NASKAH DRAMA SEMANGKUK







SEMANGKUK
NOVA SHUFIA TAHMIDA
Sinopsis: Drama ini bercerita tentang seorang anak laki-laki yang membangkang ayahnya. Dia menunjukkan pembangkangan itu dengan bersikap malas bersekolah. Kemalasan itu karena dia menganggap jika sekolah tidak ada gunanya, percuma jika dia bersekolah tapi kelak akan menjadi koruptor seperti bapaknya. Dia dekat dengan Bang Gembrot yang seperti orang tua kedua. Dia banyak bercerita kepada Bang Gembrot karena menururnya Bang Gembrot lah yang jauh dari tindak korupsi. Tibalah pada satu masa bapak Doni ditangkap kepolisian atas kasus korupsi dan pembunuhan. Doni yang saat itu putus asa dan semakin putus asa karena di keluarkan dari sekolah ingin bunuh diri, tetapi ada Pak Roy yang menyelamatkannya. Pak roy menolong Doni dan akhirnya dia menjadi pengacara untuk bapaknya dalam persidangan setelah kasus itu di tutup selama tiga tahun. Doni bertemu bapaknya kembali dengan kondisi pakanya yang setengah gila.








SEMANGKUK
BABAK 1
Dari sudut kota Yogyakarta, terlihat warung Bang Gembrot yang tampak sepi seperti biasanya. Pada jam-jam sekolah siang ini, muncullah seorang anak laki-laki yang duduk termangu sambil memainkan gawainya.
Bang Gembrot                          : “Sekolah sana! Warungku yang sepi jadi tambah sepi ada kamu”
Doni                                          : “Aku di sini atau nggak, warungmu tetap sepi” (jawab doni dengan santai sambil sesekali melirik)
Bang Gembrot                          : “Kamu kenapa susah banget disuruh sekolah?”
Doni                                          : “Sesekali aja Bang. Hidup itu tidak selalu pasti, kadang tidur kadang begadang, kadang makan kadang gak makan. Sama kayak aku ini, sesekali gak sekolah, kalo sekolah terus ya gak ada seni hidup ini”
Bang Gembrot                          : “Sekolah kok bosen. Mau jadi apa kamu? Jangan bilang kamu pengen dadi koyok aku, penjual es campur” (Tanya Bang Gembrot sambil duduk di sebelah Doni dan menghidangkan semangkuk es campur)
Doni                                          : “Yo rapopo Bang. Mending kerja kayak Abang, daripada jadi petinggi negara tapi sukanya makan duit rakyatnya”
Bang Gembrot                          : “Sok tau kamu, gak semua gitu”
Doni                                          : “Hallah banyak, Abang aja gak tau”
Bang Gembrot                          : “Ngawur, tau dari mana kamu?”
Doni                                          : “Aku tau dengan mata kepalaku sendiri Bang. Negara ini udah bobrok, mau diapain lagi. Pejabat-pejabatnya gak kompeten semua”
Bang Gembrot                          : “Kamu bicarain siapa?”
Doni                                          : “Ya pejabat-bejabat gak bermoral itu Bang”
Bang Gembrot                          : “Orang kalo ngomong harus berani tanggung jawab”
Doni                                          : “Emang aku tau kok, kadang aku kecewa, kenapa aku harus tau semuanya, perbuatan gak baik itu”
Bang Gembrot                          : “Bentar, maksudmu apa? Ngomong kok ngawur terus, Makan duit rakyat? Tau dengan mata kepalamu sendiri? Kecewa? Siapa yang kamu maksud?”
Doni                                          : “Ntahlah Bang”
Bang Gembrot                          : “Siapa maksudmu? saudaramu?”
Doni                                          : (Doni hanya diam, memainkan sendok dan mangkuk di depannya )
Bang Gembrot                          : “Apa jangan-jangan orang tuamu?”
Doni                                          : “Aku udah capek Bang. Hatiku berontak melihat kebiadaban Bapakku. Bahkan, dia gak peduli ibuku sakit sampai meninggal”
Bang Gembrot                          : “Heh kamu gak boleh bilang gitu. Bapakmu itu baik, buktinya udah ngasih semuanya buat kamu, uang, fasilitas, kenyamanan. Bersyukur Don”
Doni                                          : “Tapi bapakku iku pejabat yang jahat sama rakyat. Buat apa aku sekolah, kalo gedenya kayak bapakku ha!”
Mbak Siti                                  : “Kamu mau jadi koruptor atau gak ya itu pilihanmu, kalo kamu lihat keburukan, kamu mau niruin juga?” (sahut istri Bang Gembrot yang sedari tadi ikut menyimak tapi masih sibuk menyerut eh batu)
Doni                                          : “Ntahlah” (pungkas Doni mengakhiri percakapan siang itu dan meninggalkan sendokan terakhir di semangkuk es campur)
BABAK 2
Siang itu udara di sekitar rumah Doni semakin panas. Ternyata bapak Doni sudah menunggunya selama dua jam. Doni pun masuk dengan pakaian yang lusuh dan wajah tampak jenuh. Doni pun disambut dengan lemparan sebendel koran.
Bapak                          : “Dari mana aja kamu? Kabur lagi dari sekolah?”
Doni                            : “Hee Pak! buat apa sekolah, kalo ntar Doni gedenya kayak Bapak? Buat apa ha?”
Bapak                          : “Kurang ajar kamu ya! Kamu itu harusnya..”
Doni                            : “Ah udahlah Pak, Doni capek” (ungkap Doni memotong perkataan bapakknya dan pergi begitu saja)
BABAK 3
Suasana kota Jogjakarta tak sesejuk biasanya. Anggutan umum yang penuh penuh terisi mahasiswa dan pelajar hari ini sepi hanya berlalu-lalang mengintari kota istimewa. Hari ini Doni tidak kabur dari sekolah, tapi dia memang sengaja untuk bolos sekolah. Seperti biasanya, Doni selalu mengunjungi warung Bang Gembrot. Dia sudah mengangga Bang Gembrot dan istrinya seperti paman dan bibinya sendiri. Doni selalu bercerita apapun kepada mereka dan mengeluarkan segala keluh kesahnya,
Istri Bang Gembrot                 : “Loh, kamu kabur dari sekolah lagi?”
Doni                                        : “Aku gak kabur Mbak, aku emang niat bolos sekolah”
Istri Bang Gembrot                  : “Hoalah le, ada apa lagi kamu kok akhir-akhir ini lebih sering bolos?”
Doni                                          : “Aku lihat negara ini makin mengenaskan Mbak, makin semrawut dan makin bobrok. Aku mau ikut demo buat menyuarakan aspirasi rakyat”
Istri Bang Gembrot                  : “Lolololooo tunggu dulu, kamu mau demo itu emang kamu paham apa yang kamu tuntut?”
Doni                                          : “Tau Mbak, ada yang gak beres di undang-undang terbaru dan ada 10 hak KPK yang dirampas”
Bang Gembrot                          : “Loh, emang kamu tau dari mana?”
Doni                                          : “Pemberitaan itu udah ramai di internet Bang, saya makin baca rasanya makin pedih aja negara ini”
Istri Bang Gembrot                  : “Hoalah le, mbokyo sekolah sing tenanan disek to, kamu ini masih SMK”
Doni                                          : “Udahlah Bang, Mbak, toh demokrasi gak pandang bulu aku dari pendidikan tingkat mana. Aku mau pergi ke Jalan Gajayana. Semua akan berkumpul di situ untuk demo, banyak mahasiswa juga. Makasih buat es campurnya. Assalamu’alaikum”
Bang Gembrot & istrinya         : “Iya, Wa’alaikumussalam”



BABAK 4
Susasana siang di rumah Doni, bapak Doni menunggu di ruang tamu dengan wajah kesal.
Bapak                            : “Bagus kamu ya, disekolahin yang bener malah sekolah nggak karu-karuan”
Doni                              : “Hallah Bapak ini ngomong apa. Bapak sendiri dipercaya rakyat malah berkhianat”
Bapak                            : “Kamu itu masih kecil, jangan sok tau kamu!”
Doni                              : “Aku udah dewasa Pak. Bapak gak pernah peduli ke Doni. Pada rakyat aja Bapak gak mau tau, apalagi pada anak Bapak sendiri!”
Bapak                            : “Kamu ini, dididik baik-baik malah bandel ngelawan orang tua”
Doni                              : “Kapan Bapak didik Doni? Bukannya Bapak sibuk sendiri memainkan uang negara?”
Bapak                            : “Tutup mulut kamu! Kamu sudah sangat keterlaluan Don!”
Doni                              : “Aku gak akan tinggal diam sebelum Bapak mengubah sikap Bapak sendiri”
Bapak                            : “Dasar anak gak punya sopan! Pergi ke kamar sekarang”
            Doni pun pergi meninggalkan Bapaknya dengan tatapan sinis. Hari itu Doni sangat geram dengan semua yang terjadi. Dia merasa malu dengan orang lain, karena Bapaknya sediri salah satu bejabat yang ngawur ikut menyetujui adanya undang-undang yang bermsakag itu.

BABAK 5

            Hari ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Doni masuk sekolah dan pulang sesuai jam yang telah dijadwalkan. Sebelum pulang ke rumah, seperti biasanya Doni mampir ke warung es Bang Gembrot.
Doni                            : “Bang, es campurnya satu ya”
Bang Gembrot              : “Weehh jagoan abang, hari ini kamu gak bolos atau kabur dari sekolah”
Doni                              : “Nggak Bang, aku tadi nyoba kayak murid lainnya. Hmm tapi jenuh banget”
Bang Gembrot              : “Sekolah tu ya seperti itu Don. Oh ya, kemarin demo kamu gimana?”
Doni                              : “Demo? Ya gitu Bang. Abang tau? Aku gak demo di depan gedung DPRD aja, aku juga demo di depan Bapakku sendiri”
Bang Gembrot              : “Woalah Don, kamu harus tetep hormat sama orang tuamu sendiri”
Doni                              : “Menurut Abang, apa yang aku lakukan itu salah?”
Bang Gembrot              : “Bukan salahnya Don, tapi caramu kurang tepat”
Doni                              : “Maksud Abang?”
Bang Gembrot: “Lihat deh semangkuk es campur di hadapanmu itu. Ibarat kamu makan es campur, kalo kamu cuma minum aja, yang kamu dapat yo hanya kenyang dan hausmu hilang. Beda lagi kalo kamu makan sambil mengamati di dalam es campur tu ada rumput laut, buah nanas, melon, sirup, susu kental, parutan kelapa sama es serut. Kamu akan lebih paham dan menikmati rasanya, kalo semua bagian-bagian itu dipadukan akan lebih lengkap dan enak”
Doni                            : “Trus hubungannya sama demokrasi apa Bang?”
Bang Gembrot            : “Kalau kamu paham demokrasi, di demokrasi gak cuma asal-asalan mau menyampaikan aspirasinya Don. Kamu sebagai pelajar, mengikuti kegiatan di sekolah dengan tekun lalu menjadi orang yang cerdas untuk mewakili suara rakyatmu itu udah bagian dari demokrasi. Kalau kamu lihat ada yang salah, ya perbaiki. Kalau kamu lihat ada yang harus diubah, ya kamu harus menjadi perubahan itu. Lengkapilah semua kekurangan yang kamu nilai sekarang dengan cara yang baik, maka kamu akan merasakan nikmatnya demokrasi yang sesungguhnya untuk rakyatmu”
Doni                            : “Bang Gembrot belajar semua itu dari mana?”
Bang Gembrot            : “Don, semua orang akan mendewasa seiring dengan waktunya. Termasuk aku”

BABAK 6
Ketika Doni dan Bang Gembrot sedang asyik mengobrol, datanglah Pak Roy membeli semangkuk es campur sambil menunggu untuk menjemput anaknya yang sekolah di SD Jayakatma, letaknya di seberang jalan warung Bang gembrot. Pak Roy teringat jika Doni adalah anak Suherman, teman dekatnya.
Pak Roy                 : “Satu ya Bang ya”
Bang Gembrot       : “Iya pak” (jawab Bang Gembrot yang beranjak dari tempat duduk)
Pak Roy                 : “Loh Don, ngapain kamu di sini?”
Doni                       : “Ini om, lagi males aja masuk sekolah”
Pak Roy                 : “Lhoh, yokpo seh le, sekolah itu penting, kasian bapakmu. Gimana kabar bapakmu le?”
Doni                       :“Alhamdulillah baik om”
Pak Roy                 :“Om denger, bapakmu hampir tertangkap kasus dugaan korupsi ya?”
Doni                       : “Lah, om tau dari mana?”
Pak Roy                 : “Udah rame banget kan pemberitaan di temen-temen SMA om. Bapakmu itu dulu orang yang rajin lo le, orang jujur, pekerja keras. Tapi kenapa sekarang berbeda ya?”
Doni                       : “Bapakku tetap sama seperti dulu kok om” (sahut Doni yang hatinya panas mendengar ucapan teman SMA bapaknya)
Pak Roy                 : “Ya om harap lek gitu se Don. Ya tapi kita semua bisa lihat lho sekarang”
Doni                       : “Apa yang om tau?”
Pak Roy                 : “Bapakmu itu menyogok dengan uang miliaran juta biar bisa jadi DPRD”
Doni                       : “Kan DPRD dipilih melalui pemilu om”
Pak Roy                 : “Loh siapa yang bisa menjamin Don. Demokrasi di negara kita itu cuma omong kosong. Demokrasi cuma milik orang-orang berdasi dan berpangkat tinggi”
Doni                       : “Hah?! Maksud om?”
Pak Roy                 : “Ya banyak yang ngasih uang tutup mulut ke beberapa petugas. Mereka main aman di perolehan suara”
Doni                       : “Om ini kenapa omong gitu? Jangan menuduh om”
Pak Roy                 : “Loh aku gak nuduh bapakmu Don. Cuma aku sebagai petugas KPPS udah berpengalaman ngomongin suap-menyuap dan atur-mengatur perolehan suara”
Doni                       :“Jadi om juga terlibat dong?”
Pak Roy                 : “hahaha… gak usah ditanyakan Don. Itu biar jadi rahasia orang-orang tua”
Doni                       : “Om, kenapa kalau om tau bapakku salah, om biarin aja?”
Pak Roy                 : “Kalau kamu udah menua, kamu akan tau Don. Yang utama bukan lagi urusan hati nurani tentang salah dan benar, tapi tentang urusan perut”
Doni                       : “Aku gak bisa terima bapakku punya kelakuan kayak gitu. Aku udah cukup kecewa dengan bapakku”

Doni pun bergegas pergi meninggalkan warung Bang Gembrot dengan penuh amarah. Dia mudah menerima hasutan dari teman SMA bapaknya itu, yang sejak dulu memang tidak suka dengan kesuksesan bapak Doni. Doni pulang ke rumah dengan langkah kaki yang terburu-buru ingin segera melampiaskan seluruh amarahnya di depan bapaknya.
Bapak                     : “Hei Doni! Ke sini kamu” (panggil bapak Doni yang sedari tadi menunggu kepulangan Doni)
Doni                       : “Iya, kebetulan bapak di sini” (kata Doni dengan nada sedikit acuh)
Bapak                     : “Ada yang ingin bapak bicarakan sama kamu”
Doni                       : “Wah pas nih, aku juga pengen ngomong sama Bapak”
Bapak                     : “Maksud kamu gak pernah masuk sekolah itu apa ha! Kamu itu anak gak tau diri! lihat bapakmu ini cari uang, kerja sungguh-sungguh buat kamu! Kamu akan dikeluarkan dari sekolah. Mau jadi apa kamu Don! ” (ungkap kemarahan bapak Doni kepada Doni)
Doni                       : “Hallah bapak ini ngomong kayak orang yang paling bener aja sedunia. Lihat diri bapak! Bapak menafkahi aku dengan uang apa? Uang haram kan, yang bapak dapat dari jabatan bapak sekarang? Dulu bapak bermain kotor kan buat dapetin jabatan ini?” (pungkas Doni dengan kata-kata menyakitkan)
Bapak                     : “Kamu ini ngomong apa? Kurang ajar kamu ya! Bapak udah gak bisa memaafkan kesalahan kamu”
Doni                       : “Aku juga udah capek ngerasain Bapak yang semakin buat aku gak habis pikir”
Bapak                     : “Sana! Pergi kamu! Jangan pernah kembali ke rumah ini! ”
Doni                       : “Ok, aku pergi dan gak akan sudi di rumah ini lagi. Untuk apa aku di sini, bapak dari dulu tidak pernah mengizinkna ibu ada di sini, bapak melarang aku bertemu dengannya, bapak gak pernah peduli perasaan Doni! ”
Doni pun pergi meninggalkan rumah. Tampak dia membereskan baju-baju dan beberapa barang miliknya. Pembantu rumah tangga yang mengetahui hal tersebut merasa sedih.
Mbok Iyem            : “Den, mbokya di sini saja to Den”
Doni                       : “Udahlah mbok, bapak itu udah sangat keterlaluan”
Mbok Iyem            : “Kalo den Doni meninggalkan rumah ini, bapak akan sendirian Den”
Doni                       : “Aku capek mbok liat kelakuan bapak. Udah ya mbok aku pergi, titip bapak”
Mbok Iyem            : “iya den” (melepas kepergian Doni dengan wajah nelangsa)
BABAK 7
Dengan terik matahari yang tiada henti memancarkan rasa panasnya, sepanas hati Doni yang bergegas pergi meninggalkan rumahnya dan menuju rumah Bang Gembrot. Di sana Doni tinggal dan menenangkan diri.
Bang Gembrot         : “Arep nyangdi kowe? Kok gowo tas gedene ngene”
Doni                         : “Aku tinggal di sini untuk beberapa waktu ya Bang. Aku pergi dari rumah”
Bang Gembrot         : “Astaghfrullah… kowe yakin karo keputusanmu?”
Doni                         : “Yo bagaimana lagi Bang. Capek aku sama kelakuan bapakku. Sejak kecil aku nahan terus, aku gak kuat dan sekarang aku berontak”
Bang Gembrot         : “Tapi Don, kasihan bapakmu”
Doni                         : “Aku masih butuh waktu berpikir aja Bang. Aku butuh ketenangan”
Istri Bang Gembrot  : “Ya sudah, kamu di sini dulu, ya kan Mas” (jawabnya pada Doni dan menegaskan keputusannya pada Bang Gembrot)
Bang Gembrot         : “Aa-aa-a apa. Iya deh” (jawab Bang Gembrot terbata-bata)

BABAK 8
Pagi itu susana kota Yogyakarta semakin panas. Warung Bang Gembrot menjadi lebih ramai dari biasanya. Banyak orang yang berhenti sekedar minum es campur, atau memilih es krim untuk dibawa pulang. Hari ini Doni bangun lebih awal. Dia membantu Bang Gembrot dan istri Bang Gembrot di warung. Dia tampak senang, tapi merasa sedikit lebih resah karena mengingat kondisi ayahnya. Kegalauan Doni pun tampak saat tiba-tiba dia memecahkan semangkuk es campur yang seharusnya dihidangkan kepada pembeli.
“Pyaarrr!!” (suara mangkuk terjatuh)
Istri Bang Gembrot     : “Astaghfirullah, opo to Don?”
Doni                            : “Maaf Mbak, aku gak fokus”
Istri Bang Gembrot     : “Ya sudah, sana kamu istirahat aja Don”
Doni                            : “Iya mbak”

Doni duduk di sudut ruang warung. Dia tampak merenung dan membuka HP untuk melihat berita-berita terbaru di sekitar Kota Jogjakarta seperti yang biasa dia lakukan. Awalnya Doni hanya tampak gelisah tanpa alasan, namun, lama-lama Doni tampak bersedih dan semakin gelisah melihat satu berita yang dilihatnya. Dia membaca berita jika Bapaknya ditangkap KPK jam 2 dini hari.

BABAK 8
Kantor kepolisian yang sesak, panas dan ramai mengisi kekosongan perbincangan Doni dan Bapaknya. Mereka saling bertatap dan terdiam.
Bapak                          : “Anak durhaka! Buat apa kamu datang ke sini? Mau apa kamu?”
Doni                            : “Aku mau lihat bapak”
Bapak                         : “Kenapa? Kamu senang kan? Selama ini kamu berani sama bapakmu!. Ini kan doa kamu, dan ini kan yang kamu harapkan”
Doni                            : “Pak… ”
Bapak                          : “Pergi kamu dari sini! Anak saya sudah mati!”

BABAK 10
Suasana keramaian menghiasi sekolah Doni pagi ini, Begitu banyak orang yang saling berbisik. Di sudut ruang guru, di kantin, halaman sekolah dan di bebrapa ruang kelas semua berbincang mengenai pemberitaan tertangkapnya bapak Doni, bahkan mereka tak segan memaki Doni secara langsung.
Teman doni     : “Hahaha Anak koruptor”
Doni                : “Jaga mulutmu!”
Teman doni     : “Pantas saja anaknya kayak preman di sekolah, bapaknya aja koruptor”
Doni                : “Kamu diam atau aku hajar mulutmu”
Teman doni     : “Ayo sini anak koruptor, lawan aku hahaha”
Doni dan temannya saling hajar di dalam kelas dengan dikelilingi banyak teman yang lain dan malah menyoraki
Pak Guru         : “Heh kalian semua! Berhenti!” (bentak pak guru sambil menggembrak meja)
Doni, teman doni dan pak guru berada di ruang kepala sekolah
Kepala sekolah            : “Kalian sudah keterlaluan, kalian pikir sekolah itu arena tinju?”
Doni                            : “Dia yang kelewatan Pak”
Teman doni                 : “Dia yang nantangin Pak, anak koruptor itu”
Doni                            : “Oooo kamu berani sama aku?”
Kepala sekolah            : “Kalian berdua diam! Saya kelurkan kalian dari sekolah. Saya akan kirim surat kepada orang tua kalian”

BABAK 11
Doni duduk terdiam di warung Bang Gembrot
Bang Gembrot            : ”Sudah jenguk bapakmu?”
Doni                            : “Belum”
Bang Gembrot            : “Udah lihat berita”
Doni                            : “Berita apa Bang?”
Bang Gembrot            : “Ya lihat saja”
Doni                            : “Bapakku?”
Bang Gembrot            : “Kamu harus tolong bapakmu Don”
Doni                            : “Dia udah gak anggap aku anak Bang, aku anak gak berguna. Aku pergi dulu Bang”
Bang Gembrot            : “Mau kemana kamu Don?. Hee Don..!!!”

BABAK 12
Doni berjalan lingling menerjang hujan lebat dan terdiam melihat aliran sungai dari atas jembatan. Doni berpikir akan terjun dan bunuh diri. Seseorang yang berada di dalam mobil karena macet tiba-tiba datang berlari meraih tangan Doni.
“HEE!!! JANGAN!”
Doni                : (hanya diam dan melihat linglung)
Pak Roy          : “Loh Doni”
Doni                : “Pak Roy?”
Pak Roy          : “Apa yang mau kamu lakukan?”
Doni                : “Bapak saya Pak, Bapak saya. Dia tidak akan bisa bebas, dia korupsi dan membunuh. Saya harus gimana Pak?” (keluh Doni sambil menangis keras)
Pak Roy          : “Ayo ikut om”
BABAK 12
Di ruang persidangan kali ini tampak Bapak Doni yang semakin tua dan kejiawaannya semakin tidak stabil. Suasana sidang tak lagi sepi seperti beberapa tahun lalu.
Hakim             : “Kita buka kasus 3 tahun yang lalu atas putusan tindak pidana korupsi dan pembunuhkan dengan hukuman seumur hidup”
Pembela           : “Yang Mulia, izinkanlah saya memaparkan bukti terkait salah tangkap atas kasus tersebut. Kasus korupsi ini dilakukan oleh terdakwa Wijaya Kusuma yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Yogyakarta. Jabatan beliau saat ada proyek perbaikan jalan adalah sebagai penanggung jawab akan ada bukti terlampir. Kemudian tuduhan kasus pembunuhan tidak dilakukannya karena saat itu pekerja sudah mempunyai riwayat sakit jantung, kami akan lampirkan bukti riwayat kesehatan dan kesaksian dari keluarga”
Hakim             : “Penjelasan pengajara akan kami tampung. Silakan dari pihak pembanding”
Pembanding    : “Kami mempunyai rekam kesaksian pula dari rekan kerja korban dan beberapa kejanggalan atas kematian korban”
Selang beberapa jam dalam persidangan, tibalah sesi putusan.
Hakim             : “Kasus atas tuduhan korupsi dan pembunuhan dengan terdakwa Wijaya Kusuma kami nyatakan di tutup. Terdakwa dinyatakan bersalah atas tindak kelalaian pengawasan kerja borongan dan penandatanganan proyek sehingga menghilangkan nyawa pekerja. Hukuman mati pada terdakwa akan diremisi menjadi hukuman 20 tahun penjara. Sidang selesai, kami tutup, terima kasih”

***
Pengacara duduk berhadapan dengan bapak Doni
Pengacara        : “Bapak, ingat aku?”
Bapak              : “kamu siapa?” (jawabnya lirih dan linglung)
Pengacara        : “Aku Doni Pak.”


PROFIL PENULIS
Penulis adalah seorang gadis yang lahir di Kediri pada hari Jumat 13 November 1998. Memperoleh penghargaan menjadi Penulis muda berpredikat baik oleh Magma Olympus Indonesia bersama Komite Nasional Indonesia Junior Writers pada tahun 2011, Juara 2 Lomba Pidato yang diselenggarakan oleh Pesantren Sabilil Muttaqien Magetan  tahun 2013, Juara 2 lomba debat dalam pekan retorika pada tahun 2018 dan masuk dalam 15 karya terbaik lomba cerpen nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri Sunan Ampel pada tahun 2018. Kegemarannya dalam dunia kejurnalistikan maupun public speaking membuat penulis tertarik memilih jurusan S1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah di Universitas Negeri Malang pada tahun 2017. Saat ini penulis aktif menempuh kuliah dan memperdalam tentang karya sastra di Kota Malang.


Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK