NASKAH DRAMA SALAH BANTUAN
Karya: Risa Desmara Dema
Drama Persona
1.
Wafi : baik, acuh, mudah
emosi
2.
Suliha : malas, mudah percaya
3.
Mak
Hayati : pelit, sombong
4.
Mak
Maimunah : cerewet, suka bergosip,
sombong
5.
Maisyaroh : cerewet, suka bergosip
6.
Pak
RT : baik, tenang
BABAK 1
DI DEPAN SEBUAH RUMAH YANG TERBUAT DARI BAMBU,
TERDAPAT SEBUAH KURSI DARI BAMBU DAN HALAMAN YANG KOTOR DENGAN SAMPAH.
DIKELILINGI DENGAN RUMAH-RUMAH BERTEMBOK BATA.
Suliha :
(menyapu di halaman rumah dengan raut wajah yang cemberut) “Ahhh, pagi-pagi
gini aku wes sibuk, repot nyiapin ini itu ina inu. Masih nyapu, belum masak,
belum nyuci. Pokoknya sibuk banget dah.”
Wafi :
(keluar dari dalam rumah dan menghampiri Suliha) “ada apa sih dek? Kamu
pagi-pagi kok cemberut gini?”
Suliha : “gak apa-apa kok mas. Aku gak
apa-apa.”
Wafi : “kalau memang gak apa-apa, mukamu itu ndak akan
cemberut gitu dek.”
Suliha : “kepo ae sampean mas, wes
minggir sana, ndak lihat aku lagi nyapu apa ya.”
Wafi : “yawes lah, aku tak masuk dulu. Malesi lihat kamu
pagi-pagi wes cemberut.”
(masuk ke dalam rumah)
Suliha :
“tuh kan, ancene suami ndak ada perhatian sama sekali ke istrinya.” (sambil
melemparkan sapu yang dipegang sembari duduk di kursi bambu yang ada di halaman
rumah).
Mak Hayati :
(keluar dari dalam rumah dan menghampiri suliha) “heh, kok enak malah duduk
santai disini. Nyapu sek belum selesai malah leyeh-leyeh.”
Suliha :
(kaget mendengar suara maknya) “ehmmmm, opo ae toh mak. Sampean ini mesti bikin
aku kaget. Pelan-pelan kan bisa ngomongnya.”
Mak Hayati :
“ancen biasa anak satu ini, itu selesaikan nyapunya. Kok malah bengong.”
Suliha :
“sek tah mak, aku capek. Sek sek sek, aku tak bernapas sek.”
Mak Hayati :
“alasan tok. Ndang disapu itu loh. Wapi habis ini berangkat kerja dan belum
kamu buatin makanan.”
Suliha :
“biarin aja, aku sek sibuk ini. Mak aja dah yang masak. Aku capek.”
Mak Hayati :
“lah kok enak nyuruh-nyuruh mak’e. Itu suamimu, jadi yang masak ya harus kamu.”
Suliha :
“yawes aku tak masak, mak sing nyapu.”
Mak Hayati :
“nyuruh-nyuruh mak’e maneh. Kan ini rumahmu, ya jadi kamu yang harus nyapu.”
Suliha :
(menarik napas panjang) “huhhhh, mak mak, kabeh-kabeh aku. Yaweslah biarin
rumah ini kotor, aku tak masak ae.” (langsung masuk ke dalam rumah dan tidak
mendengarkan omongan maknya).
Mak Hayati :
“ampun dah, anak satu itu. Garai mumet. Kan ya bisa nyapu dulu, terus masak,
kok malah maknya yang disuruh nyapu. Rumah punya siapa, yang nyapu siapa.”
Saat Mak Hayati menyapu halaman rumah, kemudian lewatlah Mak Maimunah
yang merupakan tetangga samping rumahnya.
Mak Maimunah: “eh ti, kamu
lagi ngapain? Tumben nyapu. Hahaha.”
Mak Hayati : “menengo lambemu nah, jangan bikin aku
naik darah pagi-pagi.”
Mak Maimunah: (menghampiri mak Hayati dan duduk di
kursi bambu di teras rumah mak
Hayati) “eh, guyon ae ti.
Kayak ndak ngerti aku gimana ke kamu. Eh eh, aku ada berita baru dan akan
menghebohkan seluruh dunia.”
Mak Hayati :
(langsung melempar sapu dan ikut duduk di samping mak Maimunah) “berita opo?
Apa duit dari kades sudah cair? Atau duit dari bupati? Atau duit dari haji
Endang si kaya raya di kampung ini?”
Mak Maimunah: “heboh, mesti.
Aku belum ngomong dan kamu wes menduga-duga.”
Mak Hayati : “iyo ageh ndang ngomong nah munah.”
Mak Maimunah: “haji Endang mau bagi-bagi duit
gratis-tis-tis dan banyak-nyak-nyak buat
janda dan
yatim di kampung ini.”
Mak Hayati :
“beneran iya kan? Ehmmm… aku janda jadi dapat 1 amplop, anakku ada 2 dan mereka yatim berarti 2 amplop. Jadinya 3
amplop. Wah lumayan buat beli emas.”
Mak Maimunah: “mas mus mas
mus ae kamu ini ti, kamu cuman dapet 1 amplop. Lagian
anakmu kan wes nikah semua.”
anakmu kan wes nikah semua.”
Mak Hayati :
“iya biarin dah, siapa tau rejekinya anakku ya kan. Tak ambil duitnya, tak buat
beli emas.”
Mak Maimunah: “emas ae sing dipikir. Ini loh rumahmu
ndak pengen kamu bangun tah?
Ndak malu
tah tinggal dirumah mau roboh kayak gini? Heeeehhhh”
Mak Hayati :
“rumah ini punya Wapi sama Suliha, ya biarin mereka yang bangun rumah ini.”
Mak Maimunah: “pemikiran dari jaman pak Suharto jadi
presiden sampek sekarang
jamannya
pak Jokowi, tetep ae awakmu ti ti ti.”
Mak Hayati :
“Nah, tak omongi ya, kita ini sebagai orang tua yang anaknya sudah menikah, ini
masanya kita untuk santai-santai dan menikmati segalanya. Iya masak anak gak
mau gantian yang ngasih segalanya ke kita.”
Mak Maimunah: “emboh wes ti, aku mau ke pasar dulu,
mau beli buah apel inggris buat
cucuku, biar
sehat. Biar ndak kayak cucumu yang kalau makan enak mesti nunggu makanan dari
posyandu.” (sembari pergi meninggalkan mak Hayati sendirian di teras rumah)
Mak Hayati :
“iyo kan, mesti buntutnya ada unsur penghinaan. Awas ae yo Maimunah, kalau aku
nanti bisa ngalahin emas-emas yang kamu punya.”
Mak Hayati masuk ke dalam rumah, kemudian datanglah Maisyaroh dan
langsung duduk di teras rumah Suliha.
Maisyaroh :
“tumben kok sepi ini rumah, biasanya pagi-pagi gini wes ada perang dunia ke 10.
Sek sek tak urak yo, ha ha ha, suliha suliha suliha.”
Wafi : (Wafi keluar dari dalam rumah dan langsung
menegur Maisyaroh)
“opo ae roh? Bikin rame dirumah orang.”
Maisyaroh :
“ndak ada mas, kangen suliha aja, pengen bergosip bercanda ria bersama.”
Wafi :
“awas kamu ngomong macem-macem ke liha, tak bakar rumahmu.”
Maisyaroh :
“aman terkendali lah pokoknya kalau sama aku tuh, tenang aku tutup mulut.”
Wafi :
“tutup terus aja mulutmu itu, gak usah ngomong sekalian. Ha ha ha” (memanggil
suliha yang ada didalam rumah) “dek, suliha. Dek, Aku mau berangkat kerja. Ini
ada syaroh nyari kamu.”
Suliha
keluar dari dalam rumah.
Suliha :
“iyawes mas, hati-hati ya. Jangan genit, jangan ngeluyur. Kalau sudah pulang
kerja, ndango pulang.”
Wafi :
“iya dek, iya. Berangkat yaa.” (sembari berjalan meninggalkan suliha dan
maisyaroh di teras rumah).
Maisyaroh :
“eh liha, aku punya berita yang lagi heboh di gang sebelah.”
Suliha :
“apa sih roh? Aku lagi gak mau gosip. Aku capek.”
Maisyaroh :
“capek apa toh ha? Kamu kan dari tadi di dalam rumah gak ngapa-ngapain ya kan?”
Suliha :
“matamu gak ngapa-ngapain. Wes aku tak masuk ke dalam aja.”
Maisyaroh :
(menarik tangan suliha) “eh, aku beneran ini, aku gak gosip. Wafi main
belakang.”
Suliha :
“main belakang apa sih roh? Kamu ngomong sing bener gak bisa tah?”
Maisyaroh :
“sek tah, aku kemarin tuh ke rumah haji Endang. Eh ternyata ada Wafi sama
mantannya di gang sebelah lagi makan bareng dan suap-suapan. Hahaha, terus wafi
kalau pulang kan mesti sore, dia itu lagi jalan-jalan sama mantannya.”
Suliha :
“lambene kumat, wafi gak kira gitu. Lawong kalau pulang kerja dia langsung
pulang ke rumah.”
Maisyaroh :
“kan kan, kalau diomongi. Wafi itu pulangnya jam 2 siang, dan dia baru pulang
ke rumah itu jam 4 kan? Aku tau semua ha.”
Suliha :
(mulai emosi) “kamu jangan sembarangan ngomong. Wafi kerja di haji Endang, dan
memang jam 4 pulangnya. Aku tau sendiri.”
Maisyaroh :
“hahahaha, tapi ada satu hal yang kamu gak tau. Mantan Wafi itu juga kerja
dirumah haji Endang dan mereka setiap hari ketemu. Enak kan bisa ketemu mantan
dan tiba-tiba mereka balikan, hahaha.”
Suliha :
“ndak percoyo, aku ndak pernah percoyo lambe dowehmu iku.”
Maisyaroh :
“yawes kalau kamu gak percaya. Aku hanya ingin menyampaikan informasi yang
sangat penting ini karena disuruh haji Endang. Biar mereka gak mesra-mesraan
terus di tempat kerja.”
Suliha :
“wes wes, aku gak pernah percoyo lambemu itu.”
Maisyaroh :
“eh sek sek, ada satu lagi. Ada salam dari haji Endang buat Emakmu. Hutang
jangan lupa dibayar, kalau gak dibayar nanti keburu emakmu mati dan lupa semua
hutang-hutangnya, hahaha.”
Suliha :
(menarik kerudung maisyaroh) “kamu ini ya roh, pagi-pagi udah bikin ribut di
rumah orang, terus bawa berita gak bener, terus juga ngejek keluargaku. Ancen
lambemu iku minta dijahit yo. Sebel aku.” (langsung masuk ke dalam rumah dengan
penuh amarah).
Maisyaroh :
“huh, mesti diomongi gak percaya. Yaweslah, aku tak pulang buat ngitung
uang-uangku.” (pergi dari rumah Suliha)
Maisyaroh
pergi dari rumah Suliha. Kemudian Suliha keluar dari rumah dengan menarik-
narik
tangan Mak Hayati.
Suliha :
“ayo mak, keluar sini, aku mau ngomong.”
Mak Hayati :
“ opo she ha? Mak mau liat tipi di dalem, ada sinetron azab pagi ini.”
Suliha :
“mak ini kah, dengerin aku mau ngomong.”
Mak Hayati :
“ayo ndang ngomong. Ehmmmm mesti.”
Suliha :
“masak tadi Maisyaroh bilang kalau mas Wafi main belakang.”
Mak Hayati :
“main belakang apa sih ha? Kalau ngomong iku sing jelas nduk.”
Suliha :
“ihhhh, masak mak ndak ngerti sih.”
Mak Hayati :
“main belakang apa? Main di belakang rumah Maisyaroh tah?”
Suliha :
“tuh kan, mak malah guyon.”
Mak Hayati :
“lah terus opo ha?”
Suliha :
“mas Wafi selingkuh mak.”
Mak Hayati :
“opo? Wafi selingkuh? Selingkuh sama Maisyaroh? Kurang ajar anak orang satu itu
ya!”
Suliha :
“ihhhh, bukan mak. Bukan sama syaroh.”
Mak Hayati :
“terus sama siapa ha? Katanya tadi syaroh yang bilang. Kamu kalau ngomong sing
jelas talah nduk. Ehmmmm”
Suliha :
“iya sek dengerin liha dulu mak, jangan langsung nyerocos gitu.”
Mak Hayati :
“mangkane ayo ndang cerita nduk, itu sinetronnya wes mau mulai.”
Suliha :
“sek mak, sek sek. Mas Wafi katanya selingkuh sama mantannya yang orang gang
sebelah itu. Nah, mantannya itu kerja di rumah haji Endang.”
Mak Hayati :
“halah, berita kayak gitu kok dipercaya. Sok tau Syaroh itu.”
Suliha :
“tapi ini Maisyaroh liat sendiri di rumah haji Endang mak, dan ini juga disuruh
haji Endang bilang ke aku.”
Mak Hayati :
“terus kamu percaya gitu aja sama lambenya syaroh? Iya?”
Suliha :
“aku sih ndak percaya mak, tapi aku jadi khawatir takut yang diomongin syaroh
itu bener.”
Mak Hayati :
“wes wes, gak usah dipikir. Syaroh itu bohong. Ngapain juga dia ada di rumah
haji Endang. Kan gak mungkin ya syaroh masuk ke rumah haji Endang, lawong ya
dia gak kerja disana dan dia juga bukan siapa-siapanya haji Endang.”
Suliha :
“hehehe, iya bener juga sih mak. Tapi aku tetep khawatir mak.”
Mak Hayati : “kalau kamu khawatir, sana ikutin Wafi
kerja. Pepet terus, tempelin terus itu suamimu.”
Suliha :
“tuh kan, mak gak ngasih solusi tapi malah guyon.”
Mak Hayati :
“wes ha, mak mau lihat sinetron dulu. Keburu abis sinetronnya. Udah pikiren
sendiri masalahmu. Gak usah mumet terus ngajak-ngajak mak.”
Suliha :
“sek sek mak, ada satu lagi yang syaroh bilang.”
Mak Hayati :
“ngomong apa lagi ha liha? Kamu ngomongnya kok satu-satu. Sampek abis sinetron
itu nanti.”
Suliha :
“emak katanya punya hutang ke haji Endang ya? Bener mak?”
Mak Hayati : (kaget)
“kata siapa ha? Syaroh yang ngomong? Heleeeehhhhh.”
Suliha :
“iya mak. Ayo jujur’o ke aku. Padahal selama ini kebutuhan hidup emak udah tak
penuhi kan?”
Mak Hayati :
“liha, dengerin emak ya. Emak gak punya hutang ke sapa-sapa. Uang bantuan
pemerintah dan uang dari Wapi udah cukup untuk kebutuhan hidup emak selama ini.
Jadi ngapain emak mau hutang, kayak gak ada kerjaan aja.”
Suliha :
“beneran ya mak? Jangan sampek sampean bohong ke aku.”
Mak Hayati :
“iya iya ha. Wes wes. Emak mau masuk dulu. Keburu sinetronnya habis.”
Mak
Hayati langsung masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Suliha sendirian di teras
rumah.
Suliha :
“emak itu mesti gitu ke aku, gak pernah bisa serius kalau diajak ngomong. Tapi
bener juga sih kata mak. Aku gak boleh percaya sama omongannya Maisyaroh. Dia
kan kadang cuman cari sensasi aja nyebar omongan kesana-sini. Ehmmmm.. tapi aku
masih kepikiran, takut hal itu bener-bener terjadi sama mas Wafi.”
Suliha
masuk ke dalam rumah.
BABAK
2
SAAT MALAM
TELAH TIBA, SULIHA KELUAR RUMAH DAN DUDUK DI TERAS RUMAH SEMBARI MENUNGGU WAFI
YANG SEDARI PAGI TADI BELUM PULANG KE RUMAH. KEMUDIAN DATANGLAH MAISYAROH DAN
MAK MAIMUNAH KE RUMAH SULIHA.
Suliha :
“mas Wafi ini kemana sih? Tumben jam segini belum pulang. Aku kan jadi
khawatir. Ehmmmm”
Maisyaroh :
“eh ha, kamu ngapain duduk sendirian termenung gitu? Awas kesambet kamu yaa.”
(sambil berjalan dan langsung duduk di sebelah Suliha)
Mak Maimunah: “hust, ngomongnya.”
Maisyaroh :
“iya ampun mak, aku kan mek guyon.”
Suliha :
“apa sih roh, mesti ganggu kan. Ngapain kamu kesini?”
Maisyaroh :
“kita kesini ini mauuuu….” (menghentikan omongannya karena mulut Maisyaroh
ditutupi tangan mak Maimunah)
Mak Maimunah: “mau main-main aja ha, liat kamu dari
tadi sendirian. Kami kan jadi kasihan.”
Suliha :
“ibu sama anak sama aja. Gak ada beda.” (sambil memalingkan badan dari
Maisyaroh dan mak Maimunah)
Mak Maimunah: “eh ha, gak boleh ngambek kayak gitu.
Muka udah jelek malah tambah jelek.”
Suliha :
“ehmmmm, lek munah, dijaga ya omongannya.”
Mak Maimunah: “lah diomongin biar bener malah gak
mau.”
Maisyaroh :
“biar aja nanti Wafi cari yang lain. Kamu kan jelek.”
Mak Maimunah: “hahahaha, minta uang sana ke emakmu
buat perawatan. Biar Wafi betah dirumah.”
Suliha :
“ihhhh, lek munah sama syaroh ini berisik kah! Gak tau apa kalo orang lagi
khawatir.”
Maisyaroh :
“ngawatirin sapa ha? Wafi? Laki-laki kayak gitu kok dikhawatirin.”
Suliha :
“huh kah, kamu diem aja deh roh!”
Mak Maimunah: “diem roh, nanti Wafi kan pulang sama
istri barunya. Hahaha.”
Suliha :
“anak ibu sama aja. Males aku dengerin omongan kalian semua.” (langsung masuk
ke dalam rumah dan meninggalkan mak Maimunah dan Maisyaroh di teras rumah)
Maisyaroh dan Mak Maimunah tertawa terbahak-bahak
melihat Suliha masuk ke dalam
rumah dengan raut wajah yang masam. Selang beberapa
menit, Wafi datang dan heran
ketika ada Maisyaroh dan Mak Maimunah di rumahnya.
Wafi :
“duh lek Munah sama Syaroh ini ketawanya sampek kedengeran dari ujung jalan
sana.”
Maisyaroh :
“hahaha, lucu ngeliat istrimu ngambek bek bek.”
Mak Maimunah: “hahaha, iya iya. Istri ngambekan kok
dipelihara.”
Wafi :
“hust, kalian ngomongnya sing gennah rah. Jangan ngejek orang terus.”
Mak Maimunah: “lah emang kenyataannya gitu pi Wapi.
Hahaha.”
Maisyaroh :
“mending kamu balikan aja sama mantanmu yang gang sebelah itu.”
Mak Maimunah: “iya pi, lebih cantik dia, lebih bahenol
dia, lebih lebih segalanya deh dia daripada Suliha.”
Maiyaroh :
(tertawa dengan keras) “hahahaha, bener banget mak’e.”
Wafi :
“lambe kalian ini yaa, memang gak bisa diatur. Urus aja hidup kalian, jangan
ngurusin keluargaku.”
Maisyaroh :
“Wafi Wafi, kamu dipelet ya sama Suliha? atau kamu dipelet sama mak Hayati biar
bisa menghidupi semua keluarganya?”
Wafi :
“hati-hati kalo ngomong ya roh. Kalian itu gak tau apa-apa.”
Maisyaroh :
“eh, asal kamu tau ya fi. Kamu itu dimanfaatin sama mertuamu. Kamu disuruh
kerja banting tulang buat keluarganya, padahal dia aslinya kaya raya.”
Wafi :
“kamu mesti ngomongnya ngelantur ya roh.” (wafi mulai membentak Maisyaroh).
Maisyaroh :
“yaudah kalo kalo kamu gak percaya. Tanya aja tuh sama liha.”
Wafi :
“udahlah, kamu jangan ganggu keluarga aku. Mending kalian pergi aja sana.”
Mak Maimunah: “apa yang dibilang syaroh itu bener pi,
kamu mending balikan aja sama mantanmu yang di gang sebelah itu. Aku tau kalo
kamu ada main belakang sama dia.”
Wafi :
“mak sama anak sama aja. Gak ada yang bener. Sana kalian pergi dari rumahku!”
(membentak dan mendorong maisyaroh untuk pergi)
Suliha
dan Mak Hayati yang mendengar keributan di luar rumah, langsung keluar dari
dalam
rumah.
Mak Hayati :
“ada apa sih kalian ini? Bikin rame dirumah orang.”
Maisyaroh :
“mak, hutangmu bayaren ke haji Endang. Kalo ndak, Wafi bakal nikah lagi sama
mantannya yang di gang sebelah itu.”
Wafi :
(mengangkat tangannya hendak memukul mulut Maisyaroh)
Suliha :
(memegang tangan Wafi) “wes tah mas, gak usah emosi. Syaroh orangnya selalu
ngomong yang ndak bener.”
Mak Maimunah: “eh ha, yang diomongin Maisyaroh itu
bener ya, aku tau semuanya.”
Suliha :
“Apa sih lek munah? Jangan fitnah keluargaku ya.”
Mak Hayati :
“wes nah, pulango. Bawa’en anakmu itu.”
Mak Maimunah: “eh ti, kamu ini juga. Bayaren hutangmu
ke haji Endang. Jangan cuman manfaatin mantumu itu.”
Mak Hayati :
“hutang apa nah? Aku ndak punya hutang ke sapa-sapa.”
Wafi :
“duh kah kalian berisik semua. Pulango sana lek Munah, bawa’en anakmu itu.”
(berbicara dengan nada menyentak)
Mak Maimunah: “pisah’o pi. Balik sana sama mantanmu
yang sering kamu gandeng tangannya di rumah haji Endang.”
Wafi :
(mendorong mak Maimunah hingga jatuh tersungkur) “pergio sana. Kalian ini
keluarga yang sesat. Suka fitnah orang tanpa ada bukti. Pergi sana pergi.”
Suliha :
(mendorong Maisyaroh) “sana pergi roh. Bawa’en mak mu itu. Pergi kalian dari
sini. Jangan ganggu keluarga kami.”
Pak RT :
(lari dari samping rumah) “heh heh, ada apa ini? Kok malem2 masih aja ribut?
Sudah sudah.”
Wafi :
“ini lo pak, dua orang ini ganggu keluarga saya. Gak tau diri memang mereka.”
Maisyaroh :
“gak pak, kita gak ganggu. Kami cuman ingin memastikan kesejahteraan semua warga
di RT ini.”
Wafi :
“bohong pak, bukan gitu pak.”
Maisyaroh :
“bener pak RT, kami gak mau di RT ini ada keluarga yang menilap uang hasil
bantuan.”
Suliha :
(sembari menunjuk muka Maisyaroh) “heh roh, lambemu tolong dijaga ya!”
Pak RT :
“sudah sudah sudah. Jangan bertengkar. Nanti malu kalo kedengeran tetangga yang
lain.”
Wafi :
“ini syaroh sama lek Munah duluan yang mulai pak.”
Mak Maimunah: “ndak pak, ya ampun pak. Kami ini hanya
mau membeberkan fakta keadaan mereka.”
Maisyaroh :
“iya pak, iya bener apa kata mak.”
Pak RT :
“sudah sudah, jangan bertengkar. Ayo Maisyaroh, ajak emak mu pulang. Sudah
malam. Gak enak didenger tetangga.”
Wafi :
“ndang mulih’o roh!” (mendorong Maisyaroh)
Maisyaroh :
“ayo dah mak, kita pergi dari sini. Panas gerah rumah mau roboh ini. Ayo dah
mak.” (sembari menarik tangan mak Maimunah)
Mak Maimunah: “sek sek nduk, sek. eh denger ya,
semuanya akan terbukti besok. Kalian tunggu aja, besok ya. Tak buktikan
semuanya ke kalian keluarga yang gak tau diri.”
Pak RT :
“sudah roh, sana bawa mak mu pulang.”
Mak
Maimunah dan Maisyaroh pergi dari rumah Suliha.
Suliha : “mas, apa yang mereka omongin
itu bener? Sampean main belakang?”
Wafi :
“main belakang apa dek? Mereka itu ngawur kalo ngomong. Mesti sok tau.”
Suliha :
“besok mas gak usah kerja ya. Mas di rumah aja sama aku. Nemenin aku bantuin
aku.”
Mak Hayati :
“ha? Ngomong apa kamu? Kamu mau makan apa besok kalo wapi gak kerja?”
Suliha :
“udahlah mak, biarin aja mas Wafi gak kerja. Biar dia di rumah sama aku.”
Wafi :
(memegang tangan Suliha dan berbicara dengan nada yang lirih) “dek, kamu kenapa
toh? Kamu ndak percaya ke aku? Iya?”
Suliha :
“bukan ndak percaya mas. Aku ini takut. Aku takut pokoknya.” (mulai menangis)
Wafi :
“takut apa lagi dek? Jangan dengerin omongan lek Munah sama Syaroh. Mereka itu
gak tau apa-apa, mereka asal ngomong aja.”
Mak Hayati :
“tuh dengerin Wapi. Jangan seenaknya nyuruh suamimu berhenti kerja. Nanti
bisa-bisa kita sekeluarga gak makan.”
Suliha :
“mak ini apaan sih. Mas Wafi gak kerja pun kita masih bisa makan mak.”
Mak Hayati :
“makan apa ha? Makan angin?”
Suliha :
“kan kita dapat bantuan dari pemerintah setiap bulan mak. Itu lebih dari cukup
untuk makan kita.”
Mak Hayati :
“cukup? Cukup apa ha? Buktinya kita masih kurang-kurang kalo makan. Kamu tega
ngeliat kita sekeluarga setiap hari makan tahu tempe terus? Iya?” (membentak
Suliha)
Suliha :
“mak gak tau perasaan cemburuku ini. Mak gak ngerti.”
Mak Hayati :
“cemburu kok dipelihara ha. Jaman udah maju kok masih tetep aja cemburuan.”
Suliha :
“wes mak. Mending mak masuk sana dan gak usah ganggu aku.”
Wafi :
“mak, sampean masuk ke dalam aja ya. Biar aku yang ngomong sama liha.”
Mak Hayati :
“diomongin sama yang berpengalaman kok gak mau. Ancen anak durhaka.”
Pak RT :
“eh eh, tunggu dulu mak. Jangan masuk dulu.”
Wafi :
“mau ngomong apa pak RT? “
Pak RT :
“sebenarnya saya dari tadi mau kesini. Ada titipan dari pak kades.”
Mak Hayati :
“titipan apa pak? Bantuan dari pak kades udah cair ya?” (berbicara dengan
senyum yang sumringah)
Pak RT :
“bukan mak, tapi ini ada surat.” (menyerahkan surat kepada Wafi)
Wafi :
“surat apa ini pak RT?”
Pak RT :
“baca aja fi, nanti kamu tau sendiri.”
Wafi :
(membuka amplop coklat yang di dalamnya berisi surat dan wafi membaca hingga Ia
kaget) “apa maksudnya ini pak RT? Pencabutan bantuan?”
Pak RT :
“ya saya kesini mau mencabut semua bantuan buat keluarga kamu yang dari
pemerintah.”
Wafi :
“kok dicabut pak? Kami ini kan keluarga ndak mampu.”
Pak RT :
“pencabutan ini perintah dari pak kades. Karena keluarga kamu sudah mampu.”
Wafi :
“pak RT ini bagaimana sih, kok bisa bilang saya keluarga yang mampu, sedangkan
rumah kami kayak gini pak, uang buat makan pun masih kurang pak.”
Pak RT :
“tapi ini beneran Wafi. Pencabutan ini sudah dimulai bulan lalu. Jadi bulan ini
keluarga kamu gak akan nerima bantuan lagi.”
Wafi :
“walah walah pak RT ini bikin saya pusing saja. Saya ini keluarga gak mampu
pak.”
Pak RT :
“tapi di rekening pencairan uang itu selalu dibuat beli emas.”
Wafi :
“nah, pak RT mulai ngelantur kan ngomongnya. Emas apalagi sih pak. Ampun
dah pak, istri saya gak punya emas dan
mertua saya pun gak punya emas pak.”
Pak RT :
“ini coba lihat buktinya” (menunjukkan kertas pembayaran penerima bantuan)
Wafi :
“apa? Wah gak bener ini pak.”
Mak Hayati :
(memalingkan muka seakan tidak tahu apa yang sedang terjadi)
Suliha :
“duh pak, beli emas gimana toh. Buat makan aja susah apalagi buat beli emas
pak.”
Pak RT :
“tapi ini ada buktinya Wafi, Suliha.”
Mak Hayati :
“Pak RT ini mengada-ngada saja ya, salah tujuan pak RT ini.”
Pak RT :
“ndak mak, ini sudah saya periksa sampai 3 kali. Dan hasilnya tetap sama saja.”
Wafi :
“gak beres ini. Salah ini pak RT.”
Pak RT :
“ya sudah lah kalo kalian ndak percaya, yang penting saya sudah menyampaikan
surat ini ya. Saya mau pulang dulu, karena masih banyak urusan lain yang harus
saya kerjakan.” (pak RT pergi meninggalkan rumah Wafi)
Suliha :
“loh pak, pak, tunggu dulu pak.”
Wafi :
“apa lagi sih ini, kok makin ribet.”
Mak Hayati :
“mungkin pak RT salah ngasih surat itu fi. Ngelantur pak RT itu.”
Wafi :
“gak mungkin mak. Ini alamat suratnya buiat keluarga kita.”
Suliha :
“pusing aku mas, gak ngerti sama maksud itu surat.”
Wafi :
“sudah sudah. Sekarang aku mau tanya. Siapa diantara kalian yang sering beli
emas?”
Mak Hayati :
(merasa gugup dan tak bisa menjawab)
Suliha :
“emas apa toh mas? Makan aja susah kok bisa-bisanya mau beli emas.”
Wafi :
“ini bantuan kita dicabut dek. Karena bukti pembayaran selalu nunjukin
pembelian emas setip bulannya.”
Suliha :
“aku gak pernah ambil bantuan mas, yang ambil kan biasanya emak. Tapi aku dapet
kok uangnya. Gitu lho ya uangnya dikit banget pak RT.”
Mak Hayati :
“iya u u uangnya dikit. Gimana bisa buat beli emas.”
Wafi :
“tolonglah ayo jujur, siapa yang beli emas ini. Berantakan kan keluarga kita.”
Suliha :
“sumpah mas, aku gak tau mas, jangan tinggalin aku mas. Aku bener-bener gak
tau.” (sambil memegang tangan Wafi)
Wafi :
“aku gak akan tinggalin kamu dek, tenang aja. Tapi tolong jujur. Siapa yang
pake uang bantuan ini sampek bantuan keluarga kita dicabut?”
Mak Hayati :
“mak mak, mak gak tau pi” (menjawab dengan nada yang gugup)
Wafi :
“arghh, kalo gak ada yang mau jujur. Aku makin tambah bingung. Pak RT pun gak
akan bohong ke aku.”
Suliha :
“mas jangan marah. Tapi ini beneran bukan aku.”
Mak Hayati :
“mak mau masuk ke dalam dulu ya.”
Suliha :
“loh mak, sini dulu, ini masalahnya belum selesai.”
Wafi :
“kalo kalian gak ada yang ngaku, aku pergi aja dari rumah ini. Kayak gak ada
gunanya aku di sini kalo terus-terusan dibohongin.”
Mak Hayati :
“loh jangan pi, nanti siapa yang ngasih kita makan kalo kamu pergi.”
Suliha :
“jangan pergi mas, aku mau sama sampean.” (menangis)
Wafi :
“ayo lah kalian jujur, aku gak mau dikeluarga ini yang nyimpen rahasia apapun
itu.”
Mak Hayati :
“jujur apa lagi toh pi? Kami ini sudah jujur ke kamu. Tapi kamu gak percaya
sama kami.”
Wafi :
“pusing aku. Aku pergi aja dari sini. Kan kita sudah jadi keluarga yang mampu.
Aku mau pulang aja ke rumahku.”
Suliha :
“loh mas, jangan mas. Jangan pergi. Aku bener-bener ndak tau mas.”
Mak Hayati :
“jangan pergi pi. Kalo kamu pergi, siapa yang mau bayar utang-utang mak.”
Wafi :
“hah? Hutang, hutang apa mak? Mak punya hutang ke siapa?”
Mak Hayati :
(merasa gugup) “eh mak salah ngomong, duhhh.”
Suliha :
“jangan-jangan mak nyembunyiin sesuatu ya dari kita?”
Wafi :
“jujur’o mak. Kalo gak, kita bakal pergi dari rumah ini dan ninggalin emak
sendirian.”
Mak Hayati :
“mak itu salah ngomong. Mak gak punya hutang ke sapa-sapa.”
Suliha :
“kan aku udah bilang mak, jangan hutang ke sapa-sapa. Kita gak akan mampu
bayarnya.”
Wafi :
“udah dek, ayo kita pergi dari sini. Ambil barang-barang kita di dalam dan ajak
adikmu juga.”
Mak Hayati :
“kamu gak boleh gitu pi. Ini rumah tanggung jawab kamu sama suliha. Toh
dibenerin dulu kalo mau ditinggal.”
Suliha :
“emak ini apa-apaan sih. Ini kan rumah dari emak. Kenapa gak mak aja yang
benerin.”
Wafi :
“sudah dek, ayo kita pergi aja. Aku pusing di sini.”
Mak Hayati :
“dari pada emak benerin rumah, mending emak beli emas biar bisa ngalahin emas
punya Maimunah.”
Wafi dan Suliha: “apa mak?”
Mak Hayati :
(merasa takut dan gugup) “haduhhh, aku salah ngomong lagi.”
Suliha :
“ternyata selama ini emak ya yang pake uang bantuan itu?”
Wafi :
“gak nyangka aku mak.”
Mak Hayati :
“gak gak gak gitu. Emak salah ngomong tadi.”
Wafi :
“aduh mak, aku udah percaya ke sampean, tapi sampean gini.”
Suliha :
“ayo mas, kita tinggalin mak sendirian di sini. Kita bisa hidup bahagia di
tempat lain. Aku gak suka sama orang yang gak jujur.”
Mak Hayati :
“loh loh loh, kalian gak bisa gitu. Eh Wapi, lunasin dulu hutang-hutang emak.”
Wafi :
“lunasin aja sendiri mak, sampean kan orang kaya. Ayo dek.”
Suliha
dan Wafi meninggalkan rumah dan meninggalkan mak Hayati sendirian.
Mak Hayati :
“haduhhh, aku kok bisa keceplosan ngomong gitu ya? Terus siapa nanti yang mau
bayar hutang-hutangku? Terus siapa yang mau ngasih makan aku? Terus siapa yang
mau nemenin aku disini? Siapa yang mau ngasih aku bantuan uang? Aku gak mau
tinggal di rumah yang hampir roboh ini. Aku gak mau jual emas-emasku. Aku gak
mau ditinggal sendirian di sini. Aku ndak mau ndak mau ndak mau. Aaaahhhhhhhh.”
AKHIRNYA MAK HAYATI DI TINGGAL SEORANG DIRI OLEH
ANAK-ANAKNYA.
TANPA ANAK, TANPA TEMAN, TANPA UANG, TANPA BANTUAN,
DAN TETAP
DENGAN EMAS-EMAS YANG IA MILIKI.
BIOGRAFI PENULIS
Risa Desmara Dema lahir di kabupaten Probolinggo pada tanggal 05
Desember 1998. Penulis melanjutkan
pendidikan Perguruan Tinggi di Universitas Negeri Malang prodi S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan
Daerah dari tahun 2016 hingga sekarang. Naskah drama ini merupakan naskah drama
pertama yang dibuat oleh penulis. Sebelumnya, penulis juga pernah menulis novel
berjudul “Terompet Mbah Dolipret” dan juga menulis buku antologi puisi yang
berjudul “Risalah Cinta”.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi