negeri Malang. Penulis juga aktif di beberapa organisasi baik di kampus maupun di luar kampus, di antaranya penulis merupakan anggota UKM GERMAN Universtas Negeri Malang, anggota FKMS Unversitas Negeri Malang (Forum Komunikasi Mahasiswa Sumenep). Sejak tahun 2017 kesibukannya sebagai mahasiswa dan anak kos tidak menyurutkan semangatnya untuk menulis, karena dengan menulis ia dapat berkelana, mengekspresikan diri tanpa batas dan menuntuskan segala imajinasinya yang tak terbatas.








Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK