NASKAH DRAMA SENJA DI ATAS KUBURAN
NASKAH DRAMA
SENJA DI ATAS KUBURAN
Karya
M. Hamim Afiat
SENJA
DI ATAS KUBURAN
(Kisah
Sepasang Manusia)
NARATOR WANITA: DI SEBUAH KOMPLEKS KUBURAN TUA, BATU
NISAN DAN ARSITEKTUR BANGUNANNYA MENUNJUKKAN UMUR KOMPLEKS KUBURAN INI YANG
SUDAH TIDAK MUDA LAGI.
(SUARA MUSIK KLASIK JAWA MENGALUN LIRIH KE PENJURU
RUANGAN. LALU, SEJENAK HENING. WANITA ITU TERSENYUM KECIL LALU MEMULAI MONOLOG).
NARATOR
WANITA: (MENENGOK KE SAMPING,
SEOLAH-OLAH SEDANG MENATAP KONDISI LUAR, MENGANGKAT TELUNJUK TANGANNYA DAN
MENUNJUK KE ARAH PENONTON) ANGANKU TERINGAT PADA SEBUAH KISAH LAMA.
(MENENGOK KE ARAH PENONTON) KISAH YANG MEMICU KEPRIHATINANKU,
KISAH YANG MEMBUATKU MERASA BERSALAH, DAN MEMBUATKU SANGAT MENYESAL. SUATU
KISAH YANG AKU SENDIRI TIDAK MENGERTI KENAPA TUHAN SAMPAI MENGHADIRKANNYA DI
DUNIA NYATA.
(WANITA ITU MENUTUP ALBUM HITAMNYA KEMUDIAN BERDIRI
DARI BATU) AKU? AKU
TIDAKLAH LEBIH DARI SEBUAH UJUNG KUKU PADA BAGIAN KISAH ITU, AKU HANYALAH DEBU
KECIL YANG TERBANG DI ALURNYA TANPA BERANI MELAKUKAN APAPUN. BODOH.
YA,
AKU MEMANG BODOH. (BERHENTI SEJENAK) BIAR
AKU CERITAKAN PADAMU.
SUASANA HENING, LAMPUNYA MEREDUP. SUARA MUSIK
KEMBALI MENGALUN.
NARATOR WANITA: (SEMENTARA ITU, DATANGLAH MANUT DAN
RETNO YANG MENZIARAHI KUBURAN IBU MANUT). MEREKA BERDUA ADALAH SEPASANG SUAMI
ISTRI YANG BARU SAJA MENIKAH TAPI KEBAHAGIAAN MEREKA TAK BERLANGSUNG LAMA,
MEREKA DITERPA KONFLIK AKIBAT IBU MANUT BARU SAJA MENINGGAL 2 HARI YANG LALU.
MANUT ADALAH SEORANG YANG SELALU MENUNJUKKAN SENYUMNYA SETIAP HARI, TAPI
SEMENJAK IBUNYA MENINGGAL MANUT MENJADI ORANG YANG PEMURUNG KARENA MANUT SAMA
SEKALI TIDAK DAPAT MENERIMA KEMATIAN IBUNYA.
BAGIAN
PERTAMA
DI ATAS KUBURAN IBUNYA MANUT BERUSAHA TEGAR
MENERIMA KEPERGIAN IBUNYA DENGAN MENDOAKANNYA AGAR DIAMPUNI SEGALA DOSANYA OLEH
SANG MAHA PENCIPTA DAN DITERIMA SEGALA AMAL IBADAHNYA.
SETELAH MENDOAKAN IBUNYA TERJADILAH PERBINCANGAN
ANTARA MANUT DAN ISTRINYA.
Manut
Istriku,
aku tidak bisa menerima kepergian ibu. Kepergiannya begitu mendadak, aku tak
menyangka ibu pergi secepat ini.
LALU MANUT MENATAP RETNO DENGAN TAJAM. RETNO LANTAS
MENENGOK DAN MENGHENTIKAN DOANYA.
LAMPU FOKUS MENYOROT KEPADA KEDUANYA.
Retno
Yang
sabar suamiku, semua sudah ditakdirkan Sang Maha Kuasa. Tiada yang tahu kapan
kematian akan datang, yang pasti semua sudah digariskan oleh takdir Tuhan.
Manut
Aku sudah tahu tentang itu, tapi aku masih tidak mengerti
sebab meninggalnya Ibu. Seolah ada yang disembunyikan dariku dari orang-orang
dan kerabat kita. Apakah kau tidak mengetahui sesuatu yang mungkin salah dengan
ku?
Retno
Kamu
tidak salah apa-apa, kamu telah melakukan hal yang benar. Selama ini kamu telah
memimpin dan menafkahi keluarga kita dengan baik. Walaupun kamu sering pergi
keluar kota demi pekerjaan, kami di rumah selalu mengerti kesibukanmu sebagai
kepala rumah tangga.
Manut
Nampaknya
aku terlalu terlalu terlarut dalam kesedihan, sehingga aku menganggap ada yang
janggal.
Retno
Maksudmu
apa Mas?
Manut
Aku
merasa ada yang janggal saja dengan kepergian Ibu.
Retno
Jangan
berpikiran seperti itu Mas, menurutku Ibu telah meninggal dengan tenang tidak
ada sesuatupun yang janggal dengan kepergiannya. Yakinlah Mas, bahwa Ibu telah
pergi dengan tenang dan pastilah Tuhan akan menyiapkan tempat terbaik di alam
sana.
Manut
Tapi
sungguh di dalam hati ku bertanya-tanya, pastilah kematian Ibu ada
sangkut-pautnya dengan ku.
Retno
Kamu
sungguh sedang salah sangka Mas, Aku benar-benar tidak menyembunyikan suatu
apapun darimu.
Manut
Ah
yang benar?
Retno
Benar
Mas.
Manut
Kamu
berani bersumpah bahwa tidak ada yang kamu sembunyikan dariku?
Retno
Demi
Tuhan Mas, aku tidak menyembunyikan apapun darimu. Untuk apa juga aku
menyembunyikan sesuatu darimu Mas? Apa untungnya bagiku?
Manut
Tetap
saja aku sulit menaruh percaya padamu.
Retno
Sudah-sudah
jangan terlarut dalam kesedihan lagi suamiku. Lebih baik kamu segera menaburi
bunga di atas kuburan Ibu, agar kuburan ini tampak cantik terawat.
(SAMBIL
MEMBERIKAN SEKANTUNG KRESEK BUNGA KEPADA MANUT)
Manut
Tidak!
(MANUT
MENAMPIK BUNGA YANG DIBERIKAN PADANYA, DAN AKHIRNYA BUNGA ITUPUN BERSERAKAN DI
SAMPING MAKAM)
Manut
Aku
tidak sudi menerima bunga itu!
Retno
Ada
apa mas?
Manut
Ada
apa, ada apa saja bisamu itu!
(MARAH)
Retno
kenapa
kamu tidak mau menaburi bunga di atas kuburan Ibu mu?
(MULAI GERAM)
Manut
Tidak
akan! sampai kapanpun aku tidak mau menaburi bunga di atas kuburan Ibu.
(MANUT
MEMALINGKAN KEPALANYA)
Retno
Apa
alasanmu untuk tidak mau menaburi bunga di atas kuburan Ibu?
(DENGAN
PENASARAN BERTANYA)
Manut
Berapa
kali aku bilang aku tidak mau menaburi bunga di atas kuburan! Kamu pikir
sendirilah alasannya!!
(MANUT
BERDIRI DAN BERSIAP PERGI MENINGGALKAN RETNO DENGAN CEPAT)
Retno
Mas,
mau kemana kamu?? Jangan tinggalkan aku sendirian disini Mas!!!
(RETNO
BERANJAK DAN MENARIK TANGAN MANUT, DAN RETNO PUN BERHASIL MERAIH TANGAN MANUT DAN BERUSAHA
MENARIK TANGAN MANUT AGAR TIDAK PERGI MENINGGALKANNYA)
Manut
Lepaskan
aku!
Retno
Tidak
akan Mas
Manut
Dasar
wanita pembawa sial!
(TANPA
BANYAK BICARA MANUT MENGHEMPASKAN TANGAN RETNO SAMPAI TUBUH RETNO TERJATUH)
MANUT
PUN MENINGGALKAN RETNO DENGAN TERGESA-GESA, RETNO AKHIRNYA MENANGIS TERSEDU SENDIRIAN
DI SAMPING KUBURAN IBU MANUT
Retno
Ahhhh
dasar!! Kenapa selalu saja jadi begini? Selalu saja aku yang jadi korbannya.
(RETNO
MENANGIS TERSEDU-SEDU)
BAGIAN
KEDUA
SETENGAH JAM SETELAH ITU, SETELAH MENERIMA LAPORAN ADA
KERIBUTAN DARI WARGA YANG LEWAT KUBURAN ITU, DATANGLAH JURU KUNCI KUBURAN YANG
DATANG INGIN MELERAI PERTENGKARAN RETNO DAN MANUT, NAMUN NIAT BAIK ITU TAK
TERSAMPAIKAN KARENA SAAT DIA DATANG MANUT SUDAH PERGI DAN HANYA TERSISA RETNO
DI KUBURAN ITU.
JURU KUNCI KUBURAN ITU MEMILIKI PERAWAKAN YANG TUA
DAN BADANNYA SUDAH TAK LAGI TEGAP, WAJAHNYA SUDAH KERIPUT DAN RAMBUTNYA SUDAH
MEMUTIH.
LAMPU MENYOROT PADA SETTING BAGIAN JURU KUNCI
KUBURAN.
Juru Kunci Kuburan
Ada
apa Cah Ayu? Kenapa kamu menangis?
(SAMBIL MENEPUK PUNDAK RETNO)
Retno
(HANYA MENATAP JURU KUNCI ITU SEBENTAR, LALU
MENANGIS LAGI)
Juru Kunci Kuburan
Kamu
tidak boleh menangis sore-sore di dalam kompleks kuburan ini Cah Ayu. Tenangkan
hatimu Cah Ayu, semua masalah pasti ada jalan keluarnya.
Retno
(BERUSAHA
MENGHENTIKAN TANGISANNYA) Tapi aku tidak sanggup lagi menghadapi cobaan ini lagi
mbah. Kepergian Ibu suami ku saja sudah cukup membuat hatiku terpukul dan
sekarang suamiku malah menyalahkan dirinya atas kematian Ibunya. Entah apa lagi
yang harus kulakukan untuk menenangkan hati suamiku. Sudah lelah hatiku
merasakan cobaan yang menerpa.
(MENANGIS
DENGAN TERSEDU LAGI)
Juru Kunci Kuburan
Kamu
harus sabar Cah Ayu, kalau memang begitu kamu jangan dahulu menemui suamimu.
Dia memang butuh waktu untuk menyendiri, kalau kamu semakin mengejar dan
menasehatinya maka dia akan semakin marah karena merasa kamu gurui. Kamu harus
sadar bahwa laki-laki tetaplah seorang pemimpin keluarga, yang tidak suka
digurui oleh wanita. Laki-laki memang perlu waktu menyendiri.
Retno
Ah
sudahlah, aku tidak peduli dengan suamiku lagi Mbah. Aku berfikir dia
menggunakan kejadian ini untuk menjauhi dan mencampakkanku. Lagi pula dia lebih
sering keluar kota daripada di rumah, sejujurnya aku juga menaruh curiga
padanya karena jarang pulang ke rumah.
(MENGGEBRAK TANAH SAMPING KUBURAN DENGAN KAKINYA
DAN NADA BICARA RETNO SANGAT KESAL)
Juru Kunci Kuburan
Yang
sabar ya Cah Ayu, sesungguhnya tuhan tidak akan menguji hambanya diluar batas
kesabaran.
(MEMBERIKAN ISYARAT KEPADA RETNO UNTUK TETAP TEGAR
MENGHADAPI COBAAN)
Retno
Kalau itu anak kecil saja tau Mbah!!
(DENGAN NADA MARAH MEMBENTAK JURU KUNCI)
Juru Kunci Kuburan
Mbah tidak bermaksud
memberitahumu Cah Ayu, Mbah hanya ingin mengingatkanmu. Karena manusia
tempatnya lupa dan salah.
Retno
Terima kasih Mbah, saya akan mencoba memperbaiki
semuanya. Maaf jika sebelumnya saya berkata kasar kepada mbah. Mungkin semua
yang telah terjadi sudah menjadi suratan takdir.
Juru Kunci Kuburan
Nah
bagus, benar begitu seharusnya. Semoga kamu diberi kesabaran dalam menghadapi
cobaan ya Cah Ayu.
(DENGAN
RAUT MUKA YANG SUMRINGAH SETELAH MENDENGAR JAWABAN RETNO)
Retno
Iya makasih Mbah atas nasehatnya.
Saya pulang dulu ya Mbah, karena hari mulai gelap.
Juru Kunci Kuburan
Iya, sama-sama Cah Ayu. Hati-hati
ya di jalan.
Retno
Iya Mbah, semoga Mbah selalu
diberi kesehatan ju....
PERCAKAPAN RETNO TERPOTONG AKIBAT
KEDATANGAN MANUT YANG SECARA TIDAK TERDUGA KEMBALI MENEMUINYA
Manut
Retno! Maafkan aku yang
pergi begitu saja tadi, aku telah sadar bahwa tidak selayaknya aku sebagai
pemimpin keluarga pergi begitu saja meninggalkan mu. Alangkah lebih baiknya
kalau kita membicarakan masalah ini dengan kepala dingin.
(MANUT MEMINTA MAAF
SAMBIL BERTEKUK LUTUT KEPADA RETNO)
Retno
Iya, tidak apa-apa Mas.
Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu datang kemari tadi.
Manut
Terimakasih.
MEREKA BERDUA AKHIRNYA
PULANG DENGAN PERASAAN LEGA KARENA TELAH SALING MEMAAFKAN DAN SEMUA COBAAN YANG
DIHADAPI MANUT DAN ISTRINYA DIBICARAKAN
DENGAN KEPALA DINGIN SETELAH MEREKA BERBAIKAN.
--------------------------------------------TAMAT-------------------------------------------
TENTANG PENULIS
M. Hamim Afiat atau yang akrab disapa Hamim merupakan
mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang sejak tahun 2017. lahir
di Blitar, Jawa Timur pada tanggal 14 januari 1999. Adalah Mahasiswa asal
Blitar yang Bercita-cita menjadi pengusaha muda dan pengajar. Merupakan anak
bungsu dari pasangan M. Khuzairi dan Siti Muntamah. penulis menempuh pendidikan
sekolah dasar di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Jatisari, dilanjutkan dengan
menempuh pendidikan menengah pertama di Madasah Tsanawiyah Darussalam
Kademangan, lalu menempuh pendidikan menengah atas di Madrasah Aliyah Negeri
Kota Blitar. Pada saat ini penulis sedang melanjutkan studi S1 pendidikan
bahasa, sastra Indonesia dan daerah di Universitas Negeri Malang. Makanan
Faforit penulis adalah semua makanan yang cocok di lidahnya. ia jarang pilih
pilih makanan saya selalu mensyukuri apa yang allah berikan padanya. Selain
belajar di bangku kuliah penulis saat ini aktif dalam kegiatan organisasi
kampus dengan tujuan belajar berorganisasi dan mengamalkan ilmu yang didapat di
bangku kuliah dengan mengikuti organisasi diantaranya Komisi Pemilihan Umum
Universitas Negeri Malang.

Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi