NASKAH DRAMA RUANG MERAKI














RUANG MERAKI
Afly Risqi Amalia













TOKOH dan PENOKOHAN:
1.      Fadil
Pekerja keras, pantang menyerah, namun bisa pesimis, mau mendengar pendapat orang lain, penyabar.
2.      Rahman
Sahabat Fadil, ceria, penyemangat orang lain, cerewet, setia kawan
3.      Ibu
Sayang Fadil, tidak suka merepotkan, humoris, penyabar
4.      Pak Bos
Tegas, humoris, peduli terhadap karyawan
5.      Karyawan 1 dan Karyawan 2
Tokoh antagonis, suka berbicara tentang orang lain (gosip), pendendam






Babak 1
ADEGAN 1
Setting          : Kamar hotel yang berantakan penuh dengan barang-barang setelah pesta kejutan ulang tahun.
Fadil              : (memasuki kamar sambil membawa peralatan kebersihan)
Fadil              : (menghela nafas) “Baiklah kita mulai lagi.”
Fadil              : (membersihkan kamar, mengambil sampah, menyapu)
Fadil              : “Entah sampai kapan aku begini terus, nyapu, ngepel, bosan.”
Fadil             : “Karyawan teladan? Cih gini mau jadi karyawan teladan.”
Fadil             : “Ayo semangat Fadil!”
Lalu ada yang memanggil Fadil dari arah pintu
Rahman         : “Dil, cepetan ada yang mau ngisi lagi nih kamar, buruan.”
Fadil              : “Iyaa ini lagi diberesin.”
Rahman         : “Cepetan woy! Mereka udah dateng!” (lalu pergi meninggalkan kamar Fadil)
Fadil dengan terburu-buru membersihkan kamar, namun sayang dia terlambat.
Pelanggan 1  : “Loh kok masih kotor sih kamarnya? Gak profesional banget!”
Fadil              : (menghampiri pelanggan) “Mohon maaf, Bu. Kamarnya sedang dirapikan, mohon tunggu sebentar.”
Pelanggan 2  : “Kami ini sudah capek ya mas perjalanan jauh! Kami mau istirahat!”
Fadil              : “Iya, Bu. Mohon ditunggu sebentar ya, Bu.” (masuk kamar membersihkannya)
Pelanggan 1  : “Pokoknya saya mau complain saya gak nyaman kalau begini!”
Fadil              : (kembali menemui pelanggan) “Sudah, Bu. Kamarnya sudah selesai dibersihkan. Ibu-ibu bisa menggunakannya sekarang.”
Pelanggan 1 dan 2 kemudian masuk dan menutup pintu dengan cukup kencang
Fadil             : “ Astagfirullah.. sabar.. sabar..”
ADEGAN 2
Setting: Di sebuah ruangan pemimpin hotel. Fadil dan pemimpin departemen housekeeping sedang berbicara serius berhadapan yang dibatasi oleh meja kerja
Bos        : “Akhir-akhir ini kamu kenapa kok tidak serius, Dil? Pekerjaan banyak yang keteteran, tidak sesuai jam, kamu kurang konsentrasi.”
Fadil      : “Maaf, Pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi.”
Bos        : “Memang sepatutnya begitu. Kamu kenapa? Ada masalah?”
Fadil      : “Enggak, Pak.”
Bos        : “Berantem sama karyawan lain?”
Fadil      : “Tidak.”
Bos        : “Gaji kamu kurang?”
Fadil      : “Tidak sama sekali, Pak.”
Bos        : “Oh, atau kamu sudah bosan dengan pekerjaanmu?”
Fadil      : “Tentu saja tidak, Pak. Saya baik-baik saja.”
Bos        : (menghela nafas) “Yasudah, kalau kamu memang tidak ada masalah. Jangan sampai terulang lagi. Saya sudah menganggap kamu salah satu karyawan terbaik didepartemen kita, Dil. Jangan kecewakan saya.”
Fadil      : “Terima kasih, Pak. Saya mohon maaf sebesar-besarnya telah mengecewakan bapak.”
Bos        : “Baik, kamu bisa meninggalkan ruangan saya dan lanjutkan pekerjaanmu”
Fadil      : (berdiri lalu membungkukkan badannya) “Mohon maaf pak sekali lagi. Saya permisi.” (lalu pergi meninggalkan ruangan)
ADEGAN 3
Setting: Kamar hotel
Fadil dan Rahman membersihkan kamar hotel tersebut sambil berbincang-bincang
Rahman : “Kamu tadi dipanggil pakbos, Dil?”
Fadil      : “Iya.”
Rahman : “Dimarahin?”
Fadil      : “Yaa begitulah.”
Rahman : “Kenapa?”
Fadil      : “Siapa?”
Rahman : “Ya kamulah.”
Fadil      : “Nggak papa.”
Rahman : “Ada masalah?”
Fadil      : “Enggak.”
Rahman : “Aneh.”
Fadil      : “Udah aku gakpapa kok.”
Rahman : (menghela nafas) “Oke, terserah deh. Nih udah aku bantuin tinggal dikit lagi. Aku pergi dulu. (sambil menepuk pundak Fadil)
Fadil      : “Yo makasih.”
Sepeninggal Rahman, gawai Fadil tiba-tiba berbunyi
Fadil      : “Assalamualaikum.”
Ibu         : “Waalaikumsalam. Nak, kamu apa kabar, sehat?”
Fadil      : “Alhamdulillah, sehat, Bu. “ (sambil duduk ditepi kasur)
Ibu         : “Alhamdulillah kalau begitu. Pekerjaanmu, lancar?”
Fadil      : “Lancar-lancar saja, Bu. Ya, begini saja jadi pengabdi hotel, hehehe.”
Ibu         : “Pengabdi-pengabdi udah kayak film aja pengabdi-pengabdi.”
Fadil      : “Ada apa Bu kok tiba-tiba telepon?”
Ibu         : “Loh ibunya telepon kok heran, gak mau ya?”
Fadil      : “Hehehe ya nggak gitu, Bu. Ya, tumben aja gak beritahu dulu.”
Ibu         : “Kamu lagi sibuk ya?”
Fadil      : “Ah tidak, Bu. Ini udah selesai tadi dibantu sama Rahman.”
Ibu         : “Oh begitu.”
Ibu         : (diam)
Fadil      : “Bu, kok diam? Ada apa?”
Ibu         : “Itu, Dil...”
Fadil      : “Kenapa, Bu? Ibu ngomong saja.”
Ibu         : “Begini, Dil. Adikmu udah nunggak 3 bulan belum bayar SPP. Uang Ibu Cuma cukup buat makan kita sehari-hari. Adikmu yang kecil juga sedang sakit sekarang. Badannya panas.”
Fadil      : “Astagfirullah, Ibu kok nggak bilang sama Fadil?”
Ibu         : “Ibu takut mengganggu pekerjaanmu, Nak. Ibu tau akhir tahun begini hotel lagi ramai-ramainya.”
Fadil      : “Jangan sungkan begitu, Bu. Ibu dan adik-adik sudah jadi tanggung jawab aku sekarang. Sejak ayah....”
Ibu         : (langsung menyahut) “sstt udah jangan bahas ayah lagi.”
Fadil      : (menghela napas) “Hmm.. yaudah, Bu. Besok Fadil kirim uangnya ya. Kalau sekarang Fadil belum bisa.”
Ibu         : “Iya, nak, nggak papa. Terimakasih ya nak.”
Fadil      : “Iya, Bu.”
Ibu         : “Ibu tutup ya, Assalamualaikum.”
Fadil      : “Waalaikumsalam.”
Fadil      : (diam sambil memandangi gawainya)
Fadil      : “Maafkan Fadil, Bu. Belum bisa jadi anak yang membanggakan Ibu.”
Fadil      : (memasukkan gawainya ke dalam kantong saku lalu melanjutkan pekerjaannya) “Enggak papa deh makan mie instan lagi, demi Ibu.”
Babak 2
ADEGAN 1
Setting   : Sebuah ruangan yang luas seperti aula. Para pegawai berkumpul di ruangan tersebut. Akan disampaikan pengumuman oleh Bos Departemen HK (housekeeping)
Bos HK         : “Assalamualaikum, selamat pagi semua.”
Karyawan     : “Waalaikumsalam, pagi.”
Bos HK        : “Begini saudara-saudara. Saya memanggil saudara semua untuk berkumpul di tempat ini karena saya akan mengumumkan suatu hal yang penting. Saya akan mengumumkan bahwa hotel kita akan mengadakan pemilihan karyawan terbaik tahun 2019. Seperti yang saudara ketahui, bahwa setiap departemen akan memilih satu perwakilan untuk dijadikan kandidat calon karyawan terbaik 2019. Untuk itu, saya akan membebaskan kalian untuk memilih siapa yang pantas untuk dijadikan kandidat calon karyawan terbaik 2019. Saudara sekalian bisa menulis nama kemudian masukkan ke dalam kotak yang ada di depan saya ini. Besok akan diumumkan siapa yang akan mewakili departemen kita. Apa sudah jelas?”
Karyawan     : “Sudah, Pak.”
Bos HK        : “Baik, saudara sekalian bisa menulis kemudian taruh di dalam kotak ini. Kertas akan dibagikan kepada Anda semua. Terimakasih, Wassalamualaikum Wr. Wb.”
Karyawan     : “Waalaikumsalam Wr. Wb.”
Rahman        : “Dil, pilih aku ya? Tulis “Rahman” gitu.”
Fadil             : “Mau banget? Hahaha”
Rahman        : “Yee sekali-kali kek bikin seneng temen sendiri.”
Fadil             : “Hahaha dah tuh udahh.” (sambil menunjuk kertas bertuliskan “Rahman”)
Rahman        : “Weesss sipp gitu dong baru temenku!” (merangkul dengan sebelah tangan)

ADEGAN 2
Setting: terdapat dua tempat. Satu, kamar hotel dan satu lagi lobby kamar hotel
(lobby kamar)
Karyawan 1  : “Males banget ikutan jadi karyawan terbaik.”
Karyawan 2  : “Lah kenapa?”
Karyawan 1  : “Gak tau? Yang jadi juara nanti bakal jadi tentor buat anak-anak magang nanti. Males banget!”
Karyawan 2  : “Lah emang iya? Baru tau aku.”
Karyawan 1  : “Gak enak deh beneran.”
Karyawan 2  : “Bukannya hadiahnya lumayan ya?”
Karyawan 1  : “Iyasih, tapi yang bikin males tuh harus bimbing anak-anak magang dan yang pasti malah bikin tambah capek.”
Karyawan 2  : “Bener juga sih, terus tadi kamu nulis siapa dong?”
Karyawan 1  : (menoleh ke arah pintu kamar Fadil) “Aku nulis nama dia.”
Karyawan 2  : (ikut mengikuti arah pandangnya) “Fadil?”
Karyawan 1  : “Iya. Dia yang paling rajin kan diantara kita. Paling semangat deh.”
Karyawan 2  : “Iya juga ya.”
Karyawan 1  : “Terus kamu pilih siapa?”
Karyawan 2  : “Hehehe, kamu.”
Karyawan 1  : “Ha? Aku?!” (suara agak tinggi)
Karyawan 2  : “Iya, hehehe.”
Karyawan 1  : (memukul kepala karyawan 2 dengan lap yang dibawanya) “Sontoloyo! Kok milih aku sih?”
Karyawan 2  : “hehe ampun ampun soalnya kamu yang deket sama aku.”
Karyawan 1  : “heleh alasan. Udah yuk lanjut bersihin kamar.”
ADEGAN 3
(Kamar hotel Fadil)
Fadil tengah membersihkan kamar seperti biasanya. Ia tidak sengaja mendengar percakapan karyawan lainnya mengenai pemilihan
Fadil             : (sambil mengelap kaca) “Mereka ada benernya juga sih. Pasti capek banget. Gini aja udah kerasa banget capeknya!”
Fadil             : (berhenti mengelap dan menghadap kekaca) “Tapi hadiahnya lumayan. Bisa buat ibu di kampung.”
Fadil             : “Ah tapi belum tentu juga aku kepilih.”
Fadil             : “Tapi males banget ngajar anak-anak magang! Pasti pada manja sulit diatur!”
Fadil             : “Tapi kalau menang ibu pasti bangga!”
Fadil             : (melempar lap ke arah kaca) “Kok jadi pusing sihh?!”
Fadil             : “Bodoamat lah mau kepilih mau nggak gak ngaruh juga sama kerjaan!”
Babak 3
ADEGAN 1
Setting: Aula hotel dengan karyawan yang berkumpul di dalamnya.
Bos HK        : “Baik saudara-saudara, sekarang adalah waktunya mengumumkan siapa yang berhak mewakili departemen kita untuk maju sebagai kandidat calon karyawan terbaik 2019.”
Bos HK        : (sambil membawa amplop) “Disini saya telah membawa amplop yang berisikan sebuah nama. Siapa kira-kira yang akan mewakili departemen kita? Dan dia adalah...”
Bos HK        : (diam sedikit memberi jeda)
Bos HK        : “Nungguin, ya?” (sambil tersenyum)
Karyawan     : (semua tertawa)
Bos HK        : “Hahaha baik-baik rupanya kalian tidak sabar. Baik, yang mewakili departemen kita adalah...”
Bos HK        : (membuka amplop dan membaca isinya) “Selamat kepada, Fadil!” (dengan suara lantang)
Karyawan     : (tepuk tangan meriah)
Karyawan     : (suara bersahut-sahutan)
                      “Waa selamat Dil!”
                      “Wihh selamat broo!”
Bos HK        : “Untuk Fadil, dipersiapkan untuk tahap selanjutnya. Sekali lagi selamat!”
Semua           : (tepuk tangan meriah)
Bos HK        : “Oke. Itu saja yang bisa saya sampaikan. Saudara sekalian bisa kembali ke pekerjaan kalian masing-masing.”
Rahman        : “Wahh gila kamu! Selamat ya bosku kamu ngewakilin kita! Traktir boleh dong ini hahaha.” (sambil merangkul dengan sebelah tangan)
Fadil             : “Traktir-traktir! baru dimulai ini masih ada tahapan lainnya.” (sambil melerai tangan Rahman dari bahunya)
Rahman        : “Aku doain berhasil deh, Dil!”
Fadil             : “Tapi kira-kira seleksinya kayak gimana ya? Jadi takut nih!”
Rahman        : “Udah tenang, kamu yakin aja serahkan semua pada Allah, Dil.”
Fadil             : “Iya Man itu pasti. Tapi tetep aja deg-degan!”
Rahman        : “Udah-udah mending kita lanjut aja kerjaan kita! Kerjaanku di laundry banyak nih udah pada numpuk!”
Fadil             : “Yaudah kuyy!”
Bos HK        : (menghampiri Fadil) “Fadil!”
Fadil dan Rahman menoleh menghadap Bos HK
Fadil             : “Ada apa, Pak?”
Bos HK        : “Begini, untuk tahapan selanjutnya dilaksanakan 2 minggu lagi ya.”
Fadil             : “Oh iya, Pak, baik.”
Bos HK        : (menepuk pundak Fadil) “Semangat ya Dil! Semoga menang”
Fadil             : “Amin, Pak. Terimakasih. Saya mau melanjutkan pekerjaan saya”
Bos HK        : “Ah iya. Silahkan-silahkan.”
Rahman        : “Mari, Pak.”
ADEGAN 2
Setting: di lorong kamar hotel. Terdapat 2 karyawan yang sedang bersih-bersih. Satu menyapu lantai, satu lagi mengelap barang-barang
Karyawan 2  : “Wah betul kamu! Yang ngewakilin departemen kita si Fadil.”
Karyawan 1  : (diam tetap melanjutkan menyapu)
Karyawan 2  : “Hei! Kok diem?”
Karyawan 1  : “Aku kok gak suka ya”
Karyawan 2  : “Gak suka?”
Karyawan 1  : “Iya, gak suka.”
Karyawan 2  : “Siapa?”
Karyawan 1  : “Fadil.”
Karyawan 2  : (berhenti mengelap lalu menoleh ke arah karyawan 1) “Bukannya kamu milih dia?”
Karyawan 1  : “Iya, bener.”
Karyawan 2  : “Terus?”
Karyawan 1  : “Gak suka, gak rela.”
Karyawan 2  : “Kok gitu?”
Karyawan 1  : “Sebenernya aku pengen liat dia menderita.”
Karyawan 2  : “Terus?”
Karyawan 1  : “Malah dipuja.”
Karyawan 2  : “Baik kan dia.”
Karyawan 1  : ”Gak suka, gak bisa dibiarin.”
Karyawan 2  : “Terus kamu mau apa?”
Karyawan 1  : “Liat aja nanti.”
ADEGAN 3
Setting: Kamar hotel. Seperti biasa Fadil membersihkan dengan penuh semangat. Dia akan membuktikan bahwa ia memang pantas untuk dijadikan perwakilan dari departemen housekeeping
Fadil              : (membersihkan kamar dengan penuh semangat sambil sedikit bersenandung)
Karyawan 1  : “Seneng banget kayaknya, Dil.”
Fadil              : “Eh enggak kok biasa aja.”
Karyawan 1  : “Kamu dipanggil Pak Bos tuh diruangannya.”
Fadil              : “Oh ya?”
Karyawan 1  : “Iya, cepetan sana.”
Fadil              : “Okedeh.” (pergi meninggalkan kamarnya)
Karyawan 1  : “yes! Waktunya beraksi.”
Karyawan 1  : (memberantakan kamar yang telah dibersihkan Fadil)
Tak berlangsung lama, Fadil kembali dengan beberapa pelanngan yang akan mengisi kamar tersebut.
Fadil              : “Astagfirullah! Apa yang kamu lakuin?” (sedikit berteriak)
Fadil             : “Pak, Bu. Sebentar ya. Bapak dan Ibu bisa duduk terlebih dahulu disana.” (sambil menunjuk tempat duduk diluar kamar)
Fadil             : “Apa yang kamu lakuin??” (berteriak)
Fadil             : (menghampiri dan memeras kedua bahu karyawan 1 dengan kuat) “Kamu gila?! Pelangganku mau ngisi ini kamar dan kamu malah ngancurin?”
Karyawan 1  : “sabar Dil sabar!”
Fadil             : “Gak bisa! Kamu ngapain, hah?!” (menekan setiap kata)
Karyawan 1  : “Aku khilaf, Dil. Maaf Dil, maaf! Aku beresin lagi, janji!” (menyatukan tangannya memohon maaf)
Fadil             : “Cepet beresin! Nanti kita omongin lagi.” (melepaskan tangannnya dengan sedikit mendorong)
Karyawan 1  : “Iya, Dil, iya.”
ADEGAN 4
Setting: lorong kamar hotel
Fadil             : “Jelasin kenapa kamu ngelakuin itu?”
Karyawan 1  : “Maaf, Dil.”
Fadil             : “Kenapa?”
Karyawan 1  : “Maaf!” (menundukkan kepala)
Fadil             : “Kenapa?” (suara sedikit meninggi)
Karyawan 1  : “Aku gak suka!” (suara meninggi)
Karyawan 1  : (suara melemah) “Aku gak suka, Dil. Aku gak suka kamu dipuja”
Fadil             : “Siapa yang memujaku?”
Karyawan 1  : “Semua. Semua karyawan.”
Fadil             : “Aku gak merasa seperti itu.”
Karyawan 1  : “Aku iri, Dil!”
Fadil             : “Kenapa?”
Karyawan 1  : “Aku ingin kamu menderita.”
Fadil             : “Kenapa?”
Karyawan 1  : “Maafin aku, Dil.”
Fadil             : (diam)
Karyawan 1  : (menengadah wajahnya melihat Fadil)
Fadil             : “Oke, aku maafkan kamu.” (tersenyum kepada karyawan 1)
Karyawan 1  : “Makasih, Dil, bener-bener kamu memang baik!” (kemudian memeluk sekilas lalu melepasnya)
Fadil             : “Iya, tapi kalau misal ada masalah bilang aja, jangan sungkan. Mending diomongin baik-baik.”
Karyawan 1  : “Iya Dil, iya.”
Fadil dan Karyawan 1 : (tersenyum)

Babak 4
ADEGAN 1
Setting: di kamar hotel seperti biasa Fadil membersihkan kamar tersebut.
Fadil             : “7 hari lagi kompetesi karyawan terbaik bakal dimulai”
Fadil             : “Semoga saja dapet yang terbaik. Menang gak menang udahlah gakpapa.”
Tiba-tiba terdengar bunyi ketokan pintu
Rahman        : “Dil, Fadil” (mengetuk pintu)
Fadil             : “Ada apa Man?”
Rahman        : (masuk menghampiri Fadil dan menyerahkan beberapa lembar kertas) “Ini dari Pak Bos.”
Fadil             : “Apaan nih?” (melihat kertasnya)
Rahman        : “Katanya sih kisi-kisi buat nanti lomba”
Fadil             : “Kok baru sekarang sih??” (suara meninggi)
Rahman        : “Ya gak ngerti lah! Jangan marah ke aku!”
Fadil             : “Yaudah lah!” (mulai membaca kertas tersebut)
Rahman        : “Kamu udah siap Dil?”
Fadil             : “Siap gak siap Man. Ah! Gini amat kisi-kisinya!”
Rahman        : “Kenapa, kenapa??!”
Fadil             : “Nih! Baca aja!” (memberikan kertas tersebut kepada Rahman)
Rahman        : (membaca kertas tersebut) “Wihhh bakal begadang nih kamu.”
Fadil             : “Ya bukan lagi!” (duduk bersila di kasur)
Rahman        : (ikut duduk di sebelah Fadil) “Tapi kamu harus tetep semangat, Dil. Demi Ibu di rumah. Demi aku juga hahaha.” (menepuk pundak Fadil)
Fadil             : (menunduk dan menghela nafas)
Rahman        : “Semangat Fadil!”
Fadil             : “Iya, Man.”
Rahman        : “Dah aku mau lanjut dulu. Jangan galau apalin udah itu kisi-kisinya.”
Fadil             : “Makasih, Man.”
Rahman        : (pergi meninggalkan Fadil)
Kemudian gawai Fadil berbunyi
Fadil             : “Halo, Assalamualaikum”
Pak RT          : “Waalaikumsalam, Nak Fadil.”
Fadil             : “Iya, dengan saya sendiri. Maaf, ini siapa ya?”
Pak RT          : “Ini saya nak, Bapak RT.”
Fadil             : “Oh iya, Pak. Ada apa ya?”
Pak RT          : “Begini nak, ibumu sekarang sedang berada di rumah sakit.”
Fadil             : “Innalillahi! Ya Allah ibu!!” (berdiri dengan nada yang tinggi)
Pak RT          : “Kamu yang sabar nak, lebih baik kamu pulang saja.”
Fadil             : (terbata-bata) “Ba..baik..baik, Pak.”
Pak RT          : “Iya, nak. Assalamualaikum.”
Fadil             : “Waalaikumsalam”
Fadil             : (menaruh gawai di kasur)
Fadil             : (mondar-mandir gelisah) “Gimana ini? Gimana?? Ya Allah hamba harus apa?! Lomba 7 hari lagi apa masih sempat?!”
Fadil             : “ya Allah Ya Rabb” (menutup muka dengan tangan)
Fadil             : “Besok harus pulang!”
BAGIAN 2
Setting          : kantor Pak Bos
Pak Bos        : “Ada apa kamu kemari, Dil?”
Fadil             : “Begini, Pak. Besok saya mau ijin mengambil cuti libur saya.”
Pak Bos        : “Loh untuk apa?”
Fadil             : “Ibu saya masuk rumah sakit, Pak.”
Pak Bos        : “Innalillahi, lalu kamu mau pulang? Bukannya kamu mewakili departemen kita untuk mengikuti lomba?”
Fadil             : “Iya, Pak, betul. Tapi saya harus pulang, Pak. Tidak ada yang menjaga beliau.”
Pak Bos        : “Apa tidak bisa yang menjaga sanak saudaramu saja?”
Fadil             : “Saya tidak punya saudara lagi, Pak. Saya janji saya akan segera kembali setelah ibu saya sembuh.”
Pak Bos        : “Baiklah kalau begitu. Saya mengijinkan kamu.”
Fadil             : “Terimakasih, Pak.” (dengan wajah sumringah)
Pak Bos        : “Tapi ingat tanggung jawabmu sebagai perwakilan.”
Fadil             : “Baik, Pak. Baik. Terimakasih sekali lagi.”
Pak Bos        : “Iya, sama-sama.”
Babak 5
BAGIAN 1
Setting          : di Rumah Sakit
Fadil             : “Ibu sakit apa?” (sambil memijat perlahan lengan ibu)
Ibu                : “Ibu tidak apa-apa, nak. Cuma kecapean saja.”
Fadil             : “Yang betul?”
Ibu                : “Ibu tidak bohong, nak.”
Fadil             : “Ibu jujur sama Fadil, Sekarang Fadil yang bertanggung jawab sama keluarga ini.”
Ibu                : “Iya, nak. Ibu tidak apa.” (tersenyum)
Fadil             : (menghela nafas) “hmm yasudah kalau begitu. Ibu sekarang istirahat saja.” (kemudian menarik selimut sampai kedada ibu)
Ibu                : “Terima kasih, nak.”
Fadil             : “Iya, bu.”
Setelah beberapa saat, ibu telah tertidur dengan lelap
Fadil             : (diam memandangi wajah ibu)
Fadil             : (dengan lirih) “Bu, jangan tinggalin Fadil, ya? Fadil butuh Ibu. Fadil tidak tau kemana lagi kalau tidak ada Ibu.”
BAGIAN 2
Ibu sudah diperbolehkan dokter untuk dirawat di rumah. Fadil menjaga ibunya di rumah. Tiba-tiba seseorang datang dengan menggedor pintu rumah dengan keras.
Bapak         : (menggedor pintu dengan keras)
Bapak         : “Buka pintunya!” (dengan suara keras)
Fadil           : (membuka pintu kemudian terdiam kaget) “Bapak?”
Bapak         : (masuk ke rumah)
Fadil           : (nada yang cukup tinggi) “Bapak ngapain kesini?”
Bapak         : (tersenyum remeh) “Wahh kebetulan sekali kamu disini.”
Fadil           : “Maksud Bapak?”
Bapak         : “Bagi duit!” (seraya menengadah tangannya)
Fadil           : “Ha?”
Bapak         : “Bagi duit gue bilang!” (dengan sempoyongan)
Fadil           : “Gak ada.”
Bapak         : (mendorong pipi Fadil cukup keras) “Bagi duit gue bilang!”
Fadil           : (menunduk)
Bapak         : “Budek ya lu?! Bagi duit cepet!!” (dengan suara tinggi mendorong tubuh Fadil)
Fadil           : (suara tinggi) “Dibilang gak ada ya gak ada Pak!”
Bapak         : “Oh gue tau! Lu simpen kan di kamar ibu lu?!”
Bapak         : (mencoba masuk ke kamar)
Fadil           : (mencegah Bapak) “Enggak, Pak! Gak ada!”
Bapak         : (mendorong dengan keras) “Minggir bangsat!!”
Fadil           : “Bapak!”
Bapak         : (mengobrak-abrik lemari)
Fadil           : “Sudah Fadil bilang gak ada Pak!”
Bapak         : (mengambil sebuah kotak) “Ini terus apa? Ha?!”
Fadil           : (mencoba mengambil kotak) “Bukan apa-apa Pak! Bukan!”
Bapak         : “Minggir!”
Fadil           : “Kembalikan Pak!”
Mendengar keributan yang terjadi, ibu datang. Ibu yang belum sehat benar juga mencoba mengambil kotak tersebut.
Ibu              : “Mas udah mas!”
Bapak         : “Ini lagi, ngapain sih ikutan?!”
Fadil           : “Pak jangan Pak!”
Bapak         : (mendorong dengan keras Ibu) “Minggir!!”
Bapak         : (berjalan keluar)
Ibu terantuk meja dan terkena kepalanya. Kepala ibu mengeluarkan darah.
Fadil           : “yaAllah Ibuuu!! Bu, bangun Bu! Ibu!!” (menangis dan berteriak)
BAGIAN 3
Setting        : di kamar rumah sakit
Dokter        : “Kondisi Ibu Anda saat ini cukup kritis. Mengingat keadaan beliau yang masih belum sembuh total lalu ditambah dengan keadaan yang menimpa ibu Anda, mengakibatkan Ibu Anda mengalami koma. Saat ini kita hanya bisa berdoa semoga Ibu Anda dapat bangun dari komanya. Karena itu salah satu cara agar Ibu Anda tetap bisa hidup.”
Fadil           : (menangis) “Baik Dok, terimakasih.”
Dokter        : “Kalau begitu saya permisi dulu.”
Fadil           : (duduk disebelah kasur ibunya)
Fadil           : “Bu.. bangun bu. Jangan tinggalin Fadil Bu. Fadil masih belum bisa jaga adik dengan baik, Bu.”
Fadil           : “Bu, Fadil pernah bohong loh soal Fadil yang punya banyak uang padahal enggak, Bu.”
Fadil           : “Ibu biasanya jewer Fadil kalau Fadil bohong, ayo sekarang jewer Fadil Bu.”
Fadil           : (menangis) “Ibu...!”
BAGIAN 3
Keesokannya Ibu Fadil ternyata tidak bisa melanjutkan hidupnya. Beliau dipanggil oleh Tuhan terlebih dahulu
Setting        : rumah Fadil, di teras. Terdapat bendera kuning di rumahnya.
Fadil           : (diam duduk merenung)
Gawai Fadil berbunyi
Rahman      : “Assalamualaikum”
Fadil           : “Waalaikumsalam”
Rahman      : “Dil, aku udah denger kabar ibu kamu, aku turut berduka cita ya”
Fadil           : “Iya, Man. Makasih.”
Rahman      : “emm.. gini Dil”
Fadil           : (diam)
Rahman      : “Kamu dicariin Pak Bos.”
Fadil           : “Hm?”
Rahman      : ”Soal lomba.”
Fadil           : (diam)
Rahman      : “Kamu bakal lanjut kan, Dil?”
Fadil           : “Gak ngerti, Man. Dah hancur!”
Rahman      : “Jangan kayak gitu lah Dil! Kamu juga harus bertanggung jawab. Kamu bawa nama Departemen loh.”
Fadil           : “Gak ngerti Man”
Rahman      : “Ayolah Dil. Demi ibumu juga.”
Fadil           : “Hm?”
Rahman      : “Kamu gak inget? Tujuanmu ikut lomba ini apa? Buat ibumu kan?”
Fadil           : “Udah gak ada Man”
Rahman      : “Justru itu, Dil! Kamu mau bikin ibumu sedih di atas sana? Enggak kan? Ayo Dil bangkit!”
Fadil           : (diam)
Rahman      : “Kamu kayak bukan Fadil yang aku kenal. Udah ya kamu pikirin aja dulu. Inget Dil! Ini demi nama baik departemen dan ibumu! Assalamualaikum” (kemudian Rahman langsung mematikan)
Fadil           : “Gak penting.” (menaruh gawai di meja)
Babak 6
BAGIAN 1
Setting        : hall aula hotel.
Akan berlangsung lomba karyawan terbaik. Namun Fadil belum datang.
Rahman      : (mondar-mandir) “Aduhh Fadil kemana sihh belum dateng juga. Masa beneran gak dateng sihh?”
Pak Bos      : (menepuk pundak Rahman) “Gimana, Man?”
Rahman      : “Eh Pak Bos. Fadil belum datang.”
Pak Bos      : (melihat jam tangannya) “Masih ada waktu 30 menit lagi.”
Rahman      : “Iya, Pak. Semoga dia datang.”
Pak Bos      : “Amin. Bapak kesana dulu, ya?”
Rahman      : “Baik, Pak”
Pak Bos      : (pergi)
Rahman      : “Kemana sih ni anak??!”
Rahman      : “Telpon aja deh.”
Rahman      : (menelepon Fadil)
Rahman      : (kesal) “Aish! Gak aktif lagi!”
Tiba-tiba datanglah seseorang dengan keadaan penuh dengan peluh.
Rahman      : “Fadil! Akhirnya kamu dateng juga!”
Fadil           : (napas tersengal-sengal)
Rahman      : “Abis dikejar anjing?”
Fadil           : “Motorku mogok dari pertigaan sono. Jadi dorong deh!”
Rahman      : “Yaudah sekarang buru cepetan ganti baju terus masuk noh!”
Fadil           : “Mampus aja aku belum hafalan kisi-kisi!” (sambil menepuk jidat)
Rahman      : “Udah doa yang banyak aja! Cepetan keburu mulai!”
Fadil           : “Doain aku ya?”
Rahman      : “Pastilah!”
Fadil           : (pergi dan mengikuti lomba)
BAGIAN 2
Perlombaan dilaksanakan dengan ketat. Para peserta diwawancarai satu persatu oleh para atasan mereka dan tiba saat pengumuman.
Pemimpin Hotel     : “Selamat malam semua.”
Karyawan               : (koor) “Malam”
Pemimpin Hotel     : “Telah kita ikuti tadi beberapa tahap seleksi dan akhirnya kita dipenghujung acara, yaitu pengumuman.”
Pemimpin Hotel     : “Baik, disini saya telah membawa amplop yang berisikan nama pemenang. Saya berharap pemenangnya nanti dapat membuat karyawan lain lebih semangat lagi dalam bekerja. Oke, tanpa berlama-lama lagi, saya akan mengumumkan siapa pemenang dari karyawan terbaik 2019 dan pemenangnya adalah...”
Pemimpin Hotel     : “Selamat kepada.... Fadil dari Departemen Housekeeping!”
Rahman                  : “Eh anjir! Kamu menang Dil! Menang!!” (sambil menggoyang-goyangkan bahu Fadil)
Fadil                       : “Beneran nih? Aku, Man??”
Rahman                  : “Iya beneran! Udah buruan maju!”
Fadil                       : (berjalan menuju podium)
Pemimpin Hotel     : “Selamat ya!” (bersalaman dengan Fadil)
Fadil                       : “Iya, Pak. Terimakasih juga.”
Pemimpin Hotel     : (memberikan hadiah) “Ini hadiah untuk kamu karena telah menjadi karyawan hotel terbaik 2019.”
Fadil                       : “Terimakasih, Pak.”
Pemimpin Hotel     : “Silahkan katakan sesuatu untuk teman-temanmu.”
Fadil                       : (menganggukan kepala)
Fadil                       : “Assalamualaikum Wr, Wb.”
Karyawan               : “Waalaikumsalam Wr. Wb.”
Fadil                       : “Puji Syukur kepada Allah SWT, saya, Fadil dapat berdiri disini dengan membawa kemenangan ditangan saya. Saya sangat berterimakasih kepada Allah SWT karena telah mengijinkan saya menjadi pemenang karyawan terbaik 2019. Hadiah dan kemenangan saya ini saya tujukan kepada ibu saya. Ibu yang selalu menyemangati saya dalam keadaan apapun dan juga karena ibu pula saya mengikuti perlombaan ini.
Fadil                       : “Selain itu, saya juga sangat berterimakasih kepada Bapak dan Ibu sekalian yang telah memberikan hadiah yang spesial ini. Tak lupa juga teman saya, Rahman, yang membimbing saya, yang menyemangati dan membukakan pikiran saya sehingga dapat mengikuti perlombaan ini, dan akhirnya alhamdulillah menang!”
Karyawan               : (tepuk tangan meriah)
Fadil                       : “Terimakasih sekali lagi.”
Karyawan               : (tepuk tangan meriah dan siulan dimana-mana)


SELESAI





TENTANG PENULIS
AFLY RISQI AMALIA, biasa dipanggil AFLY. Sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Negeri Malang, dengan Jurusan Sastra Indonesia. Anak pertama dari tiga bersaudara ini, cukup suka menulis terlebih lagi menulis cerpen. AFLY dapat dihubungi melalui alamat email: aflyrisqi759@gmail.com . AFLY juga suka berteman.

Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK