NASKAH DRAMA SESUSAH ITUKAH
SESUSAH
ITUKAH
Ida Ratnasari
TOKOH
1. Sinta:
Seorang remaja perempuan yang sederhana dan pintar. Karena kepintarannya ia
mendapatkan beasiswa untuk sekolah di sekolahan favorit dan terkenal.
2. Bapak:
Ayah dari Sinta yang pekerja keras, gigih. Ia adalah seorang pedagang asongan
yang keliling menjual minuman-minuman dingin. Tetapi karena usianya ia
menderita sakit yang memakan biaya sangat mahal.
3. Bu
Ratih: Bu Ratih adalah wali kelas di sekolah Sinta. Dia adalah seorang wali
kelas sekaligus guru yang sangat tegas. Ia tahu betapa susahnya kehidupan yang
dijalani oleh Sinta hingga Sinta mendapatkan beasiswnya.
4. Andin:
Teman sekelas Sinta yang sangat culas dan jahat. Ia selalu membully Sinta,
menyuruh Sinta untuk mengerjakan tugas-tugasnya, sehingga Sinta kehilangan
beasiswanya.
5. Lala:
Sahabat Andin suka membuat Andin semakin benci kepada Sinta. Kata-kata yang
dikeluarkan oleh Lala selalu memprofokasi untuk membully Sinta
6. Adi:
Teman Sinta saat kecil, ia pindah ke luar kota untuk ikut kedua orang tuanya.
Tetapi ketika Sinta mendapatkan kesulitan Adi selalu membantu menyelesaikan
semua masalah yang sedang Sinta hadapi.
BABAK 1
BAGIAN 1
SINAR MENTARI
MENYAPA DI PAGI HARI SEMUA ORANG-ORANG BERLALU LALANG AKAN MEMULAI
PEKERJAANNYA. DI SISI LAIN TERDAPAT SEORANG ANAK PEREMPUAN YANG HENDAK
BERANGKAT SEKOLAH
Sinta:
(memasang sepatu) “pak, aku mau
berangkat”
Bapak: “Iya nak,
hati-hati ya kamu harus sekolah yang bener jangan terpengaruh sama anak-anak
orang kaya kamu harus ngerti sama keadaan kita” (merapihkan minuman-minuman yang akan dijual)
Sinta: “iya
pak Sinta janji selalu ingat sama nasihat bapak”
Bapak: “kamu itu
sekolah dapet beasiswa jangan sampai kamu nyia-nyian beasiswa itu ya nak, upah
bapak jual asongan kamu tau sendiri berapa ya gak cukup buat bayar SPP kamu”
Sinta:
“pak, dari awal Sinta di sini niat buat sekolah bukan buat main-main pak”
Bapak:
“yasudah kamu cepat berangkat nanti telat lo!”
Sinta:
“yaudah Sinta berangkat ya Pak” (mencium
tangan bapak)
BAGIAN 2
BEL SEKOLAH BERBUNYI
SEMUA MURID BERLARIAN KE ARAH KELASNYA MASING-MASING. BU RATIH MEMASUKI KELAS
HENDAK MEMPERKENALKAN SISWI BARU YANG BARU SAJA MENDAPATKAN BEASISWA UNTUK
SEKOLAH DI SEKOLAHAN BERGENGSI TERSEBUT
Bu Ratih: (berdiri di depan kelas) “anak-anak hari
ini kelas kita kedatangan
murid
baru loh”
Anto: “cewek
apa cowok bu, kalau cewek udahlah mending gausah di kelas kita ya gak bro” (tos dengan Kiki)
Bu Ratih:
“halah apa kalian itu belajar dulu yang pinter”
Anto:
“wah jangan marah dong bu nanti cantiknya hilang bercanda dong ya”
Bu Ratih: “ya sudah
daripada kalian semua penasaran langsung saja ibu suruh masuk ya” (memanggil Sinta)
Sinta:
(berjalan mengikuti bu Ratih sembari
menunduk)
Semua Murid-Murid Memandangi Sinta Dari Atas Sampai Bawah Ada Yang Hanya Sekedar Melihat Ada Pula Yang Memandang Dengan Tatapan Merendahkan
Andin: “pasti
dia masuk ke sini karna beasiswa hallah basi!”
Lala: “nah tul
sekali, lihat aja barang-barang murahan mana mampu sekolah di
sekolah kita”
Putri:
“ngapain sih bu anak kayak dia masuk kelas kita males banget”
Bu Ratih: “kalian
bertiga diam atau ibu suruh nguras kamar mandi lagi mau” (dengan wajah sinis) sudah Sinta jangan dengarkan mereka cepat
kamu memperkenalkan diri
Sinta: (dengan suara bergetar) “hai semua,
kenalin aku Sinta aku murid baru, bener kata kalian aku bisa sekolah di sini
karena beasiswa yang aku dapet”
Andin:
pantesan norak banget tampilan kamu (senyum
mengejek)
Semua Yang Ada Di Kelas Tertawa
Bu Ratih: (dengan nada tinggi) “DIAM!!!!!!!!!!
Siapa yang suruh kalian ngomong, sudah Sinta
kamu bisa duduk di bangku yang kosong”
Sinta:
baik bu (berjalan menuju bangku yang
kosong)
BAGIAN 3
BEL
ISTIRAHAT BERBUNYI SEMUA MURID BERHAMBURAN KELUAR KELAS SINTA YANG MASIH
CANGGUNG DENGAN KEADAAN SEKOLAH YANG BARU MEMUTUSKAN UNTUK TETAP TINGGAL DI
KELAS
Andin:
“heh anak baru” (menggebrak meja Sinta)
Sinta:
“iya” (mencoba untuk tenang)
Andin:
“gini ya, karna kamu kan anak baru jadi boleh dong kita main-main sama kamu”
Lala:
“nah iya betul tuh, biar kita makin akrab” (mulai
memegang wajah Sinta)
Sinta:
“mau apa kalian” (mencoba melepaskan
cengraman tangan Lala di wajahnya)
Andin:
“La, lepasin Sinta”
Kedua Teman Andin Tidak Percaya Dengan Apa Yang
Dilakukan Andin Tidak
Biasanya Andin Seperti Itu Pada Anak Baru
Andin: “oh iya
nama kamu siapa tadi, kenalin aku Sinta maaf ya tadi aku ngomong gak enak sama
kamu” (menyodorkan tangannya ke arah
Sinta)
Sinta:
“Sinta” (tanpa membalas uluran tangan
Andin)
Putri:
“HALAH! belagu banget ya jadi orang”
Andin: “oh oke
Sinta, mau nggak kalo nanti kita keluar bareng di jamin seru iya nggak” (mengedipkan mata ke arah kedua temannya)
Sinta:
“ENGGAK!!” (sudah tidak tahan lagi dengan
drama yang diciptakan oleh Andin) “kalian pikir aku nggak tau kalo kalian
bakal manfaatin aku!”
Andin:
“kayaknya kamu salah paham” (menahan
amarah)
Sinta: PLAKKK!!!
“dari awal kamu ngehina aku tadi aku udah tau kamu gak suka sama orang miskin
kayak aku kan”
Andin: (menarik rambut sinta) “berani
banget ya kamu nampar aku, inget aku udah ngomong baik-baik sama kamu”
Sinta:
(merasakan kesakitan dan berusaha
melepas) “lepas tanganmu ndin”
Andin:
“kamu pikir aku juga mau temenan sama orang norak kampungan kayak kamu”
Lala Dan Putri Yang Melihat Pertengkaran Itu Hanya
Diam Saja Dengan Senyuman Sinisnya
Lala:
“ndin, udah ,kerjain langsung aja nanggung anak belagu kayak dia”
Andin: (tersenyum jahat) “kalian tenang aja, oh
ya dan kamu Sinta aku pastiin kamu nyesel karena udah nolak ajakan kita hari
ini, kita lihat siapa nanti yang akan ngemis-ngemis” (pergi meninggalkan Sinta dengan tatapan menghina)
BAGIAN 4
HARI BERGANTI
MASALAH-MASALAH HADIR TANPA HENTI ENTAH BAGAIAMANA BISA IA SELESAIKAN SEGALA
RINTANGAN YANG KINI MEMBUAT HIDUPNYA SEMAKIN SUSAH. TERDENGAR SUARA BATUK YANG
SANGAT MENYAKITKAN UNTUK DIDENGAR
Sinta:
“bapak sakit lagi”
Bapak:
(batuk-batuk sembari menahan sakit)
Sinta:
“sinta beli obat ya pak”
Bapak: “tunggu
nak, kita kan tidak punya uang”
BRUKK!!! (terjatuh saat hendak
mengejar Sinta)
Sinta: “bapak
kenapa berdiri bapak tidur aja ya pak, Sinta cari pinjeman dulu buat beli obat
pak”
Bapak: “jangan
nak, bapak gak mau membebani kamu, biarin bapak kaya gini besok juga sembuh”
Sinta:
(menangis sembari memandangi bapak)
Bapak:
(mulai kesakitan dan memegangi dadanya)
Sinta:
“PAK!! Bapak kenapa pak kita ke rumah sakit ya pak”
Bapak:
(dengan kesusahan bernafas) “Sinta!
Sudah nak kamu tenang saja”
Sinta:
“Sinta ambilin minyak dulu ya pak” (beranjak
ke tempat menyimpan obat)
Bapak: “nak,
udah biarin bapak tidur aja istirahat kamu gak usah panik ya, ini sudah jam
berapa apa kamu gak berangkat sekolah” (mencoba
menenangkan Sinta)
Sinta: “Sinta
mau di sini aja nemenin bapak”
Bapak: “nak,
biarin bapak di sini ya, kamu cepat berangkat, bapak lebih sedih kalau kamu
meninggalkan sekolah” (memegang pundak
Sinta)
Sinta: “ya sudah
Sinta berangkat ya pak” (mencium tangan
bapak)
Sinta hanya terdiam menuruti perkataan bapak karena
saat ini yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya mendapatkan uang untuk
membawa bapak ke rumah sakit
BAGIAN 5
JAM PELAJARAN DI
MULAI KEADAAN KELAS TERASA SANGAT RIUH DENGAN SUARA SISWA SISWI YANG SEDANG
BEREBUT UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN PERTANYAAN DARI SANG GURU TERLIHAT SEORANG
SISWA SAMA SEKALI TAK MENGHIRAUKAN IA HANYA TERDIAM MEMIKIRKAN HAL YANG SANGAT
RUMIT
Bu Ratih: “Sinta,
apa kau baik-baik saja, ibu lihat dari tadi kamu melamun tidak
mendengarkan
ibu”
Sinta:
“i...iya bu iya... saya tidak apa-apa saya baik-baik saja” (menjawab dengan gugup)
Bu Ratih:
“bel istirahat kamu temui ibu di ruangan ya, ada yang ingin ibu bicarakan”
Sinta:
“baik bu” (mengangguk dengan sopan)
Saat Bel Pelajaran Berbunyi Sinta Bergegas Berjalan Ke
Ruang Guru Untuk Menemui Bu Ratih Dengan Terburu-Buru Andin Yang Melihat Hal
Tersebuh Merasa Sangat Ingin Tahu Dan Mengikuti Ke Mana Sinta Pergi
Bu ratih: “silahkan
kamu duduk, jadi begini langsung saja ya ibu dengar kamu punya masalah, bapak
kamu sakit keras, apa benar?”
Sinta: “iya bu,
maaf kalo masalah saya membuat saya tidak fokus untuk mengikuti pelajaran ibu”
Bu Ratih: “begini
ya Sinta, ibu tau kamu masuk di sini itu karena beasiswa, kalau sampai nilai
kamu turun ibu tidak bisa pastikan kalau kamu akan kehilangan beasiswa
tersebut.”
Mendengar Hal Tersebut Andin Yang Sedari Menguping
Pembicaraan Bu Ratih Dan Sinta Mulai Merencanakan Sesuatu Untuk Membuat Sinta Tidak
Bisa Menolak Apapun Yang Ia Minta
BABAK 2
BAGIAN 1
BEL
PULANG SEKOLAH BERBUNYI SEMUA SISWA SIBUK MERAPIHKAN PERALATAN SEKOLAHNYA, ADA
PULA SEBAGIAN DARI MEREKA YANG TERBURU-BURU UNTUK KELUAR DARI KELAS INGIN
SEGERA MENINGGALKAN RUANGAN YANG MEMBOSANKAN TERSEBUT TERLIHAT SESEORANG YANG
TENGAH BERBINCANG
Andin:
“EHM!!” (berpura-pura batuk di sebalah
Sinta)
Sinta:
“iya kenapa apa ada yang mau diomongin kalau enggak maaf aku buru-buru”
Andin: “sorry
nih ya sin, tadi aku ngikutin kamu pas kamu dipanggil bu Ratih,
dan aku denger kamu lagi butuh banget biaya buat
ngobatin bapak kamu tangsakit
keras
itu”
Sinta:
“oh, jadi kamu tadi ngikutin aku” (tidak mempedulikan
perkataan Andin)
Andin: “gini aku
punya penawaran buat kamu, aku bisa sih kasih kamu uang berapapun yang kamu
butuhin, asalakan ada syaratnya” (berpangku
tangan sambil memegang dagu)
Sinta:
“apa kamu bilang syarat? Syarat apa?”
Andin: “aduh
Sinta, gampang aja kok, kamu Cuma tinggal nurutin semua kemauan aku” (memegang dagu Sinta dan tersenyum sinis)
Sinta:
“terimakasih tapi aku gak butuh bantuan kamu” (hendak melangkah)
Andin:
“kamu yakin ngebiarin bapak kamu itu sakit dan teruss...”
Sinta:
(berhenti dan berbalik ke arah Andin)
Andin: “udah
kali terima aja, ke mana kamu mau cari uang buat bapak kamu yang sakit-sakitan
itu”
Sinta: (mencoba memikirkan perkataan Andin)
“oke aku terima syarat dari kamu”
Andin: “wanita
pintar besok aku bawaiin uangnya kamu tinggal kirim berapa nominal yang kamu
butuhin” (pergi meninggalkan Sinta yang
terpaku dengan ucapannya)
BAGIAN
2
KEOSOKAN HARINYA DI JALAN MENUJU KELAS SEORANG SISWA
TERLIHAT SEDANG MEMIKIRKAN SESUATU HINGGA MEMBUATNYA TAK MENYADARI YANG SEDANG
TERJADI DI SEKITARNYA
Andin:
“hey, Sinta” (menghampiri Sinta)
Lala: “eh loh
ngapain manggil anak itu sih?” (berlari
mengejar Andin yang sedang menghampiri Sinta)
Sinta:
(menoleh ke arah sumber suara)
Andin:
“gila ya kamu itu udah aku panggilin dari tadi”
Sinta:
“maaf aku ngelamun tadi”
Lala: “eh
ndin, ngapain sih ngejar anak ini gak penting tau gak”
Andin: “udah deh
mendingan kamu pergi dulu karna ada yang mau aku bicarain
sama
Sinta”
Lala: “lah
sialan jadi kamu ngusir aku?”
Andin:
“Lala!”
Lala:
“hallah ya udah bye!” (pergi meninggalkan
Sinta dan Andin)
Setelah Kepergian Lala, Andin Mengajak Sinta Duduk Di
Bangku Depan Kelas
Andin:
(menyodorkan amplop)
Sinta: “ini?”
(kebingunan)
Andin: “sesuai
jumlah kan, sekarang uang itu udah di tangann kamu, jadi mulai saat ini detik
ini kamu udah harus nurutin semua keinginan aku” (menatap sinis ke arah Sinta)
Sinta:
“apa kamu bilang sekarang?”
Andin:
“ya, sekarang kenapa kamu gak mau?” (mencengkram
rahang Sinta)
Sinta:
(menghempaskan tangan Andin) “oke apa
yang kamu mau”
Andin: “gini loh
sin, kan besok itu ada tugas prakarya ya, aku mau kamu buatin tugas itu buat
aku”
Sinta:
“APA! la terus tugasku gimana” (memandang
tak percaya)
Andin:
“ya masalah itu aku gak mau tau lah pokoknya tugasku udah selesai”
Sinta:
“maaf aku gak bisa ndin” (hendak
melangkah pergi)
Andin: (menarik lengan Andin) “eh mau ke mana,
asal kamu inget kamu udah setuju sama perjanjian ini!”
Sinta:
“terus kalo aku gak mau kenapa?”
Andin: “gampang
aja, kamu bakal ngeliat bapakmu yang sakit-sakitan itu mati, kamu mau? ENGGAK
KAN!”
Sinta:
“kenapa sih kamu jahat banget sama aku!” (menangis)
Andin:
“udah gak usah drama nangis segala” (melihat
tak enak)
Sinta:
“aku itu gak pernah bikin salah sama kamu tapi kenapa HAH!!”
Andin: “kamu tau
salah kamu apa karna kamu udah sekolah di sini itu salah
kamu!”
Sinta:
(menangis sesegukan)
Andin: “udahlah
capek ngomong sama orang lemah kayak kamu, dan inget besok pagi tugas aku udah
harus selesai!” (pergi meninggalkan
Sinta)
BAGIAN
3
JAM MENUNJUKKAN PUKUL 7.30 PAGI, JARAK DARI SEKOLAH KE
RUMAH CUKUP JAUH ENTAH MENGAPA BISA HARI INI BANGUN TERLALU SIANG. SESAMPAINYA
DI DEPAN PINTU GERBANG TERNYATA SUDAH HENDAK DI TUTUP TETAPI SETELAH MEMBUJUK
UNTUK MASUK AKHIRNYA DIPERBOLEHKAN MASUK
DENGAN SYARAT TIDAK BOLEH MENGULANGI LAGI
Sinta:
“permisi bu, maaf saya terlambat” (masuk
ke dalam kelas)
Bu Ratih: “iya
silahkan kamu masuk Sinta, kamu tau ini jam berapa kan? Dan kamu tau konsekuensinya
telat di jam saya bagaimana?”
Sinta: “iya bu,
saya tau saya harus berdiri di depan kelas sampai jam pelajaran
ibu
selesai”
Bu
Ratih: “nah, iya benar sekarang sana kamu
berdiri di pojok”
Bu Ratih Memulai Kembali Pelajaran Dan Meminta Semua
Murid Untuk Mengumpulkan Hasil Karya Mereka Yang Ditugaskan Minggu Lalu
Bu Ratih: “iya
anak-anak sekarang kumpulkan tugas kalian di depan kelas maaf ibu ke belakang
sebentar, waktu ibu kembali tugas sudah harus kumpul ya!”
Semua
murid: “baik bu”
Andin Mengampiri Sinta Yang Sedang Berdiri Di Depan
Kelas Ia Meminta Tugas Yang Sudah Dijanjikan Kemarin
Andin:
“heh! Mana tugasku kamu gak lupa kan”
Sinta: (terkejut) “maaf ndin tapi semalem aku
Cuma ngerjain punya aku aja aku gak ngerjain punya kamu”
Andin:
(mencengram lengan Sinta) “apa kamu
bilang, kamu lupa!”
Sinta:
“maaf tapi..”
Andin: “hallah
dasar sialan! Bisanya alasan aja, sekarang gini aja tugas kamu
buat aku!”
Sinta:
(kesakitan) “jangan ndin, kalo kamu
ambil aku ngumpulin apa?”
Andin:
“sekarang mana tas kamu!” (merebut tas
dari Sinta)
Sinta:
“jangan ndin! Kembaliin tas aku, itu tugas aku”
Andin:
(mendorong Sinta hingga terjatuh)
“kasih aku!”
Sinta:
“”Ndin kembaliin itu puny aku kamu mau ngapain!
Andin: “Nih
sekarang punya aku udah ada nama aku!” (menunjukkan
nama yang tertera di tugas prakarya)
Sinta:
“ndin tapi!”
Andin: “inget
kalo kamu sampai berani bilang sama bu Ratih kamu tau sendiri
akibatnya”
Sinta: “gak aku
gak bakal ngasih itu ke kamu” (mencoba
meraih dari tangan
Andin)
Andin:
“apa sih lepasin gak”
Lalapun Datang Karena Ingin Tau Apa Yang Sebenernya
Terjadi Antara Sinta Dan Andin
Lala:
“ini apa.an sih ribut!”
Andin:
“biasa lah anak sok jagoan ini mau ambil tugas aku masak?”
Lala:
“HAH! Apa ndin, dia ambil tugas kamu?”
Sinta:
“gak, gak bener itu tugas aku itu aku yang buat!”
Andin:
“udah deh ini udah jelas ada nama aku!”
Lala: “eh sin,
gak nyangka ya, kamu dapet beasiswa tapi kelakuan kayak gini,
udah
sin bawa aja”
Andin:
“iya, gara-gara gak ngerjain sampek ngaku-ngaku kalo ini punya dia lagi”
Sinta:
“bener itu punyaku!” (kesal dan menangis)
Saat terjadi keributan di kelas tiba-tiba bu Ratih
datang dan menegur siswwa yang sedang membuat keributan
Bu Ratih:
“ada apa sih ini, kenapa kalian ribut bukannya ngumpulin malah ribut”
Lala:
“ini loh bu, masak Sinta mau ambil tugas Andin!”
Sinta:
(menangis) “benar bu itu tugas saya”
Andin: “haduh!
Bohong bu, ini buktinya ada nama saya”
(memperlihatkan namanya yang tertera di lembar tugas prakarya)
Bu Ratih: “Sinta!
Ibu gak habis pikir ya sama kamu, hari ini kamu udah bikin kesalahan pertama
kamu telat dan sekarang kamu membuat keributan di kelas, ditambah lagi kamu gak
ngerjain tugas dari saya, dan akhir-akhir ini ibu lihat nilai kamu mulai
menurun”
Sinta: “maaf bu,
tapi saya bener-bener ngerjain tugas itu dan itu tugas saya” (mencoba meyakinkan bu Ratih)
Lala:
“aduh..aduh banyak banget ya bu alasanya” (senyum
mengejek)
Bu Ratih:
“DIAM! Saya gak nyuruh kamu bicara!”
(membentak Lala)
Lala:
“ya udah maaf lagian anak kayak gini itu.. udah gak bisa dikasihanin bu”
Bu Ratih: “kamu
dengar saya bilang DIAM!!!!! Kembali ke tempat duduk
kamu!”
Lala:
(ketakutan) “i...i..iya bu maaf”
Bu Ratih: “Sinta
ingat, ini peringatan kedua kamu, kamu tau kan sekali lagi kamu
melakukan
kesalahan apa yang akan terjadi?” (penuh
penekanan)
Sinta:
“i,,,,i,,,iya saya tau bu”
Bu Ratih:
“ya sudah kamu duduk sana!”
BAGIAN
4
HARI- HARI BERLALU KEADAAN TAK SEMAKIN MEMBAIK DEMI
MEMBAYARKAN HUTANGNYA DENGAN MAU DISURUH APA SAJA MEMBUAT SESEORANG MENJADI
KEHILANGAN APA YANG DIJAGANYYA SELAMA INI. DI SUATU RUANGAN YANG SUDAH NAMPAK
TIDAK ASING KARENA INI ADALAH KEDUA KALINYA IA MENGINJAKKAN KAKI DI RUANGAN INI
Bu Ratih:
“Sinta, kamu tau kenapa ibu panggil kamu ke sini”
Sinta:
“iya bu saya tau” (menunduk)
Bu Ratih:
“sebenarnya dengan berat hati harus ibu katakan ini, tapi ini sudah jadi
kebijakan dari sekolah dan ibu tidak bisa menolong kamu”
Sinta:
“jadi bagaimana bu?” (tatapan penuh
tanya)
Bu Ratih: “ya
sesuai yang kamu takutkan mungkin, dari hari ini, terpaksa pihak sekolah
mencabut beasiswa kamu” (menatap
prihatin)
Sinta Yang Mendengar Berita Tersebut Terlihat Tidak
Percaya, Ia Hanya Menangis Dalam Diam Ia Tidak Tau Apa Lagi Yang Harus Ia
Lakukan
Sinta:
“tapi bu apa tidak ada solusi lain agar beasiswa saya tidak dicabut?”
Bu Ratih: “maaf
Sinta, masalah yang kamu buat sudah terlalu banyak, kamu sering telat di kelas,
tidur di kelas, tidak mengerjakan tugas sekolah, saya juga dengar dari
guru-guru lain bahkan nilai kamu menurun, ibu sudah berusaha untuk pihak
sekolah tidak mencabut, tapi ibu hanya bisa membantu kamu sebisa ibu” (menenangkan Sinta)
Sinta:
(mulai menangis sesegukan)
Bu Ratih: “Sinta
mau tidak mau kamu harus menerima ini”
Sinta: “APA BU!
Menerima apa yang harus saya terima! Kehidupan saya, masalah-masalah saya!” (menangis frustasi)
Bu Ratih:
“Sinta, sudah nak, tahan emosimu ibu tau ini sulit”
Sinta: “kenapa
sih bu hidup saya sesulit ini, ibu tau kan bapak saya sakit butuh banyak uang,
belum lagi masalah hutang saya sama Andin yang buat sekolah saya jadi
taruhannya dan lihat bu! Sekarang semuanyaaaaa terjadi” (menangis histeris)
Bu Ratih: (tercengang mendengar semua perkataan Sinta)
“Sinta kamu sabar ya nak” (mencoba
memeluk Sinta)
Sinta: “saya
permisi bu!” (melepaskan pelukan bu Ratih
dan berlari pergi seraya
menangis)
BAGIAN 5
KINI SINTA TIDAK TAU APA LAGI YANG HARUS DILAKUKANNYA
SEKOLAHNYA SUDAH HANCUR, BEASISWA DI CABUT, HUTANG SAMA SEKALI BELUM TERBAYAR,
SEMUA ITU MEMBUATNYA FRUSTASI. IA MEMUTUSKAN UNTUK PERGI KE ATAS GEDUNG
SEKOLAH. HARI ITU TIDAK ADA LAGI JALAN BAGINYA YANG IA TAU IA HANYA INGIN
MENGAKHIRI HIDUPNYA
Sinta: “udah gak
ada gunanya lagi aku hidup sekarang! Semuanya udah hancur gak ada lagi yang
bisa aku pertahanin” (menangis sesegukan)
Sinta Mulai Berjalan Ke Arah Pinggiran Atap Gedung Ia
Ingin Mengakhiri Semuanya, Sampai Akhirnya Suara Seseorang Membuyarkan Lamunanya
Adi:
“JANGAN!!!!” (mencoba menahan Sinta)
Sinta:
(menoleh dan tak percaya) “Adi?
Kenapa kamu ada di sini?”
Adi: “Sinta,
dengerin aku gak seharusnya kamu ngelakuin ini apapun masalah
kamu!
Aku ada di sini! aku bisa bantu kamu”
Sinta:
“ENGGAK!!! Kamu gak akan bisa! Kamu gak tau seberapa berat masalah aku” (melarang Adi mendekati dirinya)
Adi: “Sin!
Kamu harus inget bapak kamu! Kalo kamu pergi siapa yang nemenin bapak? Siapa
yang bantuin bapak?” (meyakinkan Sinta)
Sinta: “gak tau
di, aku bingung semua masalah kayaknya dateng gak ada
hentinya!”
Adi: “dengan
cara kamu kayak gini buknan malah nyelesein masalah tapi kamu malah tambah
masalah”
Sinta:
(hendak meloncat)
Adi:
“SINTA!!!” (berhasil menggapai tangan
Sinta)
Sinta:
“lepasin!! Ngapain kamu narik aku!” (berlari ke tempat semula)
Adi:
“SINTA!!! Aku gak akan pernah ngelepasin kamu” (menarik tubuh Sinta)
Sinta:
“lepasin aku brengsek!!” (mencoba
melepaskan cengkraman tangan Adi)
Adi: “silahkan
kamu marah sama aku, kalo itu buat kamu bisa tenang”(menenangkan Sinta)
Sinta: “udahlah
kamu gak tau apa-apa di, kamu pergi dari sini!!” (membentak Adi dengan nada tinggi)
Adi: “udah kamu
dengerin aku! Kamu harus mikirin bapak, jangan Cuma mikirin dirimu sendiri!
Kamu masih punya bapak, masih banyak yang peduli sama kamu! Kamu lihat sekarang
aku di sini aku nemuin kamu, karena aku peduli sama kamu!”
Sinta:
(terdiam dan makin menangis) “semua gak ada yang peduli sama perasaan
aku di, mereka semua mentingin dirinya sendiri!”
Adi: “gak
semua orang jahat sin, coba kamu buka hati kamu, kamu rasain orang-orang yang
sayang sama kamu”
Sinta:
(menangis menjadi-jadi)
Adi: “kamu
nangis aja, tumpahin semua rasa kecewa kamu, kalo kamu udah siap kamu bisa
cerita semuanya sama aku”
Sinta: “waktu
kamu gak ada, banyak banget masalah yang aku hadepin” (mulai
menceritakan
kepada Adi)
Adi:
“iya, aku tau kok kamu bisa hadepin itu semua”
Sinta: “bapak
sakit, belum lagi masalah di sekolah, karna bapak sakit aku jadi harus pinjam uang,
aku pinjam uang sama Andin temen sekelasku”
Adi:
“terus maslahnya apa sin, kan tinggal ganti aja, jadi masalah kamu di mana”
Sinta: “justru
itu masalahnya! Kamu tau aku gak bisa ganti uang itu, Andin tau kalo aku gak bakal
sanggup bayar utang sama dia, akhirnya dia kasih syarat kalau aku harus mau
nurutin semua apapun yang dia suruh”
Adi: “kamu
sampek ngelakuin itu?” (kaget dengan apa
yang diceritakan oleh
Sinta)
Sinta: “iya, aku
udah gak ada pilihan lain bapak butuh biaya buat berobat, dan gara-gara semua
itu aku kehilangan beasiswa aku, di sini sekolah biaya mahal mana mampu aku
bayar aku udah gak ngerti harus kayak gimana”
Adi:
“udah kita turun sekarang kita cari tempat yang enak buat kita bicara”
Sinta:
“iya di” (mengikuti Adi )
Sinta Dan Adi Turun Melalui Tangga Sembari Menenangkan
Sinta Yang Masih Gemetar Karena Kejadian Tidak Mengenakkan Yang Hampir Saja
Terjadi
Sinta: “aku
kayaknya udah harus keluar dari sekolah di, aku juga harus cari uang buat bayar
hutangku ke Andin”
Adi: “Sin,
kamu gak perlu sampai keluar sekolah, aku bisa bantu kamu, kamu gak usah
pikirin gimana caranya ngembaliin uangnya”
Sinta: “jangan
di, hutangku udah terlalu banyak, aku gak mau nambah hutangku ke kamu”
Adi: “Sinta,
aku ikhlas bantu kamu, aku gak mau kalo kamu sampai putus sekolah, karna dulu
kamu sendiri yang bilang kalau ilmu itu penting dalm hidup kita”
Sinta: “aku gak
tau lagi harus ngomong apa sama kamu di, kamu selalu aja bantu aku pas aku lagi
kesusahan” (memandang Adi dengan penuh rasa terimakasih)
Adi: “sekarang
mending kita pulang, aku anter kamu sampai rumah yuk, jangan lupa besok aku
bakal jemput kamu lagi, dan aku mau ketemu sama temenmu yang namanya Andin,
kita selesein masalah kamu satu persatu”
Sinta:
“makasih ya di, kamu baik banget sama aku”
BABAK
3
BAGIAN
1
HARI BARU TELAH DATANG. SEGALA
KECEWA, SAKIT, DAN MARAH KINI TELAH BERLALU. HIDUP DENGAN PELANGI BARU TELAH
DIMULAI. DOA-DOA BAIK SELALU TERCURAHKAN. MASALAH SATU PERSATU MULAI
DISELESAIKAN.
Adi:
“selamat pagi Sinta”
Sinta:
“selamat pagi Adi” (senyum sumringah)
Adi:
“tadi aku udah menemui kepala sekolah sama wali kelasmu, masalah biaya sekolah kamu
gak usah mikirin, semua udah selesai sampai kamu lulus nanti”
Sinta:
“maksud kamu apa?”
Adi: “iya,
udah lupakan sekarang aku pengen ketemu sama temenmu Andin, apa hari ini kalian
kosong?”
Sinta:
“sebenernya hari ini sekolah ada rapat jadi kemungkinan besar bakal
pulang
pagi”
Adi:
“ya sudah aku tunggu di sini aja, biar gak bolak balik juga”
Sinta: “oke aku
masuk kelas dulu ya di” (melambaikan
tangan pergi
meninggalkan Adi)
Lonceng
Berbunyi Jam Masih Berjalan Selama Dua Jam Pertanda Semua Murid Sudah Boleh
Meninggalkan Sekolah
Sinta:
“Ndin, bisa nggak kamu ikut aku sebentar”
Andin: “Haduh!
Ngapain sih, jangan lupa nanti malam tugas dari Pak Dian kamu kerjain dan aku
tunggu besok pagi”
Sinta: (tersenyum) “ iya,
tapi sekali ini aja aku mau kamu ikut aku”
Andin:
(dengan terpaksa) “iya deh, awas kalo
kamu macem-macem!”
Di depan sekolah Adi berdiri menunggu kedatangan Sinta
dan Andin
Sinta:
“Adi” (menepuk bahu Adi)
Adi:
(menoleh) “oh udah selesai”
Sinta:
“oh iya kenalin ini Andin”
Andin:
(tercengang sambil jabat tangan)
“Andin”
Adi: “Adi, oh
iya Andin maaf saya langsung to the pont aja ya, karna saya gakbanyak waktu,
mulai sekarang kamu gak bisa nyuru-nyuruh Sinta sesuka hati kamu. Sekarang kamu
tinggal sebutin berapa nominal yang udah Sinta pinjem ke kamu sekalian juga
nomer rekening kamu, nanti biar langsung saya kirim ke rekening kamu”
Andin: “HAH!
Maksud kamu kamu bakal bayarin semua utang Sinta, emang kamu siapanya sih, sok
banget” (tatapan sombong)
Adi:
“saya rasa kamu gak perlu tau tentang hal itu”
Andin:
“oh oke sebentar” (menulis di secarik
kertas)
Sinta:
“ndin, kamu ngapain”
Andin: “nih,
nominalnya lengkap sama rekening aku” (menyodorkan
kertas ke
arah Adi)
Adi: “oke,
sekarang kamu boleh pergi, dan ya jangan sekali-kali kamu gangguin
Sinta, karna kalo kamu ngelakuin itu kamu bakal tau
akibatnya!” (penuh penekanan)
Andin:
(bergidik ngeri) “oke, oke baiklah
aku pergi”
Andin pergi meninggalkan Sinta dan Adi
Sinta: “makasih
ya di, kamu udah mau bantuin aku buat nyelesein semua
masalah-masalah
aku”
Adi:
“iya biasa aja kali Sin, oh iya gimana keadaan bapak kamu”
Sinta:
“alhamdulillah keadaanya udah membaik, dan bapak udah mulai jualan
lagi, sekarang aku harus cari kerja buat nambah-nambah
penghasilan bapak”
Adi: “gimana
kalau kamu kerja di rumah makan aku aja, kamu boleh kerja
sehabis kamu pulang sekolah”
Sinta:
“beneran di”
Adi:
“iya beneran kamu bisa mulai
kerja kalau kamu udah siap”
Sinta:
“makasih di” (tersenyum bahagia)
TAMAT
TENTANG PENULIS
Ida
Ratnasari lahir pada tanggal 17 Mei 1999 di Jember provinsi Jawa Timur. Ia
memulai Pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 1 Tanggul dan lulus pada tahun
2011. Di tahun yang sama ia melanjutkan sekolah menengah pertama di SMP Negeri
4 Tanggul dan lulus tahun 2014, selanjutnya ia melanjutkan pedidikannya. kembali
di di SMA Negeri 1 Tanggul dan lulus tepat pada tahun 2017. Setelah ia
menamatkan pendidikannya di bangku SD, SMP, dan SMA Tepat pada tahun 2017 ia
melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi negeri yang berada di
kota Malang yaitu di Universitas Negeri Malang, ia adalah mahasiswa Fakultas
Sastra dan mengambil prodi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah. Sejak
tahun 2017 sampai saat ini tahun 2019 ia masih terus menempuh pendidikannya dan
hampir menyelesaikan semester ke 5. Penulis juga aktif di organisasi kampus,
penulis merupakan anggota UKM GERMAN UM. Kesibukannya sebagai mahasiswa dan
anak kos tidak menyurutkan semangatnya untuk menjadi penulis, karena baginya
menulis merupakan cara mengekspresikan diri dan menuntaskan segala imajinasi
yang tidak ada batasnya.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi