NASKAH DRAMA SEPETIK NADA DARI KAMI


SEPETIK NADA DARI KAMI
Oleh Cornelius Singgih
Tema: Bangkitnya perjuangan yang telah hancur.
Alur cerita: Alur maju
Judul: Sepetik Nada dari Kami
Tokoh:
1.      Gopat
-Siswa kelas XII-IBB, pemain bass, pacar Daspa. Memiliki ikatan khusus dengan Sasli. Sulit fokus.
2.      Sasli
-siswa kelas XII-IBB, pemain gitar. Memiliki ikatan khusus dengan Gopat. Mengikuti lomba demi dua janji. Suka mengatur, peduli, mudah terjebak masa lalu.
3.      Daspa
-siswa kelas XII-IBB pemain gitar, pacar Gopat. Sensitif dan tegas.
4.      Kaduno
-siswa kelas XII-IBB pemain perkusi. Mudah bergaul, pintar membaca situasi.
5.      Sandas
-siswa kelas XII-MIA 5 vokal, teman SD Sasli. Penyanyi top di sekolah. Lembut, diam-diam sombong.
6.      Nomia
-siswa kelas X-IBB vokal. Sahabat Septi. Polos, mudah panik dan khawatir.
7.      Melati
-siswa kelas X-IIS 1 pemain biola. Kaku, namun memiliki tekad kuat.
8.      Septi
-siswa kelas X-IBB vokal. Sahabat Nomia. Sensitif, mudah menangis.
9.      Mas Mat
-alumni IBB, pelatih tim akustik tahun ini. Pengamat yang baik, mampu mengarahkan adik-adiknya untuk selalu bersemangat.
10.  Elis
-Teman masa kecil Sasli. Motivasi Sasli untuk bermain musik. Tiba-tiba menghilang, muncul kembali secara tak terduga.
Sinopsis:
Jurusan Bahasa SMAN Baktiku Harapanmu setiap tahun selalu mengikuti lomba. Salah satu mata lomba adalah akustik. Sebuah tim beranggotakan Gopat, Sasli, Daspa, Kaduno, Nomia, Melati, dan Septi mengajukan diri untuk maju. Lomba ini amat berarti khususnya bagi Gopat, Daspa dan Sasli. Bagi mereka, ini adalah penggenapan janji tahun lalu. Janji yang mereka buat ketika mereka melihat Mas Mat dan kawan-kawan berhasil menyajikan musik yang amat indah dan memenangi lomba itu. Bagi Sasli, bukan Cuma ini alasan ia harus menang. Ia juga telah mengikat janji kepada Elis, wanita yang membuatnya jatuh cinta pada musik, meski kini telah dapat ditemuinya lagi.
Kini mereka memikul janji itu dengan tim yang terbentuk. Namun, kemampuan, pengalaman, dan mentahnya emosi mereka amat menghambat jalannya penggenapan janji itu. Tak hanya sekali atau dua kali mereka dibuat menangis. Janji telah terucap dan tercatat dalam buku di langit. Tentu wajib sangat bagi mereka untuk mewujudkannya. Mereka sempat hancur lebur. Namun bisa bangkit melebihi apa yang mereka harapkan
Naskah drama:
Siang menjelang sore, di sebuah kelas kosong semua anggota tim selain Melati menjalani latihan mereka yang entah telah keberapa. Namun, tidak ada yang memainkan alat musik.
Gopat:
“Ayolah, kita bisa ngomong baik-baik soal ini. Kamu jangan tiba-tiba minta keluar gini.”
Daspa:
(setengah berteriak) “Kamu gak baca juklaknya tadi? Yang boleh maju maksimal enam orang! Bisa baca gak kamu?’
Gopat:
“Iya, tapi kan kita bertujuh sudah latihan lama. Dua bulan gak sebentar, lho. Masa kamu mau ninggal?”
Daspa:
“Aku tahu. Aku tetap maju lomba di Surabaya. Tapi kalau yang di Malang, kalian harus pilih satu. Dua pemain melodi akan mubazir kalau yang maju hanya enam orang. Pilih dia saja! Suruh dia ikut dua-duanya!”
Gopat:
“Tapi aku maunya main sama kamu!”
Daspa:
“Udahlah.” (Keluar kelas)
Gopat:
(terdiam sejenak, kemudian mengejar Daspa)

Sasli:
(Berkali-kali menghela nafas sambil mengangkat alis) “Haaaah, kenapa sih, di saat buntu begini malah ada kejadian begini.”
Nomia:
“Iya, mas. Padahal kita cuma mau meringkas anggota.”
Sasli:
“Aduh, apa dosaku, sih? Bener, memang kita belum tahu si Melati main biolanya gimana. Kita harusnya bisa ngomong baik-baik.”
Kaduno:
“Lha terus ini gimana? Gimana kalau kita suruh Dik Melati ngiringi kita main lagu wajib untuk lomba yang di Malang dulu. Nanti baru kita putuskan ambil dia atau nggak untuk lomba di Malang. Tergantung Daspa juga sih nanti.”
Nomia:
“Boleh itu, Mas.”
Sasli:
“Kalau aku, sih, lepas dari fakta kalau aku temannya Daspa, lebih milih Daspa aja, deh.”
Kaduno:
“Lho, kok gitu?”
Sasli:
“Gini, kita semua tahu, ‘kan, mainnya Melati gimana. Dia sering meleset. Apalagi biola gak ada fretnya, stemnya susah pula. Terus, karena aku sendiri gitaris dan lebih paham soal gitar, meski si Daspa belum siap untuk berkreasi sendiri, aku masih bisa bimbing. Ada Mas Mat juga. Kalau pemain biola, siapa nanti yang bimbing?”
Nomia:
“Bener. Aku setuju. Kamu kok diem terus?” (sambil mencolek Septi)
Septi:
“Anu, aku ngikut aja. Tapi kasian Mbak Daspa. Dia udah kelas 12. Tahun depan gak bisa ikut lagi. Apalagi yang di Malang ini lombanya gede.”
Sasli:
(bergumam sendiri) “Dan ini untuk janji kami.”
(tiba-tiba berteriak memukul meja) “BANGSAT! GAK PERLU DRAMA GINI BISA GAK! LATIAN AJA WOI WAKTUNYA GAK BANYAK! SIALAN SEMUA!”
Mas Mat:
(tersenyum sinis, menggeleng-gelengkan kepala melihat adik-adiknya melakukan hal bodoh)
Sasli dan Gopat diam-diam berkonsultasi pada guru pembimbing mereka. Setelah mengutarakan alasan dan mendapat nasihat, mereka siap menyampaikan keputusan pada tim.
Sasli:
“Eh, Melati! Sini sebentar, aku mau ngomong sesuatu tentang tim kita.”
Melati:
“Ada apa, Mas? Kok rasanya serius banget?”
Sasli:
“Anu, kemarin ada pertimbangan gini-gitu pas kamu gak ikut latihan.”
Melati:
“Kenapa, Mas? Kalian nggosip, ya?’
Sasli:
“Enggak kok. Kamu udah lihat juklak lomba yang di Malang kan?”
Melati:
“Iya, udah. Lombanya tanggal 12 kan? Waktunya gak banyak, lho”
Sasli:
“Tapi bukan itu. Kan di situ katanya maksimal enam orang tiap tim. Kemarin, kami bingung mau ambil kamu atau Daspa. Kalian kan posisinya sama. Nah, setelah konsul sama Pak Upi, kami jadinya ngambil Daspa aja.”
Melati:
“Lho tapi kan aku udah latihan. Gak sebentar lo latihanku. Masa aku tiba-tiba gak jadi ikut lomba? Aku bilang apa nanti ke bapak ibuku?”
Sasli:
“Kamu tetap ikut yang di Surabaya, kok. Cuma yang di Malang aja...”
Melati:
(murung, menahan tangis) “Udahlah, gak latihan kah ini?”
Mereka berlatih dan berlatih. Namun jalannya latihan mereka amat kaku. Suasana hampir selalu canggung. Sangat sulit bagi mereka mendapatkan inspirasi di saat seperti ini.
Hanya beberapa waktu sebelum lomba mereka mampu melupakan masalah itu. Sayangnya, itu sudah terlambat untuk menyatukan perasaan sebagai sebuah tim. Lomba pertama mereka jalani.
Kaduno:
“PARA PEJUANG, SABTU RENANG....”
Sasli, Gopat, Daspa, Kaduno, Melati, Septi, Nomia:
“DHAL!” [BERANGKAT!]
Mereka bermain dengan perasaan senang. Sungguh ekspresif. Namun, permainan mereka hancur. Nada gitar dan biola tidak serasi, tempo melambung tinggi dan tak kembali, penyanyi grogi setengah mati.                                                                                                                                      
Kaduno:
(menunduk lesu) “Setelah semua ini, kita tidak menang?”
Sasli:
(menangis, tak mampu berkata-kata)
Gopat:
“Kalian pikir ini salah siapa? Aku sudah melakukan semua yang kumampu. Tapi apa yang kalian lakukan?”
Daspa:
“Ini salahku. Pokoknya salahku. Udah kalian gak usah bacot.”
Gopat:
“Jangan salahkan dirimu sendiri! Ini salah semua.”
Kaduno:
“Lho! Jaga omonganmu! Kau pikir semua ini gara-gara siapa?”
Sasli:
“Setuju! Siapa yang bikin drama?”
Daspa:
“Aku. pokoknya aku.”
Septi:
“Udah, Mbak. Jangan nyalahkan diri sendiri terus.”
Nomia:
“Iya. Gapapa yang penting kita semua udah berusaha.”
Kaduno:
“Tapi liat. Ingat, sudah berapa kali kita latihan sia-sia? Berapa kali latihan kita gak bisa lancar?”
Gopat:
“Hei, ayo kita adu pukul saja untuk membuktikan siapa yang benar.”
Septi:
“Udah, Mas, Mbak. Kita kan masih punya lomba satunya.”
Sasli:
“Alah sudahlah. Kalian mau bayar kekalahan ini dengan kemenangan atau tidak?”
Kaduno:
“Ya iya dong. Tapi gimana mau menang kalau mainmu drama terus? Ini bukan lomba bermain peran. Ini akustik! Kita hanya bisa menang dengan suara!”
Gopat:
“Iya, tapi harus sama Daspa.”
Sasli:
“Aku kan udah bilang. Melati gak keberatan kan?”
Melati:
(dengan nada ketus) “Gapapa!”
Septi:
(berbicara pelan dan lirih. Sambil terisak) “Aku ikut ‘kan, Mas?”
Sasli:
“Hm”
Daspa:
“Gak. Aku gak mau. Nanti malah ada drama lagi. Cukup sudah. Aku akan nonton kalian, tapi aku tidak mau ikut tampil.”
Gopat:
“Jangan giru, dong. Kalau kamu tidak mau tampil, aku juga tidak tampil!
Kadunio:
“Kalian bisa niat gak? Kalau udah gak niat main mending gak usah lomba aja sekalian. Gak usah menggenapi janji-janji apalah itu. Malu mengemban janji kalau kebanyakan drama. Lomba akustik itu butuh aransemen, gak butuh drama!”
Sasli:
“Meski kalian tidak ikut, aku akan tetap maju meski sendirian. Bisar saja sekalian aku terlihat konyol daripada konyol sungguhan bersama tim konyol ini!”
Nomia:
“Enggak, Mas. Aku juga bakal ikut. Aku sudah bertekad. Aku gak bisa mundur sekarang.”
Septi:
“Aku juga bakal ikut, Mas.”
Sasli:
“Pat, Pa. Pikir lagi. Melati juga udah aku suruh mundur ‘kan? Aku udah bilang ke  Mas Mat dan Pak Upi. Gak bisa ditarik lagi.”
Gopat:
“Serah. Gatau gimana nanti.”

Kemudian mereka semua kembali ke rumah masing-masing. Sungguh senyap, tanpa saling bercakap. Wajah ceria palsu mereka berakhir di panggung. Di mana mereka bersandiwara di atas panggung yang bukan untuk sandiwara.
Waktu untuk peperangan sesungguhnya kurang dari dua minggu dan mereka sama sekali belum melangkah.
Sasli:
“Teman-teman, begini. Kita semua tahu kenapa kemarin kita kalah. Kalian semua sudah lihat video penampilan kita. Hancur, bukan?”
Kaduno:
“Iya, gara-gara sepasang selebritis ini. Bikin drama pinter bener.”
Gopat:
“Mulai lagi? Hanya mulut saja yang kau tonjolkan, mau kutonjok.
Septi:
(berteriak, biasanya diam) “Mas Pat, Mas Kad, sudah!”
Daspa:
(menarik baju Gopat) “Udah. Biar Sasli ngomong dulu. Kamu kok selalu gini sih?”
Gopat:
“Huh!”
Sasli:
“Udah selesai sesi debatnya?”
Kaduno:
“Gak didebat gak bisa bener nih anak.”
Melati:
“Ehem!”
Semua terdiam
Sasli:
“Nah, sesuai ketentuan, lomba yang akan datang ini mewajibkan tiap tim maksimal 6 orang saja. kita ada 7, artinya ada satu yang harus tidak ikut. Melati, kamu yakin sudah bersedia, ‘kan?”
Melati:
“Iya, kak. Gapapa. Aku sudah bilang juga ke orang tuaku.”
Sasli:
“Bagus, jadi gini, kemarin aku kepikiran. Gak usah pakai basa-basi.
Gopat:
“Tuh, denger! Gak usah ada drama lagi lah ya. Kita mau menang akustik atau drama?”
Daspa:
“Pokoknya kamu jangan ngatur terus.”
Kaduno:
“Drama kalian bagus. Gak pingin ikut lomba drama atau teater gitu? Biar peluang menangnya tinggi. Kalau aku sih beraninya di akustik. He he he.”
Sasli:
“Yang main musik cuma kita berdua dong.”
Nomia:
“Mas, mas! Udah lah. Mas Sasli kok malah ikutan. Katanya mau ngomong.”
Sasli:
“Iya, iya, maaf. Bercanda. Nah, kalian kan sudah tahu kita kumpul ini ada apa. Nah, aku kemarin sudah bilang ini itu sama Mas Mat, minta pertimbangan. Mas Mat, silakan. Sampean kan lebih bisa ngomong, hehe.”
Mas Mat:
“Ya, eemmm. Jadi gini, aku tahu kondisi tim kalian gimana. Apalagi setelah kalian tampil di lomba yang sesungguhnya. Aku gak mau banyak cerocos, Septi, kamu gak usah ikut lomba, ya?”
Septi:
“Eh, kenapa, Kak?”
Nomia:
“Gimana, gimana?”
Kaduno:
“Uwaw, hore drama lagi hahahaha!”
Gopat:
“Waduh, Sasli, kamu ngomong apa sih ke Mas Mat? Mas Mat juga, dibayar berapa sama Sasli? Kok tiba-tiba gini?”
Mas Mat:
“Aku mana mau makan uang kotor gitu? Sasli memang awalnya gak meyakinkan, tapi setelah aku cermati penampilan kalian, aku tahu kelemahan kalian yang hanya bisa diatasi dengan cara ini.”
Nomia:
(dengan nada tinggi) “Mas, lombanya besok lusa, lho! Latihannya juga kan selalu sama Septi.”
Septi:
“Mas, kenapa? Ada apa? Kalau aku gak bagus, semalaman aku latihan, deh.”
Sasli:
“Percuma, Sep. Kamu pikir latihan semalam cukup buat mengatasi kelemahanmu?”
Septi:
“Ya, aku coba dulu, siapa tahu.....”
Sasli:
“Gak usah. Maaf, ya.”
Gopat:
“Dulu Melati, sekarang Septi. Ini kalau lombanya ada lima, bisa bisa semua kamu keluarkan.”
Daspa:
“Kalau kamu ngeluarkan Septi, Yang nyanyi siapa? Masa Cuma satu? Katanya kamu pinter musik, kok gak tahu ya kalau dua vokal bisa lebih baik dan saling menopang? Mas Mat juga. Mas kan pelatih. Kok mau sih disetir sama yang dilatih?”
Sasli:
“Tenang dulu. Aku gak asal buat keputusan. Aku juga mikir. Aku tahu orang yang bisa menggantikan Septi dan mengatasi kelemahan tim kita ini.”
Kaduno:
“Gini, Sas. Kamu tadi bilang kalau mustahil bisa mengatasi kelemahan hanya dalam semalam, tapi kamu malah mau nunjuk orang baru. Apa gak malah susah?”
Mas Mat:
(Menghela nafas) “Yah, gimana kalau kita coba lihat dulu kemampuannya bagaimana. Kurasa dia juga udah familiar sama lagunya. Dia kan ikut lintas minat bahasa Jerman juga.”
Sasli:
(Mengambil ponsel dari tas) “Kalian tenang dulu, aku panggil anaknya. Sep, pulang aja, ya, kamu. Latihan yang banyak buat tahun depan. Makasih.”
(Keluar meninggalkan teman-temannya untuk menelpon)
Septi:
(menangis) “Aku gak tau lo salahku apa.”
Nomia:
(memeluk dan mengelus Septi) “Iya, tahun depan kita balaskan dendammu ini”

Sasli masuk kembali setelah menelpon di luar. Yang dihadapinya adalah wajah-wajah penuh tanya dan kesal.
Sasli:
(cengar-cengir namun agak merasa sungkan) “Anu, kenapa kalian tegang begitu? Kita santai saja. tapi tetap mempersiapkan untuk besok lusa.”
Kaduno:
(menghembuskan nafas) “Sas, kita libur aja ya untuk hari ini. Anak-anak juga kelihatan masih butuh istirahat. Toh kita juga udah latihan, tinggal moles dikit-dikit lagi kan? Si vokal baru itu kalau mau gabung, suruh besok aja.”
Sasli:
(dengan nada pelan) “Iya, tapi waktu kita gak banyak lo.”
Nomia:
“Iya, Mas. Semuanya tahu, kok. Di rumah juga semua pasti latihan. Hari ini aku mau menemani si Septi ini dulu. Asalkan semua tetap solid latihan dan berdoa, niscaya tetap berani jamin bagus, kok.”
Gopat:
“Iya, Sas. Nanti kita ngops aja. Kamu jelaskan kalau memang ada yang perlu kamu jelaskan.”
Sasli:
“Ya udah. Tapi besok latihannya sampai mampus, ya! Aku akan hubungi lagi si vokal baru. Sep, kutunggu mainmu tahun depan, ya.”
Mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Sasli menenteng gitarnya dengan langkah lemas. Ia tahu dibuang seperti itu menyakitkan. Namun, hatinya tak mampu memutuskan. Meski sebenarnya ia merasa begitu bersalah.
Sasli berjalan memutar, makin jauh dari jalannya pulang. Demi menghilangkan kepenatan hatinya, ia berjalan tanpa arah sebelum akhirnya kembali ke jalan pulang waktu hari makin gelap.
Di rumah Sasli, ayah Sasli membukakan pintu dengan air muka yang membuat hati makin gentar.
Ayah Sasli:
(suara dalam, nada berat) “Sasli. Enak ya jadi seniman musik. Tidak perlu belajar, asal main musik saja kau sudah senang. Nilai merah tapi masuk rumah hampir malam dan masih pakai seragam. Keren sekali kamu bawa gitar juga. Anakku memang top!
Sasli:
(tubuhnya gemetar, tak mampu menjawab)
Ayah Sasli:
(mendekat ke arah Sasli) “Kok diem? Musisi kok gak bunyi? Udah bisa dapat nilai bagus? Pulang malam gini dari mana? Ngamen?”
Sasli:
(ragu untuk menjawab, suaranya keluar namun bergetar) “Ndak, Yah. Tadi..”
Ayah Sasli:
(dengan suara keras dan nada tinggi) “HALAH! AYAH TAHU KAMU GAK MUNGKIN MAU BELAJAR SAMPAI PETANG BEGINI! KAMU MAIN-MAIN MUSIK TERUS!”
Sasli:
“Iya,Yah. Soalnya ada lomba.”
Ayah Sasli:
“Lomba, lomba. Ayah tidak peduli! Kalau kamu goblok nanti mau jadi apa? Ngamen terus? Ndak usah musik-musikan lagi. Gitarmu jual saja!”
Sasli:
“Kali ini aja, Yah. Tolong.”
Ayah Sasli:
(merebut gitar Sasli) “Ndak sekali-sekalian! Sini gitarmu! Kamu masuk kamar!”
Sasli
(tak mampu melawan ayahnya, membiarkan gitarnya diambil) “Maaf, Yah.”

Sasli pun masuk ke kamar. Meski tak menangis, namun hatinya tersayat. Setelah dihadapkan pada pilihan antara kawan atau kemenangan yang tak pasti, kini ada sebuah dinding tebal yang tak berani ia lewati, yaitu ayahnya sendiri.
Sasli:
(Berjalan lemas mondar-mandir di kamar) “Oh sungguh tak indah perjalananku. Terlalu banyak mengucap janji namun tak dapat menepati satu pun. Lalu, besok bagaimana? Tak akan mampu kupandang wajah temanku tanpa membawa gitar. Aku yang selalu sok memimpin, sok mengatur. Aku tahu mereka pun sebenarnya kesal. Tapi aku tidak membenci siapa pun. Dapatkah kulepas semua belenggu ini dan menghadapi semuanya? Juga padamu, Elis. Aku tak mampu menemuimu sekarang. Namun apa artinya kutemui dirimu bila tak ada apapun yang mampu kuraih?”
(ia mulai lelah, makin lesu. Akhirnya membaringkan tubuh di kasur) “Yah, kesusahan besok biarlah diselesaikan oleh diriku yang ada di hari esok.
(tanpa sadar ia menangis lalu terlelap)

Keesokan harinya, Sasli tidak mampu menghadapi hari baru sehingga ia tidak pergi ke sekolah.
Sepulang sekolah, tim akustik tetap berkumpul untuk berlatih meski kini tanpa Septi. Namun, lama ditunggu, Sasli pun tak terlihat batang hidungnya.
Gopat:
“Anak itu habis bikin drama lagi malah kabur rupanya.”
Daspa:
“Kemarin bilang kita biang drama, sekarang malah lari sendiri. Katanya janji. Janji bocah.”
Kaduno
(merasa ada yang tidak beres namun tetap bercanda agar suasana tidak tegang) “Wah, wah. Anak itu mungkin lagi ketagihan BAB. Emang nikmat sih.”
Mas Mat:
“Kamu salah, Dun. Dia kebanyakan mikir aransemen sampai lupa jalan ke sekolah.”
Nomia:
“Ahahaha, ya masa mikir aransemen bisa bikin orang amnesia. Tapi kok aku takut, ya. Kan Mas Sasli itu, kita semua tahu, dia yang paling banyak mikir, paling sering khawatir, dan paling sering ngajak kita buat maju pas lagi turun semangat.”
Daspa:
“Iya juga sih. Gitu-gitu dia kan gak pernah niat jahat. Eh pernah, sih. Dia kan penuh dosa hahaha!”
Gopat:
“Sepi juga ya, kalau gak ada dia. Gak ada yang nonton drama kita, nih.
Mas Mat:
“Udah, udah. Ayo latihan. Kalau ada yang susah atau ada ide baru, bilang sini. Nanti kita garap sama-sama. Hari ini sampai mampus. Gak ada yang namanya hari tenang sebelum lomba!”
Kaduno:
“Nah, dari dulu gini dong latihannya! SEMUANYA! PARA PEJUANG, SABTU RENANG,...”
Gopat,
Daspa,
Kaduno,
Nomia:
“DHAL!” [BERANGKAT!]
Mas Mat:
(dengan suara kecil namun terdengar) “Dhalo dhewe!” [Berangkatlah sendiri!]
Kaduno:
“Ya berangkat semua, Mas. Nanti Mas Mat kalau ditinggal malah nangis.”
Semua:
“Hahahahaha!”

Tak lama mereka berlatih, datanglah Sandas.
Sandas:
“Hey, hey, kalian semua! Sudah siap maju lomba?”
Gopat:
“Lhoooo, ya jelas! Ini juga lagi latihan mampus-mampusan hahaha!”
Nomia:
“Ayo sini, Mas. Dengar karya kami. Ikut nyanyi juga boleh.”
Sandas:
“Lagu Jerman kan?”
Daspa:
“Iya, kamu tahu pastinya.”
Sandas:
“Iya, kemarin Sasli bilang aku disuruh ikutan nyanyi.”
Kaduno:
(Berteriak tiba-tiba) “HAH? MAKSUDMU, KAMU DISURUH SASLI JADI VOKALIS TIM INI?”
Sandas:
“I..iya. Aduh, kalau kamu gak suka, gapapa kok.”
Gopat:
“Dun! Kamu jangan bikin Sandas jadi takut, dong!”
Kaduno:
“Hehe, maaf. Kalau yang nyanyi kamu sih, jelas diterima. Gak usah seleksi dulu! Walaupun lombanya sekarang, berani maju!”
Daspa:
“Tapi beneran, penyanyi andalan sekolah macam kamu gini, mau gabung tim ecek-ecek ini?”
Sandas:
“Halah, sama aja. Akunya yang lebih pinter gaya, makanya terkenal!”
Nomia:
“Mas Sandas disanjung malah makin sombong.”
Sandas:
“Kalau gak sombong nanti kepalanya kecil. Eh, omong-omong, aku dipanggil ke sini sama si Sasli. Tapi Saslinya mana, ya? Kok nggak kelihatan? Mas Mat juga yang kemarin bincang-bincang sama Sasli kan?”
Mas Mat:
“Mungkin dia lagi lari ke sini.”
Hari semakin gelap, sekolah semakin sepi. Namun Sasli masih tak tampak. Semua anggota tim mulai cemas.
Daspa:
“Eh, Sasli beneran gak datang, lho ini. Kalau yang gak datang si Kaduno sih aku gak kaget. Tapi ini Sasli. Dia kan gak pernah bolos latihan tanpa ngasih kabar dulu.”
Kaduno:
“Eh aku juga bilang kok kalau gak bisa latihan.”
Nomia:
“Aku takut, nih, Mas, Mbak. Jangan-jangan Mas Sasli kenapa-napa.”
Kaduno:
(menghela nafas) Teman-teman, sebenarnya, dari tadi aku sudah ada firasat gak enak. Dari kemarin malam aku gak bisa menghubungi dia. Sandas, kamu kemarin nelpon aku kan? Nah, sepertinya Sandas juga gak bisa nelpon dia. Bener?
Sandas:
“Iya, soalnya kemarin sore dia bilang mau ngajak aku lomba. Malamya kutelpon lagi. Ternyata dia gak aktif. Akhirnya aku telpon Kaduno.”
Gopat:
“Terus gimana ini? Mas Mat tahu sesuatu?”
Mas Mat:
“Eeeemmm, aku gak tau. Ya terakhir kemarin itu yang dia ajak aku ngomong soal vokalis. Setelah itu ya nggak kontak-kontakan lagi.”
Nomia:
“Waduh, aku makin khawatir.”
Gopat:
“Gini aja. Sekarang udah gelap. Yang cewek bisa pulang dulu. Mungkin aku, Mas Mat, Kaduno, sama Sandas mau ke rumahnya dulu.”
Daspa:
“Aku gak boleh ikut?”
Gopat:
“Jangan, Say. Kamu bobok ajah.”
Daspa:
“Heleh!”

Mereka berempat menuju rumah Sasli. Namun, sesampainya di rumah Sasli, mereka melihat hal yang mencengangkan.
Gopat:
“Wah, parah ini.”
Kaduno:
“Sudah kuduga, ada yang tidak beres!”
(mulai berteriak)
“SAAAS!! SASLI! KELUAR! JANGAN DIPENDAM SENDIRI!!”
Gopat:
(menarik lengan Kaduno, memukul kepalanya) “Hei! Ngawur kamu! Kamu lupa ya bapaknya Sasli macam apa?”
Kaduno:
“Aku tahu. Tapi lihat. Kamu gak sadar yang dibuang dan hancur itu gitarnya siapa? Gak mungkin gitarnya Sasli kondisinya bisa gitu kalau gak ada apa-apa! Ya, nggak?”
Mas Mat:
“Ini sih jelas banget ada masalah. Daripada tambah besar, mending kita pulang dulu. Anu, Sandas masih belum bisa menghubungi?”
Sandas:
(mencoba menghubungi Sasli) “Ini malah ndak aktif, Mas.”
Mas Mat:
“Ya udah, pokok kita tenang dulu. Jangan sampai yang lain tahu biar ndak malah jadi masalah. Tetep coba hubungi, ya.”
Kaduno:
“Aku gak bisa tenang, Mas.”
Gopat:
“Udahlah. Kita langusng ketemu aja besok di tempat lomba. Aku yakin Sasli akan datang!
Mereka pulang tanpa mendapat apa-apa. Mereka hanya bisa berharap dan berdoa agar masalah ini bisa selesai sebelum lomba esok pagi.
Keesokan harinya. Semua telah berkumpul di tempat lomba dan mendapat nomor urut tampil. Namun, Sasli belum juga muncul.
Nomia:
“Mas Sasli kemarin gimana?”
Kaduno:
“Anu.. Aduh cantiknya..”
Sandas:
(menyahut omongan Kaduno) “Dia kemarin lupa latihan. Tapi nanti dia datang kok.”
Kaduno:
(menggoda wanita di lokasi lomba) “Mbak, manis banget. Mau foto bareng gak?”
Mas Mat:
“Ini gitarnya sudah disetel semua? Bassnya? Terus perkusinya? Woi Kaduno, jangan cari cewek terus!”
Kaduno:
“Eh, iya. Maaf. Insting seorang pria.”
Gopat:
“Dasar jelalatan.”
Daspa:
“Sasli edaaaan, kok dia masih sembunyi aja sih. Masa dia mau gak dateng?”
Nomia:
“Udah, mbak, positif aja. Dia pasti dateng.”
Daspa:
“Kalau gak dateng nanti kita hancurkan dia sama-sama.”

Sementara itu, Sasli yang tenggelam dalam tekanan dan berkali-kali menangis lalu tertidur, mendapatkan sebuah mimpi. Ia bertemu Elis.
Sasli:
(tersentak, terbangun dari tidur. Melihat jam dan teringat lomba) “Sial! Apa yang kulakukan dua hari ini? Aku seharusnya tidak menyerah demi janjiku pada diriku sendiri dan Elis.”
(tiba-tiba ia tertegun) “ELIS! Gitarku memang telah dibuang! Tapi aku masih menyimpan gitar kecil milik Elis!
Sasli mencari gitar Elis di seluruh kamarnya. Ia mencarinya hingga semua berserakan. Akhinya ia menemukannya. Ia bergegas menuju lokasi lomba meski jelas telah terlambat. Namun, ayahnya masih menjadi dinding yang harus ia hadapi.
Sasli:
(menenteng barang dengan pakaian tidak rapi. Bertemu ayahnya di teras) “Yah, maaf. Aku harus pergi. Hanya kali ini! Ayah pernah mengajarkan padaku bahwa seorang lelaki tak boleh menarik kata-katanya, bukan? Kalau memang Ayah ingin aku jadi laki-laki yang hebat, tolong setindaknya izinkan aku pergi kali ini saja!”
Ayah Sasli:
(tertegun sesaat melihat anaknya berani tegas) “Apa jaminannya?”
Sasli:
“Kemenangan!”
Ayah Sasli:
“Kalau kau tidak bisa menepati kata-katamu sendiri, bunuh saja semua rasamu kepada musik!”
Sasli:
“Akan kubawa kemenangan pada Ayah!”
(berlari pergi)
Sementara itu di lokasi lomba, semuanya sedang panik. Giliran merayap kian mendekat.
Kaduno:
(menghela nafas. Dengan nada lesu dan ekspresi pasrah) “Ah, sudahlah. Tidak ada artinya menunggu Sasli.”
Nomia:
“Mas Sasli kenapa, sih?”
Gopat:
“Kemarin waktu kami ke rumahnya, kami lihat gitar Sasli hancur dan dibuang di depan rumahnya. Kamu bisa simpulkan bagaimana situasinya.”
Daspa:
“Masa? Waduh. Kok kalian gak bilang sih?”
Kaduno:
“Kalau kami bilang, nanti kalian malah gak mau berangkat lomba.”
Mas Mat:
“Ya udah, semua. Ayo kita berdoa saja. Sebentar lagi tim kita tampil. Kalau memang keajaiban diizinkan terjadi, maka dia pasti datang. Kalau tidak, mari kita persembahkan piala kita untuknya!”
Gopat:
“Kalau kita dapat piala, akan kupukulkan ke kepala anak itu!”
Mereka berdoa, giliran mereka tiba. Mereka pun berjalan menunduk ke arah panggung. Sebuah suara mengagetkan mereka.
Suara:
“Ehem-ehem, kalian kok cuma berlima? Perasaan kemarin-kemarin kalian latihannya berenam?”
Ternyata itu suara guru mereka, Pak Yono.
Daspa:
“Eh, selamat pagi, Pak Yono. Mohon maaf, Pak. Sasli sepertinya tidak bisa tampil.
Pak Yono:
“Oh, begitu. Tumben anak itu. Ya sudah. Sukses, ya.”
Kaduno, Daspa, Gopat, Sandas, Nomia:
“Siap, Pak. Terima kasih!”
Akhirnya mereka naik ke panggung. Sorak sorai tepuk tangan menyambut mereka, namun hanya ketegangan dan rasa pasrah yang terpancar dari wajah mereka.
Sasli:
(berteriak sekuat tenaga) “WOIII!! JANGAN TINGGAL AKU! AKU BELUM MATI! JANGAN PASANG WAJAH BELASUNGKAWA!”
Semua orang terkejut. Semua orang menoleh. Semua orang melihat seorang laki-laki berkeringat yang nafasnya tersengal sengal menggenggam sebuah gitar kecil. Gitar kecil milik perempuan.
Sasli berlari maju. Melompat menaiki panggung. Tak berkata-kata lagi, mereka mulai bermain.
Dan tidak mendapat juara 1.
Kaduno:
“Hei, Sasli. Kau lihat piala ini? Piala juara tiga ini?”
Sasli:
“Iya, kenapa?”

BHUAK!!
Sasli:
“Kamu ngajak ribut, Dun?”
Gopat:
“EHEM!”
PLAKK!!
Sasli:
“Sialan! Kalian berdua kenapa, sih?”
Daspa:
“Kalau kapten pergi, tentu awak kapal akan gusar.”
Sasli:
“Kapten? Kapten bajak laut?”
Gopat:
“Kamu pergi tanpa kabar, gitarmu dibuang ayahmu. Mana bisa kami tenang?”
Kaduno:
“Kamu gak sadar kalau tim ini bisa ada karena kamu. Sekalinya kamu hilang, semua gak akan tenang.”
Nomia:
“Terus Mas Sasli kok tiba-tiba bisa ke sini?”
Sasli:
“Tadi aku nekat ngelawan Ayahku, terus kabur. Aku tia-tiba ketemu Elis di mimpi. Akhirnya aku bawa gitar ini ke sini.”
Gopat:
“Elis kan sudah hilang.”
Daspa:
“Ya udah. Kita gak juara satu, lho. Malu sama Mas Mat. Janji janji ternyata gak bisa menepati.”
Mas Mat:
“Kalian sih banyak omong. Tapi gapapa. Setidaknya kalian punya kisah sendiri. Toh kalian ya dapat piala. Untuk Kaduno, Gopat, Daspa, Sandas, dan Sasli. Kalian berhasil menciptakan kenangan indah di tahun terakhir kalian sekolah. Lalu, Nomia, kamu harus bisa membentuk tim yang lebih hebat tahun depan.”
Sasli, Kaduno, Daspa, Gopat, Sandas, Nomia:
(menangis tersedu-sedu) “Shabthu rhwenaang! Dhaaal!
Huaaa!!!
Mereka semua larut dalam sukacita dan haru.

Suara wanita:
“Permisi, itu gitarku, ‘kan?”
Suara wanita mendadak memecah tangis mereka. Semuanya lantas menoleh ke arah sumber suara. Hanya Sasli yang hanya tertunduk dan terbelalak, tak menoleh.
Wanita:
“Anu, kamu Sasli, ya? Iya kan?”
Kaduno:
“Kamu.... Ah!”
Daspa:
“Penyanyi SMA Bintang Merah....si juara 1.”
Gopat:
“Dia pasti mau menghina kita yang cuma juara 3.”
Sandas:
“Sepertinya aku pernah ketemu kamu, deh”
Wanita:
“Yap, aku Elis. Kamu Sandas, teman SD-ku. Sama Sasli juga. Itu beneran Sasli apa bukan, ya? Kalau bukan, kok gitarku dulu ada di dia, ya?
Sasli:
(menoleh ke arah Elis dengan tatapan tidak percaya) “Iya, aku Sasli. Ini gitarmu. Aku sudah menepati janjiku padamu. Kukira kamu sudah menghilang. Ini gitarmu kukembalikan.”
Elis:
“Tapi ini aku yang juara 1, lho. Syukur deh kalau kamu masih main musik sampai sekarang. Aku cuma mau menyapa sekaligus bilang kalau mungkin kamu yang sekarang tidak cocok lagi jadi pengiringku. Ya udah, bawa aja gitarku itu. Daaah..”
Sasli:
(terdiam)
Daspa:
(geram) “Iiihhh, sombong amat, sih. Mentang-mentang juara 1. Dasar anak orang kaya. Kalau aku masih kelas 2, kubalas dia tahun depan.”
Nomia:
“Udah, Mbak. Biar saja. Toh masih ada aku, Septi, dan Melati buat balas dendam.”
Gopat:
“Tapi kan yang mau kamu balas udah lulus.”
Nomia:
“Ya adik-adiknya yang dibalas.”
Sasli:
“Ahahaha, terima kasih, teman-teman. Kelak biar kubalas sendiri dia.”
Kaduno:
(sambil menguap) “Kalau aku, sih...bodo amat!
Yuk, semuanya! Kita makan bakso sepuasnya!!!”
Mereka semua kembali dengan perasaan bahagia. Berjalan bersama meninggalkan lokasi lomba. Perasaan lega dan bangga menyelimuti mereka. Jerih lelah dan pengorbanan mereka terbayar tuntas.
Dengan Sasli yang berjalan lambat di belakang..
Sasli:
(Langkahnya terhenti. Ia menoleh ke belakang. Melihat ke arah tim juara 1, ke arah Elis. Dengan suara pelan) “Elis, hanya dirimu. Hanya dirimulah alunan musikku.”
(mengangkat tinggi-tinggi piala dan gitar Elis)
“Sekarang dan seterusnya, akan kutulis dan kumainkan musikku sendiri. Terima kasih, Elis.”



Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK