NASKAH DRAMA SALAH JURUSAN





SALAH JURUSAN
Oleh
Devi Dwi Pindiani
170211604616
PBSID AA 2017






















November
2019
DRAMA PERSONAE

TOKOH/KARAKTER/PERAN/CIRI

TASYA
IBUK
PAK KERNET
BAPAK BERTATO
MAK YAH







































ADEGAN I
SABTU MALAM DI SEBUAH TERMINAL BUS KOTA NGAWI YAKNI TERMINAL KERTONEGORO DENGAN KERAMAIAN KHASNYA. SEORANG GADIS SEDANG SIBUK BERBICARA DI TELEPON GENGGAMNYA.
Ibuk: “Tasya, kowe wis teko ngendi Nduk?”
Tasya: “Niki Tasya sampun ten terminal Buk, badhe pados bis jurusan Kudus nggeh Buk?
Ibuk: “Iyo Nduk jurusan Kudus, mengko takon wae menyang petugas e ning peron terminal. Ojo takon bapak-bapak kernet sing ono ning bis loh”
Tasya: “Nopo’o nggih Buk? Kan sami mawon”
Ibuk: “Ojo! Mengko kowe malah bingung. Wes toh manut wae karo wejangane Ibuk”
Tasya: “Inggih Buk”
Ibuk: “Yowes lak ngono”
Ibuk: “Ojo lali maem nduk”
Tasya: “Inggih Buk”
Ibuk: “Sing ati-ati ning dalan ojo gampang percoyo karo uwong”
Tasya: “Inggih Buk”
Ibuk: “Duh Gusti, Ibuk tansah was-was nduk. Kowe iku nggah-nggih nggah-nggih tapi ra kepanggih”
(SUARA IBU LIRIH)
Tasya: “Pun lah Buk, Ibuk mboten usah gelo. Insyallah Tasya saged jaga diri. Nyuwun restu lan pendungane Ibuk nggeh supaya Tasya selamet sampek tujuan.”
Ibuk: “Amin Ya Rabb.”
Tasya: “Amin. Sampun dalu, Tasya pados bis rumiyin nggih Buk. Assalamuallaikum.”
Ibuk: “Iyo nduk, ati-ati. Waalaikumsallam”

TASYA MENUTUP TELEPON GENGGAMNYA DAN MENCARI BIS JURUSAN KOTA JAKARTA. DIA SEDANG KEBINGUNGAN MENCARI BUS ARAH JAKARTA. DIA HENDAK PERGI MERANTAU DI SANA, UNTUK PERTAMA KALINYA PERGI SENDIRIAN DENGAN MENGGUNAKAN BUS. BANYAK KERNET BUS YANG MENAWARKAN TIKET BUS PADANYA. BANYAK JUGA YANG MENANYAINYA. ADA SEORANG KERNET YANG MENDEKATINYA.
Pak Kernet: “Mau kemana Mbak?”
Pak Kernet: “Mau ke Bandung?”
Tasya: “Tidak Pak, saya mau ke Jakarta”
Pak Kernet: “Ya ini Mbak!”
Tasya: “Langsung Jakarta kan? Tidak oper atau muter-muter?”
Pak Kernet: “Iya Mbak. Langsung Jakarta tanpa oper-oper. Full tol.”
Tasya: “Ah yang benar Pak?”
Pak Kernet: “Iya Mbak. Langsung berangkat ini.”
Tasya: “Berapa Pak kalau turun di Grogol?”
Pak Kernet: “Buat Mbaknya 320 ribu saja.”
Tasya: “Mahal sekali Pak? Apa biasanya memang harganya segitu?”
Tasya: “Tiket ke Bekasi saja cuma 200 ribu Pak.”
Pak Kernet: “Kan saya sudah bilang Mbak kalau bus kita lewat full tol dan tidak oper-oper.”
Pak Kernet: “Gimana Mbak?? Jam segini bus jurusan ke Jakarta sudah habis.”
Pak Kernet: “Kalau mau ya harganya segitu Mbak. Kalau tidak mau ya Mbak tunggu saja sampai besok.”
Tasya: “Tapi ini benar langsung ke Jakarta kan Pak?”
Pak Kernet: “Iya Mbak.”
Pak Kernet: “Kalau Mbaknya ndak percaya sama saya tanya saja ke penumpang-penumpang yang lainnya. Mereka semua juga mau ke Jakarta.”
Tasya: “Ya sudah saya percaya sama Bapak.”
Tasya: “Terima kasih banyak ya Pak.”
Pak Kernet: “Mari Mbak saya bawakan barang-barangnya.”
PAK KERNET MEMBAWAKAN BARANG-BARANG TASYA MENUJU BIS YANG AKAN IA NAIKI. TASYA MENGIKUTI PAK KERNET DI BELAKANGNYA. PAK KERNET MELETAKKAN BARANG-BARANG TASYA KE BAGASI BIS DENGAN HATI-HATI. TASYA MENGIKUTI DI BELAKANGNYA.
Tasya: “Pak, ini benar bus jurusan Jakarta kan? Full tol?”
Pak Kernet: “Iya Mbak.”
Tasya: “Tapi di tulisannya kenapa tidak ada pemberitahuan bahwa lewat full tol Pak?”
Pak Kernet: “Iya Mbak itu cuma belum ditulis saja, tapi aslinya kita full tol kok.”
Pak Kernet: “Full tol loh Mbak Cuma 320 ribu.”
Tasya: “Iya deh, kalau lewat tol kan lebih cepat ya Pak?”
Pak Kernet: “Iya Mbak betul.”
ADEGAN II
TASYA DUDUK TEPAT PALING BELAKANG. BIS BELUM TERISI PENUH. TASYA TERLIHAT SANGAT CEMAS. DIA SEDANG BERUSAHA MENENANGKAN DIRI DAN PERCAYA. BUS TERLIHAT TAMPAK KOSONG, BANGKU HANYA TERISI BEBERAPA. RASA CEMAS TASYA SEMAKIN BESAR SETELAH MENYADARI BAHWA DI DALAM BUS ITU HANYA DIA SATU-SATUNYA WANITA. TASYA BERTENGKAR DENGAN PIKIRANNYA SENDIRI.
Pikiran Baik: “Aku tidak takut”
Pikiran Buruk: “Aku takut”
Pikiran Baik: “Semoga tidak terjadi apa-apa”
Pikiran Buruk: “Bagaimana kalau terjadi apa-apa”
Pikiran Baik: “Tenang Sya”
Pikiran Buruk: “Bagaimana kalau supirnya ngantuk?”
Pikiran Baik: “Jangan cemas beliau sudah biasa mengemudi”
Pikiran Buruk: “Sebaiknya aku tidak tidur agar”
Pikiran Buruk: “Kalau aku tertidur nanti aku ada apa-apa”
Pikiran Baik: “STOP BERPIKIR NEGATIF”
Pikiran Buruk: “Bagaimana kalau tiba-tiba remnya blong?”
Pikiran Buruk: “Bagaimana kalau aku .....”
Pikiran Buruk: “Aku tak bisa bertemu Ibuk lagi”
Pikiran Baik: “ Sudahlah Sya, hidup dan mati itu sudah menjadi rahasia Tuhan”
Pikiran Baik: “Tak ada yang tahu takdir mana yang akan memilihmu”
Pikiran Baik: “Jangan terlalu mencemaskan apa yang belum tentu terjadi”
Pikiran Baik: “Berpikirlah yang baik-baik maka hal baik pula yang akan datang padamu!”
Pikiran Baik: “Ada Tuhanmu yang selalu melindungimu”
TEPAT JAM 21:00 BUS BERANGKAT DARI TERMINAL KERTONEGORO MENUJU JAKARTA. SEORANG BAPAK-BAPAK MASUK BUS DAN DUDUK DI SEBELAH TASYA. SUASANA SEMAKIN MENCEKAM BAGI TASYA. LAMPU PANGGUNG REDUP BERFOKUS PADA BAPAK-BAPAK DI SEBELAH TASYA. BERPAKAIAN SEPERTI SEORANG METALICA, BERTATO GAMBAR SINGA DI TANGANNYA.
Pikiran Buruk: “Jangan-jangan bapak ini preman”
Pikiran Buruk: “Lihat saja pakaiannya”
Pikiran Buruk: “Tatonya seram”
BAPAK ITU MELIRIK KE ARAH TASYA, TASYA BERPURA-PURA MENGALIHKAN PANDANGANNYA KE ARAH JENDELA.
Pikiran Buruk: “Apa mungkin bapak ini mau berbuat jahat padaku”
Pikiran Buruk: “Bagaimana kalau memang iya, aku akan teriak saja”
Pikiran Buruk: “Tapi apa ada yang dengar? Karena semua sudah tidur”
Pikiran Buruk: “Bagaimana kalo ...”
Bapak Bertato: “Permisi Mbak”
TASYA MENOLEH DENGAN WAS-WAS. LAMPU MENYOROT ANTARA DUA ORANG ITU. LAMPU PANGGUNG MATI MENYALA DENGAN BERGANTIAN SEPERTI DEGUP JANTUNG TASYA. SUARA DRUM RITME CEPAT.
Tasya: “Iya Pak?”
Bapak Bertato: “Maaf mengganggu, apa Mbaknya punya power bank?”
Tasya: “Oh ada Pak”
Bapak Bertato: “Bolah saya minta satu bar saja? Batre hp saya habis”
Tasya: “Oh boleh Pak”
Tasya: “Ini Pak”
MEMBERIKAN POWER BANK PADA BAPAK ITU.
Bapak Bertato: “Terima Kasih ya Mbak”
BAPAK BERTATO SEGERA MENGGUNAKANNYA. TASYA MELIRIK YANG DILAKUKAN BAPAK ITU. BAPAK ITU SEDANG TELEPON VIDEO DENGAN SEORANG PEREMPUAN.
Bapak Bertato: “Hallo?”
Bapak Bertato: “Maaf Ayah baru bisa menghubungimu, batre hp Ayah habis”
Bapak Bertato: “Ini Ayah meminjam power bank Mbak-mbak yang duduk di sebelah Ayah”
Bapak Bertato: “Untung saja ada Mbak yang baik ini mau meminjamkan pada Ayah”
Bapak Bertato: “Iya Ayah baik-baik di sini”
Bapak Bertato: “Kamu yang juga baik-baik ya di sana”
Bapak Bertato: “Bagaimana apa semuanya sudah beres?”
Bapak Bertato: “Restu dan doa Ayah selalu menyertai”
Bapak Bertato: “Sudah dulu ya Nak, HP Ayah biar terisi dulu. Nanti Ayah hubungi lagi kalau sudah sampai terminal”
TASYA DIAM DAN MERASA BERSALAH. LAMPU PANGGUNG MENJADI GELAP. ALUNAN MUSIK LEMBUT DIMAINKAN.
Bapak Bertato: “Maaf ya mbak, itu tadi saya mengabari anak saya di rumah karena dari tadi hp saya mati. Takut dia khawatir”
Tasya: “Oh iya Pak tidak apa-apa”
Bapak Bertato: “Mbak takut dengan saya ya?”
Bapak Bertato: “Tenang mbak saya orang baik-baik kok”
Bapak Bertato: “Ini tatoo hadiah dari anak saya mbak”
Bapak Bertato: “Dia kuliah jurusan seni. Banyak orang yang berpikir negatif soal saya karena tatoo ini. Tapi saya tidak peduli dan tidak akan menghapusnya”
Bapak Bertato: “Kalau ditanya mengapa? Tentu jawabannya karena ini adalah kado dari puteraku”
Bapak Bertato: “Saya selalu sedih karena dia tak pernah bisa merasakan kasih sayang seorang ibu”
Tasya: “Bapak dan ibu???”
Bapak Bertato: “Ibunya meninggal ketika dia berumur 10 tahun. Saat itu dia benar-benar terluka dan terpuruk tapi kami harus tetap melanjutkan hidup bukan? Jadi ya kami tinggal berdua saja. Kami saling memiliki satu sama lain. Karena memang hanya dia yang masih saya punya”
Tasya: “Lalu kenapa Bapak tidak menikah lagi?”
Bapak Bertato: “Tidak Mbak. Memang pernah ada pikiran ke sana. Tapi saya tidak bisa menyakiti perasaan anak saya. Saya takut hatinya terluka kalau saya menikah lagi”
Tasya: “Bapak sangat menyayangi putra Bapak ya”
Bapak Bertato: “Iya karena hanya dia yang saya miliki”
Bapak Bertato: “Sekarang hanya menghitung hari saja dia akan membangun keluarganya sendiri. Saya merasa bahagia dan kehilangan”
Tasya: “Kehilangan???”
Bapak Bertato: “Iya. Artinya saya akan hidup sendiri. Tapi saya selalu bahagia untuk anak saya. Lusa pernikahannya”
Tasya: “Jadi ini bapak mau pergi ke pernikahan anak Bapak?”
Bapak Bertato: “Iya Mbak”
Tasya: “Selamat ya Pak atas pernikahan anak Bapak. Tapi Bapak harus selalu ingat bahwa Bapak dan anak Bapak masih saling memiliki. Karena tidak ada kata putus hubungan antara seorang bapak dan anak”
BAPAK BERTATO TERSENYUM MENDENGAR PERKATAAN TASYA.
Tasya: “Maaf Pak kalau boleh ini kita lewat tol ya?”
Bapak Bertato: “Loh Mbak kita dari tadi tidak lewat tol. Ini jalan biasa”
Tasya: “Hah? Tapi bapak kernetnya bilang ini lewat full tol loh”
Bapak Bertato: “Bagaimana Mbak? Bus ini full jalan biasa, bukan toll”
Bapak Bertato: “Kalau full toll pasti mahal lah Mbak”
Tasya: “Memangnya Bapak bayar berapa?”
Bapak Bertato: “Saya Cuma bayar 150 ribu Mbak”
Tasya: “HAH Bapak yang bener Pak?”
Tasya: “Saya loh bayar 320 ribu. Bilangnya sih full tol”
Bapak Bertato: “Loh gimana sih Mbak. Kok semahal itu”
Tasya: “Saya tidak tahu Pak”
Bapak Bertato: “Mbak langsung aja bilang ke kernetnya. Protes saja Mbak! Jangan takut!”
Tasya: “Besok saja lah Pak saya bicarakan dengan kernetnya”
Bapak Bertato: “Sekarang saja Mbak”
Tasya: “Sudahlah Pak besok saja. Sungkan kalo malem-malem ribut”
Bapak Bertato: “Ya sudah kalau begitu. Sebentar lagi saya mau turun”
BAPAK BERTATO ITU TERSENYUM LEGA. SUASANA PANGGUNG MENJADI TERANG. BELIAU TURUN DI TERMINAL DAN BERPAMITAN PADA TASYA.
Bapak Bertato: “Ini Mbak power bank nya.”
Bapak Bertato: “Terima kasih Mbak. Saya beruntung bisa bertemu gadis baik sepertimu. Hati-hati di jalan”
ADEGAN III
BUS BERHENTI DI TEMPAT PERISTIRAHATAN UNTUK SEKADAR MENGISI PERUT DI SEBUAH KEDAI MAKAN.  ADA BANYAK ORANG YANG BERJUALAN DI SANA. TASYA MEMILIH UNTUK MAKAN NASI LIWET MAK YAH DI PINGGIR JALAN. SEMABARI MAKAN, TASYA DAN MAK YAH SALING BERTUKAR CERITA.
 (MELEMPAR SENYUM MANISNYA PADA MAK YAH)
Mak Yah: “Mbak mau kemana?”
Tasya: “Saya mau ke Jakarta Bu”
Mak Yah: “Ah Nak jangan panggil ibu, panggil saja Mak Yah. Lebih enak begitu”
Tasya: “Iya Mak Yah”
Tasya: “Tampaknya Mak Yah sangat cemas ya?”
Mak Yah: “Ah, apakah sangat terlihat?”
Tasya: “Iya Mak, Mak Yah terlihat cemas”
(MENGGENGGAM TANGAN MAK YAH DAN MEMBERINYA SAPUTANGAN)
Mak Yah: “Iya Nak, anak Mak sedang di rumah sakit”
Mak Yah: “Mau melahirkan”
Mak Yah: “Padahal ini bukan kali pertama, ini adalah cucu keduaku.”
Mak Yah: “Bagaimana bisa aku tidak cemas mengetahui anakku sedang berjuang untuk menjadi ibu untuk kedua kalinya”

Tasya: “Ya memang Mak, sudah jadi naluri ibu mencemaskan anaknya”
Tasya: “Doakan saja Mak. Semoga persalinannya lancar, ibu dan bayinya diberi kesehatan”
Mak Yah: “Amin”
(KEMBALI BERMAIN TANGANNYA YANG SEDIKIT GEMETAR KARENA KECEMASANNYA)
Tasya: “Ibu Tasya pun sama dengan Mak Yah. Ibuk mungkin sekarang sedang cemas dan tak bisa tidur karena aku pergi ke Jakarta sendirian”
Tasya: “Ibuk sangat sedih ketika harus melepasku sendirian pergi merantau ke Ibu Kota”
Mak Yah: “Ya begitulah ibu-ibu Nak”
Mak Yah: “Sampai kau besar dan akan tua nantinya pun, tetap saja kau masih menjadi anak-anak di mata ibumu”
Mak Yah: “Mak sendiri merasakan itu”
Mak Yah: “Mak ini sudah punya cucu, tapi tetap saja Mak selalu menganggap Dian masih anak-anak”
Mak Yah: “Iya itu nama anak Mak”
Tasya: “Kenapa Mak Yah tidak di sana saja menemaninya?”
Mak Yah: “Mau gimana lagi Nak, Emak juga harus membantu mencari uang untuk biaya rumah sakitnya”
Tasya: “Suaminya??”
Mak Yah: “Suaminya bekerja. Tapi ya Emak harus tetep bekerja supaya tidak memberatkan Dian. Emak ini tinggal satu rumah dengannya. Minta makan, minta tempat tinggal, minta waktunya mengurus Emak. Setidaknya dengan Emak bekerja bisa sedikit membantunya”
Mak Yah: “Emak tidak mau hanya jadi beban untuk Dian, Nak”
Tasya: “Jangan bilang begitu Mak, tidak ada seorang anak yang merasa terbebani mengurus orang tuanya. Bukankah itu sudah kewajiban mereka membalas budi pada orang tuanya?”
MAK YAH TERSENYUM DAN SIBUK MENJUAL NASI LIWENYA LAGI
Mak Yah: “NASI LIWET NASI LIWET”
Tasya: “Tasya kembali ke bus dulu ya Mak, terima kasih”
MAK YAH MEMBERIKAN SEKANTONG NASI LIWET HANGAT UNTUK TASYA
Mak Yah: “Makanlah untuk di perjalanan Nak, terima kasih”
Mak Yah: “Hati-hati di jalan”
Tasya: “Mak Yah jangan repot-repot, Tasya sudah makan kok”
Mak Yah: “Sudah sana bus mu sepertinya akan segera berangkat”
Tasya: “Terima kasih Mak”
TASYA MEMELUK MAK YAH. BERGEGAS BERLARI KE BUS. BUS BERANGAKAT MELANJUTKAN PERJALANAN KE JAKARTA.
LAMPU BUS MATI. TIBA-TIBA PAK KERNET MENEPUK PUNDAK TASYA YANG SEDANG TIDUR. JAM MENUNJUKKAN 2 PAGI. TERJADI PERDEBATAN HEBAT ANTARA TASYA DAN PAK KERNET DALAM BUS.
Pak Kernet: “Mbak! Mbak!!”
Pak Kernet: “Mbak bangun Mbak!”
TASYA KAGET DAN TERBANGUN.
Tasya: “Oh maaf ada apa ya Pak?”
Tasya: “Sudah sampai ya?”
Pak Kernet: “Maaf menganggu Mbak”
Pak Kernet: “Mbaknya mau ke Jakarta kan?”
Pak Kernet: “Grogol bukan?”
Tasya: “Iya Pak bener”
Tasya: “Kenapa ya?”
Pak Kernet: “Mbak bisa turun di halte ini”
Pak Kernet: “Setelah itu bisa oper bus Gunung Harta ya. Soalnya bus kami cuma bisa sampai pacitan saja”
Tasya: “LOH GIMANA SIH PAK?? KATANYA TANPA OPER, BISA LANGSUNG SAMPE TUJUAN. KOK SEKARANG BEGINI?”
Pak Kernet: “Jadi gini Mbak, maaf sekali bus kami tidak sampai Grogol. Tapi ya beda sedikitlah. Mangkanya saya carikan Mbak oper bus lain”
Pak Kernet: “Nanti tidak usah bayar lagi Mbak”
Tasya: “GIMANA SIH PAK!!”
Tasya: “TADI BILANGNYA IYA NGGAK OPER IYA FULL TOL IYA SAMPAI TEMPAT TUJUAN IYA JAKARTA”
Tasya: “TAPI SEKARANG APA BAPAK NYURUH SAYA TURUN DI PAGI HARI BUTA GINI!!”
Tasya: “BAPAK YANG BENAR SAJA YA. SAYA JUGA BAYAR MAHAL. 300 RIBU ITU  TIDAK MURAH YA PAK”
Tasya: “BAPAK NYURUH SAYA TURUN DI DSINI? YANG BENAR SAJA PAK! DAN INI JUGA MASIH PAGI-PAGI BUTA”
PAK KERNET DIAM SAJA TAK MENGGUBRIS TASYA, DENGAN MUKA BINGUNG.
Tasya: “GIMANA PAK?”
Tasya: “BAPAK DENGERIN SAYA NGGAK SIH?”
SEMUA PENUMPANG TERBANGUN DARI TIDURNYA MELIHAT KERIBUTAN DI SUDUT SANA ANTARA TASYA DAN KERNET BUS.
Pak Kernet: “Sebentar Mbak, saya sedang mencari bus lain arah Jakarta”
Tasya: “LOH BAPAK JELASKAN DULU KE SAYA”
Tasya: “SAYA DI SINI MERASA DIRUGIKAN LOH”
Pak Kernet: “Tolong jangan keras-keras Mbak”
Tasya: “BIAR SEMUA DENGER KALAU INI PENIPUAN”
Tasya: “BAPAK TUH YA, SEBELUM SAYA NAIK BUS INI SAYA SUDAH BERTANYA. SAYA SUDAH PERCAYA SAMA BAPAK”
Pak Kernet: “Nanti,  saya kembalikan setengah uangnya”
Tasya: “BUKAN BEGITU PAK! INI BUKAN MASALAH UANG! BUKAN MASALAH GANTI-MENGGANTI UANG. TAPI INI MASALAH KEPERCAYAAN! KEJUJURAN BAPAK!!!!!!”
Tasya: “SAYA SEBAGAI PENUMPANG MERASA SANGAT DI RUGIKAN PAK!”
Pak Kernet: “Maaf Mbak saya mohon maaf sekali. Bisakah kita bicarakan ini baik-baik?”
Pak Kernet: “Saya akan segera menghubungi teman saya yang ke jurusan Jakarta. Ini saya sudah dapat busnya. Mbak bisa naik itu. Tidak usah bayar.”
(PAK KERNET BERANJAK PERGI MENINGGALKAN TASYA)
Tasya: “LOH LOH PAK BUKAN BEGINI CARA MENYELESAIKANNYA”
(SAMBIL MENARIK LENGAN PAK KERNET)
Pak Kernet: “MBAK MAU APA LAGI??”
Pak Kernet: “MBAK MINTA APA LAGI????”
Pak Kernet: “SAYA SUDAH BERTANGGUNG JAWAB DENGAN MENCARIKAN BUS UNTUK MBAK YA!!!”
(BUS BERHENTI DI SEBUAH HALTE JAM 5 PAGI TASYA DI TURUNKAN DI HALTE BUS)
Pak Kernet: “Saya sudah menurunkan barang-barang Mbak”
Pak Kernet: “Itu bus arah jakarta!!! lain kali yang bener kalau nanya jurusan biar gak SALAH JURUSAN!!”
Tasya: “MEMANG MANUSIA SUSAH UNTUK DIPERCAYA”
AKHIRNYA TASYA NAIK BUS JURUSAN JAKARTA DENGAN KESAL. PAK KERNET DAN BUS LAMANYA SUDAH PERGI MENINGGALKAN DIA. TASYA SAMPAI KE JAKARTA DENGAN SELAMAT MESKIPUN HARUS MENJELASKAN APA YANG TERJADI DI BUS SEBELUMNYA DENGAN PAK KERNET YANG ADA DI BUS YANG BARU.

SELESAI



Tentang Penulis
Devi Dwi Pindiani lahir pada 19 Juni 1999 di Musi Banyuasin, Palembang. Sejak kecil ia sudah bertempat tinggal di Kota Malang hingga kini. Pendidikan dasar ditempuhnya di SDN Arjowinangun 2 Malang. Setelah itu ia menempuh pendidikan lanjutan tingkat pertama di SMPN 23 Malang, dan melanjutkan pendidikan tingkat atas di SMAN 2 Malang. Kini ia sedang menempuh pendidikan tinggi dengan status mahasiswi semester 5 aktif S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah di Universitas Negeri Malang.  Ia juga aktif mengikuti kegiatan UKM GEMPITA UM (Gerakan Mahasiswa Peduli Inklusi dan Disabilitas Universitas Negeri Malang). Di UKM GEMPITA, ia menjadi pengurus pada Divisi Humas.

Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK