NASKAH DRAMA SEBUAH PENCARIAN









SEBUAH PENCARIAN
KARYA HANIFIA ERMA INDAHSARI











Penokohan dalam naskah drama “Dunia Kerajaan Malang”
1.  Permainsuri        : mudah panik, penyayang
2.  Raja                 : Bijaksana
3.  Pengawal          : Selalu patuh dengan perintah raja
4.  Kendedes          : kesayangan permainsuri dan raja
5.  Ken Arok           : pemberani
6.  Pandawa  (Yudistira, Arjuna, Nakula, Sadewa, Bima
: Ksatria yang kuat tetapi memiliki kekurangan masing-masing
7.  Tukang Parkir     : penjaga gua warna-warni (Jodipan)
8.  Cewek              : wanita-wanita penggoda di Songgoriti
9.  Empu Gandring  : Pecinta bahasa Indonesia
10.   Tukang Grab     : patuh
11.   Peracik kopi      : mudah emosi
12.   Tunggul Ametung: pendendam











Ada sebuah cerita tentang Kerajaan Malang yang dipimpin oleh Raja yang sangat bijaksana. Kerajaannya sangat damai sentosa. Hingga pada suatu hari terjadi hal yang buruk.
Permainsuri            : “Raja!!! Raja!!!”
(memanggil suami dengan wajah resah)
Raja                      : “Ada apa istriku, kenapa mukamu sangat cemas.”
Permainsuri           : “Bagaimana tidak cemas, anakmu hilang! Putri Kendedes hilang raja.”
Raja                     : “Hilang? Kendedes hilang? Bagaimana bisa? Kerajaan ini dijaga banyak pengawal kerajaan.”
Permainsuri           : “Kalau kau tidak percaya, coba saja kau cari di semua penjuru kerajaan. Semua dayang sudah mencarinya dan hasilnya nihil, kendedes hilang suamiku.”
Raja                     : “Tenanglah istriku, kita pasti bisa menemukan kendedes.”
Permainsuri           : “Apakah kamu mempunyai musuh suamiku? Sehingga musuhmu itu ingin membalas dengan cara menculik anak kita?”
Raja                     : “Musuh? Saya tidak mempunyai musuh. Saya selalu bersikap baik kepada semua Kerajaan di Indonesia.”
Pengawal Raja     : “Bagaimana dengan TunggulAmetung raja?”
Permainsuri           : “Kenapa kau menyalahkan dia? Bukannya dia baik kepada kita?”
Pengawal Raja     : “Apakah Raja tidak ingat? Ketika pertemuan seluruh Raja di Jawa beberapa hari yang lalu, Raja dan TunggulAmetung beradu argumen, dan yang pendapat yang paling banyak disetujui adalah pendapat Raja. Bisa saja dia iri kepada Raja.”
Raja                     : “Pendapatmu ada benarnya, karena semenjak kejadian itu. Kerajaan milik Anusapati memotong salah satu kerjasama diantara dua kerajaan ini.”
Permainsuri           : “Tega sekali dia! Raja carilah Kendedes sekarang, gerakkan semua pengawalmu. Aku sangat khawatir dengan keadaan putriku sekarang.”
Raja                     : “Iya istriku, tenanglah. Jika kamu seperti ini, kita tidak bisa menemukan jalannya untuk menemukan putri kesayangan kita.”
Permainsuri           : “Tenang? Bagaimana bisa tenang!!! Kendedes anak kita satu-satunya. Kalau dia diculik bagaimana? Kalau dia terluka bagaimana? Membayangkannya saja saya tidak tega sebagai seorang ibu.”
Raja                     : “Baiklah, akan aku suruh semua pengawal kerajaan untuk mencari Kendedes.”
(Diatas panggung, Raja Tunggulametung hilir mudik dari ujung panggung ke ujung yang lain dengan wajah yang resah.)
Pengawal Raja     : “Untuk semua pengawal Kerajaan segeralah mencari keberadaan tuan putri Kendedes.”
Raja                     : “Carilah sampai dipenjuru dunia sekalipun. Aku ingin putriku segera ditemukan.”
Semua pengawal : “Baik Raja, akan segera kami laksanakan.”
Pengawal Raja     : “Semua pengawal akan dipimpin Ken Arok!”
Raja                      : “Ken Arok!!! Ken Arok!!! Ken Arok!!!”
Ken Arok               : “Ada apa Raja?”
Raja                     : “Ken Arok! Carilah Raja TunggulAmetung! Selamatkan Putri Kendedes! Semua pengawal kamu yang memimpin.”
Ken Arok               : “Baiklah, jika itu tugas yang Raja berikan. Saya akan pergi sekarang!”
Raja                     : “Tunggu, kamu harus bawa keris ajaib ini. Keris ajaib ini akan membantumu!”
Ken Arok               : “Baik, terima kasih Raja.”
Raja                      : “Tunggu!”
Ken Arok               : “Ada apa lagi Raja?”
Raja                      : “Hati-hati dijalan.”
Ken Arok               : “Terima kasih Raja.”

Setelah mendapat tugas dari Raja, Ken Arok dan semua pengawal berkumpul disebuah gedung tua yang selalu menjadi tempat Ken Arok memikirkan strategi peperangan.

Pengawal 1          : “Kita memulai pencarian mulai dari mana Ken Arok?”
Pengawal 2           : “Iya Ken Arok, apa kita harus keliling istana. Mungkin Sang Putri sedang bersembunyi. Bermain petak umpet.”
Pengawal 3           : “Ngawur saja kamu ini. Tetapi bisa juga Putri sedang keluar istana untuk mencari sesuatu. Hahaha”
Ken Arok                : “Kalian ini, kita bagi tugas saja, ada yang mencari didekat istana dan menjaga istana, siapa tahu kalau putri akan pulang. saya akan mencari TunggulAmetung.”
Pengawal 2           : “Apakah kamu tau dimana TunggulAmetung, Ken Arok?
Ken Arok                : “Kata pengawal Raja tadi TunggulAmetung tinggal di Kerajaan Gedung Tua.”
Pengawal 1           : “Oh, saya tau. Itu pertama kamu harus melewati Gua Warna-Warni.
Pengawal 3           : “Itu lumayan jauh Ken!!”
Ken Arok                : “Tidak apa-apa, saya juga sudah dibekali keris ajaib oleh Raja. Segeralah kalian mencari.”
Semua Pengawal   : “Baik, hati-hati dijalan.”
Ken Arok                : “Saya pergi dulu.”

Ken Arok berjalan terus menuju Gua Warna-Warni. 10 km ia berjalan tak kunjung ditemukan Gua Warna-Warni. Tetapi dia pantang menyerah, yang menjadi prioritas tujuannya sekarang hanyalah putri kendedes harus segera ditemukan dan dibawanya pulang ke Kerajaan Malang.

Ken Arok sangking seriusnya berjalan, ia tidak sadar kalau dia hampir sampai di Gua Warna-Warni. Pemandangan yang ada didepannya sekarang adalah gua yang bercatkan warna seperti pelangi. Ken Arok yang baru pertama kali melihat tempat seperti ini diapun kaget.

Ken Arok               : “Tempat apa ini?”
Tukang Parkir        : “Haha! Selamat datang di Gua Warna-Warni!”
Ken Arok               : “Ha! Siapa kamu?”
Tukang Parkir        : “Saya adalah tukang parkir yang sekaligus menjaga tempat ini! Mau pergi kemana kamu?”
Ken Arok               : “Saya akan pergi mencari TunggulAmetung.”
Tukang Parkir        : “Tunggu! Ada satu cara untuk kamu bisa melewati Gua Warna-Warni ini!”
Ken Arok               : “Bagaimana caranya?”
Tukang Parkir        : “Bacalah password yang ada didepan pintu!”
Ken Arok               : “Oh baiklah. Literaly, Open The Pintu!”
                             “Mengapa tidak terbuka?
                             Hmmm… Aha! Keris Ajaib!”
Yudistira                : “Kenalkan nama saya Yudistira! Apa yang bisa saya bantu?”
Ken Arok               : “Bisa membantu saya membaca password yang ada didepan Gua itu?”
Yudistira                : “Oh itu mudah! Literaly, Open The Pintu!!!”

Empu Gandring     : “Hei! Mengapa memakai Bahasa Gaul, gunakanlah Bahasa Indonesia yang baik!”
Yudistira                : “Lalu? Bagimana?”
Empu Gandring     : “Buka Pintu! Jangan memakai Bahasa Gaul lagi ya!”
Ken Arok               : “Haha, terima kasih pak!”
Tukang Parkir        : “Selamat! Kamu bisa membuka pintu, selanjutnya pergilah ke Pulau Batu! Berjalanlah lurus saja!”
Ken Arok               : “Baiklah! Sekarang pergi ke Pulau Batu!”
Yudistira                : “Ayo!!!”

Ken Arok dan Yudistira menyusuri jalan sesuai yang ditunjukkan oleh tukang parkir di Gua Warni-Warni tadi. Ken Arok yang semula sendirian sekarang ditemani Yudistira. Mereka berbincang sangat banyak hingga Ken Arok bercerita tentang perasaan yang ia pendam kepada Putri Kendedes.

(Tiba-tiba Ken Arok berbicara)
Ken Arok                : “Dia itu sangat Cantik dan Pintar, ketika saya memandangnya seketika dunia hanya berfokus padanya saja. lucu memang jatuh cinta itu.”
                              (Ken Arok mendeskripsikan Putri Kendedes sambil senyum-senyum sendiri)
Yudistira                 : “Apakah dia tau perasaanmu ini Ken Arok?”
Ken Arok                : “Tentu saja tidak Yudistira. Saya tau posisi saya dimana, dan saya tau batasan saya ini. Dia seorang putri Raja, sedangkan saya hanya pengawal kerajaan.”
Yudistira                 : “Jangan pesimis Ken Arok. Bisa saja kan kalau Putri Kendedes juga suka padamu.”
Ken Arok                : “Jangan membuatku berkhayal Yudistira.”
Yudistira                 : “Carilah waktu untuk mengungkapkan perasaanmu padanya.”
Ken Arok                : “Bagaimana dengan penolakanan darinya.”
Yuditira                  : “Untuk penolakan itu bukan akhir cerita. Setidaknya dia tau tentang perasaanmu saja itu bisa membuatmu lega. Kalau dia juga mencintaimu itu bonus untukmu.”
                              “HAHAHA,,, bukankah perkataan saya barusan sungguh menggelikan?”
Ken Arok                : “hahaha, saya tidak akan mengungkapkannya, saya malu.”
Yudistira                 : “Dengan perasaanmu saja kau malu. Beranilah!”
Ken Arok                : “Baiklah akan aku coba mencari waktu yang pas untuk mengungkapkannya.”
Yudistira                 : “Bagus, selamat memperjuankan perasaanmu Ken Arok!”
Ken Arok                : “Doakan saja temanmu ini Yudistira!”


Sangking asiknya Yudistira dan Ken Arok bercengkrama. Mereka sudah sampai disuatu tempat yang bertuliskan “Pulau Batu”

Yudistira                : “Sepertinya kita sudah sampai diPulau Batu.”
Ken Arok               : “Wah, inikah Pulai Batu?”
Cewek 1               : “Halo mas ganteng!”
 (sambil memegang tangan Ken Arok)
Ken Arok               : “Jangan pegang-pegang saya. Kalian ini mau apa?”
Cewek 3               : “Eh ini juga tampan!!!”
 (sambil memegang Yudistira)
Yudistira                : “Jangan pegang tanganku kalian.”
Cewek 2               : “Ihh, kita disini sedang mencari suami.”
Yuditira                 : “Kenapa kalian bergelanyut seperti ini sih, lepaskan!!!”
Cewek 1               : “Ganteng-ganteng kok suka marah.”
Cewel 2                : “Iya, jadi makin gemes! Iya kann?”
Cewek 1               : “Mas ganteng-ganteng ini mau pergi kemana?”
Ken Arok               : “Saya harus pergi ke Kafe untuk bertemu TunggulAmetung.”
Cewek 2               : “Oh, mas ganteng mau pergi ke Kafe?”
Ken Arok               : “Apakah kalian tau jalan menuju Kafe itu?”
Cewek 3               : “Tentu taulah. Berjalanlah kearah……”
Cewek 1               : “Bodoh sekali lah kau ini”
 (sambil menyentil kepala cewek 3)
Cewek 2               : “Kalau kamu memberitaunya kita tidak akan punya suami. Dasar bodoh!!”
(marah kepada cewek 3 karena hampir keceplosan sambil memukul pantat cewek 3)
Cewek 3               : “Oh iya, maaf sist. Kalian tidak bisa pergi, kalian harus disini menjadi suami kami!”
(sambil mendekat kearah yudistira dan ken arok)
Ken Arok               : “Dimana? Aku harus berjalan kearah mana?”
Cewek 2               : “Kamu harus menjadi suami kami dulu.”
                             (sambil mendekat kearah Ken Arok dan Yudistira)
Ken Arok               : “Tidak, jangan mendekat!”
Yudistira                : “Jangan berjalan kearah kami!”
Cewek 1               : “Kamu harus menjadi suami kami!”
Semua Cewek       : “Ya…! HARUS!!!”
Ken Arok               : “Aduh! Bagaimana ini! Yudistira bantu akulah!”
Yudistira                : “Bagaimana aku bisa membantumu Ken Arok?”
Ken Arok               : “Lakukan apapun supaya kita bebas dari mereka ini!”
Yudistira                : “Aku hanya satu kali dapat membantu, aku bisa membantumu ketika dengan Pandawa yang lain.”
Ken Arok               : “Aduh matilah kita, aku tidak mau menikah dengan mereka. Aku mencintai Kendedes aku ingin menikah dengannya”
Yudistira                “ Iya aku tau kau mencintainya, bagaimana kalau meminta bantuan keris ajaib!”
Ken Arok               : “Baiklah, Keris ajaib! Bantu aku!”

(keluarlah Arjuna dengan memamerkan ketampanannya)

Arjuna                   : “Saya adalah Arjuna, Pandawa paling tampan!”
Semua cewek        : “Haaaaaaa!!!”
Cewek 3               : “Dia lebih tampan!”
Cewek 2               : “Hampiri dia!!!”
Arjuna                   : “Hei! Apa ini? Hei!!!”
Cewek 1               : “Kamu harus menjadi suami kami, karena kamu lebih tampan darinya.”
(sambil menunjuk Ken Arok dan Yudistira)
Arjuna                   : “Tidak mau lah, kalian siapa tiba-tiba memintaku menjadi suami kalian.”
Cewek 2               : “Kami? Kau bertanya siapa kami? Hahaha…”
Cewek 1               : “Kami ini calon istri kamu sayang, ya kan teman-teman?”
Arjuna                   : “Tidak sudi saya menjadi istrimu.”
Cewek 3               : “Harus sayang.”
Arjuna                   : “Bagaimana ini?”
Yudistira                : “Apa kita bisa meninggalkan Arjuna di Pulai Batu ini saja Ken?”
Cewek 2               : “Sssttt.. Sudah tinggalkan saja temanmu ini.”
Semua Cewek       : “Senangnya sekarang kami sudah punyai suamii…..”
Cewek 1               : “Kamu boleh pergi.”
Cewek 2               : “Berjalanlah kearah timur.”
Cewek 3               : “Lalu kamu akan sampai di Kafe Pesen Kopi.”
Ken Arok               : “Baiklah, saya akan segera pergi! Terima Kasih!”
Arjuna                   : “Heiii! Ken Arok! Yudistira! Tolong aku!”
Yudistira                : “Ssssttt!”
Ken Arok               : “Arjuna! Semangat!!!”
Arjuna                   : “Ken Arok!!! Yudistira! Awas kau! Tunggu! Ken Arok!!!”

Ken Arok dan Yudistira meninggalkan Arjuna di Pulau Batu. Mereka terus saja berjalan sesuai arahan dari cewek-cewek penggoda di Pulau Batu tadi. Sampai mereka melihat papan nama sebuah tempat ngopi bertuliskan “Pesen Kopi”.

Yudistira                : “Wah, bau kopi enak sekali Ken Arok! Ayo masuk!”
Ken Arok               : “Dimana mereka?”
Yudistira                : “Ayo memesan dulu saja Ken Arok!”
Ken Arok               : “Apa kau lupa tujuan kita kesini Yudistira?”
Yudistira                : “Aku haus lah, kita sudah berjalan jauh. Disini kita minum kopi sekaligus beristirahat.”
Ken Arok              : “Baiklah, terserah kau saja. Kau ingin meminum apa? Akan aku pesankan.”
Yudistira               : “Aku ingin Kopi Susu saja. huuft pasti segar sekali!”
Ken Arok              : “Baiklah…”
Peracik Kopi 3      : “Ingin memesan apa?”
Ken Arok              : “Kopi Susu 1 dan Thai Tea 1”
Peracik Kopi 2      : “Atas nama siapa?”
Ken Arok              : “Ken Arok”
Semua Peracik      : “Haa!! Kamu benar Ken Arok?”
Ken Arok              : “Ya, aku Ken Arok.”
 (Ken Arok kaget dan bingung)
Peracik Kopi 1      : “Oh, jadi kamu utusan Raja?”
Ken Arok               : “Ya, saya Ken Arok. Saya akan bertemu dengan TunggulAmetung”
Peracik Kopi 2      : “Hahaha, kamu ingin bertemu dengan TunggulAmetung tanpa
membawa apapun?”
Peracik Kopi 3      : “Hei lihat dia membawa pisau tumpul. Hahahaha!”
Ken Arok               : “Jangan sentuh!”
Yudistira                : “Ini namanya keris bukan pisau tumpul!”
Peracik Kopi 1      : “Kurang ajar, berani-beraninya kamu!”
Ken Arok               : “Keluarlah, keluarlah!”
                             (Ken Arok menggosok keris pemberian Raja)

(Keluarlah Nakula dan Sadewa)

Nakula                  : “Hei!”
Sadewa                : “Kalau berani lawan kami!”
Peracik Kopi 2      : “Bagaimana bisa? Siapa kamu?”
                             (3 Peracik tadi kaget dengan kadatangan Nakula dan Sadewa)
Nakula                  : “Perkenalkan, saya Nakula.”
Sadewa                : “Dan saya Sadewa.”
Nakula
dan Sadewa                   : “Kami! Nakula dan Sadewa”
Peracik Kopi 3      : “Kurang ajar formasi!!!”

(Menari sambil berperang)
Berperang bukan menggunakan senjata. Melainkan, dengan meracik kopi. Kopi siapa yang paling enak, dialah yang memenangkannnya.

(Nakula dan Sadewa memenangkan peperangan)

Nakula                  : “Dimana jalan ketempat TunggulAmetung?”
Peracik Kopi 2      : “Disana!”
Ken Arok               : “Baiklah! Ayo kita pergi!”
Yudistira                : “Apakah kami boleh disini saja Ken Arok?”
Nakula                  : “Yaa! Saya ingin membuat kopi lagi.”
Sadewa               : “Saya juga suka disini Ken Arok, bau kopinya sungguh membuat hati tenang.”
Ken Arok              : “Lalu saya mencari TunggulAmetung dengan siapa?”
Nakula                 : “Ketika kamu mengalami masalah panggil kami melalui keris itu seperti yang sebelumnya.”
Yudistira               : “Iya begitu saja, saya ingin beristirahat. Saya lelah berjalan.”
Ken Arok               : “Baiklah kalau mau kalian seperti itu. Saya pergi dulu.”
Nakula                 : “Mau membawa bekal kopi Ken Arok?”
Yudistira               : “Hahaha ada-ada saja kau ini.”
Sadewa               : “Hahaha. Hati-hati Ken Arok!”

Ken Arok berjalan terus sampai disuatu tempat dengan tulisan “Jalan ke tempat TunggulAmetung 15 KM”

Ken Arok               : “Waahhh!!! Ini tempat TunggulAmetung, jauh yaa!”
                             (Ken Arok berhenti sambil mengelap keringat)
Bima                     : “Huahahahahahaha! Saya Bima! Saya capek berada didalam keris ajaib terus!”
Ken Arok              : “Oh, maafkan saya. Kamu mau membantu saya, saya capek sekali berjalan!”
Bima                     : “Mau pergi ke tempat TunggulAmetung kan?”
Ken Arok              : “Ya, ingin aku cepat sampai tapi aku capek sekali!”
Bima                     : “Baiklah, saya akan membantumu. Tunggu ya!”
Ken Arok              : “Terima kasih!”

(Bima memesankan grab untuk Ken Arok menuju tempat TunggulAmetung tinggal, dan tak lupa menggunakan promo)

(Tiba-tiba telepon Bima berbunyi, dan Bima mengangkatnya)

Bima                     : “Hallo, iya pak sesuai aplikasi”

(datanglah motor pesanan Bima)

Bima                     : “Sudah datang!
Grab                    : “Grab mas? Ayo naik?”
Ken Arok               : “Kamu yakin Bim saya naik ini?”
Bima                     : “Tentu Ken Arok, percayalah padaku dia akan mengantarkanmu sampai tujuan dengan selamat. Tanpa lecet sedikitpun Ken Arok.”
Grab                    : “Ya betul sekali kata mas gembul ini.”
Bima                     : “Enak sekali kamu bilang saya gembul.”
Grab                    : “Tidak apa-apa mas, samean gembul ya karena samean selalu pesan makanan pakai aplikasi dari kami kan?”
Ken Arok               : “Bisa memesan makanan juga?”
Grab                    : “Iyaa, jadi kalian-kalian ini tidak perlu pergi ke warung. Enak kan?”
Bima                     : “Bisa pakai promo lagi, jadi bisa dapat diskon yang besar.”
Ken Arok               : “Wa, boleh lah Bim. Kapan-kapan aku ini kamu ajari pakai aplikasi itu”
Bima                     : “Gampang lah itu, sekarang cepat kau naik dan carilah Kendedes.”
Ken Arok               : “Baiklah aku pergi, apa kau ikut.”
Bima                     : “Aku menyusul saja Ken Arok dengan Pandawa yang lain. Aku ingin makan dulu.”
Ken Arok               : “Oke Bim, saya pergi dulu ya.”
Grab                    : “Helmnya dipakai dulu mas, ini sesuai aplikasi ya?”
Ken Arok               : “Iya pak.”
Bima                     : “Hati-hati pak. Itu teman saya mau menyelamatkan orang yang dia suka.”
Grab                    : “Siap Mas, Mari mas Bima

Setelah beberapa menit diperjalanan menggunakan Grab. Ken Arok pun sampai di Gedung tua.

Grab                    : “Silakan turun, sudah sampai.”
Ken Arok               : “Sudah sampai di gedung tua? Waaaa, terima kasih Pak.”
                             (sambil Ken Arok melepaskan Helm)
Grab                    :  “Sama-sama mas.”

Ken arok               : “Hei TunggulAmetung keluarlah, keluarlah.”
                               (Ken Arok memanggil TunggulAmetung dengan berteriak)

TunggulAmetung    : “Hahahahaha, Ken Arok!!!”
Ken Arok               : “Jadi kau orang yang bernama TunggulAmetung?”
TunggulAmetung    : “Iya aku TunggulAmetung. Raja yang berkuasa di daerah sini.”

Putri Kendedes      : (suara) tolong! Tolong aku Ken Arok!
Ken Arok              : “Kendedes, dimana kamu?”
TunggulAmetung   : “Hahaha, kau tidak akan bisa menyelamatkan Putri Kendedes!”
Ken Arok              : “Kau sangat meremehkanku, wahai TunggulAmetung!”
TunggulAmetung   : “Kau bisa apa ha? Kau ini Cuma pengawal Ken Arok. Dengarkan aku sekali lagu, KAU CUMA PENGAWAL!!!
                            (TunggulAmetung menekankan kalimat akhirnya)
Ken Arok              : “Kau takut kalau akan kalah dengan seorang pengawal?”
TunggulAmetung   : “Pengawal sepertimu itu mudah sekali Ken Arok!”
Ken Arok              : “Bilang saja, jika kau takut padaku? HAHAHA”
TunggulAmetung   : “Apa kau bilang?”
                            (Menjawab omongan Ken Arok dengan nada tinggi. TunggulAmetung sudah mulai geram kepada Ken Arok)
Ken Arok              : “Saya mengatakan kalau ANDA TAKUT DENGAN SAYA”
TunggulAmetung   : “Apa?? Takut denganmu. Jangan bercanda kamu, hahaha”
Ken Arok              : “Siapa yang mau bercanda denganmu, TunggulAmetung.”
TunggulAmetung   : “Kau ini sungguh berani ya! Datang ketempat saya seorang diri lagi. Hahaha…”
Ken Arok              : “Saya memang hanya seorang pengawal, tapi jangan remehkan saya.”
TunggulAmetung   : “Hahaha, dasar pengawal!!!”
Ken Arok              : “jangan banyak bicara. Cepat lepaskan putri Kendedes sekarang juga!”
TunggulAmetung   : “Enak saja, kau harus mengalahkanku terlebih dahulu.”
Ken Arok              : “Yasudah, mari kita bertarung sekarang juga.”
TunggulAmetung   : “Siapa takut, Jika saya menang Kendedes harus menikah dengan saya. Dan kau harus menjadi pelayan di kedai kopi saya.”
Ken Arok              : “Tapi, kalau saya yang menang. Lepaskan Putri Kendedes dan serahkan SEMUA saham kedai kopimu kepada saya TunggulAmmetung.”
                            (Ken Arok menekankan kata “Semua”)
TunggulAmetung   : “Baiklah tidak apa-apa. Saya juga yakin kau tidak akan bisa mengalahkanku.”



(Ken Arok mengeluarkan aji aji yang ia pelajari dari Empu Gandring)

Ken Arok              : “KAMEHAA MEHAAAAAA”
TunggulAmetung   : “SARINGAAANNN”
                             (TunggulAmetung membalas serangannya)

(Ken Arok terpukul mundur)
TunggulAmetung   : “Bagaimana kekuatanku Ken Arok? Hebat bukan?”
Ken Arok              : “hahaha”
                            (sambil mengelap darah di ujung bibirnya)
TunggulAmetung   : “Baru segini saja kau sudah kalah. Ken Arok,,, Ken Arok,,,”
Ken Arok              : “Jangan Sombong dulu anda, aku masih belum mengeluarkan aji aji pamungkasku”
TunggulAmetung   : “Memang apa lagi yang lebih kuat selain saya??”
                            (TunggulAmetung sambil berkacak pinggang)

Ken Arok              : “PANDAWAAA! Tolong aku…”.
(Sambil menggosok keris ajaibnya)

(munculah para Pandawa, kecuali Arjuna)

TunggulAmetung   : “APAA?? Bagaimana bisa seperti ini”
Ken Arok              : “Tolong saya Pandawa.”
Yudistira               : “Hei TunggulAmetung. Lumayan hebat juga kau”
TunggulAmetung   : “Memang, tidak hanya lumayan tetapi sangat hebat Yudistira.”
Nakula                 : “Oh kak Yudistira dia belum mengetahui kekuatan kita semua,yak an?”
Sadewa               : “Betul sekali, orang awam seperti dia hanya sombong di awal saja”
Bima                     : “Sudah, sudah kita satukan kekuatan lalu kita serang bersama”
Nakula dan
Sadewa               : “Baik, ayuk kita serang”
Yudistira               : “SERAANGGG”
(Pandawa dan Ken Arok menyerang Tunggul Ametung)

(TunggulAmetung pun kewalahan)
Bima                     : “lihat kak dia sudah mulai kelelahan”
Sadewa               : “Hahaha, capek dia. Kau sih lawan kami”
TunggulAmetung   : “Enak saja aku hanya kepanasan, hufft”
(Sambil mengelap keringat di dahi)
Yudistira               : “Benar benar kau ini memang, untuk mengakui jika kau ingin menyerah saja susahnya.”
TunggulAmetung   : “Aku tidak kalah ya”
                              “Pengawal bantu aku”
(Semua pengawal TunggulAmetung keluar dan menyerang Pandawa. Putri Kendedes juga dibawa keluar oleh dua pengawal)

Kendedes             : “Tolong aku…”
                            (Kendedes berteriak meminta tolong)
Ken Arok              : “Putri !!!”
Kendedes             : “Tolong aku Ken Arok”
                            (Kendedes melihat Ken Arok dan mencoba melarikan diri dari pengawal)
Pengawal             : “Jangan pergi kemana-mana kau putri.”
Kendedes             : “Lepaskan aku.”
Ken Arok              : “Tunggu aku putri!!!”
Tunggulametung    : “Serang, dan kalahkan semuanya.”
Pengawal             : “Baik, Raja

Semua pengawal dari TunggulAmetung menyerang Pandawa dan Ken Arok. Pandawa mengeluarkan semua keahliannya masing-masing. Tak mau kalah juga, Ken Arok menggunakan keris sakti dari sang raja untuk mengalahkan pengawal dari TunggulAmetung.”

Yudistira                : “Rasakan ini kalian.”
Nakula dan
Sadewa                : “Mampus kalian, hahaha!!!”
Bima                     : “AKHHHH…Sukur nih”
(Pandawa menebas semua pengawal. Ken Arok berhadapan dengan TunggulAmetung)

Ken Arok               : “Kau akan mati ditanganku TunggulAmetung”
TunggulAmetung    : “Tidak akan, hahaha”
Ken Arok               : “Awas saja kau!!!”
                             (Ken Arok mengeluarkan jurus yang selama ini ia pelajari)
TunggulAmetung    : “aaaakhh, dasar kau Ken Arok”
(Serangan ken arok tepat mengenai jantung tunggul ametung. Dan diapun tewas kesetika)
Ken Arok               : “Itulah sebuah balasan bagi orang berkepala besar sepertimu tunggul ametung”
(Ucap ken arok dihadapan jasad tunggul ametung)




(Ken Arok melepaskan tali ditangan Putri Kendedes. Mereka berdua pun berpelukan.)

Kendedes             : “Terima kasih Ken Arok.”
Ken Arok              : “Iya, sama-sama”
Kendedes             : “Bagaimana kau bisa lolos dari mereka?”
Ken Arok              : “Nanti saja aku akan menceritakan padamu. Ayo kita pulang, kamu sudah dicari oleh Raja. Raja sangat gelisah!”
Kendedes             : “Oke, kau berjanji cerita padaku.’
Ken Arok              : “Ya, ketika sudah sampai di kerajaan aku akan menceritakan perjalananku kesini padamu.”
Kendedes             : “Aku pegang janjimu.”

(Ken Arok dan Kendedes pulang ke kerajaan)

Raja dan  permainsuri sangat cemas karena Ken Arok tidak kunjung datang. Mereka berdua hilir mudik dengan raut muka cemas.

Permainsuri            : “Raja, dimana Ken Arok?”
Raja                      : “Aku juga tidak tahu istriku, dari pengawal tidak ada kabar darinya sama sekali.”
Permainsuri            : “Bagaimana putriku ya Tuhan. Apakah dia baik-baik saja?”
Raja                      : “Aku berdoa dia akan baik-baik saja sampai dia kembali ke kerajaan.”
Permainsuri            : “Bagaimana Ken Arok ini Raja?”
Raja                      : “Ken Arok, tidak ada kabar. Dimana Kendedes sekarang? Siapa yang tahu Kendedes? Kamu tahu? Kamu tahu?”
Kendedes             : “Ayah!!!”
Ken Arok               : “Raja!”
Raja                      : “Ken Arok! Kendedes!
(Raja dan Permainsuri memeluk Kendedes)
Raja                      : “Kau tidak apa-apa Kendedes?”
Kendedes             : “Aku baik-baik saja Ayah.”
Permainsuri            : “Kau baik-baik saja kan sayang, tidak ada yang terluka kan?”
Raja                      : “Rakyat Kerajaan Malang! Hari ini putri Kendedes telah kembali. Mari kita berpesta.”



(Ken Arok mencoba meninggalkan tempat)
Kendedes             : “Ken Arok tunggu!”
Ken Arok               : “Iya putri ada apa?”
Kendedes             : “Kau lupa sesuatukan?”
Ken Arok               : “Memangnya aku lupa sesuatu?”
Kendedes             : “Kau lupa janji bercerita padaku Ken Arok, apa kau lupa?”
Ken Arok               : “Oh itu, tidak terlalu penting. Aku mendapatkan perintah dari Raja untuk menyelamatkanmu Putri.”
Kendedes             : “Kau berjanji padaku akan bercerita perjalananmu menyelamatkanku.”
Ken Arok               : “Oh, apakah harus aku ceritakan?”
Kendedes             : “Ya tentu”
Ken Arok               : “Ada hal yang lebih penting dari itu yang harus aku bicarakan padamu putri.”
Kendedes             : “Apa itu?”
Ken Arok               : “Jika aku mengatakannya, aku mau kau berjanji untuk tidak membenciku.”
Kendedes             : “Baiklah, apa itu? Katakan saja Ken Arok jangan berbelit-belit.”

(Ken Arok tiba-tiba memegang tangan Kendedes)
Ken Arok               : “Aku ingin mengatakan ini sejak lama padamu, setelah mendengarkan ini. Kau jangan salah paham aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan padamu putri.”
Kendedes             : “Maksudmu?”
Ken Arok               : “Aku hanya seorang pengawal kerajaan dan kau? Kau adalah seorang Tuan Putri kerajaan. Pasti banyak pangeran yang ingin menikahimu.”
Kendedes             : (Kendedes terkejut)
Ken Arok               : “Aku menyukaimu putri.”
Kendedes             : “Sejak kapan?”
Ken Arok               : “Aku tidak tau mulai menyukaimu sejak kapan, tapi ketika melihatmu membaca buku di taman, berbicara banyak hal dengan mu tentang seluruh kerajaan cara menyusun strategi membuatku terpukau denganmu putri. Kau berbeda dari putri-putri dari kerajaan lain yang hanya manja di kerajaannya mereka.”
Kendedes             : “Ken Arok, aku…”
KenArok                : “Tidak apa-apa jika kau tidak mencintaiku Kendedes, aku hanya mencoba mengungkapkan apa yang aku rasakan saja. tenanglah.”
Kendedes             : “Bagaimana jika aku juga mencintaimu?”
Ken Arok               : “Hah? Apa putri?”
Kendedes             : “Yaa, aku juga mencintaimu juga Ken Arok!”
Ken Arok               : “Sekarang kau tidak bercanda kan?”
Kendedes             : “Tidak Ken Arok”
                             (Kendedes sambil tersenyum)
Ken Arok               : “Tapi bagaimana dengan Raja dan permainsuri? Bagaimana jika mereka tidak setuju?”
Kendedes             : “Mereka akan setuju Ken Arok”

(Tiba-tiba Raja dan permainsuri datang, dan ternyata selama perbincangan mereka tadi Raja mendengarkan semuanya)
Raja                      : “Tentu saja aku setuju. Iya kan sayang?”
Permainsuri            : “Ya aku setuju, Ken Arok pasti sangat menyayangimu Sayang.”
Kendedes             : “Terima kasih Ayah, Ibu. Aku menyanyangi kalian.”
Ken Arok               : “Terima kasih Tuan, Saya akan menyayangiPutri Kendedes seperti tuan menyayanginya.”


TAMAT


                    
TENTANG PENULIS

Hanifia Erma Indahsari atau biasa dipanggil Hani. Lahir di Malang pada tanggal 4 April 1999. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Sebelum menjalani kuliah di Universitas Negeri Malang, ia menjalani pendidikan di TK Muslimat Nu 3 Singosari, SDN Polowijen 3 Malang, SMP Negeri 14 Malang, dan SMK 4 Malang, dan di Universitas Negeri Malang masuk di jurusan Sastra Indonesia prodi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK