NASKAH DRAMA SALAH JURUSAN
SALAH
JURUSAN
Oleh
Devi
Dwi Pindiani
170211604616
PBSID
AA 2017
November
2019
DRAMA
PERSONAE
TOKOH/KARAKTER/PERAN/CIRI
TASYA
IBUK
PAK KERNET
BAPAK BERTATO
MAK YAH
ADEGAN I
SABTU
MALAM DI SEBUAH TERMINAL BUS KOTA NGAWI YAKNI TERMINAL KERTONEGORO DENGAN
KERAMAIAN KHASNYA. SEORANG GADIS SEDANG SIBUK BERBICARA DI TELEPON GENGGAMNYA.
Ibuk:
“Tasya, kowe wis teko ngendi Nduk?”
Tasya:
“Niki Tasya sampun ten terminal Buk,
badhe pados bis jurusan Kudus nggeh Buk?”
Ibuk:
“Iyo Nduk jurusan Kudus, mengko takon wae
menyang petugas e ning peron terminal. Ojo takon bapak-bapak kernet sing ono
ning bis loh”
Tasya:
“Nopo’o nggih Buk? Kan sami mawon”
Ibuk:
“Ojo! Mengko kowe malah bingung. Wes toh
manut wae karo wejangane Ibuk”
Tasya:
“Inggih Buk”
Ibuk:
“Yowes lak ngono”
Ibuk:
“Ojo lali maem nduk”
Tasya:
“Inggih Buk”
Ibuk:
“Sing ati-ati ning dalan ojo gampang
percoyo karo uwong”
Tasya:
“Inggih Buk”
Ibuk:
“Duh Gusti, Ibuk tansah was-was nduk. Kowe
iku nggah-nggih nggah-nggih tapi ra kepanggih”
(SUARA
IBU LIRIH)
Tasya: “Pun lah Buk, Ibuk mboten usah gelo.
Insyallah Tasya saged jaga diri. Nyuwun restu lan pendungane Ibuk nggeh supaya
Tasya selamet sampek tujuan.”
Ibuk:
“Amin Ya Rabb.”
Tasya:
“Amin. Sampun dalu, Tasya pados bis
rumiyin nggih Buk. Assalamuallaikum.”
Ibuk:
“Iyo nduk, ati-ati. Waalaikumsallam”
TASYA
MENUTUP TELEPON GENGGAMNYA DAN MENCARI BIS JURUSAN KOTA JAKARTA. DIA SEDANG
KEBINGUNGAN MENCARI BUS ARAH JAKARTA. DIA HENDAK PERGI MERANTAU DI SANA, UNTUK
PERTAMA KALINYA PERGI SENDIRIAN DENGAN MENGGUNAKAN BUS. BANYAK KERNET BUS YANG
MENAWARKAN TIKET BUS PADANYA. BANYAK JUGA YANG MENANYAINYA. ADA SEORANG KERNET
YANG MENDEKATINYA.
Pak
Kernet: “Mau kemana Mbak?”
Pak
Kernet: “Mau ke Bandung?”
Tasya:
“Tidak Pak, saya mau ke Jakarta”
Pak
Kernet: “Ya ini Mbak!”
Tasya:
“Langsung Jakarta kan? Tidak oper atau muter-muter?”
Pak
Kernet: “Iya Mbak. Langsung Jakarta tanpa oper-oper. Full tol.”
Tasya:
“Ah yang benar Pak?”
Pak
Kernet: “Iya Mbak. Langsung berangkat ini.”
Tasya:
“Berapa Pak kalau turun di Grogol?”
Pak
Kernet: “Buat Mbaknya 320 ribu saja.”
Tasya:
“Mahal sekali Pak? Apa biasanya memang harganya segitu?”
Tasya:
“Tiket ke Bekasi saja cuma 200 ribu Pak.”
Pak
Kernet: “Kan saya sudah bilang Mbak kalau bus kita lewat full tol dan tidak
oper-oper.”
Pak
Kernet: “Gimana Mbak?? Jam segini bus jurusan ke Jakarta sudah habis.”
Pak
Kernet: “Kalau mau ya harganya segitu Mbak. Kalau tidak mau ya Mbak tunggu saja
sampai besok.”
Tasya:
“Tapi ini benar langsung ke Jakarta kan Pak?”
Pak
Kernet: “Iya Mbak.”
Pak
Kernet: “Kalau Mbaknya ndak percaya
sama saya tanya saja ke penumpang-penumpang yang lainnya. Mereka semua juga mau
ke Jakarta.”
Tasya:
“Ya sudah saya percaya sama Bapak.”
Tasya:
“Terima kasih banyak ya Pak.”
Pak
Kernet: “Mari Mbak saya bawakan barang-barangnya.”
PAK
KERNET MEMBAWAKAN BARANG-BARANG TASYA MENUJU BIS YANG AKAN IA NAIKI. TASYA
MENGIKUTI PAK KERNET DI BELAKANGNYA. PAK KERNET MELETAKKAN BARANG-BARANG TASYA KE
BAGASI BIS DENGAN HATI-HATI. TASYA MENGIKUTI DI BELAKANGNYA.
Tasya:
“Pak, ini benar bus jurusan Jakarta kan? Full tol?”
Pak
Kernet: “Iya Mbak.”
Tasya:
“Tapi di tulisannya kenapa tidak ada pemberitahuan bahwa lewat full tol Pak?”
Pak
Kernet: “Iya Mbak itu cuma belum ditulis saja, tapi aslinya kita full tol kok.”
Pak
Kernet: “Full tol loh Mbak Cuma 320 ribu.”
Tasya:
“Iya deh, kalau lewat tol kan lebih cepat ya Pak?”
Pak
Kernet: “Iya Mbak betul.”
ADEGAN II
TASYA
DUDUK TEPAT PALING BELAKANG. BIS BELUM TERISI PENUH. TASYA TERLIHAT SANGAT
CEMAS. DIA SEDANG BERUSAHA MENENANGKAN DIRI DAN PERCAYA. BUS TERLIHAT TAMPAK
KOSONG, BANGKU HANYA TERISI BEBERAPA. RASA CEMAS TASYA SEMAKIN BESAR SETELAH
MENYADARI BAHWA DI DALAM BUS ITU HANYA DIA SATU-SATUNYA WANITA. TASYA
BERTENGKAR DENGAN PIKIRANNYA SENDIRI.
Pikiran
Baik: “Aku tidak takut”
Pikiran
Buruk: “Aku takut”
Pikiran
Baik: “Semoga tidak terjadi apa-apa”
Pikiran
Buruk: “Bagaimana kalau terjadi apa-apa”
Pikiran
Baik: “Tenang Sya”
Pikiran
Buruk: “Bagaimana kalau supirnya ngantuk?”
Pikiran
Baik: “Jangan cemas beliau sudah biasa mengemudi”
Pikiran
Buruk: “Sebaiknya aku tidak tidur agar”
Pikiran
Buruk: “Kalau aku tertidur nanti aku ada apa-apa”
Pikiran
Baik: “STOP BERPIKIR NEGATIF”
Pikiran
Buruk: “Bagaimana kalau tiba-tiba remnya blong?”
Pikiran
Buruk: “Bagaimana kalau aku .....”
Pikiran
Buruk: “Aku tak bisa bertemu Ibuk lagi”
Pikiran
Baik: “ Sudahlah Sya, hidup dan mati itu sudah menjadi rahasia Tuhan”
Pikiran
Baik: “Tak ada yang tahu takdir mana yang akan memilihmu”
Pikiran
Baik: “Jangan terlalu mencemaskan apa yang belum tentu terjadi”
Pikiran
Baik: “Berpikirlah yang baik-baik maka hal baik pula yang akan datang padamu!”
Pikiran
Baik: “Ada Tuhanmu yang selalu melindungimu”
TEPAT
JAM 21:00 BUS BERANGKAT DARI TERMINAL KERTONEGORO MENUJU JAKARTA. SEORANG
BAPAK-BAPAK MASUK BUS DAN DUDUK DI SEBELAH TASYA. SUASANA SEMAKIN MENCEKAM BAGI
TASYA. LAMPU PANGGUNG REDUP BERFOKUS PADA BAPAK-BAPAK DI SEBELAH TASYA.
BERPAKAIAN SEPERTI SEORANG METALICA, BERTATO GAMBAR SINGA DI TANGANNYA.
Pikiran Buruk: “Jangan-jangan bapak
ini preman”
Pikiran Buruk: “Lihat saja
pakaiannya”
Pikiran Buruk: “Tatonya seram”
BAPAK
ITU MELIRIK KE ARAH TASYA, TASYA BERPURA-PURA MENGALIHKAN PANDANGANNYA KE ARAH
JENDELA.
Pikiran
Buruk: “Apa mungkin bapak ini mau berbuat jahat padaku”
Pikiran
Buruk: “Bagaimana kalau memang iya, aku akan teriak saja”
Pikiran
Buruk: “Tapi apa ada yang dengar? Karena semua sudah tidur”
Pikiran
Buruk: “Bagaimana kalo ...”
Bapak
Bertato: “Permisi Mbak”
TASYA
MENOLEH DENGAN WAS-WAS. LAMPU MENYOROT ANTARA DUA ORANG ITU. LAMPU PANGGUNG
MATI MENYALA DENGAN BERGANTIAN SEPERTI DEGUP JANTUNG TASYA. SUARA DRUM RITME
CEPAT.
Tasya:
“Iya Pak?”
Bapak
Bertato: “Maaf mengganggu, apa Mbaknya punya power bank?”
Tasya:
“Oh ada Pak”
Bapak
Bertato: “Bolah saya minta satu bar saja? Batre hp saya habis”
Tasya:
“Oh boleh Pak”
Tasya:
“Ini Pak”
MEMBERIKAN
POWER BANK PADA BAPAK ITU.
Bapak
Bertato: “Terima Kasih ya Mbak”
BAPAK
BERTATO SEGERA MENGGUNAKANNYA. TASYA MELIRIK YANG DILAKUKAN BAPAK ITU. BAPAK
ITU SEDANG TELEPON VIDEO DENGAN SEORANG PEREMPUAN.
Bapak
Bertato: “Hallo?”
Bapak
Bertato: “Maaf Ayah baru bisa menghubungimu, batre hp Ayah habis”
Bapak
Bertato: “Ini Ayah meminjam power bank Mbak-mbak yang duduk di sebelah Ayah”
Bapak
Bertato: “Untung saja ada Mbak yang baik ini mau meminjamkan pada Ayah”
Bapak
Bertato: “Iya Ayah baik-baik di sini”
Bapak
Bertato: “Kamu yang juga baik-baik ya di sana”
Bapak
Bertato: “Bagaimana apa semuanya sudah beres?”
Bapak
Bertato: “Restu dan doa Ayah selalu menyertai”
Bapak
Bertato: “Sudah dulu ya Nak, HP Ayah biar terisi dulu. Nanti Ayah hubungi lagi
kalau sudah sampai terminal”
TASYA
DIAM DAN MERASA BERSALAH. LAMPU PANGGUNG MENJADI GELAP. ALUNAN MUSIK LEMBUT
DIMAINKAN.
Bapak
Bertato: “Maaf ya mbak, itu tadi saya mengabari anak saya di rumah karena dari
tadi hp saya mati. Takut dia khawatir”
Tasya:
“Oh iya Pak tidak apa-apa”
Bapak
Bertato: “Mbak takut dengan saya ya?”
Bapak
Bertato: “Tenang mbak saya orang baik-baik kok”
Bapak
Bertato: “Ini tatoo hadiah dari anak saya mbak”
Bapak
Bertato: “Dia kuliah jurusan seni. Banyak orang yang berpikir negatif soal saya
karena tatoo ini. Tapi saya tidak peduli dan tidak akan menghapusnya”
Bapak
Bertato: “Kalau ditanya mengapa? Tentu jawabannya karena ini adalah kado dari
puteraku”
Bapak
Bertato: “Saya selalu sedih karena dia tak pernah bisa merasakan kasih sayang
seorang ibu”
Tasya:
“Bapak dan ibu???”
Bapak
Bertato: “Ibunya meninggal ketika dia berumur 10 tahun. Saat itu dia
benar-benar terluka dan terpuruk tapi kami harus tetap melanjutkan hidup bukan?
Jadi ya kami tinggal berdua saja. Kami saling memiliki satu sama lain. Karena
memang hanya dia yang masih saya punya”
Tasya:
“Lalu kenapa Bapak tidak menikah lagi?”
Bapak
Bertato: “Tidak Mbak. Memang pernah ada pikiran ke sana. Tapi saya tidak bisa
menyakiti perasaan anak saya. Saya takut hatinya terluka kalau saya menikah
lagi”
Tasya:
“Bapak sangat menyayangi putra Bapak ya”
Bapak
Bertato: “Iya karena hanya dia yang saya miliki”
Bapak
Bertato: “Sekarang hanya menghitung hari saja dia akan membangun keluarganya
sendiri. Saya merasa bahagia dan kehilangan”
Tasya:
“Kehilangan???”
Bapak
Bertato: “Iya. Artinya saya akan hidup sendiri. Tapi saya selalu bahagia untuk
anak saya. Lusa pernikahannya”
Tasya:
“Jadi ini bapak mau pergi ke pernikahan anak Bapak?”
Bapak
Bertato: “Iya Mbak”
Tasya:
“Selamat ya Pak atas pernikahan anak Bapak. Tapi Bapak harus selalu ingat bahwa
Bapak dan anak Bapak masih saling memiliki. Karena tidak ada kata putus
hubungan antara seorang bapak dan anak”
BAPAK
BERTATO TERSENYUM MENDENGAR PERKATAAN TASYA.
Tasya:
“Maaf Pak kalau boleh ini kita lewat tol ya?”
Bapak
Bertato: “Loh Mbak kita dari tadi tidak lewat tol. Ini jalan biasa”
Tasya:
“Hah? Tapi bapak kernetnya bilang ini lewat full tol loh”
Bapak
Bertato: “Bagaimana Mbak? Bus ini full jalan biasa, bukan toll”
Bapak
Bertato: “Kalau full toll pasti mahal lah Mbak”
Tasya:
“Memangnya Bapak bayar berapa?”
Bapak
Bertato: “Saya Cuma bayar 150 ribu Mbak”
Tasya:
“HAH Bapak yang bener Pak?”
Tasya:
“Saya loh bayar 320 ribu. Bilangnya sih full tol”
Bapak
Bertato: “Loh gimana sih Mbak. Kok semahal itu”
Tasya:
“Saya tidak tahu Pak”
Bapak
Bertato: “Mbak langsung aja bilang ke kernetnya. Protes saja Mbak! Jangan
takut!”
Tasya:
“Besok saja lah Pak saya bicarakan dengan kernetnya”
Bapak
Bertato: “Sekarang saja Mbak”
Tasya:
“Sudahlah Pak besok saja. Sungkan
kalo malem-malem ribut”
Bapak
Bertato: “Ya sudah kalau begitu. Sebentar lagi saya mau turun”
BAPAK
BERTATO ITU TERSENYUM LEGA. SUASANA PANGGUNG MENJADI TERANG. BELIAU TURUN DI
TERMINAL DAN BERPAMITAN PADA TASYA.
Bapak
Bertato: “Ini Mbak power bank nya.”
Bapak
Bertato: “Terima kasih Mbak. Saya beruntung bisa bertemu gadis baik sepertimu.
Hati-hati di jalan”
ADEGAN III
BUS
BERHENTI DI TEMPAT PERISTIRAHATAN UNTUK SEKADAR MENGISI PERUT DI SEBUAH KEDAI
MAKAN. ADA BANYAK ORANG YANG BERJUALAN
DI SANA. TASYA MEMILIH UNTUK MAKAN NASI LIWET MAK YAH DI PINGGIR JALAN.
SEMABARI MAKAN, TASYA DAN MAK YAH SALING BERTUKAR CERITA.
(MELEMPAR SENYUM MANISNYA PADA MAK YAH)
Mak
Yah: “Mbak mau kemana?”
Tasya:
“Saya mau ke Jakarta Bu”
Mak
Yah: “Ah Nak jangan panggil ibu, panggil saja Mak Yah. Lebih enak begitu”
Tasya:
“Iya Mak Yah”
Tasya:
“Tampaknya Mak Yah sangat cemas ya?”
Mak
Yah: “Ah, apakah sangat terlihat?”
Tasya:
“Iya Mak, Mak Yah terlihat cemas”
(MENGGENGGAM
TANGAN MAK YAH DAN MEMBERINYA SAPUTANGAN)
Mak Yah: “Iya Nak, anak Mak sedang di
rumah sakit”
Mak Yah: “Mau melahirkan”
Mak Yah: “Padahal ini bukan kali
pertama, ini adalah cucu keduaku.”
Mak Yah: “Bagaimana bisa aku tidak
cemas mengetahui anakku sedang berjuang untuk menjadi ibu untuk kedua kalinya”
Tasya: “Ya memang Mak, sudah jadi
naluri ibu mencemaskan anaknya”
Tasya: “Doakan saja Mak. Semoga
persalinannya lancar, ibu dan bayinya diberi kesehatan”
Mak
Yah: “Amin”
(KEMBALI
BERMAIN TANGANNYA YANG SEDIKIT GEMETAR KARENA KECEMASANNYA)
Tasya:
“Ibu Tasya pun sama dengan Mak Yah. Ibuk mungkin sekarang sedang cemas dan tak
bisa tidur karena aku pergi ke Jakarta sendirian”
Tasya:
“Ibuk sangat sedih ketika harus melepasku sendirian pergi merantau ke Ibu Kota”
Mak
Yah: “Ya begitulah ibu-ibu Nak”
Mak
Yah: “Sampai kau besar dan akan tua nantinya pun, tetap saja kau masih menjadi
anak-anak di mata ibumu”
Mak
Yah: “Mak sendiri merasakan itu”
Mak
Yah: “Mak ini sudah punya cucu, tapi tetap saja Mak selalu menganggap Dian
masih anak-anak”
Mak
Yah: “Iya itu nama anak Mak”
Tasya:
“Kenapa Mak Yah tidak di sana saja menemaninya?”
Mak
Yah: “Mau gimana lagi Nak, Emak juga harus membantu mencari uang untuk biaya
rumah sakitnya”
Tasya:
“Suaminya??”
Mak
Yah: “Suaminya bekerja. Tapi ya Emak harus tetep bekerja supaya tidak
memberatkan Dian. Emak ini tinggal satu rumah dengannya. Minta makan, minta
tempat tinggal, minta waktunya mengurus Emak. Setidaknya dengan Emak bekerja
bisa sedikit membantunya”
Mak
Yah: “Emak tidak mau hanya jadi beban untuk Dian, Nak”
Tasya:
“Jangan bilang begitu Mak, tidak ada seorang anak yang merasa terbebani
mengurus orang tuanya. Bukankah itu sudah kewajiban mereka membalas budi pada
orang tuanya?”
MAK
YAH TERSENYUM DAN SIBUK MENJUAL NASI LIWENYA LAGI
Mak
Yah: “NASI LIWET NASI LIWET”
Tasya:
“Tasya kembali ke bus dulu ya Mak, terima kasih”
MAK
YAH MEMBERIKAN SEKANTONG NASI LIWET HANGAT UNTUK TASYA
Mak
Yah: “Makanlah untuk di perjalanan Nak, terima kasih”
Mak
Yah: “Hati-hati di jalan”
Tasya:
“Mak Yah jangan repot-repot, Tasya sudah makan kok”
Mak
Yah: “Sudah sana bus mu sepertinya akan segera berangkat”
Tasya:
“Terima kasih Mak”
TASYA
MEMELUK MAK YAH. BERGEGAS BERLARI KE BUS. BUS BERANGAKAT MELANJUTKAN PERJALANAN
KE JAKARTA.
LAMPU
BUS MATI. TIBA-TIBA PAK KERNET MENEPUK PUNDAK TASYA YANG SEDANG TIDUR. JAM
MENUNJUKKAN 2 PAGI. TERJADI PERDEBATAN HEBAT ANTARA TASYA DAN PAK KERNET DALAM
BUS.
Pak
Kernet: “Mbak! Mbak!!”
Pak
Kernet: “Mbak bangun Mbak!”
TASYA
KAGET DAN TERBANGUN.
Tasya:
“Oh maaf ada apa ya Pak?”
Tasya:
“Sudah sampai ya?”
Pak
Kernet: “Maaf menganggu Mbak”
Pak
Kernet: “Mbaknya mau ke Jakarta kan?”
Pak
Kernet: “Grogol bukan?”
Tasya:
“Iya Pak bener”
Tasya:
“Kenapa ya?”
Pak
Kernet: “Mbak bisa turun di halte ini”
Pak
Kernet: “Setelah itu bisa oper bus Gunung Harta ya. Soalnya bus kami cuma bisa
sampai pacitan saja”
Tasya:
“LOH GIMANA SIH PAK?? KATANYA TANPA OPER, BISA LANGSUNG SAMPE TUJUAN. KOK
SEKARANG BEGINI?”
Pak
Kernet: “Jadi gini Mbak, maaf sekali bus kami tidak sampai Grogol. Tapi ya beda
sedikitlah. Mangkanya saya carikan Mbak oper bus lain”
Pak
Kernet: “Nanti tidak usah bayar lagi Mbak”
Tasya:
“GIMANA SIH PAK!!”
Tasya:
“TADI BILANGNYA IYA NGGAK OPER IYA FULL TOL IYA SAMPAI TEMPAT TUJUAN IYA
JAKARTA”
Tasya:
“TAPI SEKARANG APA BAPAK NYURUH SAYA TURUN DI PAGI HARI BUTA GINI!!”
Tasya:
“BAPAK YANG BENAR SAJA YA. SAYA JUGA BAYAR MAHAL. 300 RIBU ITU TIDAK MURAH YA PAK”
Tasya:
“BAPAK NYURUH SAYA TURUN DI DSINI? YANG BENAR SAJA PAK! DAN INI JUGA MASIH PAGI-PAGI
BUTA”
PAK
KERNET DIAM SAJA TAK MENGGUBRIS TASYA, DENGAN MUKA BINGUNG.
Tasya:
“GIMANA PAK?”
Tasya:
“BAPAK DENGERIN SAYA NGGAK SIH?”
SEMUA
PENUMPANG TERBANGUN DARI TIDURNYA MELIHAT KERIBUTAN DI SUDUT SANA ANTARA TASYA
DAN KERNET BUS.
Pak
Kernet: “Sebentar Mbak, saya sedang mencari bus lain arah Jakarta”
Tasya:
“LOH BAPAK JELASKAN DULU KE SAYA”
Tasya:
“SAYA DI SINI MERASA DIRUGIKAN LOH”
Pak
Kernet: “Tolong jangan keras-keras Mbak”
Tasya:
“BIAR SEMUA DENGER KALAU INI PENIPUAN”
Tasya:
“BAPAK TUH YA, SEBELUM SAYA NAIK BUS INI SAYA SUDAH BERTANYA. SAYA SUDAH
PERCAYA SAMA BAPAK”
Pak
Kernet: “Nanti, saya kembalikan setengah
uangnya”
Tasya:
“BUKAN BEGITU PAK! INI BUKAN MASALAH UANG! BUKAN MASALAH GANTI-MENGGANTI UANG.
TAPI INI MASALAH KEPERCAYAAN! KEJUJURAN BAPAK!!!!!!”
Tasya: “SAYA SEBAGAI PENUMPANG MERASA SANGAT DI RUGIKAN PAK!”
Tasya: “SAYA SEBAGAI PENUMPANG MERASA SANGAT DI RUGIKAN PAK!”
Pak
Kernet: “Maaf Mbak saya mohon maaf sekali. Bisakah kita bicarakan ini
baik-baik?”
Pak
Kernet: “Saya akan segera menghubungi teman saya yang ke jurusan Jakarta. Ini
saya sudah dapat busnya. Mbak bisa naik itu. Tidak usah bayar.”
(PAK
KERNET BERANJAK PERGI MENINGGALKAN TASYA)
Tasya:
“LOH LOH PAK BUKAN BEGINI CARA MENYELESAIKANNYA”
(SAMBIL
MENARIK LENGAN PAK KERNET)
Pak
Kernet: “MBAK MAU APA LAGI??”
Pak
Kernet: “MBAK MINTA APA LAGI????”
Pak
Kernet: “SAYA SUDAH BERTANGGUNG JAWAB DENGAN MENCARIKAN BUS UNTUK MBAK YA!!!”
(BUS
BERHENTI DI SEBUAH HALTE JAM 5 PAGI TASYA DI TURUNKAN DI HALTE BUS)
Pak
Kernet: “Saya sudah menurunkan barang-barang Mbak”
Pak
Kernet: “Itu bus arah jakarta!!! lain kali yang bener kalau nanya jurusan biar
gak SALAH JURUSAN!!”
Tasya:
“MEMANG MANUSIA SUSAH UNTUK DIPERCAYA”
AKHIRNYA
TASYA NAIK BUS JURUSAN JAKARTA DENGAN KESAL. PAK KERNET DAN BUS LAMANYA SUDAH
PERGI MENINGGALKAN DIA. TASYA SAMPAI KE JAKARTA DENGAN SELAMAT MESKIPUN HARUS
MENJELASKAN APA YANG TERJADI DI BUS SEBELUMNYA DENGAN PAK KERNET YANG ADA DI
BUS YANG BARU.
SELESAI
Tentang
Penulis
Devi Dwi Pindiani lahir
pada 19 Juni 1999 di Musi Banyuasin, Palembang. Sejak kecil ia sudah bertempat
tinggal di Kota Malang hingga kini. Pendidikan dasar ditempuhnya di SDN
Arjowinangun 2 Malang. Setelah itu ia menempuh pendidikan lanjutan tingkat
pertama di SMPN 23 Malang, dan melanjutkan pendidikan tingkat atas di SMAN 2
Malang. Kini ia sedang menempuh pendidikan tinggi dengan status mahasiswi semester
5 aktif S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah di Universitas
Negeri Malang. Ia juga aktif mengikuti
kegiatan UKM GEMPITA UM (Gerakan Mahasiswa Peduli Inklusi dan Disabilitas
Universitas Negeri Malang). Di UKM GEMPITA, ia menjadi pengurus pada Divisi
Humas.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi