NASKAH DRAMA RESTU
RESTU
NUSHRUL NURGITAWATI
DRAMA
RESUME
Naskah Drama ini dikisahkan ada
sebuah keluarga yang terdiri dari seorang Ibu yang memiliki dua orang anak,
yaitu anak pertama bernama Neneng, dan anak kedua bernama Budi. Umur kedua anak
itu berjarak jauh. Neneng yang sudah berkeluarga dan Budi yang baru lulus SMA.
Permasalahan muncul ketiga Budi lulus dari SMA, Budi memiliki keinginan dan
tekad yang besar untuk melanjutkan kuliah. Namun, karena kondisi keluarga yang
bisa dikatakan kurang mampu, terutama pihak orang tua yaitu Ibunya melarang
Budi untuk tidak kuliah. Ibu meminta agar Budi bekerja saja, dan tidak
meninggalkan Ibunya. Budi yang menjadi anak laki-laki kesayangan Ibu sangat
diharapkan untuk tetap ada di rumah menemani masa tua Ibunya. Dan keadaan
Ibunya yang sudah tua, kurang sehat sering sakit karena faktor membuat Ibunya
kekeh untuk melarang Budi melanjutkan kuliah dan hidup di kota. Meskipun Budi
sudah mencari solusi dengan mendaftar beasiswa bidik misi untuk meringankan
keuangan keluarga, agar Ibunya tidak lagi memikirkan biaya kuliah Budi, namun
tetap saja Budi tak mendapatkan restu dari ibunya untuk mendaftar beasiswa
bidik misi dan melanjutkan kuliah di kota.
Ibunya yang keras dengan pendirian
yang kukuh tetap melarang Budi untuk tidak mendaftar dan melanjutkan kuliah
membuat Budi jengkel. Budi yang memiliki keinginan kuat untuk mengangkat
derajat keluarganya di desanya, justru tidak mendapat dukungan dari Ibunya.
Keluarga Budi selalu disepelekan oleh tetangga-tetangganya, karena keluarga
Budi orang kurang mampu banyak orang yang menganggap kecil keluarga Budi. Hal
itulah yang menyokong niat Budi untuk melanjutkan kuliah dan meraih
cita-citanya yang sangat tinggi. Dengan hati yang terbebani berada di rumah
tanpa mendapatkan restu dari Ibunya Budi terperangkap dalam suasana yang tak
tenang, suasana yang membuatnya selalu emosi. Saat itu juga Budi memutuskan
untuk pergi dari rumahnya meninggalkan Ibu, Mbak Neneng dan Mas Gun. Budi
meninggalkan keluarganya tanpa memikirkan keadaan ibunya yang saat itu sedang
sakit-sakitan. Hal itu membuat Ibunya semakin terpuruk, sering sakit, susah
makan karena memikirkan keadaan anaknya. Satu bulan Budi pergi dari rumahnya,
pada suatu hari tepatnya di sore hari ketika keluarganya sedang berkumpul bercengkerama
di teras rumah. Tiba-tiba Budi datang dengan langkah yang lunglai lemas tak
terurus. Budi bersimpuh dan menanggis memeluk Ibunya dengan erat. Budi meminta
maaf karena Budi tak mengikuti saran Ibunya, padahal saran dari orang tua
adalah saran yang terbaik untuk anak-anaknya. Semenjak itu Budi memutuskan
untuk kembali ke keluarga, tidak kekeh dengan keinginan kuliahnya, dan Budi
memilih untuk mencari pekerjaan dan membuka usaha di kampungnya.
Babak 1
Pagi itu,
terdengar riuh perdebatan yang sengit antara seorang ibu dengan anak
laki-lakinya. Keluarga yang beranggotakan tiga orang itu, yaitu seorang ibu
dengan kedua anak kandungnya, Budi anak laki-lakinya dan Neneng anak perempuan
yang merupakan kakak Budi. Pagi itu terdengar keras perdebatan sengit antara
Ibu setengah tua itu dengan seorang anak laki-lakinya. Suasana yang seharusnya
hangat antara ibu dan anak kini justru terlihat tegang dengan perang sahutan
adu pendapat antara keduanya.
Neneng
: “Bud, setelah lulus SMA mau
melanjutkan atau bekerja.”
Budi
: “Belum tau Mbak,
pengennya ya melanjutkan.” (menggelengkan kepalanya)
Ibu
: “Ealah Nak-Nak, uang
dari mana lagi. Seharusnya kamu bisa mikir, ibu sudah tua, sakit-sakitan. Ibu
sudah tidak sanggup menguliahkkan.” (Ibu menyangkal dengan nada yang iba)
Budi
: “Buk, tapi aku belum siap
bekerja. Aku ingin seperti teman-temanku melanjukan kuliah.”
Ibu
: “kamu sadar diri Nak,
sadar!” (tangan menunjuk ke arah Budi)
Neneng
: “Sudah-sudah jangan
berdedebat.”
Budi
: “Ibu yang memulai Mbak.”
Ibu
: “Lha kok bisa, sadar
Nak. Kamu yang keras kepala tidak sadar diri.”
Budi
: “Buk apa orang miskin
tidak boleh punya cita-cita yang tinggi?, apa orang miskin tak pantas kuliah?”
Ibu
: “Boleh, tapi kamu
harus tau kamu siapa, uang dari mana untuk kuliah? Neneng : “Kan sekarang ada banyak beasiswa Buk, ada
beasiswa bidikmisi juga.”
Ibu
: “Tetap saja itu
kurang, memangnya hidup di kota itu murah?”
Budi
: “Lha Ibu maunya aku
bagaiaman?”
Ibu
: “Ya kamu tetap di
rumah bekerja sambil merawat Ibu, bagaimana Ibu kalau kamu tinggal merantau?”
Budi
: “Kan ada Mbak Neneng
Buk.”
Ibu
: “Mbak Neneng sudah
berkeluarga, juga pasti sibuk dengan keluarganya. Mana mungkin Ibu akan
merepotkan Mbak Neneng.
Ibu
: “Dasar anak keras
kepala.”
Budi
: “Aku hanya ingin seperti
yang lain Bu, saya akan berusaha mengajukan beasiswa.
Ibu
: “Terserah apa katamu
Bud!” (meninggalkan ruang tamu, dan memasuki kamar).
Suasana
di rumah itu semakin canggung sehari, hingga dua hari, tiga hari, tak ada
obrolan di antara mereka. Mereka saling diam dan tak ada tegur sapa layaknya
hubungan ibu dan anak. Budi yang keras kepala tetap pada pendapatnya yang
menginginkan kuliah sedangkan Ibunya tetap melarang lantaran tak ada biaya
untuk menguliahkan Budi. Dan Mbak Neneng tak berani ikut campur, sesekali Mbak
Neneng melerai perdebatan, perdebatan justru tambah panjang. Pagi itu Budi
mendapat info dari temannya tentang beasiswa bidik misi di kampus terkenal yang
ada di kotanya. Budi langsung bergegas mengurus surat-surat yang akan diajukan
ke universitas, tanpa sepengetahuan ibunya.
Neneng :
“Kamu mau kemana Bud?”
Budi :
“Mau keluar Mbak, main ke rumah teman.” (sambil mengambil tas dan digendongnya
tas itu).
Ibu :
“Neng tolong bikinkan Ibu the hangat!” (perintah Ibu kepada Neneng, tanpa
sedikitpun memandang ke arah Budi yang akan berangkat).
Budi :
“Bu saya pamit, Assalamualaikum.” (pungkas Budi menghampiri Ibunya dan mencium
tangan Ibunya).
Ibu :
“Walaikumsalam”.
Neneng :
“Hati-hati Bud”. (teriak Neneng dari dapur yang mendengar adiknya berpamitan).
Babak
2
Budi bergegas berangkat
dengan jalan kaki, setelah mendapatkan informasi surat-surat apa saja yang
dibutuhkan Budi langsung menuju kantor kelurahan. Budi jalan kaki, karena
sepedah ontel tua miliknya bannya bocor. Budi jalan kaki dengan langkah penuh
keyakinan dan tekad yang kuat. Ketika di jalan ia hanya merenung dengan apa
yang dia cita-citakan saat ini. Sesampainya di kantor kelurahan, Budi langsung
masuk ke ruang administrasi.
Pak Kades : “Lho, tumben Nak datang ke kelurahan, ada perlu apa?
Budi :
“Saya Budi Pak, warga Rt 11, mau ada urusan Pak pembuatan surat untuk pengajuan
beasiswa.”
Pak Kades :
“Beasiswa apa Nak kalau Bapak boleh tau?”
Budi :
“Beasiswa bidik misi Pak, saya sangat berkeinginan kuliah tapi Ibu saya
melarang karena Ibu tak bisa membiayai kuliah saya. Maka dari itu, saya
bertekad tetap ingin mengejar cita-cita saya ingin kuliah dengan mengajukan
beasiswa, siapa tau Allah melancarkan niat saya.”
Pak Kades :
“Amin, niat kamu baik Nak. Tapi Bapak berpesan kepadamu, walaupun saat ini
restu dari ibumu belum kamu dapatkan, tetaplah menjadi anak yang baik, dan
tentunya sopan dan menghormati orang tua. Jangan sampai tekad kerasmu yang
belum mendapat restu ini membawamu ke jalan yang kurang baik. Suatu saat pasti
Ibumu akan mengerti niat dan cita-cita tulusmu.” (menepuk pundak Budi dengan
penuh bijaksana).
Budi :
“Baik, Pak. Terima kasih Pak untuk nasehatnya. Saya akan selalu mengingat pesan
Pak Kades yang bijak ini. Mari Pak, saya mau ke ruang administrasi dulu.”
(mengucapkan permmisi, sambil menundukkan badan).
Pak Kades :
“Iya silahkan Nak, ruang administrasi ada di sebelah ruang kepegawaian.”
(menunjuk
kea rah dalam kantor).
Budi :
“Baik, Pak.” (berjalan memasuki kantor kelurahan).
Ruangan
tampak ramai, saat itu hari senin dan pastinya banyak warga lain yang juga ada
keperluan ke kelurahan. Budi mengambil tempat duduk dan harus menunggu karena
di bagian pelayanan sangat antre panjang. Budi termasuk yang urutan yang paling
terakhir. Dalam ingatnya, tiba-tiba Budi mengingat nasihat Pak Kades tadi, Budi
merasa bersalah dengan Ibunya. Karena sejak perdebatan minggu lalu Budi dan
Ibunya tak berteguran, di rumah saling diam suasana menjadi tak karuaan.
Beberapa hari terakhir Budi merasa dirinya dikuasai emosi, disitu Budi mulai
merasa menyesal dan akan selalu mengingat nasihat dari Pak Kades tadi. Sejenak
merenung, tibalah urutannya.
Bu Tutik : “Ada keperluan apa Nak?”
Budi :
“Saya ingin meminta surat pernyataan dari keluarga tidak mampu Bu, untuk
mengajukan beasiswa di salah satu kampus yang ada di Surabaya.”
Bu Tutik : “Nak, kamu anak dari Bu Minah ya? Yang rumahnya di ujung
kali sana.”
Budi :
“Iya Bu, benar saya putranya Bu Minah istri alm. Pak Jono.”
Bu Tutik : “Sudah segede ini kamu, Nak. Sudah mau kuliah?”
Budi :
“Iya Bu, saya baru lulus sebulan yang lalu, dan rencananya saya ingin
melanjutkan untuk kuliah ke Surabaya.
Bu Tutik :
“Ohh, sungguh baik Nak keinginanmu. Semoga diperlancar.”
Budi :
“Amin, terima kasih Bu.”
Bu Tutik :
“Iya sama-sama. Oh iya tadi kamu perlu surat keterangan tidak mampu ya?”
Budi :
“Iya Bu, sebentar Bu, saya lihat catatan dulu.”
Bu Tutik :
“Baiklah saya buatkan dulu ya untuk surat keterangan tidak mampunya, tunggu
sebentar!”
Budi :
“Iya Bu.”
Bu Tutik :
“Ini Nak suratnya, apakah ada surat yang lain yang kamu butuhkan untuk
pengajuan beasiswa itu?”
Budi :
“Ada Bu, ini surat keterangan ayah yang sudah meninggal dan surat penghasilan
orang tua.”
Bu Tutik :
“Baik Nak, Tunggu dulu ya, saya akan buatkan.”
Budi :
“Iya baik, Bu.”
Bu Tutik :
“Ini Nak, ada lagi?”
Budi :
“Tidak ada Bu. Terima kasih ya Bu Tutik sudah membuatkan saya surat untuk
pengajuan beasiswa.”
Bu Tutik :
“Iya sama-sama. Jika nanti lolos jangan sia-sikan kesempatan itu ya Bud, selalu
ingatlah dengan tujuanmu mendapatkan itu.”
Budi :
“Siap Bu, permisi Bu.”
Bu Titik :
“Iya.”
Setelah
selesai urusannya di kelurahan, Budi bergegas pulang dan menyiapkan surat-surat
yang lain serta mengisi form pendaftaran. Siang itu langit sangat cerah, terik
matahari cukup panas. Namun tak sedikitpun melunturkan niat dan menyurutkan tekad
Budi. Iya berjalan dengan cepat agar segera sampai di rumah.
Budi :
“Assalamualaikum.”
Neneng :
“Walaikumsalam. Sudah pulang Bud? Dari mana saja kamu Bud?”
Budi :
“Budi dari kelurahan Mbak, tapi jangan bilang-bilang Ibu ya!”
Neneng :
“Lho, ngapain kamu ke kelurahan?”
Budi :
“Aku tadi pagi dapat informasi Mbak dari temanku di grub alumni SMA.”
Neneng :
“Informasi apa Bud?”
Budi :
“Informasi tentang beasiswa bidik misi Mbak, sekarang sudah dibuka pendaftaran
beasiswa bidik misi di kampus Surabaya. Dan aku benar-benar sangat ingin
mendaftar, maka dari itu aku langsung bergegas ke kantor kelurahan mengurus
surat-surat untuk persyaratan mendaftar.”
Neneng :
“Kamu benar-benar serius Bud? Lalu kenapa kamu tak ijin ke Ibu?.”
Budi :
“Aku tak yakin Mbak, Ibu akan mengizinkan.”
Neneng :
“Ya nanti Mbak coba bicarakan perlahan-lahan ke Ibuk, semoga saja Ibu
mengijinkan.”
Budi ;
“Terima kasih ya Mbakku yang satu ini memang baik sekali. Heheehe.”
Neneng :
“Iya, sudah sana. Itu di meja sudah Mbak siapkan makan siang ikan asin dan
sayur bayam kesukaanmu.”
Budi :
“Wah, enak sekali.” (bergegas menuju meja makan).
Budi
melahap makanan yang sudah disiapkan Mbaknya. Dan bergegas ke kamar untuk
mengisi form pendaftaran. Neneng yang saat itu sedang duduk di kursi tengah
sambil menyelesaikan jahitannya, mendengar suara Ibunya memanggil dari arah
kamar Ibu. Neneng berajak menghampiri Ibunya.
Ibu :
“Neng, Neneng, Neng, Neneng!”
Neneng :
“Iya Bu, sebentar. Ada apa ya Buk?”
Ibu :
“Neng bisa tolong nnti panggilkan Pak Lik Narto, untuk membenarkan genteng yang
miring itu, nanti kalau hujan bisa banjir kamar Ibuk!”
Neneng :
“Iya Buk, nanti saya panggilkan.”
Ibu :
“Iya. Adekmu dimana, kok Ibu seharian tak mendengar suaranya, belum pulang
juga?”
Neneng :
“Sudah Buk, Budi di kamar. Buk saya mau berbicara, Budi sangat ingin
melanjutkan kuliah apa Ibu tetap tak mendukungnya untuk mendaftar beasiswa?”
Ibu :
“Memangnya dia akan tetap mendaftar?”
Neneng :
“Iya Buk, tadi dia mengurus surat untuk pengajuan pendaftaran beasiswa bidik
misi ke kelurahan.”
Ibu :
“Nekad sekali, berangkat tanpa izin ke Ibu. Memangnya Ibuk ini siapa, sudah tak
dia anggap sebagai Ibunya lagi!.
Neneng :
“Bukan begitu Bu, Budi takut Ibuk akan marah dan tidak mengizinkan Budi untuk
pergi.”
Ibu :
“Bagaimanapun, Ibuk ini ibunya Neng, seharusnya Budi yang sudah dewasa tau mana
yang baik mana yang tidak.”
Neneng :
“Lalu Ibu tetap tak mengizinkan Budi.”
Ibu :
“Ibu mau kalau kita ada uang Neng, kamu tau sendiri uang beasiswa tak cukup
untuk hidup di kota, semua mahal. Uang dari mana lagi? Kita saja hidup serba
pas-pasan.
Neneng :
“Neneng siap membantu biaya Budi Buk, Neneng ingin Budi mengejar cita-citanya,
siapa tau dia bisa mengangkat derajat keluarga kita Buk.”
Ibu :
“Uang dari mana kamu, suamimu aja kerjaanya cuma kuli bangunan, buat makan kamu
dan anakmu aja pas-pasan. Kamu jangan kira kuliah itu ringan. Ibuk mendengar
keluhhan dari para tetangga yang menguliahkan anaknya semuanya mengeluh. Sudah
jalan di tengah jalan mau mundur tak bisa. Kalau sudah begitu bagaimana?”
(Neneng tercengang).
Neneng :
“Saya suka kasihan Bu, melihat Budi yang akhir-akhiran ini pikirannya kalang
kabut, sering melamun dan dia tidak fokus untuk bekerja. Keinginanannya sangat
baik dan sayang kalau semangatnya itu di patahnkan.”
Ibu :
“Ibu yakin kok Budi pasti mau mengikuti saran Ibu untuk bekerja saja!”
Neneng :
“Entahlah Buk.” (Sambil menghela nafas panjang).
Ibu :
“Adek sama kakak sama saja, tak pernah mendengarkan saran Ibuk.”
Neneng :
“Hemmzzz..” (meninggalkan kamar Ibu).
Kring…kring…kring.
Terdengar suara jam alarm milik Budi. Budi yang tertidur setelah mengisi
formulir pendaftaran di kamarnya terbangun mendengar bunyi jam alarmnya yang
sudah menunjukkan pukul 5 sore. Terlihat di jendela kamarnya mulai ada senja
dari ufuk barat. Budi melamun memandangi keindahan senja lamunan itu
mengarahkan Budi ke keinginannya melanjutkan kuliah. Dia bermimpi bisa menjadi
laki-laki yang sukses, dan menjadi orang yang dihormati di desanya. Selama ini
orang miskin di desanya selalu dipandang tak mampu dalam segala hal. Dalam
pikiran Budi hal itu terbantahkan, ia bertekad kuat untuk membuktikan apa yang
ia harapkan saat itu. Lekas sejenak ia melamun sudah mulai terdengar lantunan
suara adzan. Budi bergegas mandi dan sholat maghrib.
Budi :
“Mbak, Mbak, Mbak e. Bolehkan aku meminjam sepeda motornya Mbak?”
Neneng :
(Menghampiri Budi) “ Mau kemana kau Bud?”
Budi :
“Ahh, tidak kemana-mana Mbak, Cuma mau ke rumah Tono. Tadi ada janji dengan
Tono.”
Neneng :
“Awas ya kalau sampai bohong, iya pakai aja. Malam ini Mas Gun gak ada acara di
luar. Tapi ingat jangan sampai pulang larut malam, hati-hati.” (melotot kea rah
Budi).
Budi :
“Iya siap, Mbak cantik.” (Sambil bersalaman ke kakanya).
Neneng :
“Kamu tidak berpamitan pada Ibuk?
Budi :
“Sudah kok, lewat batin.” (tertawa membanyol).
Neneng :
“Dasar anak gemblung. Bagaimanapun itu Ibumu Bud, sana pamitan dulu. Ibu pasti
khawatir kalau nanti tau kamu pulang malam!”
Budi :
“Iya Mbakku yang paling cerewet. Ibu dimana Mbak?” (sambil menggodai Mbaknya).
Neneng :
“Itu ada di kamar Bud”.
Budi :
“Tok..tok…tok…Buk!” (mengetuk pintu).
Ibu :
“Iya, masuk saja!”
Budi :
“Budi mau ijin keluar Buk, kerumah Tono.”
Ibu :
“Iya, tapi jangan pulang larut malam dan hati-hati jangan ngebut di jalanan!”
Budi :
“Iya Buk, aku pamit dulu Buk. Assalamualaikum. (sambil mencium tangan Ibunya).
Ibu :
“Walaikumsalam.”
Neneng dan Budi adalah
dua saudaranya yang usianya terpaut cukup jauh. Namun kedekatan mereka tidak
bisa dipungkiri. Mereka sangat dekat walaupun usinya terpaut jauh. Budi yang
sering menggodai Neneng, memperlihatkan betapa Budi sangat menyayangi kakaknya
yang cerewet tapi perhatian itu. Ibunya yang memiliki watak keras mampu diredam
oleh Neneng yang notabennya lebih halus. Budi merasa nyaman dengan sikap
kakaknya yang mampu meredamkan setiap emosinya saat berbicara dengan Ibuknya.
Budi :
“Tok…tok…tok, Buk.” (Budi mengetuk pintu)
Ibu :
“Iya ada apa? Ada yang ketinggalan?”
Budi :
“Tidak Buk, Budi hanya ingin bilang kalau Budi akan tetap melanjutkan kuliah,
dan Budi akan mendaftar beasiswa bidik misi. Ini budi pergi ke rumah Tono untuk
mengunggah surat-surat yang dipersyaratkan dalam pendaftaran beasiswa bidik
misi. Tono hanya ingin meminta ijin dan restu dari Ibuk.”
Ibu :
(Sontak berdiri) Kamu memang anak tak tau diri Bud, kamu Ibuk besarkan untuk
berbakti kepada orang tua. Apa yang dikehendaki orang tua itu adalah saran
terbaik untuk masa depanmu. Kamu tau Ibuk sudah tua sakit-sakitan, keluarga
kita makan cuma dari harapan ladang, Ibuk sudah tak bekerja. Jika Ibuk mampu
pasti semua keinginan anaknya akan Ibuk penuhi, tapi lihat Ibuk, tengok Ibuk
Bud. Ibuk lemah, sakit-sakitan, apa kamu tidak berfikir panjang dengan
kesehatan Ibuk, dengan keadaan Ibuk jika kamu merantau ke kota?”
Budi :
“Budi akan berusaha sungguh-sungguh Buk, Budi janji. Beri restu Budi untuk
tetap mendaftar beasiswa dan kuliah.”
Ibu :
“Pergi sana! Ibu tak pernah punya anak yang pembangkang.”
Budi :
“Buk, Budi mohon.”
Ibu :
“Pergi! Untuk apa kamu meminta restu Ibukmu ini, kamu sudah tak menganggap Ibuk
ada, selama ini Ibuk salah membesarkan anak laki-laki yang Ibuk harapkan bisa
jadi anak yang sholeh dan hormat sama Ibuk. Tapi kenyataanya sia-sia. Pergi!”
Budi :
“Ibuk jangan egois, Budi punya cita-cita Buk, Budi ingin seperti teman-teman.
Budi punya cita-cita tinggi. Budi ingin keluarga kita tidak direndahkan. Aku
lelah Buk, aku lelah selalu disepelekan oleh tetangga. Budi lelah selalu
dianggap kecil. Apa orang tak punya seperti kita tak boleh kuliah, memiliki
cita-cita tinggi, apa tak boleh Buk?”
Ibu :
“Tidak ada yang salah, tapi keputusan yang kamu ambil yang salah, kamu bisa
mengangkat derajat keluarga kita dengan bekerja. Orang di luaran sana banyak
yang sukses, tanpa mereka harus kuliah dulu. Lihat di luaran sana, jangan hanya
pikiranmu terpaku dengan kuliah dan bisa menjadi orang yang sukses. Lihat Bud!
Banyak mereka yang sarjana kuliah lulus dan tak bekerja, mereka nganggur. Kamu
pikiran lagi niatmu itu, pikirkan baik-baik!”
Budi :
“Budi tetap ingin daftar Buk, sekali lagi Budi mohon, ijinkan Budi, dan restui
Budi untuk mendaftar beasiswa bidik misi.”
Ibu :
“Pergi dari kamar Ibuk! Terserahmu Bud, Ibuk sudah tak dianggap untuk apa kamu
masih meminta ijin dari Ibuk. Pergi saja jika ingin pergi!”
Budi :
“Baik, kalau itu mau Ibuk. Budi akan pergi, Budi tak akan meminta uang
sepeserpun pada Ibuk atau Mbak Neneng. Budi akan pergi dari rumah ini. Budi
akan membuktikan pada Ibuk budi bisa, Budi tak menyusahkan Ibuk. Maafkan Budi
sebagai anak laki-laki yang tak bisa menjadi kebanggan Ibuk. Tapi Budi akan
membuktikan dengan cara Budi sendiri. Budi pamit Buk, Ibuk jaga diri baik-baik,
maafkan Budi. Assalamualaikum. (pergi dan menutup pintu).
Neneng :
(Menunggu di depan kamar Ibuk) Kamu kenapa, kenapa suaramu keras. Kamu berantem
lagi dengan Ibuk?”
Budi :
“Gakpapa Mbak.” (Menundukkan kepala, tanpa menatap kakaknya).
Neneng :
“Bilang pada Mbak, Bud. Kita ini keluarga, jangan biarkan masalahmu kau
tanggung sendiri, kamu punya Mbak. Ayo cerita pada Mbak!”
Budi :
“Aku akan pergi dari rumah Mbak, tolong jaga Ibuk. Maafkan Budi tak bisa
menjadi adik yang baik dan menyenangkan Ibuk.” (duduk dengan wajah yang lemas).
Neneng :
“Apa maksudmu, Bud?”
Budi :
“Budi mau pergi dari rumah Mbak, Budi terbebani pikiran jika tetap di rumah
ini. Budi ingin tetap mendaftar beasiswa bidik misi. Tapi Ibuk tetap tak
mengijinkan Budi untuk kuliah.”
Neneng :
“Kalau kamu pergi, bagaimana dengan Ibuk, kamu anak laki-laki satu-satunya.
Jangan saling egois, pikirkan kesehatan Ibuk. Semua bisa dibicarakan baik-baik,
jangan mengambil keputusan disaat kamu emosi seperti ini Bud. Ibuk butuh kamu,
kamu kesayangan Ibuk.”
Budi :
“Mbak Neneng tak sama denganku Mbak, aku anak laki-laki. Aku punya tanggung
jawab besar untuk keluarga ini. Bapak sudah tak ada, Ibuk sudah tua dan sakit.
Mbak Neneng sendiri sudah berkeluarga. Dan aku kasihan kalau Mas Gun bekerja
sendiri, sedangkan pekerjaannya belum bisa memenuhi kbutuhan keluarga kita
secara cukup.”
Neneng :
“Iya, jika kamu tau seperti itu, kenapa kamu tidak mau mengikuti saran Ibuk
untuk bekerja saja.”
Budi :
“Mbak, Mbak coba lihat pemuda-pemuda di sini, lihat mereka. Banyak diantara
mereka hanya bekerja menjadi buruh pabrik. Budi yakin, upah pegawai pabrik tak
cukup untuk mengangkat derajat keluarga kita. Budi lelah Mbak, Budi capek
selalu diremehkan, dianggap kecil oleh tetangga. Orang-orang disini hanya
melihat orang dari ekonomi. Keluarga kita selalu disepelekan.”
Neneng :
“Mbak tau Bud, tapi coba kamu pikirkan bagaimana Ibuk, bagaimana Mbak, kelurga
kita kalau kamu tetap pergi. Pikirkan, jangan sampai kamu menyesal dengan
keputusan yang kamu ambil sekarang. Mbak yakin, kamu anak yang baik. Kamu bisa
mengambil keputusan yang memang baik untuk keluarga kita, dan sekali lagi Mbak
mohon, pikirkan keadaan Ibuk, kesehatan Ibuk.”
Budi :
“Budi yakin dengan pilihan Budi Mbak, Budi akan tetap pergi. Dengan Budi ada di
sini justru akan menghalangi langkah Budi untuk melanjutkan cita-cita Budi.
Budi akan tetap mendaftar beasiswa bidik misi. Budi meminta restu pada Mbak
Neneng, doakan Budi ya Mbak, doakan Budi bisa lolos seleksi pendaftaran
beasiswa bidik misi ini. Budi akan pulang membawa kabar baik untuk keluarga
kita, untuk Ibuk, dan untuk Mbak Neneng.”
Neneng :
“Mbak pasti akan doakan yang terbaik untuk adek Mbak satu-satunya ini. Tapi
Bud, kamu mau tinggal dimana jika pergi dari rumah ini?. Kamu tak punya
siapa-siapa di kota. Kamu bisa tetap mendaftar dan tinggal di sini saja. Mbak
tak bisa membayangkan jika kamu pergi bagaiaman kesehatan Ibumu. Ibu sangat
menyayangimu Bud, Mbak gak tega jika melihat Ibuk jauh dari kamu, pasti
kesehatannya akan menurun.”
Budi :
“Jangan khawatir dengan Budi Mbak, Budi bisa jaga diri. Budi titip Ibuk, jaga
Ibuk. Maafkan Budi saat ini hanya bisa menyusahkan Mbak Neneng. Maafkan Budi.”
(Menunduk dan menangis di pelukan Neneng).
Neneng :
“Kamu tidak perlu pergi, di sini saja Bud, perlahan pasti Ibuk akan
mendukungmu. Jangan terlalu dimasukan hati perkataan Ibuk.”
Budi :
“Tidak Mbak, Budi harus pergi. Budi akan membereskan pakaian-pakaian Budi
dulu.”
Neneng :
“Jangan sampai kau menyesal dengan keputusanmu ini Bud.”
Budi :
“Budi tidak menyesal Mbak.” (Berjalan ke kamar dan membereskan pakaiannya.”
Neneng :
“Yasudah, Bud kalau memang itu keputusanmu. Ingat pesan Mbak, jaga diri
baik-baik. Dan jangan lupakan keluargamu yang ada di kampung ini.”
Budi :
“Baik, Mbak. Budi sangat sayang Ibuk dan Mbak Neneng. Budi pamit dulu ya Mbak.
Titip ibuk, Budi jalan kaki saja Mbak, tidak jadi pinjam motor.
Assalamualaikum.”
Saat itu juga Budi
pergi dari rumahnya karena tak mendapat restu dari Ibunya untuk mendaftar
beasiswa bidik misi dan melanjutkan kuliah. Budi memutuskan untuk pergi tanpa
restu dan ijin dari Ibunya untuk mendaftar beasiswa bidik misi dan melanjutkan
kuliah. Semenjak Budi pergi dari rumah, suasana rumah menjadi sepi. Banyak
tetangga yang menanyakan alasan kepergian Budi ke Ibuk. Sehingga hal itulah
yang membuat Ibuk jatuh sakit karena stress memikirkan nasib anak laki-lakinya.
Berhari-hari sudah satu bulan lamanya Budi tak member kabar. Neneng dan Ibuk
bingung mencari kabar Budi.
Ibu :
“Neng, apa belum ada kabar juga dari Budi?”
Neneng :
“Belum ada Buk, Neneng sudah menghubungi Budi tapi tak ada jawaban, Neneng
sudah tanya ke Tono, ke teman-teman yang lainnya juga tapi mereka tidak tau
keberadaan Budi.”
Ibu :
“Ibu khawatir dengan keadaanya.”
Neneng :
“Sudahlah Buk, Ibuk yang sabar, berdoa saja semoga Budi tidak apa-apa. Doakan
Budi segera pulang, dan berkumpul dengan keluarga kita lagi.”
Ibu :
“Ibu sebenarnya hanya ingin membuat Budi nurut, mendengarkan nasihat Ibuk, tapi
anak itu memang keras kepala seperti almarhum ayahnya.”
Neneng :
“Ibuk yang sabar, Budi pasti akan pulang. Yang terpenting sekarang Ibu pulih
dulu dan jangan terlalu banyak pikiran. Budi sudah besar pasti bisa jaga diri.”
Ibu :
“Iya Neng, Neng bisa buatkan Ibu bubur, Ibu gak nafsu makan nasi.”
Neneng :
“Iya Bu. Tunggu sebentar ya. Apa Ibuk ingin ke kamar, Ibuk harus banyak
istirahat, jangan sampai kelelahan dan banyak pikiran.”
Ibu :
“Iya Neng, Ibuk ingin ke kamar rebahan di kasur, antar Ibuk ke kamar!”
Neneng :
“Iya ,Buk.”
Tepat di hari itu Ibuk,
Neneng, Mas Gun sedang duduk di teras rumah. Karena saat itu sedang musim
hujan, jadi hampir setiap sore diguyur hujan. Hari yang menuju senja menambah
kenyamanan suatu keluarga untuk berkumpul dan bercengkerama. Menikmati seduhan
the hangat dengan suguhan pisang goreng yang masih hangat di atas piring di
lincak itu. Dari kejauhan Nampak laki-laki muda melangkah menuju rumah dengan
langkah yang lunglai lemas. Ia berseru “Assalamualaikum”.
Neneng :
“Walaikumsalam, Budiiii. Ini Budi kan?”
Mas Gun :
“Kamu kenapa Bun, wajahmu tampak sangat lelah dan tak terawatt.”
Ibuk :
“Nak, ini kamu sini, kemarilah! Peluk Ibu, Ibu sangat rindu denganmu. Kenapa
kamu benar-benar pergi dari rumah meninggalkan Ibu. Apa kamu sudah tak
menghiraukan keadaan Ibuk?” (Mememluk Budi dengan sangat erat).
Budi :
“Buk, Mbak Neng, Mas Gun. Ini aku Budi. Maafkan adekmu ini yang menyusahkan,
tak tau terima kasih sudah dibesarkan sampai sebesar ini. Maafkan Budi, Budi
sangat berdosa sudah meninggalkan keluarga ini dengan memilih mengejar
keinginan Budi semata. Budi egois, Budi durhaka kepada Ibuk, maafkan Budi Buk,
Budi menyesal. Budi tak bisa membuktikan perkataan Budi kepada kalian. Maafkan
Budi.”
Neneng :
“Sudah Bud, sudah tak perlu kamu sesali. Semua pilihan dan semua ada
konswensinya. Kamu hebat, pada akhirnya kamu pulang dan tau mana pilihan yang
tepat untukmu. Kami di sini merindukanmu, terutama Ibu. Ibuk sangat rindu
denganmu, sampai berminggu-minggu sakit, susah makan nasi. Mana ada Ibu yang
bisa membiarkan anaknya pergi dengan keadaan tak punya apa-apa dan belum
bekerja.”
Budi :
“Maafkan Budi Buk, Mbak maafkan, Budi menyesal tak mendengarkan apa yang
dikatakan Ibuk, seharusnya Budi bisa bijak mengambil keputusan. Memikirkan
kelurga dulu sebelum Budi memikirkan keinginan Budi sendiri. Dan sekarang apa
yang Ibuk katakana dulu benar, aku sudah mendaftar beasiswa bidik misi di
banyak kampus-kampus tapi tak ada satupun yang lolos.”
Ibu :
“Ibuk sangat sayang denganmu Nak, Ibuk tak ingin keputusanmu tanpa restu Ibuk
menyengsarakan hidupmu di kemudian kelak. Belajarlah menerima, belajar melihat
kenyataan bahwa tak semuanya itu mulus berjalan sesuai dengan apa yang kita
harapkan. Kamu bisa sukses tanpa kuliah, kamu bisa membahagiakan Ibuk dengan
berada di dekat Ibuk, merawat Ibuk. Yang terpenting sekarang kamu sudah sadar,
kamu sudah kembali ke Ibuk. Dan kamu tetap menjadi anak Ibuk, harapan Ibuk.”
Budi :
“Budi berjanji Buk Budi akan mengikuti nasihat Ibuk, Budi sayang Ibuk. Budi gak
mau kehilangan keluarga Budi. Terima kasih Buk sudah menerima Budi kembali di
keluarga ini.”
Neneng :
“Jangan berkata seperti itu, selamanya kamu tetap menjadi bagian dari keluarga
ini Bud. Mbak, Ibuk, mas Gun saat kamu pergi, selalu berdoa dan berharap kamu
akan kembali ke rumah ini. Rumah ini sepi tanpa celotehan anak laki-laki Ibuk.”
Budi :
“Aku sayang kalian, setelah ini aku akan mencari pekerjaan dan mengumpulkan
uang untuk modal membuka usaha sampingan sebagai tambahan penghasilan kita
sehari-hari.”
Ibu :
“Nah, ini baru anak Ibuk, jagoan Ibuk.”
Budi : “Aku akan akan selalu jadi jagoan untuk Ibuk,
untuk keluarga ini.”
Neneng :
“Nah, Budi hebat!”
BIOGRAFI PENULIS
Nushrul Nurgitawati
lahir di Madiun, tanggal 27 April 1998. Ia kerap dipanggil dengan nama
panggilannya Gita. Sekarang Nushrul menempuh pendidikan di Universitas Negeri
Malang prodi Pendidikan Bahasa, Sastra, Indonesia dan Daerah. Dalam kesempatan
yang mendukung ini, Nushrul menggali pengalamannya dan menuliskan ide-idenya
dalam suatu karya sastra. Salah satunya ia tuangkan dalam karya naskah dramanya
yang berjudul “Restu”.
Pendidikan
Nushrul dimulai di tingkat TK yaitu TK Dharma Wanita yang ada di Desa Warurejo,
Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun. Melanjutkan ke jenjang SD di SDN
Warurejo, lalu melanjutkan ke jenjang menengah pertama di SMPN 1 Balerejo, dan
tingkat menengah atas di SMAN 2 Mejayan. Nushrul menekuni kegiatan-kegiatan
yang mengarah pada kemampuan bahasa dan sastra yang sesuai dengan jurusan yang
diambil.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi