NASKAH DRAMA SEPETIK NADA DARI KAMI
SEPETIK NADA DARI KAMI
Oleh Cornelius Singgih
Tema: Bangkitnya perjuangan yang telah hancur.
Alur
cerita: Alur maju
Judul:
Sepetik Nada dari Kami
Tokoh:
1.
Gopat
-Siswa kelas XII-IBB, pemain bass, pacar
Daspa. Memiliki ikatan khusus dengan Sasli. Sulit fokus.
2.
Sasli
-siswa kelas XII-IBB, pemain gitar.
Memiliki ikatan khusus dengan Gopat. Mengikuti lomba demi dua janji. Suka
mengatur, peduli, mudah terjebak masa lalu.
3.
Daspa
-siswa kelas XII-IBB pemain gitar, pacar
Gopat. Sensitif dan tegas.
4.
Kaduno
-siswa kelas XII-IBB pemain perkusi. Mudah
bergaul, pintar membaca situasi.
5.
Sandas
-siswa kelas XII-MIA 5 vokal, teman SD
Sasli. Penyanyi top di sekolah. Lembut, diam-diam sombong.
6.
Nomia
-siswa kelas X-IBB vokal. Sahabat Septi.
Polos, mudah panik dan khawatir.
7.
Melati
-siswa kelas X-IIS 1 pemain biola. Kaku,
namun memiliki tekad kuat.
8.
Septi
-siswa kelas X-IBB vokal. Sahabat Nomia.
Sensitif, mudah menangis.
9.
Mas Mat
-alumni IBB, pelatih tim akustik tahun ini.
Pengamat yang baik, mampu mengarahkan adik-adiknya untuk selalu bersemangat.
10. Elis
-Teman masa kecil Sasli. Motivasi Sasli untuk
bermain musik. Tiba-tiba menghilang, muncul kembali secara tak terduga.
Sinopsis:
Jurusan Bahasa SMAN Baktiku Harapanmu setiap tahun selalu
mengikuti lomba. Salah satu mata lomba adalah akustik. Sebuah tim beranggotakan
Gopat, Sasli, Daspa, Kaduno, Nomia, Melati, dan Septi mengajukan diri untuk
maju. Lomba ini amat berarti khususnya bagi Gopat, Daspa dan Sasli. Bagi
mereka, ini adalah penggenapan janji tahun lalu. Janji yang mereka buat ketika
mereka melihat Mas Mat dan kawan-kawan berhasil menyajikan musik yang amat
indah dan memenangi lomba itu. Bagi Sasli, bukan Cuma ini alasan ia harus
menang. Ia juga telah mengikat janji kepada Elis, wanita yang membuatnya jatuh
cinta pada musik, meski kini telah dapat ditemuinya lagi.
Kini mereka memikul janji itu dengan tim yang terbentuk.
Namun, kemampuan, pengalaman, dan mentahnya emosi mereka amat menghambat
jalannya penggenapan janji itu. Tak hanya sekali atau dua kali mereka dibuat
menangis. Janji telah terucap dan tercatat dalam buku di langit. Tentu wajib
sangat bagi mereka untuk mewujudkannya. Mereka sempat hancur lebur. Namun bisa
bangkit melebihi apa yang mereka harapkan
Naskah
drama:
Siang
menjelang sore, di sebuah kelas kosong semua anggota tim selain Melati
menjalani latihan mereka yang entah telah keberapa. Namun, tidak ada yang
memainkan alat musik.
|
Gopat:
|
“Ayolah,
kita bisa ngomong baik-baik soal ini. Kamu jangan tiba-tiba minta keluar
gini.”
|
|
Daspa:
|
(setengah
berteriak) “Kamu gak baca juklaknya tadi? Yang boleh maju maksimal enam
orang! Bisa baca gak kamu?’
|
|
Gopat:
|
“Iya,
tapi kan kita bertujuh sudah latihan lama. Dua bulan gak sebentar, lho. Masa
kamu mau ninggal?”
|
|
Daspa:
|
“Aku
tahu. Aku tetap maju lomba di Surabaya. Tapi kalau yang di Malang, kalian
harus pilih satu. Dua pemain melodi akan mubazir kalau yang maju hanya enam
orang. Pilih dia saja! Suruh dia ikut dua-duanya!”
|
|
Gopat:
|
“Tapi
aku maunya main sama kamu!”
|
|
Daspa:
|
“Udahlah.”
(Keluar kelas)
|
|
Gopat:
|
(terdiam
sejenak, kemudian mengejar Daspa)
|
|
Sasli:
|
(Berkali-kali
menghela nafas sambil mengangkat alis) “Haaaah, kenapa sih, di saat buntu
begini malah ada kejadian begini.”
|
|
Nomia:
|
“Iya,
mas. Padahal kita cuma mau meringkas anggota.”
|
|
Sasli:
|
“Aduh,
apa dosaku, sih? Bener, memang kita belum tahu si Melati main biolanya
gimana. Kita harusnya bisa ngomong baik-baik.”
|
|
Kaduno:
|
“Lha
terus ini gimana? Gimana kalau kita suruh Dik Melati ngiringi kita main lagu
wajib untuk lomba yang di Malang dulu. Nanti baru kita putuskan ambil dia
atau nggak untuk lomba di Malang. Tergantung Daspa juga sih nanti.”
|
|
Nomia:
|
“Boleh
itu, Mas.”
|
|
Sasli:
|
“Kalau
aku, sih, lepas dari fakta kalau aku temannya Daspa, lebih milih Daspa aja,
deh.”
|
|
Kaduno:
|
“Lho,
kok gitu?”
|
|
Sasli:
|
“Gini,
kita semua tahu, ‘kan, mainnya Melati gimana. Dia sering meleset. Apalagi
biola gak ada fretnya, stemnya susah pula. Terus, karena aku sendiri gitaris
dan lebih paham soal gitar, meski si Daspa belum siap untuk berkreasi
sendiri, aku masih bisa bimbing. Ada Mas Mat juga. Kalau pemain biola, siapa
nanti yang bimbing?”
|
|
Nomia:
|
“Bener.
Aku setuju. Kamu kok diem terus?” (sambil mencolek Septi)
|
|
Septi:
|
“Anu,
aku ngikut aja. Tapi kasian Mbak Daspa. Dia udah kelas 12. Tahun depan gak bisa
ikut lagi. Apalagi yang di Malang ini lombanya gede.”
|
|
Sasli:
|
(bergumam
sendiri) “Dan ini untuk janji kami.”
(tiba-tiba
berteriak memukul meja) “BANGSAT! GAK PERLU DRAMA GINI BISA GAK! LATIAN AJA
WOI WAKTUNYA GAK BANYAK! SIALAN SEMUA!”
|
|
Mas
Mat:
|
(tersenyum
sinis, menggeleng-gelengkan kepala melihat adik-adiknya melakukan hal bodoh)
|
Sasli dan Gopat diam-diam
berkonsultasi pada guru pembimbing mereka. Setelah mengutarakan alasan dan
mendapat nasihat, mereka siap menyampaikan keputusan pada tim.
|
Sasli:
|
“Eh,
Melati! Sini sebentar, aku mau ngomong sesuatu tentang tim kita.”
|
|
Melati:
|
“Ada
apa, Mas? Kok rasanya serius banget?”
|
|
Sasli:
|
“Anu,
kemarin ada pertimbangan gini-gitu pas kamu gak ikut latihan.”
|
|
Melati:
|
“Kenapa,
Mas? Kalian nggosip, ya?’
|
|
Sasli:
|
“Enggak
kok. Kamu udah lihat juklak lomba yang di Malang kan?”
|
|
Melati:
|
“Iya,
udah. Lombanya tanggal 12 kan? Waktunya gak banyak, lho”
|
|
Sasli:
|
“Tapi
bukan itu. Kan di situ katanya maksimal enam orang tiap tim. Kemarin, kami
bingung mau ambil kamu atau Daspa. Kalian kan posisinya sama. Nah, setelah
konsul sama Pak Upi, kami jadinya ngambil Daspa aja.”
|
|
Melati:
|
“Lho
tapi kan aku udah latihan. Gak sebentar lo latihanku. Masa aku tiba-tiba gak
jadi ikut lomba? Aku bilang apa nanti ke bapak ibuku?”
|
|
Sasli:
|
“Kamu
tetap ikut yang di Surabaya, kok. Cuma yang di Malang aja...”
|
|
Melati:
|
(murung,
menahan tangis) “Udahlah, gak latihan kah ini?”
|
Mereka berlatih dan berlatih. Namun jalannya latihan
mereka amat kaku. Suasana hampir selalu canggung. Sangat sulit
bagi mereka mendapatkan inspirasi di saat seperti ini.
Hanya beberapa waktu
sebelum lomba mereka mampu melupakan masalah itu. Sayangnya, itu sudah
terlambat untuk menyatukan perasaan sebagai sebuah tim. Lomba pertama mereka
jalani.
|
Kaduno:
|
“PARA
PEJUANG, SABTU RENANG....”
|
|
Sasli,
Gopat, Daspa, Kaduno, Melati, Septi, Nomia:
|
“DHAL!”
[BERANGKAT!]
|
Mereka bermain dengan perasaan
senang. Sungguh ekspresif. Namun, permainan mereka hancur.
Nada gitar dan biola tidak serasi, tempo melambung tinggi dan tak kembali,
penyanyi grogi setengah mati.
|
Kaduno:
|
(menunduk
lesu) “Setelah semua ini, kita tidak menang?”
|
|
Sasli:
|
(menangis,
tak mampu berkata-kata)
|
|
Gopat:
|
“Kalian
pikir ini salah siapa? Aku sudah melakukan semua yang kumampu. Tapi apa yang kalian
lakukan?”
|
|
Daspa:
|
“Ini
salahku. Pokoknya salahku. Udah kalian gak usah bacot.”
|
|
Gopat:
|
“Jangan
salahkan dirimu sendiri! Ini salah semua.”
|
|
Kaduno:
|
“Lho!
Jaga omonganmu! Kau pikir semua ini gara-gara siapa?”
|
|
Sasli:
|
“Setuju!
Siapa yang bikin drama?”
|
|
Daspa:
|
“Aku.
pokoknya aku.”
|
|
Septi:
|
“Udah,
Mbak. Jangan nyalahkan diri sendiri terus.”
|
|
Nomia:
|
“Iya.
Gapapa yang penting kita semua udah berusaha.”
|
|
Kaduno:
|
“Tapi
liat. Ingat, sudah berapa kali kita latihan sia-sia? Berapa kali latihan kita
gak bisa lancar?”
|
|
Gopat:
|
“Hei,
ayo kita adu pukul saja untuk membuktikan siapa yang benar.”
|
|
Septi:
|
“Udah,
Mas, Mbak. Kita kan masih punya lomba satunya.”
|
|
Sasli:
|
“Alah
sudahlah. Kalian mau bayar kekalahan ini dengan kemenangan atau tidak?”
|
|
Kaduno:
|
“Ya
iya dong. Tapi gimana mau menang kalau mainmu drama terus? Ini bukan lomba
bermain peran. Ini akustik! Kita hanya bisa menang dengan suara!”
|
|
Gopat:
|
“Iya,
tapi harus sama Daspa.”
|
|
Sasli:
|
“Aku
kan udah bilang. Melati gak keberatan kan?”
|
|
Melati:
|
(dengan
nada ketus) “Gapapa!”
|
|
Septi:
|
(berbicara
pelan dan lirih. Sambil terisak) “Aku ikut ‘kan, Mas?”
|
|
Sasli:
|
“Hm”
|
|
Daspa:
|
“Gak.
Aku gak mau. Nanti malah ada drama lagi. Cukup sudah. Aku akan nonton kalian,
tapi aku tidak mau ikut tampil.”
|
|
Gopat:
|
“Jangan
giru, dong. Kalau kamu tidak mau tampil, aku juga tidak tampil!
|
|
Kadunio:
|
“Kalian
bisa niat gak? Kalau udah gak niat main mending gak usah lomba aja sekalian.
Gak usah menggenapi janji-janji apalah itu. Malu mengemban janji kalau
kebanyakan drama. Lomba akustik itu butuh aransemen, gak butuh drama!”
|
|
Sasli:
|
“Meski
kalian tidak ikut, aku akan tetap maju meski sendirian. Bisar saja sekalian
aku terlihat konyol daripada konyol sungguhan bersama tim konyol ini!”
|
|
Nomia:
|
“Enggak,
Mas. Aku juga bakal ikut. Aku sudah bertekad. Aku gak bisa mundur sekarang.”
|
|
Septi:
|
“Aku
juga bakal ikut, Mas.”
|
|
Sasli:
|
“Pat,
Pa. Pikir lagi. Melati juga udah aku suruh mundur ‘kan? Aku udah bilang
ke Mas Mat dan Pak Upi. Gak bisa
ditarik lagi.”
|
|
Gopat:
|
“Serah.
Gatau gimana nanti.”
|
Kemudian mereka semua
kembali ke rumah masing-masing. Sungguh senyap, tanpa saling bercakap. Wajah
ceria palsu mereka berakhir di panggung. Di mana mereka bersandiwara di atas
panggung yang bukan untuk sandiwara.
Waktu untuk
peperangan sesungguhnya kurang dari dua minggu dan mereka sama sekali belum
melangkah.
|
Sasli:
|
“Teman-teman,
begini. Kita semua tahu kenapa kemarin kita kalah. Kalian semua sudah lihat
video penampilan kita. Hancur, bukan?”
|
|
Kaduno:
|
“Iya,
gara-gara sepasang selebritis ini. Bikin drama pinter bener.”
|
|
Gopat:
|
“Mulai
lagi? Hanya mulut saja yang kau tonjolkan, mau kutonjok.
|
|
Septi:
|
(berteriak,
biasanya diam) “Mas Pat, Mas Kad, sudah!”
|
|
Daspa:
|
(menarik
baju Gopat) “Udah. Biar Sasli ngomong dulu. Kamu kok selalu gini sih?”
|
|
Gopat:
|
“Huh!”
|
|
Sasli:
|
“Udah
selesai sesi debatnya?”
|
|
Kaduno:
|
“Gak
didebat gak bisa bener nih anak.”
|
|
Melati:
|
“Ehem!”
|
Semua terdiam
|
Sasli:
|
“Nah,
sesuai ketentuan, lomba yang akan datang ini mewajibkan tiap tim maksimal 6
orang saja. kita ada 7, artinya ada satu yang harus tidak ikut. Melati, kamu
yakin sudah bersedia, ‘kan?”
|
|
Melati:
|
“Iya,
kak. Gapapa. Aku sudah bilang juga ke orang tuaku.”
|
|
Sasli:
|
“Bagus,
jadi gini, kemarin aku kepikiran. Gak usah pakai basa-basi.
|
|
Gopat:
|
“Tuh,
denger! Gak usah ada drama lagi lah ya. Kita mau menang akustik atau drama?”
|
|
Daspa:
|
“Pokoknya
kamu jangan ngatur terus.”
|
|
Kaduno:
|
“Drama
kalian bagus. Gak pingin ikut lomba drama atau teater gitu? Biar peluang
menangnya tinggi. Kalau aku sih beraninya di akustik. He he he.”
|
|
Sasli:
|
“Yang
main musik cuma kita berdua dong.”
|
|
Nomia:
|
“Mas,
mas! Udah lah. Mas Sasli kok malah ikutan. Katanya mau ngomong.”
|
|
Sasli:
|
“Iya,
iya, maaf. Bercanda. Nah, kalian kan sudah tahu kita kumpul ini ada apa. Nah,
aku kemarin sudah bilang ini itu sama Mas Mat, minta pertimbangan. Mas Mat,
silakan. Sampean kan lebih bisa ngomong, hehe.”
|
|
Mas
Mat:
|
“Ya,
eemmm. Jadi gini, aku tahu kondisi tim kalian gimana. Apalagi setelah kalian
tampil di lomba yang sesungguhnya. Aku gak mau banyak cerocos, Septi, kamu
gak usah ikut lomba, ya?”
|
|
Septi:
|
“Eh,
kenapa, Kak?”
|
|
Nomia:
|
“Gimana,
gimana?”
|
|
Kaduno:
|
“Uwaw,
hore drama lagi hahahaha!”
|
|
Gopat:
|
“Waduh,
Sasli, kamu ngomong apa sih ke Mas Mat? Mas Mat juga, dibayar berapa sama
Sasli? Kok tiba-tiba gini?”
|
|
Mas
Mat:
|
“Aku
mana mau makan uang kotor gitu? Sasli memang awalnya gak meyakinkan, tapi
setelah aku cermati penampilan kalian, aku tahu kelemahan kalian yang hanya
bisa diatasi dengan cara ini.”
|
|
Nomia:
|
(dengan
nada tinggi) “Mas, lombanya besok lusa, lho! Latihannya juga kan selalu sama
Septi.”
|
|
Septi:
|
“Mas,
kenapa? Ada apa? Kalau aku gak bagus, semalaman aku latihan, deh.”
|
|
Sasli:
|
“Percuma,
Sep. Kamu pikir latihan semalam cukup buat mengatasi kelemahanmu?”
|
|
Septi:
|
“Ya,
aku coba dulu, siapa tahu.....”
|
|
Sasli:
|
“Gak
usah. Maaf, ya.”
|
|
Gopat:
|
“Dulu
Melati, sekarang Septi. Ini kalau lombanya ada lima, bisa bisa semua kamu
keluarkan.”
|
|
Daspa:
|
“Kalau
kamu ngeluarkan Septi, Yang nyanyi siapa? Masa Cuma satu? Katanya kamu pinter
musik, kok gak tahu ya kalau dua vokal bisa lebih baik dan saling menopang? Mas
Mat juga. Mas kan pelatih. Kok mau sih disetir sama yang dilatih?”
|
|
Sasli:
|
“Tenang
dulu. Aku gak asal buat keputusan. Aku juga mikir. Aku tahu orang yang bisa
menggantikan Septi dan mengatasi kelemahan tim kita ini.”
|
|
Kaduno:
|
“Gini,
Sas. Kamu tadi bilang kalau mustahil bisa mengatasi kelemahan hanya dalam
semalam, tapi kamu malah mau nunjuk orang baru. Apa gak malah susah?”
|
|
Mas
Mat:
|
(Menghela
nafas) “Yah, gimana kalau kita coba lihat dulu kemampuannya bagaimana. Kurasa
dia juga udah familiar sama lagunya. Dia kan ikut lintas minat bahasa Jerman
juga.”
|
|
Sasli:
|
(Mengambil
ponsel dari tas) “Kalian tenang dulu, aku panggil anaknya. Sep, pulang aja,
ya, kamu. Latihan yang banyak buat tahun depan. Makasih.”
(Keluar
meninggalkan teman-temannya untuk menelpon)
|
|
Septi:
|
(menangis)
“Aku gak tau lo salahku apa.”
|
|
Nomia:
|
(memeluk
dan mengelus Septi) “Iya, tahun depan kita balaskan dendammu ini”
|
Sasli masuk kembali
setelah menelpon di luar. Yang dihadapinya adalah wajah-wajah penuh tanya dan
kesal.
|
Sasli:
|
(cengar-cengir
namun agak merasa sungkan) “Anu, kenapa kalian tegang begitu? Kita santai
saja. tapi tetap mempersiapkan untuk besok lusa.”
|
|
Kaduno:
|
(menghembuskan
nafas) “Sas, kita libur aja ya untuk hari ini. Anak-anak juga kelihatan masih
butuh istirahat. Toh kita juga udah latihan, tinggal moles dikit-dikit lagi
kan? Si vokal baru itu kalau mau gabung, suruh besok aja.”
|
|
Sasli:
|
(dengan
nada pelan) “Iya, tapi waktu kita gak banyak lo.”
|
|
Nomia:
|
“Iya,
Mas. Semuanya tahu, kok. Di rumah juga semua pasti latihan. Hari ini aku mau
menemani si Septi ini dulu. Asalkan semua tetap solid latihan dan berdoa,
niscaya tetap berani jamin bagus, kok.”
|
|
Gopat:
|
“Iya,
Sas. Nanti kita ngops aja. Kamu jelaskan kalau memang ada yang perlu kamu
jelaskan.”
|
|
Sasli:
|
“Ya
udah. Tapi besok latihannya sampai mampus, ya! Aku akan hubungi lagi si vokal
baru. Sep, kutunggu mainmu tahun depan, ya.”
|
Mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Sasli
menenteng gitarnya dengan langkah lemas. Ia tahu dibuang seperti itu
menyakitkan. Namun, hatinya tak mampu memutuskan. Meski
sebenarnya ia merasa begitu bersalah.
Sasli berjalan
memutar, makin jauh dari jalannya pulang. Demi menghilangkan kepenatan hatinya,
ia berjalan tanpa arah sebelum akhirnya kembali ke jalan pulang waktu hari
makin gelap.
Di rumah Sasli, ayah
Sasli membukakan pintu dengan air muka yang membuat hati makin gentar.
|
Ayah
Sasli:
|
(suara
dalam, nada berat) “Sasli. Enak ya jadi seniman musik. Tidak perlu belajar,
asal main musik saja kau sudah senang. Nilai merah tapi masuk rumah hampir
malam dan masih pakai seragam. Keren sekali kamu bawa gitar juga. Anakku
memang top!
|
|
Sasli:
|
(tubuhnya
gemetar, tak mampu menjawab)
|
|
Ayah
Sasli:
|
(mendekat
ke arah Sasli) “Kok diem? Musisi kok gak bunyi? Udah bisa dapat nilai bagus?
Pulang malam gini dari mana? Ngamen?”
|
|
Sasli:
|
(ragu
untuk menjawab, suaranya keluar namun bergetar) “Ndak, Yah. Tadi..”
|
|
Ayah
Sasli:
|
(dengan
suara keras dan nada tinggi) “HALAH! AYAH TAHU KAMU GAK MUNGKIN MAU BELAJAR
SAMPAI PETANG BEGINI! KAMU MAIN-MAIN MUSIK TERUS!”
|
|
Sasli:
|
“Iya,Yah.
Soalnya ada lomba.”
|
|
Ayah
Sasli:
|
“Lomba,
lomba. Ayah tidak peduli! Kalau kamu goblok nanti mau jadi apa? Ngamen terus?
Ndak usah musik-musikan lagi. Gitarmu jual saja!”
|
|
Sasli:
|
“Kali
ini aja, Yah. Tolong.”
|
|
Ayah
Sasli:
|
(merebut
gitar Sasli) “Ndak sekali-sekalian! Sini gitarmu! Kamu masuk kamar!”
|
|
Sasli
|
(tak
mampu melawan ayahnya, membiarkan gitarnya diambil) “Maaf, Yah.”
|
Sasli pun masuk ke
kamar. Meski tak menangis, namun hatinya tersayat. Setelah dihadapkan pada
pilihan antara kawan atau kemenangan yang tak pasti, kini ada sebuah dinding
tebal yang tak berani ia lewati, yaitu ayahnya sendiri.
|
Sasli:
|
(Berjalan
lemas mondar-mandir di kamar) “Oh sungguh tak indah perjalananku. Terlalu
banyak mengucap janji namun tak dapat menepati satu pun. Lalu, besok
bagaimana? Tak akan mampu kupandang wajah temanku tanpa membawa gitar. Aku
yang selalu sok memimpin, sok mengatur. Aku tahu mereka pun sebenarnya kesal.
Tapi aku tidak membenci siapa pun. Dapatkah kulepas semua belenggu ini dan
menghadapi semuanya? Juga padamu, Elis. Aku tak mampu menemuimu sekarang.
Namun apa artinya kutemui dirimu bila tak ada apapun yang mampu kuraih?”
(ia
mulai lelah, makin lesu. Akhirnya membaringkan tubuh di kasur) “Yah,
kesusahan besok biarlah diselesaikan oleh diriku yang ada di hari esok.
(tanpa
sadar ia menangis lalu terlelap)
|
Keesokan harinya,
Sasli tidak mampu menghadapi hari baru sehingga ia tidak pergi ke sekolah.
Sepulang sekolah, tim
akustik tetap berkumpul untuk berlatih meski kini tanpa Septi. Namun, lama
ditunggu, Sasli pun tak terlihat batang hidungnya.
|
Gopat:
|
“Anak
itu habis bikin drama lagi malah kabur rupanya.”
|
|
Daspa:
|
“Kemarin
bilang kita biang drama, sekarang malah lari sendiri. Katanya janji. Janji
bocah.”
|
|
Kaduno
|
(merasa
ada yang tidak beres namun tetap bercanda agar suasana tidak tegang) “Wah,
wah. Anak itu mungkin lagi ketagihan BAB. Emang nikmat sih.”
|
|
Mas
Mat:
|
“Kamu
salah, Dun. Dia kebanyakan mikir aransemen sampai lupa jalan ke sekolah.”
|
|
Nomia:
|
“Ahahaha,
ya masa mikir aransemen bisa bikin orang amnesia. Tapi kok aku takut, ya. Kan
Mas Sasli itu, kita semua tahu, dia yang paling banyak mikir, paling sering
khawatir, dan paling sering ngajak kita buat maju pas lagi turun semangat.”
|
|
Daspa:
|
“Iya
juga sih. Gitu-gitu dia kan gak pernah niat jahat. Eh pernah, sih. Dia kan
penuh dosa hahaha!”
|
|
Gopat:
|
“Sepi
juga ya, kalau gak ada dia. Gak ada yang nonton drama kita, nih.
|
|
Mas
Mat:
|
“Udah,
udah. Ayo latihan. Kalau ada yang susah atau ada ide baru, bilang sini. Nanti
kita garap sama-sama. Hari ini sampai mampus. Gak ada yang namanya hari
tenang sebelum lomba!”
|
|
Kaduno:
|
“Nah,
dari dulu gini dong latihannya! SEMUANYA! PARA PEJUANG, SABTU RENANG,...”
|
|
Gopat,
Daspa,
Kaduno,
Nomia:
|
“DHAL!”
[BERANGKAT!]
|
|
Mas
Mat:
|
(dengan
suara kecil namun terdengar) “Dhalo dhewe!” [Berangkatlah sendiri!]
|
|
Kaduno:
|
“Ya
berangkat semua, Mas. Nanti Mas Mat kalau ditinggal malah nangis.”
|
|
Semua:
|
“Hahahahaha!”
|
Tak lama mereka
berlatih, datanglah Sandas.
|
Sandas:
|
“Hey,
hey, kalian semua! Sudah siap maju lomba?”
|
|
Gopat:
|
“Lhoooo,
ya jelas! Ini juga lagi latihan mampus-mampusan hahaha!”
|
|
Nomia:
|
“Ayo
sini, Mas. Dengar karya kami. Ikut nyanyi juga boleh.”
|
|
Sandas:
|
“Lagu
Jerman kan?”
|
|
Daspa:
|
“Iya,
kamu tahu pastinya.”
|
|
Sandas:
|
“Iya,
kemarin Sasli bilang aku disuruh ikutan nyanyi.”
|
|
Kaduno:
|
(Berteriak
tiba-tiba) “HAH? MAKSUDMU, KAMU DISURUH SASLI JADI VOKALIS TIM INI?”
|
|
Sandas:
|
“I..iya.
Aduh, kalau kamu gak suka, gapapa kok.”
|
|
Gopat:
|
“Dun!
Kamu jangan bikin Sandas jadi takut, dong!”
|
|
Kaduno:
|
“Hehe,
maaf. Kalau yang nyanyi kamu sih, jelas diterima. Gak usah seleksi dulu!
Walaupun lombanya sekarang, berani maju!”
|
|
Daspa:
|
“Tapi
beneran, penyanyi andalan sekolah macam kamu gini, mau gabung tim ecek-ecek
ini?”
|
|
Sandas:
|
“Halah,
sama aja. Akunya yang lebih pinter gaya, makanya terkenal!”
|
|
Nomia:
|
“Mas
Sandas disanjung malah makin sombong.”
|
|
Sandas:
|
“Kalau
gak sombong nanti kepalanya kecil. Eh, omong-omong, aku dipanggil ke sini
sama si Sasli. Tapi Saslinya mana, ya? Kok nggak kelihatan? Mas Mat juga yang
kemarin bincang-bincang sama Sasli kan?”
|
|
Mas
Mat:
|
“Mungkin
dia lagi lari ke sini.”
|
Hari semakin gelap, sekolah
semakin sepi. Namun Sasli masih tak tampak. Semua anggota
tim mulai cemas.
|
Daspa:
|
“Eh,
Sasli beneran gak datang, lho ini. Kalau yang gak datang si Kaduno sih aku
gak kaget. Tapi ini Sasli. Dia kan gak pernah bolos latihan tanpa ngasih
kabar dulu.”
|
|
Kaduno:
|
“Eh
aku juga bilang kok kalau gak bisa latihan.”
|
|
Nomia:
|
“Aku
takut, nih, Mas, Mbak. Jangan-jangan Mas Sasli kenapa-napa.”
|
|
Kaduno:
|
(menghela
nafas) Teman-teman, sebenarnya, dari tadi aku sudah ada firasat gak enak.
Dari kemarin malam aku gak bisa menghubungi dia. Sandas, kamu kemarin nelpon
aku kan? Nah, sepertinya Sandas juga gak bisa nelpon dia. Bener?
|
|
Sandas:
|
“Iya,
soalnya kemarin sore dia bilang mau ngajak aku lomba. Malamya kutelpon lagi.
Ternyata dia gak aktif. Akhirnya aku telpon Kaduno.”
|
|
Gopat:
|
“Terus
gimana ini? Mas Mat tahu sesuatu?”
|
|
Mas
Mat:
|
“Eeeemmm,
aku gak tau. Ya terakhir kemarin itu yang dia ajak aku ngomong soal vokalis.
Setelah itu ya nggak kontak-kontakan lagi.”
|
|
Nomia:
|
“Waduh,
aku makin khawatir.”
|
|
Gopat:
|
“Gini
aja. Sekarang udah gelap. Yang cewek bisa pulang dulu. Mungkin aku, Mas Mat,
Kaduno, sama Sandas mau ke rumahnya dulu.”
|
|
Daspa:
|
“Aku
gak boleh ikut?”
|
|
Gopat:
|
“Jangan,
Say. Kamu bobok ajah.”
|
|
Daspa:
|
“Heleh!”
|
Mereka berempat menuju rumah Sasli. Namun,
sesampainya di rumah Sasli, mereka melihat hal yang mencengangkan.
|
Gopat:
|
“Wah,
parah ini.”
|
|
Kaduno:
|
“Sudah
kuduga, ada yang tidak beres!”
(mulai
berteriak)
“SAAAS!!
SASLI! KELUAR! JANGAN DIPENDAM SENDIRI!!”
|
|
Gopat:
|
(menarik
lengan Kaduno, memukul kepalanya) “Hei! Ngawur kamu! Kamu lupa ya bapaknya
Sasli macam apa?”
|
|
Kaduno:
|
“Aku
tahu. Tapi lihat. Kamu gak sadar yang dibuang dan hancur itu gitarnya siapa?
Gak mungkin gitarnya Sasli kondisinya bisa gitu kalau gak ada apa-apa! Ya,
nggak?”
|
|
Mas
Mat:
|
“Ini
sih jelas banget ada masalah. Daripada tambah besar, mending kita pulang
dulu. Anu, Sandas masih belum bisa menghubungi?”
|
|
Sandas:
|
(mencoba
menghubungi Sasli) “Ini malah ndak aktif, Mas.”
|
|
Mas
Mat:
|
“Ya
udah, pokok kita tenang dulu. Jangan sampai yang lain tahu biar ndak malah
jadi masalah. Tetep coba hubungi, ya.”
|
|
Kaduno:
|
“Aku
gak bisa tenang, Mas.”
|
|
Gopat:
|
“Udahlah.
Kita langusng ketemu aja besok di tempat lomba. Aku yakin Sasli akan datang!
|
Mereka
pulang tanpa mendapat apa-apa. Mereka hanya bisa berharap dan berdoa agar
masalah ini bisa selesai sebelum lomba esok pagi.
Keesokan harinya. Semua telah berkumpul di
tempat lomba dan mendapat nomor urut tampil. Namun, Sasli belum juga muncul.
|
Nomia:
|
“Mas
Sasli kemarin gimana?”
|
|
Kaduno:
|
“Anu..
Aduh cantiknya..”
|
|
Sandas:
|
(menyahut
omongan Kaduno) “Dia kemarin lupa latihan. Tapi nanti dia datang kok.”
|
|
Kaduno:
|
(menggoda
wanita di lokasi lomba) “Mbak, manis banget. Mau foto bareng gak?”
|
|
Mas
Mat:
|
“Ini
gitarnya sudah disetel semua? Bassnya? Terus perkusinya? Woi Kaduno, jangan
cari cewek terus!”
|
|
Kaduno:
|
“Eh,
iya. Maaf. Insting seorang pria.”
|
|
Gopat:
|
“Dasar
jelalatan.”
|
|
Daspa:
|
“Sasli
edaaaan, kok dia masih sembunyi aja sih. Masa dia mau gak dateng?”
|
|
Nomia:
|
“Udah,
mbak, positif aja. Dia pasti dateng.”
|
|
Daspa:
|
“Kalau
gak dateng nanti kita hancurkan dia sama-sama.”
|
Sementara itu, Sasli yang tenggelam dalam
tekanan dan berkali-kali menangis lalu tertidur, mendapatkan sebuah mimpi. Ia
bertemu Elis.
|
Sasli:
|
(tersentak,
terbangun dari tidur. Melihat jam dan teringat lomba) “Sial! Apa yang
kulakukan dua hari ini? Aku seharusnya tidak menyerah demi janjiku pada
diriku sendiri dan Elis.”
(tiba-tiba
ia tertegun) “ELIS! Gitarku memang telah dibuang! Tapi aku masih menyimpan
gitar kecil milik Elis!
|
Sasli
mencari gitar Elis di seluruh kamarnya. Ia mencarinya
hingga semua berserakan. Akhinya ia menemukannya. Ia bergegas menuju lokasi
lomba meski jelas telah terlambat. Namun, ayahnya masih menjadi dinding yang
harus ia hadapi.
|
Sasli:
|
(menenteng
barang dengan pakaian tidak rapi. Bertemu ayahnya di teras) “Yah, maaf. Aku
harus pergi. Hanya kali ini! Ayah pernah mengajarkan padaku bahwa seorang
lelaki tak boleh menarik kata-katanya, bukan? Kalau memang Ayah ingin aku
jadi laki-laki yang hebat, tolong setindaknya izinkan aku pergi kali ini
saja!”
|
|
Ayah
Sasli:
|
(tertegun
sesaat melihat anaknya berani tegas) “Apa jaminannya?”
|
|
Sasli:
|
“Kemenangan!”
|
|
Ayah
Sasli:
|
“Kalau
kau tidak bisa menepati kata-katamu sendiri, bunuh saja semua rasamu kepada
musik!”
|
|
Sasli:
|
“Akan
kubawa kemenangan pada Ayah!”
(berlari
pergi)
|
Sementara itu di lokasi lomba,
semuanya sedang panik. Giliran merayap kian mendekat.
|
Kaduno:
|
(menghela
nafas. Dengan nada lesu dan ekspresi pasrah) “Ah, sudahlah. Tidak ada artinya
menunggu Sasli.”
|
|
Nomia:
|
“Mas
Sasli kenapa, sih?”
|
|
Gopat:
|
“Kemarin
waktu kami ke rumahnya, kami lihat gitar Sasli hancur dan dibuang di depan
rumahnya. Kamu bisa simpulkan bagaimana situasinya.”
|
|
Daspa:
|
“Masa?
Waduh. Kok kalian gak bilang sih?”
|
|
Kaduno:
|
“Kalau
kami bilang, nanti kalian malah gak mau berangkat lomba.”
|
|
Mas
Mat:
|
“Ya
udah, semua. Ayo kita berdoa saja. Sebentar lagi tim kita tampil. Kalau
memang keajaiban diizinkan terjadi, maka dia pasti datang. Kalau tidak, mari
kita persembahkan piala kita untuknya!”
|
|
Gopat:
|
“Kalau
kita dapat piala, akan kupukulkan ke kepala anak itu!”
|
Mereka berdoa, giliran mereka
tiba. Mereka pun berjalan menunduk ke arah panggung. Sebuah suara mengagetkan
mereka.
|
Suara:
|
“Ehem-ehem,
kalian kok cuma berlima? Perasaan kemarin-kemarin kalian latihannya berenam?”
|
Ternyata
itu suara guru mereka, Pak Yono.
|
Daspa:
|
“Eh,
selamat pagi, Pak Yono. Mohon maaf, Pak. Sasli sepertinya tidak bisa tampil.
|
|
Pak
Yono:
|
“Oh,
begitu. Tumben anak itu. Ya sudah. Sukses, ya.”
|
|
Kaduno,
Daspa, Gopat, Sandas, Nomia:
|
“Siap,
Pak. Terima kasih!”
|
Akhirnya
mereka naik ke panggung. Sorak sorai tepuk tangan
menyambut mereka, namun hanya ketegangan dan rasa pasrah yang terpancar dari
wajah mereka.
|
Sasli:
|
(berteriak
sekuat tenaga) “WOIII!! JANGAN TINGGAL AKU! AKU BELUM MATI! JANGAN PASANG
WAJAH BELASUNGKAWA!”
|
Semua
orang terkejut. Semua orang menoleh. Semua orang melihat
seorang laki-laki berkeringat yang nafasnya tersengal sengal menggenggam sebuah
gitar kecil. Gitar kecil milik perempuan.
Sasli berlari maju. Melompat menaiki panggung.
Tak berkata-kata lagi, mereka mulai bermain.
Dan tidak mendapat juara 1.
|
Kaduno:
|
“Hei,
Sasli. Kau lihat piala ini? Piala juara tiga ini?”
|
|
Sasli:
|
“Iya,
kenapa?”
|
BHUAK!!
|
Sasli:
|
“Kamu
ngajak ribut, Dun?”
|
|
Gopat:
|
“EHEM!”
|
PLAKK!!
|
Sasli:
|
“Sialan!
Kalian berdua kenapa, sih?”
|
|
Daspa:
|
“Kalau
kapten pergi, tentu awak kapal akan gusar.”
|
|
Sasli:
|
“Kapten?
Kapten bajak laut?”
|
|
Gopat:
|
“Kamu
pergi tanpa kabar, gitarmu dibuang ayahmu. Mana bisa kami tenang?”
|
|
Kaduno:
|
“Kamu
gak sadar kalau tim ini bisa ada karena kamu. Sekalinya kamu hilang, semua
gak akan tenang.”
|
|
Nomia:
|
“Terus
Mas Sasli kok tiba-tiba bisa ke sini?”
|
|
Sasli:
|
“Tadi
aku nekat ngelawan Ayahku, terus kabur. Aku tia-tiba ketemu Elis di mimpi.
Akhirnya aku bawa gitar ini ke sini.”
|
|
Gopat:
|
“Elis
kan sudah hilang.”
|
|
Daspa:
|
“Ya
udah. Kita gak juara satu, lho. Malu sama Mas Mat. Janji janji ternyata gak
bisa menepati.”
|
|
Mas
Mat:
|
“Kalian
sih banyak omong. Tapi gapapa. Setidaknya kalian punya kisah sendiri. Toh
kalian ya dapat piala. Untuk Kaduno, Gopat, Daspa, Sandas, dan Sasli. Kalian
berhasil menciptakan kenangan indah di tahun terakhir kalian sekolah. Lalu,
Nomia, kamu harus bisa membentuk tim yang lebih hebat tahun depan.”
|
|
Sasli,
Kaduno, Daspa, Gopat, Sandas, Nomia:
|
(menangis
tersedu-sedu) “Shabthu rhwenaang! Dhaaal!
Huaaa!!!
|
Mereka
semua larut dalam sukacita dan haru.
Suara
wanita:
|
“Permisi,
itu gitarku, ‘kan?”
|
Suara
wanita mendadak memecah tangis mereka. Semuanya lantas menoleh ke arah sumber
suara. Hanya Sasli yang hanya tertunduk dan terbelalak, tak menoleh.
|
Wanita:
|
“Anu,
kamu Sasli, ya? Iya kan?”
|
|
Kaduno:
|
“Kamu....
Ah!”
|
|
Daspa:
|
“Penyanyi
SMA Bintang Merah....si juara 1.”
|
|
Gopat:
|
“Dia
pasti mau menghina kita yang cuma juara 3.”
|
|
Sandas:
|
“Sepertinya
aku pernah ketemu kamu, deh”
|
|
Wanita:
|
“Yap,
aku Elis. Kamu Sandas, teman SD-ku. Sama Sasli juga. Itu beneran Sasli apa
bukan, ya? Kalau bukan, kok gitarku dulu ada di dia, ya?
|
|
Sasli:
|
(menoleh
ke arah Elis dengan tatapan tidak percaya) “Iya, aku Sasli. Ini gitarmu. Aku
sudah menepati janjiku padamu. Kukira kamu sudah menghilang. Ini gitarmu
kukembalikan.”
|
|
Elis:
|
“Tapi
ini aku yang juara 1, lho. Syukur deh kalau kamu masih main musik sampai
sekarang. Aku cuma mau menyapa sekaligus bilang kalau mungkin kamu yang
sekarang tidak cocok lagi jadi pengiringku. Ya udah, bawa aja gitarku itu.
Daaah..”
|
|
Sasli:
|
(terdiam)
|
|
Daspa:
|
(geram)
“Iiihhh, sombong amat, sih. Mentang-mentang juara 1. Dasar anak orang kaya.
Kalau aku masih kelas 2, kubalas dia tahun depan.”
|
|
Nomia:
|
“Udah,
Mbak. Biar saja. Toh masih ada aku, Septi, dan Melati buat balas dendam.”
|
|
Gopat:
|
“Tapi
kan yang mau kamu balas udah lulus.”
|
|
Nomia:
|
“Ya
adik-adiknya yang dibalas.”
|
|
Sasli:
|
“Ahahaha,
terima kasih, teman-teman. Kelak biar kubalas sendiri dia.”
|
|
Kaduno:
|
(sambil
menguap) “Kalau aku, sih...bodo amat!
Yuk,
semuanya! Kita makan bakso sepuasnya!!!”
|
Mereka semua kembali dengan
perasaan bahagia. Berjalan bersama meninggalkan lokasi
lomba. Perasaan lega dan bangga menyelimuti mereka. Jerih lelah dan pengorbanan
mereka terbayar tuntas.
Dengan
Sasli yang berjalan lambat di belakang..
|
Sasli:
|
(Langkahnya
terhenti. Ia menoleh ke belakang. Melihat ke arah tim juara 1, ke arah Elis.
Dengan suara pelan) “Elis, hanya dirimu. Hanya dirimulah alunan musikku.”
(mengangkat
tinggi-tinggi piala dan gitar Elis)
“Sekarang
dan seterusnya, akan kutulis dan kumainkan musikku sendiri. Terima kasih, Elis.”
|
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi