NASKAH DRAMA "SANALA"


SANALA

Oleh Yuan Malista Ayuseptiwi


TOKOH
Sanala
Ayah
Ibu
Linda
Andrian
Lely

DRAMA INI DIBUKA DENGAN AYAH YANG PULANG DARI KANTOR DAN DISAMBUT OLEH IBU DI RUMAH.

1. Ibu                          : “Bagaimana tadi kantor? (mendekat ke arah Ayah). Bau parfummu sepertinya beda”.
2. Ayah                       : “Kau ini bicara apa? Suamimu ini lelah dan kau malah membahas hal yang tidak penting”.
3. Ibu                          : (Menyentuh kemeja Ayah dan mencium kemeja itu) Ini bukan bau parfummu, ini jelas bau parfum perempuan, dan bercak noda merah apa ini?”
4. Ayah                       : (Mendorong Ibu) “Kau ini bicara apa? Jangan bicara macam-macam ya.”
5. Ibu                          : “Lalu apa semua itu? Kau mencoba berbohong denganku? Selama ini firasatku benar, kau pasti berselingkuh!”
6. Ayah                       : “Diam kau!”
3. Ibu                           : "Aku sebernarnya sudah mengetahui apa yang sudah kau lakukan
selama ini di belakangku.”
2. Ayah                       : "Tahu apa kau tentangku? Hah?"
(Berkacak pinggang dengan mata melotot mengarah ke Ibu)
3. Ibu                           : "Bawa kemari perempuan jalang itu!"
4. Ayah                        : (Tamparan keras melayang di pipi sebelah kanan Ibu) Lancang sekali kau berbicara tentang seperti itu dihadapanku, apa buktinya aku berselingkuh?”
5. Ibu                          : “Aku memang tidak memiliki bukti, tapi firasatku sebagai istri sangat kuat. Inikah yang membuat sikapmu selama ini semakin dingin kepadaku? Karena kau punya wanita lain?”
6. Ayah                       : “Kalau aku memang berselingkuh kau mau apa?”
7. Ibu                          : “Tega kau melakukan semua ini kepadamu mas! Selama ini aku benar-benar menjaga rumah tangga ini, aku menerima semua hal yang kau lakukan kepadaku. Aku bahkan hanya diam ketika kau memukulku atau berkata kasar kepadaku jika kau sedang marah. Aku melakukan semua itu karena aku ingin menjaga keutuhan rumah tangga ini, demi Sanala.”

8. Ayah                       : “Kalian berdua itu sama saja, Ibu sama anak sama-sama tidak tau diuntung, persetan dengan kalian berdua! (beranjak pergi dari rumah)
9. Ibu                          : “Mas, jangan pergi. Kau mau kemana? (mencoba mengahalngi Ayah sembari menangis)
10. Ayah                     : “Bukan urusanmu! (menepis Ibu)”

SANALA MENDENGAR SEMUA PERTENGKARAN KEDUA ORANG TUANYA DI DALAM KAMAR. TANGISNYA TAK KUNJUNG HENTI, TANGIS YANG PADU DENGAN TANGIS IBUNYA DI LUAR SANA. SANALA MULAI MENGAMBIL OBAT TIDUR DI LACI TEMPAT IA BIASA MENARUH OBAT TERSEBUT. IA HANYA INGIN TIDUR DENGAN TENANG TANPA HARUS MEMIKIRKAN APA YANG TELAH IA DENGAR HARI ITU. OBAT ITU YANG SELALU MENJADI JAWABAN ATAS SEGALA KERESAHAN DAN KECEMASAN YANG IA HADAPI.
PAGI TELAH TIBA, SANALA TAK KUNJUNG DATANG KE TEMPAT KULIAH HARI INI. LINDA YANG MERUPAKAN TEMAN SANALA TAK HENTI MENELEPON DAN MENGIRIM 
PESAN KEPADA SANALA.

11. Linda                    : "Dia ini kemana sih, hari ini kan ada kuis." (Gerutunya sambil fokus menghubungi Sanala melalui ponsel)
12. Dosen                   : "Selamat pagi anak-anak. Silakan di siapkan kertasnya karena kuis akan segera dimulai!"
13. Linda                     : "Pak, boleh tunggu teman saya sebentar. Dia belum datang."
14. Dosen                    : "Itu bukan urusan saya, saya minggu lalu sudah pernah bilang bahwa mahasiswa yang terlambat ataupun tidak hadir saat kuis hari ini tidak akan mendapatkan nilai mata kuliah ini."
12. Linda                    : "Saya mohon pak, dia sedang berada di perjalanan sekarang dan mengalami sedikit musibah.” (Bohongnya)
13. Dosen                    : "Tidak ada toleransi, kuis akan segera saya mulai."

DITENGAH-TENGAH PENGERJAAN SOAL, SANALA TIBA-TIBA DATANG

14. Sanala                    : “Maaf pak saya terlambat”
15. Dosen                   : “Iya saya tahu kamu terlambat, tapi kamu tidak bias mengikuti ujian saya”
16. Sanala                   : “Tapi pak, saya hanya telat beberapa menit”
17. Dosen                   :  “Beberapa menit kamu bilang, ini sudah hampir 30 menit Sanala”
18. Sanala                   : “Saya mohon pak, saya ada sedikit permasalahan di rumah yang membuat harus terlambat pak”
19. Dosen                      : “Saya tidak peduli dengan segala alasan kamu, ini menunjukkan kamu bukan orang yang disiplin dan kamu tidak siap untuk mengikuti ujian saya”
20. Sanala                     : “Saya mohon pak, kasih saya kesempatan. Saya ingin mendapatkan nilai untuk mata kuliah ini”
21. Dosen                      : “Bapak ingin kamu keluar dari kelas ini karena kamu mengganggu teman-temanmu yang lain”
22. Sanala                     : “Tapi pak”
23. Dosen                      : “Keluar sekarang!”

SANALA AKHIRNYA PULANG LANGKAHNYA TERHENTI KETIKA SAMPAI DI RUMAH DAN MELEWATI KAMAR IBUNYA. IA MENDENGAR ISAKAN TANGIS.

15. Sanala                     : "Bu…"
16. Ibu                          : “Sanala, kamu sudah pulang kuliah?"
16. Sanala                     : "Aku tidak kuliah hari ini. Jujur saja aku rindu Ibu yang dulu. Aku rindu Ibu yang selalu memberi perhatian kepadaku. Ini semua pasti gara-gara laki-laki itu. Mengapa tidak kau tinggalkan saja laki-laki itu bu. Diaa sudah menyakiti hati Ibu. Dia sudah melakukan tindakan yang tidak pantas kepada Ibu.
17. Ibu                          : "Cukup Sanala! Kau tidak boleh berkata seperti itu tentang Ayahmu!
18. Sanala                     : "Ayah? Kau sebut laki-laki itu Ayahku?  Ayah mana yang tega. Ayah mana yang tega memukul istrinya dan memilih berselingkuh dengan wanita lain. Ibu pikir aku tidak tau semua itu bu? Aku mendengar semuanya! Aku tidak ingin melihatmu terus-terusan diperlakukan seperti itu oleh Ayah bu. Ibu bahkan tidak peduli denganku, Ibu bahkan tidak tahu  bahwa aku hari ini tidak berangkat kulliah karena pengaruh o... (perkataannya seketika berhenti) Kenapa bu? Kenapa tidak kau tinggalkan dia! Ini semua demi kebaikan ibu.
19. Ibu                         : "Ibu tidak bisa nak."
20. Sanal                     : “Kenapa bu? Kenapa?
21. Ibu                         : "Karena Ibu mencintai Ayahmu dan tidak ingin kehilangan Ayahmu.”
22  Sanala                   : "Bohong! Bagaimana bisa kau mencintai orang yang dengan tega melakukan semua itu kepadamu bu. Ibu tidak pantas menerima orang seperti Ayah. Ibu pantas bahagia.”
23. Ibu                          : "Maafkan ibu nak, maafkan ibumu ini" (menangis dan mencoba memeluk Sanala)
24. Sanala                    : "Tidak, jangan sentuh aku. Aku benci Ibu.”
25. Ibu                         : “Sanala” (teriaknya)

SANALA BERANJAK MENINGGALKAN RUMAH ITU SAMBIL TERUS TERISAK DI JALAN. SETELAH CUKUP LAMA MENGIKUTI LANGKAH KAKINYA YANG TAK KUNJUNG HENTI. SANALA MULAI BERJALAN PULANG KE RUMAHNYA KARENA SUDAH MERASA SEDIKIT TENANG DENGAN KERESAHANNYA SAAT ITU. PADA SAAT TIBA DI RUMAH, BETAPA TEEKEJUTNYA IA MELIHAT RUMAH YANG BERANTAKAN DAN ADA SOSOK YANG BEGITU IA BENCI SAAT ITU.

26. Ibu                        : “Mas, Sanala belum pulang. Ini sudah larut malam, aku khawatir dia kenapa-napa”
27. Ayah                     : “Dia itu sudah besar, kenapa harus khawatir”
28. Ibu                        : “Tapi mas, ini sudah larut malam. Bagaimana kalau dia diculik atau sebagainya?”
29. Ayah                     : “Sudahlah biar saja, kau ini berlebihan sekali. Kenapa tidak kau telfon saja dia, palingan dia juga main ke rumah temannya.”
30. Ibu                        : “Handphonenya tidak dibawa, itu yang membuat aku semakin khawatir. Aku juga sudah mencoba menghubungi nomor teman-temannya dan hasilnya nihil. Apa tida sebaiknya kita lapor polisi?
31. Ayah                     : “Ahhhh kalian berdua ini memang sama saja, biasanya cuma merepotkan saja. Kau cari saja sendiri anakmu itu, aku tidak peduli.”
SANALA TIBA-TIBA DATANG MEMASUKI RUMAH.
32. Ayah                     : “Itu lihat anakmu, dasar anak tidak tau diuntung”
32. Ibu                         : “Sanala, ke mana saja kamu nak?”
33. Ayah                     : “Kau ini ingin membuat malu keluarga hah? Apa kata tetangga nanti  kalau melihat anak perempuan jam segini baru saja pulang?”
34. Sanala                   : “Sudah kuduga Ayah hanya mementingkan diri Ayah sendiri. Tak pernahkah Ayah berpikir bagaimana perasaanku. Bagiamana aku menjalani setiap hari-hariku. Ayah tidak pernah perduli.”
35. Ayah                     : “Lihat kelakuan anakmu ini, bukannya minta maaf malah alasan saja.”
36. Ayah                     : “Sudahlah mas, bersyukur Sanala tidak kenapa-napa.”
37. Sanala                   : “Untuk apa bu, Ayah mungkin hanya ingin aku pergi dari dunia ini. Itu kan yang Ayah mau?”
38. Ayah                     : “Kau ini bicara, aku muak.”
39. Sanala                   : “Aku juga ingin seperti anak yang lain, punya kelurga yang harmonis. Ayah yang selalu bisa melindungi keluarganya. Aku ingin punya kelurga yang utuh, aku ingin ada seseorang yang bisa selalu memberiku dukungan dikala aku butuh. Tak bisakah kalian seperti itu? Tak bisakah Ayah melakukan semua itu untukku?”
40. Ayah                     : “Mulai sekarang jangan panggil aku Ayah. Aku bukan Ayahmu!”
41. Ibu                        : “Mas cukup!”
42. Sanala                   : “Apa maksut Ayah?”
43. Ayah                     : “Aku sudah terlalu baik selama ini menganggapmu sebagai anakku. Kau seharusnya bersyukur aku masih mau menjadi Ayahmu.”
44. Sanala                   : “Bu, apa yang terjadi? Apa yang Ibu sembunyikan dari aku?”
45. Ibu                        : “Tolong mas, jangan lakukan ini.”
46. Ayah                     : “Kau urusi saja anakmu itu sendiri.”
47. Sanala                   : “Apa yang kalian semua sembunyikan dari aku”
48. Ibu                        : “Cepat masuk kamar sekarang Sanala!”
49. Sanala                   : “Kenapa Ibu tidak mau menjawabku?”
50. Ibu                        : “Cepat masuk Sanala!”
51. Sanala                   : “Jawab pertanyaanku!”
52. Ibu                        : “Ibu bilang masuk!”
53. Sanala                   : “Aku benci kalian semua” (masuk ke dalam kamar)
54. Ibu                         : “Kau mau ke mana mas? Jangan pergi! Jangan pergi dengan perempuan itu!”
55. Ayah                     : “Apa urusanmu, tak cukupkah apa yang sudah aku lakukan selama ini terhadapmu. Keegoisanmu membuat aku muak.” (Pergi meninggalkan rumah)
56. Ibu                        : “Tolong jangan biarkan Sanala tahu apa yang sebenarnya terjadi mas. Aku hanya tidak ingin ia terluka.”
57. Ayah                     : “Kau ini memang betul-betul egois, aku menyesal telah menerimamu selama ini.”
58. Ibu                        : “Maafkan aku mas, tolong maafkan aku. Jangan tinggalkan Sanala”          
59. Ayah                     : “Untuk apa aku peduli dengan anak yang bukan anak kandungku sendiri.” (pergi meninggalkan rumah)
60. Ibu                         : “Mas, jangan pergi! Maafkan aku…” (menangis terisak sambil terduduk)

SETTING BERADA DI KAMPUS, SANALA TIDAK SENGAJA BERTEMU DENGAN SAHABATNYA LINDA, SETELAH CUKUP LAMA SANALA MENCOBA MENGHINDAR DARI LINDA KARENA PERMASALAHAN YANG IA HADAPI.

61. Linda                     : “Kau ini dari mana saja? Pesanku bahkan tidak pernah kau balas.”
62. Sanala                    : “Aku benar-benar hancur sekarang.”
63. Linda                     : “Apa yang terjadi? Terkadang aku bingung, aku ini sebenarnya sahabatmu atau bukan? Bahkan kau tidak pernah bercerita tentang keadaanmu kepadaku. Aku ini seolah tak penting di hidupmu.”
64. Sanala                    : “Aku sangat ingin bercerita tentang segala hal padamu. Tapi untuk saat ini aku hanya belum bisa menceritakannya.”
65. Linda                     : “Kenapa? Aku kau tidak percaya denganku?”
66. Sanala                    : “Bukan begitu, hanya saja aku ingin menenangkan diriku sejenak.”
67. Linda                     : “Kau berubah Sanala, kau bukan seperti Sanala yang aku kenal selama ini.”
68. Sanala                   : “Apa maksutmu?”
69. Linda                    : “Kau seolah menjauh dariku. Aku kecewa.”
70. Sanala                   : “Dengar lin, banyak masalah yang menimpaku saat ini. Ku kira kau teman dan sahabat yang bisa menerima apa pun kekuranganku. Aku bukan manusia sempurna yang selalu bisa tersenyum disegala kondisi. Kau sama saja dengan orang-orang yang lain.”
71. Linda                    : “Aku hanya kesal dengan sikapmu, kau seolah tidak pernah menganggapku sebagai sahabatmu lagi.”
72. Sanala                   : “Lin kita ini sudah mahasiswa, tidak semua hal dari diriku yang harus kau ketahui.”
73. Lina                      : “Kenapa malah kau yang marah kepadaku. Kau ini hanya seseorang yang butuh perhatian.”
72. Sanala                   : “Jadi hanya ini yang kau pikirkan tentang aku selama ini?”
73. Linda                    : “Aku hanya kesal dengan sikapmu, kau seolah tidak pernah menganggapku sebagai sahabatmu lagi.”
74. Sanala                   : “Aku punya alasan kenapa aku belum bisa menceritakan semuanya kepadamu, aku hanya tidak ingin kau terbebani dengan segala kisahku. Aku juga ingin menjadi seseorang yang dengan gampang bercerita keluh kesahnya dengan sahabatnya sendiri, tapi aku tidak bisa. Bayangan-bayangan buruk selalu ada di kepalaku ketika aku harus menceritakan semua kisahku kepada orang lain.
75. Linda                    : ”Lalu dengan menghindar denganku semua masalah terpecahkan? Apa kau tidak memikirkan bagaimana khawatirnya aku denganmu. Kau selalu merasa bahwa dirimiulah yang paling menderita di dunia ini.”
76. Sanala                    : “Lin, aku juga tidak ingin menjadi seseorang yang menderita seperti ini. Aku juga ingin seperti kau yang punya keluarga harmonis, Ayah dan Ibumu selalu menyayangimu, aku juga ingin sepertimu. Bagaimana perasaanmu jika kedua orang tuamu tidak menginginkanmu? Kalau kau tanya siapa orang yang paling kubenci di dunia ini, aku juga akan menjawab bahwa aku membenci diriku sendiri.”
77. Linda                    : “Kenapa harus kau bandingan semua kekesalanmu dengan hidupku, lantas kau mau aku bagaimana? Kau juga mau keluargaku hancur seperti keluargamu begitu? Kau hanya memikirkan dirimu sendiri Sanala, kau juga tidak ada di saat aku membutuhkanmu. Bagaimana aku tahu apa yang sedang terjadi dengan hidupmu jika kau sendiri yang selalu menghindar dan menolak untuk bertemu denganku. Aku hanya ingin bersikap baik padamu. Kau membuatku seolah-olah menjadi seseorang yang paling buruk di dunia ini. Aku kecewa dengamu.”

LINDA PERGI MENINGGALKAN SANALA. SETELAH PERTENGKARAN ITU, HUBUNGAN PERTEMANAN MEREKA SEMAKIN RENGGANG.
SETTING BERADA DI RUMAH, SANALA YANG BARU SAJA PULANG DARI KAMPUS MENCOBA MENCARI KEBERADAAN IBUNYA

78. Sanala                    : “Bu, di mana? (Berteriak di penjuru rumah)

BETAPA TERKEJUTNYA IA SAAT MEMBUKA KAMAR DAN MENGETAHUI IBUNYA BERADA DI DALAM KAMARNYA.

79. Ibu                         :  Jadi ini kau maksud? Beberapa waktu yang lalu kau pernah hampir berkata bahwa kau terlambat kuliah karena sesuatu. Dan ini yang kau maksut? (menunjukkan obat tidur  yang ditemukannya)
80. Sanala                    : “Untuk apa Ibu mencari tahu. Aku melakukannya karena aku sudah lelah dengan semuanya. Aku lelah melihat kalian berdua bertengkar terus menerus. Aku ingin seperti anak remaja pada umumnya yang selalu mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Bukannya Ibu dan Ayah yang hanya mementingkan egonya masing-masing seperti ini.”
81. Ibu                         : “Jaga bicaramu itu Sanala!”
82. Sanala                    : “Kenapa? Toh kalian tidak ada yang menginginkan aku di dunia ini. Apa memang karena kalian bukan orang tuaku? Apa itu yang selama ini kau sembunyikan? Kenapa bu, kenapa?”
83. Ibu                         : “Ibu melakukan semua ini demi kamu Sanala. Ini semua pasti akibat obat-obatan ini kau menjadi seorang pembangkang”
84. Sanala                    : “Oh sekarang kau menyalahkanku. Tak sadarkah semua yang telah kulakukan ini karena aku muak dengan kalian. Dan sekarang kau menyalahkanku atas segala yang terjadi”
85. Ibu                         : “Ibu minta maaf Sanala, ini semua memang kesalahan Ibu.”
86. Sanala                    : “Apa yang terjadi bu, kenapa Ibu harus meminta maaf?”
87. Ibu                         : “Ibu tidak pantas ada di dunia ini Sanala, maafkan Ibu” (tiba-tiba dada ibu sesak dan seketika pingsan)
88. Sanala                    : “Ibu bu, kenapa? (mencoba menelepon Ayah namun tidak diangkat). Disaat seperti ini kenapa Ayah malah tidak bisa dihubungi. (segera bergegas ke rumah sakit)

SANALA MEMBAWA IBUNYA KE RUMAH SAKIT SEORANG DIRI.

89. Sanala                   : “Bagaimana dok keadaan Ibu saya?”
90. Dokter                  : “Keluarga dari pasien?”
91. Sanala                   : “Iya dok saya anaknya”
92. Dokter                  : “Mari silakan duduk dulu” (mempersilakan Sanala untuk duduk )
93. Sanala                   : “Ibu saya baik-baik saja kan dok?”
94. Dokter                  : “Setelah kami periksa, Ibu adek ternyata mempunyai riwayat penyakit jantung, dan penyakit Ibu bisa sewaktu-waktu kambuh.”
95. Sanala                   : “Dokter pasti bercanda kan, Ibu saya sehat-sehat saja dok.”
96. Dokter                  : “Maaf itu yang hanya bisa saya sampaikan, untuk saat ini adek bisa menunggu Ibu di luar ruangan.”
97. Sanala                   : “Tapi dok saya ingin melihat Ibu saya”
96. Dokter                  : “Mohon maaf demi kebaikan Ibu adek, lebih baik adek menunggu di luar ruangan agar Ibu bisa beristirahat”’
97. Sanala                   : “Saya mohon dok, saya janji tidak akan berisik dan macam-macam”
98. Dokter                  : “Maaf sekali dek, tidak bisa. Itu sudah menjadi prosedur rumah sakit”
99. Sanala                   : “Saya mohon dok untuk kali ini saja, saya ingin melihat Ibu saya dok.”
100. Dokter                : “Baiklah, dengan syarat jangan sampai menganggu Ibu”
101. Sanala                 : “Baik dok, saya janji”

BARU BEBERAPA MENIT SANALA MEMANDANGI IBUNYA DARI SAMPING RANJANG, TIBA-TIBA AYAH SANALA DATANG.

99. Ayah                     : “Apa yang terjadi dengan Ibumu?”
100.Sanala                  : “Kukira Ayah sudah tidak peduli lagi dengan kami, ini semua gara-gara Ayah.”
101. Ayah                   : “Lancang sekali kau berkata seperti itu, masih untung aku datang kemari”
102. Sanala                 : “Ibu sakit jantung yah, Ayah pasti juga tidak tahu kan?”
103. Ayah                   : “Lalu kau menyalahkan atas penyakit Ibumu.”
104. Sanala                 : “Dia tidak akan seperti ini jika Ayah bersikap baik kepada Ibu.”
105. Ayah                   : “Hah, itu semua balasan dari apa yang sudah Ibumu lakukan di masa lalu.”
106. Sanala                 : “Apa maksud Ayah, tega sekali Ayah berkata seperti itu disaat keadaan Ibu seperti ini.”

DISELA-SELA PERDEBATAN IBU SANALA TIBA-TIBA KEJANG-KEJANG. SANALA PUN SEGERA MEMANGGIL DOKTER.

107. Sanala                 : “Ibu harus bertahan Ibu kuat. Dokter tolong segera bantu Ibu saya. Tolong selamatkan Ibu saya.”
108. Ibu                      : “Sanala… Maafkan Ibu nak. Maafkan Ibu karena harus berbohong tentang kamu.” (sambil terbata-bata)
109. Sanala                 : “Apa yang terjadi bu, mengapa Ibu harus minta maaf?”
110. Ibu                      : “Kamu sebenarnya……” (sebelum pernyataannya selesai, ibu tiba-tiba tidak sadarkan diri)
111. Sanala                 : “Ibu… ibu bangun, dok tolong Ibu saya dok.”
112. Dokter                 : “Silakan untuk kelurga menunggu di luar terlebih dahulu.”
113. Sanala                  : “Tidak dok, saya harus menemani Ibu saya”
114. Dokter                 : “Tidak bisa, tolong segara keluar dari rungan sekarang. Kami akan berusaha untuk membantu Ibu Adek”
115. Ayah                   : “Ayo Sanala kita pergi dan menunggu di luar” (menyentuh Sanala)
116. Sanala                 : “Jangan sentuh aku” (bersikukuh berada di ruangan)
117. Ayah                   : “Ayo Sanala!” (menyeret Sanala keluar)
118. Sanala                 : “Ibu ingin mengatakan sesuatu kepadaku yah, dia berbicara kepadaku.”
119. Ayah                   : “Iya aku tahu, tapi tak bisakah kau mengikuti prosedur yang sepatutnya dilakukan. Kita harus menunggunya di sini dan mempercayakan semuanya kepada dokter.”

SETELAH MENUNGGU CUKUP LAMA, DOKTER TIBA-TIBA KELUAR DARI RUANGAN

120. Sanala                  : “Bagaimana keadaan Ibu saya dok?”
121. Dokter                 : “Maaf dek, kami sudah berusaha sebisa mungkin.”
122. Sanala                 : “Tidak mungkin, Ibu pasti sembuh. Dokter pasti berbohong.” (bergegas masuk ke dalam ruangan)

SETELAH PEMAKAMAN IBU SANALA SELESAI. SANALA BERADA DI KAMAR SANG IBU DAN TIDAK SENGAJA MELIHAT SATU FOTO LAKI-LAKI YANG DISIMPAN DI TAS SANG IBU. SAAT IA INGIN BERTANYA KEPADA AYAHNYA, SANALA MELIHAT SANG AYAH DENGAN SEORANG WANITA.

123.  Sanala                : “Siapa dia yah? Apa ini perempuan yang pernah Ibu bicarakan waktu itu?”
124. Ayah                   : “Sudahlah kamu tidak usah ikut campur urusanku”
125. Sanala                  : “Jawab pertanyaanku! Siapa dia?”
126. Lely                    :  “Oh perkenalkan, aku Lely. Aku kekasih Ayahmu. Ada pertanyaan lain?”
127. Sanala                 : “Ah, jadi kau ini selingkuhan Ayahku? Maaf jika aku bersikap tidak opan, tapi kalian berdua aku rasa memang sama saja. Tidak punya hati dan perasaan.”
128. Lely                    : “Lihat kelakuan anakmu itu mas?”
129. Ayah                   : “Hah, apa kau bercanda. Dia bukan anakku.”
130. Sanala                 : “Apa Ayah memang sudah tidak punya hati, Ibu baru saja meninggal dan dengan teganya Ayah membawa selingkuhan Ayah ke sini”
131. Ayah                   : “Jaga mulutmu itu Sanala, bersyukurlah kau masih aku izinkan tinggal di rumah ini karena aku masih punya rasa kasihan dengan kau.”
132. Lely                    : “Sudahlah Sanala, kau itu bukan siapa-siapa di sini. Kau itu hanya anak haram, jadi jangan macam-macam dan bersikap tidak sopan di rumah ini.”
133. Sanala                 : “Apa maksut perkataan dia yah?”
134. Lely                    : “Oh, jadi kau masih belum tahu? Apa aku yang harus memberitahukannya mas?”
135. Sanala                 : “Apa yang sedang kau bicarakan? Kenapa kau menyebutku sebagai anak haram”
136. Lely                    :            “Dengar ya, kau ini sebenarnya bukan anak dari Ayahmu yang sekarang. Kau itu sebenarnya adalah anak hasil dari hubungan gelap Ibumu dan mantan pacarnya dahulu sebelum menikah dengan Ayahmu”
137. Sanala                 : “Apa? Apa betul yang dia katakan?” (bertanya kepada Ayahnya)
138. Ayah                   : “Selama ini aku hanya kasihan denganmu, aku rela ikut membesarkanmu walaupun aku tau kau bukan anak kandungku sendiri?”
139. Sanala                 : “Jadi apakah ini yang ingin Ibu katakan sebelum dia meninggal?”
140. Lely                    : “Sekarang kau tau kan betapa besar jasa orang yang kau sebut-sebut Ayah ini”
141. Sanala                 : “Apa benar alasan selama ini Ibu tidak pernah memberontak saat kau siksa karena dia berhutang budi denganmu? (menatap tajam ke arah Ayah) Mengapa tidak dari awal kau menerimaku jika pada akhirnya Ibu dan aku kau sakiti seperti ini? Kenapa kau harus menyakiti Ibu? Kenapa tidak kau bunuh saja aku dari awal? Lalu siapa Ayah kandungku yang sebenarnya? Apa ada hubungannya dengan foto yang aku temukan di tas Ibu ini?”
142. Lely                    : “Beruntung sekali kau bisa menemukan foto itu. Iya itu adalah Ayah kandungmu. Tapi entahlah di mana ia sekarang. Mungkin sudah mati, tapi yang pasti dia tidak akan mengenalimu.”
143. Sanala                 : “Katakan di mana ia sekarang!”
144. Lely                    : “Kau ini memang anak haram yang tidak tau diuntung. Kau cari saja sana Ayah kandungmu. Jangan ganggu kami lagi. Ayo mas, kita masuk ke kamar!”

SANALA MASUK KE DALAM KAMAR DAN BERKEINGINAN UNTUK PERGI DARI RUMAH ITU UNTUK MENCARI AYAH KANDUNGNYA.
SETELAH BERJALAN CUKUP JAUH TANPA TUJUAN, IA MEMUTUSKAN UNTUK BERHENTI DI SEBUAH TAMAN. TIBA-TIBA IA BERTEMU DENGAN ANDRIAN PACAR LINDA.

145. Andrian                 : “Sanala? Apa yang kau lakukan di taman ini sendirian?
146. Sanala                 : “Andrian?”
147. Andrian              : “Iya, aku Andrian. Kita pernah satu kelas semester lalu.”
148. Sanala                 : “Iya, tentu saja  aku ingat. Kau sendiri mau ke mana malam-malam begini”
149. Andrian              : “Aku baru saja berkumpul dengan teman-temanku, rumahku juga dekat dan melewati taman ini.”
150. Sanal                   : “Ah begitu rupanya.”
149. Andrian              : “Kau sudah tidak berteman dengan Linda?”
150. Sanala                 : “Bagaimana kau tau tentang itu?”
151. Andrian              : “Beberapa bulan ini aku berkencan dengan Linda. Dan dia menceritakan masalah itu kepadaku.”
152. Sanala                 : “Ah iya, kau mengetahui hubungan kalian. Selamat ya atas hubunganmu”
153. Andrian              : (tersenyum) “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi di awal”
154. Sanala                 : “Pertanyaan?”
155. Andrian              : “Iya, apa yang kau lakukan di sini? Kau terlihat sedang tidak baik-baik saja”
156. Sanala                 : “Aku berusaha untuk menutupinya, tapi ternyata aku tidak berhasil”
157. Andrian              : “Apa yang terjadi?”
158. Sanala                 : “Entahlah, banyak hal yang terjadi setelah Ibuku meninggal”
159. Andrian              : “Aku turut berduka cita Sanala, tidak apa-apa jika kau tidak mau membahasnya. Aku mnta maaf jika telah mengungkitnya”
160. Sanala                 : “Tidak, tidak apa-apa”
161. Andrian              : “Apa kau memberi tahu Linda tentang ini?”
162. Sanala                 : “Tidak, aku tidak memberitahunya. Aku pun sudah cukup lama tidak masuk kuliah.”
163. Andrian              : “Lalu kau mau ke mana sekarang? Kau membawa tas yang cukup besar”
164. Sanala                 : “Aku sedang mencari seseorang.”
165. Andrian              : “Siapa?”

SEBELUM SANALA MENJAWAB PERTANYAAN TIBA-TIBA LINDA MELIHAT SANALA DAN ANDRIAN DI TAMAN.

166. Linda                   : “Apa yang kalian lakukan di sini?”
167. Andrian               : “Aku tidak sengaja bertemu Sanala di sini”
168. Linda                  : “Kau berhobong? Bukankah kau tadi bilang sudah berada di rumah setelah berkumpul dengan teman-temanmu. Maka dari itu aku bergegas mengunjungimu setelah kau pulang. Dan sekarang kau malah bertemu dengan dia?”
169. Sanala                  : “Lin, kurasa kau hanya salah paham. Dia memang tidak sengaja bertemu denganku di sini”
170. Linda                  : “Iya aku tahu, tapi untuk apa ia berhobong jika ia sudah berada di rumah”
171. Andrian              : “Oke aku memang berbohong, tapi kurasa ini demi kebaikanmu karena kau tidak akan senang jika aku bersama dengan Sanala”
172. Sanala                 : “Jangan salahkan Andrian Lin, dia tidak salah apa-apa”
173. Linda                  : “Lantas apa yang kau lakukan? Menghasut dia agar ikut membenciku juga?”
174. Andrian              : “Lin, kau ini bicara apa”
175. Sanala                 : “Tidak pernah sekalipun aku punya pemikiran seperti itu Lin.”
176. Linda                  : “Apa karena kau iri aku berpacaran dengan Andrian”
177. Andrian              : “Lin, cukup! Kurasa kau sudah keterlaluan.”
178. Linda                  : “Dengar ya, mantan sahabatku ini dulu pernah suka dengan kau Andrian. Tapi lihat saja, sampai detik ini dia akan tetap punya cinta yang tak terbalas dengan kau”
179. Andrian              : “Apa yang dia katakana benar?” (menatap Sanala)
180. Sanala                 : “Iya, maafkan aku karena mencintaimu Andrian”
181. Linda                  : “Ah aku begitu muak melihat pemandangan ini”
182. Andrian              : “Lin, jangan bilang kau berkencan denganku hanya karena kau ingin membuat Sanala cemburu”
183. Linda                  : “Apa yang kau bicarakan, untuk apa aku melakukan hal seperti itu”
184. Andrian              : “Kau yang pertama kali mengajakku berkenalan dan selalu ingin dekat denganku, apakah itu bagian dari rencanamu?”
185. Linda                  : “Kau ini naif sekali, jelas-jelas kau yang menyatakan cintamu dulu kepadaku”
186. Andrian              : “Kau selalu menjelek-jelekkan Sanala di depanku seolah kau adalah korban yang sesungguhnya dan Sanala adalah orang yang benar-benar jahat.”
187. Linda                  : “Memang itu yang dia lakukan kepadaku.”
188. Andrian              : “Aku tidak menyangka kau betul-betul wanita yang jahat. Kau hanya memainkan perasaanku selama ini.”
189. Linda                  : “Kau saja yang terlalu bodoh, aku tidak pernah benar-benar mencintaimu. Aku hanya ingin membuat Sanala sakit hati.”
190. Sanala                 : “Ku pikir kau berubah Lin, ternyata aku salah. Kau tidak belajar dari kesalahan,”
191. Linda                  : “Siapa kau berani berkata seperti itu kepadaku? Urus saja semua permasalahanmu itu!”
192. Andrian              : “Aku benar-benar kecewa denganmu.”
193. Linda                  : “Kau seharusnya kecewa dengan dirimu sendiri yang dengan bodohnya jatuh di pelukanku”
194. Andrian              : “Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi”
195. Linda                  : “Oh tentu saja aku akan pergi dari sini, dan hubungan kita harus berakhir di sini. Ku harap kau tidak menangisi kepergianku” (menyunggingkan tawa dan pergi dari taman itu)
196. Sanala                 : “Kau baik-baik saja?”
197. Andrian              : “Iya, aku baik-baik saja. Hanya saja aku merasa menjdi orang yang benar-benar bodoh di dunia ini. Aku tulus mencintainya, tapi ini yang harus aku dapatkan. Aku benar-benar minta maaf karena benar-benar termakan oleh omongan dia tentangmu. Aku menjadi sedikit menjauh darimu, dan tanpa ku tau kau punya perasaan terhadapku.”
198. Sanala                 : “Sudahlah, kau jangan memikirkan hal itu.”
199. Andrian              : “Sanala, sudah berapa lama kau menyimpan perasaan itu?”
200. Sanala                 : “Entahlah, sepertinya aku sudah menyukaimu dari masa orientasi siswa”
201. Andrian              : “Aku benar-benar bodoh karena tidak menyadari itu sejak lama.”
202. Sanala                 : “Tidak, kau tidak salah. Aku memang hanya mencintaimu dalam diam. Aku sadar akan posisiku, dan aku hanya bisa bercerita kepada Linda tentang perasaanku kepadamu. Tapi ternyata Linda menjadi seseorang yang seperti itu.”
203. Andrian              : “Lucu sekali kita sama-sama dikecewakan dengan orang yang sama.”
204. Sanala                 : “Dunia memang betul-betul lucu. Di saat hidupku yang kurasa betul-betul hancur ini. Aku bersyukur dapat bertemu denganmu dan pada akhirnya kau mengetahui perasaanku selama ini. Aku rasa aku merasa sedikit lega karena tidak harus memendam perasaan itu lagi.”
205. Andrian              : “Aku benar-benar berterima kasih karena kau telah mencintaiku dengan tulus selama ini. Aku benar-benar menghargai itu, dan aku minta maaf tidak pernah menyadari perasaanmu itu.”
206. Sanala                 : “Tidak, kau tidak perlu merasa terbebani dengan perasaanku. Aku juga tidak membutuhkan sebuah jawaban. Kau tahu perasaanku saja sudah merupakan hal yang melegakan buatku. Dan kini tugasku masih tersisa satu”
207. Andrian              : “Tugas? Apa itu?”
208. Sanala                  : “Kau ingat tadi di awal bahwa aku harus menemukan seseorang.”
209. Andrian               : “Ah iya aku ingat, siapa seseorang yang kau cari itu?”
210. Sanala                  : (menunjukkan foto Ayah kandungnya) “Aku mencari dia, apakah kau mengenalnya?”
211. Andrian              : “Tunggu, bagaimana kau mendapatkan foto ini? dan apa hubungannya denganmu?” (terkejut)
212. Sanala                 : “Kau mengenalnya?”
213. Andrian              : “Mengapa kau mencari orang itu Sanala?”
214. Sanala                 : “Dia adalah Ayah kandungku.”
215. Andrian               : “Kau pasti bercanda.”
216. Sanala                 : “Aku mendapatkan foto ini dari tas Ibuku, dan selingkuhan ayahku juga mengatakan bahwa dia adalah Ayah kandungku. Ibuku selama ini menyimpan rahasia ini dariku. Ada apa memangnya?”
217. Andrian              : “Tidak mungkin, dia adalah Ayah kandungku”

PADA AKHIRNYA MEREKA HANYA SALING TATAP DAN MENCOBA MENCERNA APA YANG BARU SAJA MEREKA DENGAR


-TAMAT- 



BIODATA PENULIS

Yuan Malista Ayuseptiwi, lahir di Malang pada 28 September 1999. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Negeri  Malang dengan program studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia & Daerah.
Anak terakhir dari 2 bersaudara ini memulai pendidikan di SDN 2 Sumberejo, Malang, kemudian setelah lulus dia melanjutkan pendidikannya di SMPN 4 Kepanjen. Selepas lulus dari SMP, dia melanjutkan pendidikannya di SMAN 1 Kepanjen, Malang.
Semasa kecil  ia sudah menyukai hal-hal yang berbau seni. Ia mempunyai hobi menari dan mendengarkan musik. Cita-citanya semasa kecil adalah menjadi seorang dokter. Namun, seiring bertambahnya usia cita-cita tersebut perlahan terkikis. Kini ia mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang dosen atau guru sesuai dengan jurusan yang ia tempuh.
Kritik dan saran sangat diharapkan guna peningkatan kualitas dan penulisan selanjutnya. Untuk itu, silahkan kirim kritik dan saran ke yuanmlsta@gmail.com.


Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK