NASKAH DRAMA SESUSAH ITUKAH






SESUSAH ITUKAH
Ida Ratnasari













TOKOH
1.      Sinta: Seorang remaja perempuan yang sederhana dan pintar. Karena kepintarannya ia mendapatkan beasiswa untuk sekolah di sekolahan favorit dan terkenal.
2.      Bapak: Ayah dari Sinta yang pekerja keras, gigih. Ia adalah seorang pedagang asongan yang keliling menjual minuman-minuman dingin. Tetapi karena usianya ia menderita sakit yang memakan biaya sangat mahal.
3.      Bu Ratih: Bu Ratih adalah wali kelas di sekolah Sinta. Dia adalah seorang wali kelas sekaligus guru yang sangat tegas. Ia tahu betapa susahnya kehidupan yang dijalani oleh Sinta hingga Sinta mendapatkan beasiswnya.
4.      Andin: Teman sekelas Sinta yang sangat culas dan jahat. Ia selalu membully Sinta, menyuruh Sinta untuk mengerjakan tugas-tugasnya, sehingga Sinta kehilangan beasiswanya.
5.      Lala: Sahabat Andin suka membuat Andin semakin benci kepada Sinta. Kata-kata yang dikeluarkan oleh Lala selalu memprofokasi untuk membully Sinta
6.      Adi: Teman Sinta saat kecil, ia pindah ke luar kota untuk ikut kedua orang tuanya. Tetapi ketika Sinta mendapatkan kesulitan Adi selalu membantu menyelesaikan semua masalah yang sedang Sinta hadapi.








BABAK 1
BAGIAN 1
SINAR MENTARI MENYAPA DI PAGI HARI SEMUA ORANG-ORANG BERLALU LALANG AKAN MEMULAI PEKERJAANNYA. DI SISI LAIN TERDAPAT SEORANG ANAK PEREMPUAN YANG HENDAK BERANGKAT SEKOLAH
Sinta: (memasang sepatu) “pak, aku mau berangkat”
Bapak: “Iya nak, hati-hati ya kamu harus sekolah yang bener jangan terpengaruh sama anak-anak orang kaya kamu harus ngerti sama keadaan kita” (merapihkan minuman-minuman yang akan dijual)

Sinta: “iya pak Sinta janji selalu ingat sama nasihat bapak”
Bapak: “kamu itu sekolah dapet beasiswa jangan sampai kamu nyia-nyian beasiswa itu ya nak, upah bapak jual asongan kamu tau sendiri berapa ya gak cukup buat bayar SPP kamu”

Sinta: “pak, dari awal Sinta di sini niat buat sekolah bukan buat main-main pak”
Bapak: “yasudah kamu cepat berangkat nanti telat lo!”
Sinta: “yaudah Sinta berangkat ya Pak” (mencium tangan bapak)

BAGIAN 2
BEL SEKOLAH BERBUNYI SEMUA MURID BERLARIAN KE ARAH KELASNYA MASING-MASING. BU RATIH MEMASUKI KELAS HENDAK MEMPERKENALKAN SISWI BARU YANG BARU SAJA MENDAPATKAN BEASISWA UNTUK SEKOLAH DI SEKOLAHAN BERGENGSI TERSEBUT
Bu Ratih: (berdiri di depan kelas) “anak-anak hari ini kelas kita kedatangan
murid baru loh”  
Anto: “cewek apa cowok bu, kalau cewek udahlah mending gausah di kelas kita ya gak bro” (tos dengan Kiki)

Bu Ratih: “halah apa kalian itu belajar dulu yang pinter”
Anto: “wah jangan marah dong bu nanti cantiknya hilang bercanda dong ya”
Bu Ratih: “ya sudah daripada kalian semua penasaran langsung saja ibu suruh masuk ya” (memanggil Sinta)

Sinta: (berjalan mengikuti bu Ratih sembari menunduk)

Semua Murid-Murid Memandangi Sinta Dari Atas Sampai Bawah Ada Yang Hanya Sekedar Melihat Ada Pula Yang Memandang Dengan Tatapan Merendahkan
Andin: “pasti dia masuk ke sini karna beasiswa hallah basi!”
Lala: “nah tul sekali, lihat aja barang-barang murahan mana mampu sekolah di
sekolah kita”

Putri: “ngapain sih bu anak kayak dia masuk kelas kita males banget”
Bu Ratih: “kalian bertiga diam atau ibu suruh nguras kamar mandi lagi mau” (dengan wajah sinis) sudah Sinta jangan dengarkan mereka cepat kamu memperkenalkan diri

Sinta: (dengan suara bergetar) “hai semua, kenalin aku Sinta aku murid baru, bener kata kalian aku bisa sekolah di sini karena beasiswa yang aku dapet”

Andin: pantesan norak banget tampilan kamu (senyum mengejek)

Semua Yang Ada Di Kelas Tertawa

Bu Ratih: (dengan nada tinggi) “DIAM!!!!!!!!!! Siapa yang suruh kalian ngomong, sudah  Sinta kamu bisa duduk di bangku yang kosong”

Sinta: baik bu (berjalan menuju bangku yang kosong)

BAGIAN 3
BEL ISTIRAHAT BERBUNYI SEMUA MURID BERHAMBURAN KELUAR KELAS SINTA YANG MASIH CANGGUNG DENGAN KEADAAN SEKOLAH YANG BARU MEMUTUSKAN UNTUK TETAP TINGGAL DI KELAS
Andin: “heh anak baru” (menggebrak meja Sinta)
Sinta: “iya” (mencoba untuk tenang)
Andin: “gini ya, karna kamu kan anak baru jadi boleh dong kita main-main sama kamu”
Lala: “nah iya betul tuh, biar kita makin akrab” (mulai memegang wajah Sinta)
Sinta: “mau apa kalian” (mencoba melepaskan cengraman tangan Lala di wajahnya)
Andin: “La, lepasin Sinta”

Kedua Teman Andin Tidak Percaya Dengan Apa Yang Dilakukan Andin Tidak
Biasanya Andin Seperti Itu Pada Anak Baru

Andin: “oh iya nama kamu siapa tadi, kenalin aku Sinta maaf ya tadi aku ngomong gak enak sama kamu” (menyodorkan tangannya ke arah Sinta)

Sinta: “Sinta” (tanpa membalas uluran tangan Andin)
Putri: “HALAH! belagu banget ya jadi orang”
Andin: “oh oke Sinta, mau nggak kalo nanti kita keluar bareng di jamin seru iya nggak” (mengedipkan mata ke arah kedua temannya)

Sinta: “ENGGAK!!” (sudah tidak tahan lagi dengan drama yang diciptakan oleh Andin) “kalian pikir aku nggak tau kalo kalian bakal manfaatin aku!”

Andin: “kayaknya kamu salah paham” (menahan amarah)
Sinta: PLAKKK!!! “dari awal kamu ngehina aku tadi aku udah tau kamu gak suka sama orang miskin kayak aku kan”

Andin: (menarik rambut sinta) “berani banget ya kamu nampar aku, inget aku udah ngomong baik-baik sama kamu”

Sinta: (merasakan kesakitan dan berusaha melepas) “lepas tanganmu ndin”
Andin: “kamu pikir aku juga mau temenan sama orang norak kampungan kayak kamu”
Lala Dan Putri Yang Melihat Pertengkaran Itu Hanya Diam Saja Dengan Senyuman Sinisnya

Lala: “ndin, udah ,kerjain langsung aja nanggung anak belagu kayak dia”
Andin: (tersenyum jahat) “kalian tenang aja, oh ya dan kamu Sinta aku pastiin kamu nyesel karena udah nolak ajakan kita hari ini, kita lihat siapa nanti yang akan ngemis-ngemis” (pergi meninggalkan Sinta dengan tatapan menghina)

BAGIAN 4
HARI BERGANTI MASALAH-MASALAH HADIR TANPA HENTI ENTAH BAGAIAMANA BISA IA SELESAIKAN SEGALA RINTANGAN YANG KINI MEMBUAT HIDUPNYA SEMAKIN SUSAH. TERDENGAR SUARA BATUK YANG SANGAT MENYAKITKAN UNTUK DIDENGAR
Sinta: “bapak sakit lagi”
Bapak: (batuk-batuk sembari menahan sakit)
Sinta: “sinta beli obat ya pak”
Bapak: “tunggu nak, kita kan tidak punya uang”
              BRUKK!!! (terjatuh saat hendak mengejar Sinta)
Sinta: “bapak kenapa berdiri bapak tidur aja ya pak, Sinta cari pinjeman dulu buat beli obat pak”

Bapak: “jangan nak, bapak gak mau membebani kamu, biarin bapak kaya gini besok juga sembuh”

Sinta: (menangis sembari memandangi bapak)
Bapak: (mulai kesakitan dan memegangi dadanya)
Sinta: “PAK!! Bapak kenapa pak kita ke rumah sakit ya pak”
Bapak: (dengan kesusahan bernafas) “Sinta! Sudah nak kamu tenang saja”
Sinta: “Sinta ambilin minyak dulu ya pak” (beranjak ke tempat menyimpan obat)
Bapak: “nak, udah biarin bapak tidur aja istirahat kamu gak usah panik ya, ini sudah jam berapa apa kamu gak berangkat sekolah” (mencoba menenangkan Sinta)

Sinta: “Sinta mau di sini aja nemenin bapak”
Bapak: “nak, biarin bapak di sini ya, kamu cepat berangkat, bapak lebih sedih kalau kamu meninggalkan sekolah” (memegang pundak Sinta)

Sinta: “ya sudah Sinta berangkat ya pak” (mencium tangan bapak)
Sinta hanya terdiam menuruti perkataan bapak karena saat ini yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membawa bapak ke rumah sakit

BAGIAN 5
JAM PELAJARAN DI MULAI KEADAAN KELAS TERASA SANGAT RIUH DENGAN SUARA SISWA SISWI YANG SEDANG BEREBUT UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN PERTANYAAN DARI SANG GURU TERLIHAT SEORANG SISWA SAMA SEKALI TAK MENGHIRAUKAN IA HANYA TERDIAM MEMIKIRKAN HAL YANG SANGAT RUMIT
Bu Ratih: “Sinta, apa kau baik-baik saja, ibu lihat dari tadi kamu melamun tidak
mendengarkan ibu”
Sinta: “i...iya bu iya... saya tidak apa-apa saya baik-baik saja” (menjawab dengan gugup)
Bu Ratih: “bel istirahat kamu temui ibu di ruangan ya, ada yang ingin ibu bicarakan”
Sinta: “baik bu” (mengangguk dengan sopan)
Saat Bel Pelajaran Berbunyi Sinta Bergegas Berjalan Ke Ruang Guru Untuk Menemui Bu Ratih Dengan Terburu-Buru Andin Yang Melihat Hal Tersebuh Merasa Sangat Ingin Tahu Dan Mengikuti Ke Mana Sinta Pergi

Bu ratih: “silahkan kamu duduk, jadi begini langsung saja ya ibu dengar kamu punya masalah, bapak kamu sakit keras, apa benar?”

Sinta: “iya bu, maaf kalo masalah saya membuat saya tidak fokus untuk mengikuti pelajaran ibu”

Bu Ratih: “begini ya Sinta, ibu tau kamu masuk di sini itu karena beasiswa, kalau sampai nilai kamu turun ibu tidak bisa pastikan kalau kamu akan kehilangan beasiswa tersebut.”

Mendengar Hal Tersebut Andin Yang Sedari Menguping Pembicaraan Bu Ratih Dan Sinta Mulai Merencanakan Sesuatu Untuk Membuat Sinta Tidak Bisa Menolak Apapun Yang Ia Minta



BABAK 2
BAGIAN 1
BEL PULANG SEKOLAH BERBUNYI SEMUA SISWA SIBUK MERAPIHKAN PERALATAN SEKOLAHNYA, ADA PULA SEBAGIAN DARI MEREKA YANG TERBURU-BURU UNTUK KELUAR DARI KELAS INGIN SEGERA MENINGGALKAN RUANGAN YANG MEMBOSANKAN TERSEBUT TERLIHAT SESEORANG YANG TENGAH BERBINCANG
Andin: “EHM!!” (berpura-pura batuk di sebalah Sinta)
Sinta: “iya kenapa apa ada yang mau diomongin kalau enggak maaf aku buru-buru”
Andin: “sorry nih ya sin, tadi aku ngikutin kamu pas kamu dipanggil bu Ratih,
dan aku denger kamu lagi butuh banget biaya buat ngobatin bapak kamu tangsakit
keras itu”
Sinta: “oh, jadi kamu tadi ngikutin aku” (tidak mempedulikan perkataan Andin)
Andin: “gini aku punya penawaran buat kamu, aku bisa sih kasih kamu uang berapapun yang kamu butuhin, asalakan ada syaratnya” (berpangku tangan sambil memegang dagu)

Sinta: “apa kamu bilang syarat? Syarat apa?”
Andin: “aduh Sinta, gampang aja kok, kamu Cuma tinggal nurutin semua kemauan aku” (memegang dagu Sinta dan tersenyum sinis)

Sinta: “terimakasih tapi aku gak butuh bantuan kamu” (hendak melangkah)
Andin: “kamu yakin ngebiarin bapak kamu itu sakit dan teruss...”
Sinta: (berhenti dan berbalik ke arah Andin)
Andin: “udah kali terima aja, ke mana kamu mau cari uang buat bapak kamu yang sakit-sakitan itu”

Sinta: (mencoba memikirkan perkataan Andin) “oke aku terima syarat dari kamu”
Andin: “wanita pintar besok aku bawaiin uangnya kamu tinggal kirim berapa nominal yang kamu butuhin” (pergi meninggalkan Sinta yang terpaku dengan ucapannya)



BAGIAN 2
KEOSOKAN HARINYA DI JALAN MENUJU KELAS SEORANG SISWA TERLIHAT SEDANG MEMIKIRKAN SESUATU HINGGA MEMBUATNYA TAK MENYADARI YANG SEDANG TERJADI DI SEKITARNYA

Andin: “hey, Sinta” (menghampiri Sinta)
Lala: “eh loh ngapain manggil anak itu sih?” (berlari mengejar Andin yang sedang menghampiri Sinta)

Sinta: (menoleh ke arah sumber suara)
Andin: “gila ya kamu itu udah aku panggilin dari tadi”
Sinta: “maaf aku ngelamun tadi”
Lala: “eh ndin, ngapain sih ngejar anak ini gak penting tau gak”
Andin: “udah deh mendingan kamu pergi dulu karna ada yang mau aku bicarain
sama Sinta”
Lala: “lah sialan jadi kamu ngusir aku?”
Andin: “Lala!”
Lala: “hallah ya udah bye!” (pergi meninggalkan Sinta dan Andin)

Setelah Kepergian Lala, Andin Mengajak Sinta Duduk Di Bangku Depan Kelas

Andin: (menyodorkan amplop)
Sinta: “ini?” (kebingunan)
Andin: “sesuai jumlah kan, sekarang uang itu udah di tangann kamu, jadi mulai saat ini detik ini kamu udah harus nurutin semua keinginan aku” (menatap sinis ke arah Sinta)

Sinta: “apa kamu bilang sekarang?”
Andin: “ya, sekarang kenapa kamu gak mau?” (mencengkram rahang Sinta)
Sinta: (menghempaskan tangan Andin) “oke apa yang kamu mau”
Andin: “gini loh sin, kan besok itu ada tugas prakarya ya, aku mau kamu buatin tugas itu buat aku”

Sinta: “APA! la terus tugasku gimana” (memandang tak percaya)
Andin: “ya masalah itu aku gak mau tau lah pokoknya tugasku udah selesai”
Sinta: “maaf aku gak bisa ndin” (hendak melangkah pergi)
Andin: (menarik lengan Andin) “eh mau ke mana, asal kamu inget kamu udah setuju sama perjanjian ini!”

Sinta: “terus kalo aku gak mau kenapa?”
Andin: “gampang aja, kamu bakal ngeliat bapakmu yang sakit-sakitan itu mati, kamu mau? ENGGAK KAN!”

Sinta: “kenapa sih kamu jahat banget sama aku!” (menangis)
Andin: “udah gak usah drama nangis segala” (melihat tak enak)
Sinta: “aku itu gak pernah bikin salah sama kamu tapi kenapa HAH!!”
Andin: “kamu tau salah kamu apa karna kamu udah sekolah di sini itu salah
kamu!”

Sinta: (menangis sesegukan)
Andin: “udahlah capek ngomong sama orang lemah kayak kamu, dan inget besok pagi tugas aku udah harus selesai!” (pergi meninggalkan Sinta)

BAGIAN 3
JAM MENUNJUKKAN PUKUL 7.30 PAGI, JARAK DARI SEKOLAH KE RUMAH CUKUP JAUH ENTAH MENGAPA BISA HARI INI BANGUN TERLALU SIANG. SESAMPAINYA DI DEPAN PINTU GERBANG TERNYATA SUDAH HENDAK DI TUTUP TETAPI SETELAH MEMBUJUK UNTUK MASUK  AKHIRNYA DIPERBOLEHKAN MASUK DENGAN SYARAT TIDAK BOLEH MENGULANGI LAGI

Sinta: “permisi bu, maaf saya terlambat” (masuk ke dalam kelas)
Bu Ratih: “iya silahkan kamu masuk Sinta, kamu tau ini jam berapa kan? Dan kamu tau konsekuensinya telat di jam saya bagaimana?”  

Sinta: “iya bu, saya tau saya harus berdiri di depan kelas sampai jam pelajaran
ibu selesai”  
Bu Ratih: “nah, iya benar sekarang sana kamu berdiri di pojok”

Bu Ratih Memulai Kembali Pelajaran Dan Meminta Semua Murid Untuk Mengumpulkan Hasil Karya Mereka Yang Ditugaskan Minggu Lalu

Bu Ratih: “iya anak-anak sekarang kumpulkan tugas kalian di depan kelas maaf ibu ke belakang sebentar, waktu ibu kembali tugas sudah harus kumpul ya!”   

Semua murid: “baik bu”

Andin Mengampiri Sinta Yang Sedang Berdiri Di Depan Kelas Ia Meminta Tugas Yang Sudah Dijanjikan Kemarin

Andin: “heh! Mana tugasku kamu gak lupa kan”
Sinta: (terkejut) “maaf ndin tapi semalem aku Cuma ngerjain punya aku aja aku gak ngerjain punya kamu”  

Andin: (mencengram lengan Sinta) “apa kamu bilang, kamu lupa!”
Sinta: “maaf tapi..”
Andin: “hallah dasar sialan! Bisanya alasan aja, sekarang gini aja tugas kamu
buat aku!”
Sinta: (kesakitan) “jangan ndin, kalo kamu ambil aku ngumpulin apa?”
Andin: “sekarang mana tas kamu!” (merebut tas dari Sinta)
Sinta: “jangan ndin! Kembaliin tas aku, itu tugas aku”
Andin: (mendorong Sinta hingga terjatuh) “kasih aku!”
Sinta: “”Ndin kembaliin itu puny aku kamu mau ngapain!
Andin: “Nih sekarang punya aku udah ada nama aku!” (menunjukkan nama yang tertera di tugas prakarya)

Sinta: “ndin tapi!”
Andin: “inget kalo kamu sampai berani bilang sama bu Ratih kamu tau sendiri
akibatnya”

Sinta: “gak aku gak bakal ngasih itu ke kamu” (mencoba meraih dari tangan
Andin)

Andin: “apa sih lepasin gak”

Lalapun Datang Karena Ingin Tau Apa Yang Sebenernya Terjadi Antara Sinta Dan Andin

Lala: “ini apa.an sih ribut!”
Andin: “biasa lah anak sok jagoan ini mau ambil tugas aku masak?”
Lala: “HAH! Apa ndin, dia ambil tugas kamu?”
Sinta: “gak, gak bener itu tugas aku itu aku yang buat!”
Andin: “udah deh ini udah jelas ada nama aku!”
Lala: “eh sin, gak nyangka ya, kamu dapet beasiswa tapi kelakuan kayak gini,
udah sin bawa aja”
Andin: “iya, gara-gara gak ngerjain sampek ngaku-ngaku kalo ini punya dia lagi”
Sinta: “bener itu punyaku!” (kesal dan menangis)

Saat terjadi keributan di kelas tiba-tiba bu Ratih datang dan menegur siswwa yang sedang membuat keributan

Bu Ratih: “ada apa sih ini, kenapa kalian ribut bukannya ngumpulin malah ribut”
Lala: “ini loh bu, masak Sinta mau ambil tugas Andin!”
Sinta: (menangis) “benar bu itu tugas saya”
Andin: “haduh! Bohong bu, ini buktinya ada nama saya” (memperlihatkan namanya yang tertera di lembar tugas prakarya)

Bu Ratih: “Sinta! Ibu gak habis pikir ya sama kamu, hari ini kamu udah bikin kesalahan pertama kamu telat dan sekarang kamu membuat keributan di kelas, ditambah lagi kamu gak ngerjain tugas dari saya, dan akhir-akhir ini ibu lihat nilai kamu mulai menurun”

Sinta: “maaf bu, tapi saya bener-bener ngerjain tugas itu dan itu tugas saya” (mencoba meyakinkan bu Ratih)

Lala: “aduh..aduh banyak banget ya bu alasanya” (senyum mengejek)
Bu Ratih: “DIAM! Saya gak nyuruh kamu bicara!” (membentak Lala)
Lala: “ya udah maaf lagian anak kayak gini itu.. udah gak bisa dikasihanin bu”
Bu Ratih: “kamu dengar saya bilang DIAM!!!!! Kembali ke tempat duduk
kamu!”

Lala: (ketakutan) “i...i..iya bu maaf”
Bu Ratih: “Sinta ingat, ini peringatan kedua kamu, kamu tau kan sekali lagi kamu
melakukan kesalahan apa yang akan terjadi?” (penuh penekanan)
Sinta: “i,,,,i,,,iya saya tau bu”
Bu Ratih: “ya sudah kamu duduk sana!”

BAGIAN 4
HARI- HARI BERLALU KEADAAN TAK SEMAKIN MEMBAIK DEMI MEMBAYARKAN HUTANGNYA DENGAN MAU DISURUH APA SAJA MEMBUAT SESEORANG MENJADI KEHILANGAN APA YANG DIJAGANYYA SELAMA INI. DI SUATU RUANGAN YANG SUDAH NAMPAK TIDAK ASING KARENA INI ADALAH KEDUA KALINYA IA MENGINJAKKAN KAKI DI RUANGAN INI

Bu Ratih: “Sinta, kamu tau kenapa ibu panggil kamu ke sini”
Sinta: “iya bu saya tau” (menunduk)
Bu Ratih: “sebenarnya dengan berat hati harus ibu katakan ini, tapi ini sudah jadi kebijakan dari sekolah dan ibu tidak bisa menolong kamu”

Sinta: “jadi bagaimana bu?” (tatapan penuh tanya)
Bu Ratih: “ya sesuai yang kamu takutkan mungkin, dari hari ini, terpaksa pihak sekolah mencabut beasiswa kamu” (menatap prihatin)

Sinta Yang Mendengar Berita Tersebut Terlihat Tidak Percaya, Ia Hanya Menangis Dalam Diam Ia Tidak Tau Apa Lagi Yang Harus Ia Lakukan

Sinta: “tapi bu apa tidak ada solusi lain agar beasiswa saya tidak dicabut?”
Bu Ratih: “maaf Sinta, masalah yang kamu buat sudah terlalu banyak, kamu sering telat di kelas, tidur di kelas, tidak mengerjakan tugas sekolah, saya juga dengar dari guru-guru lain bahkan nilai kamu menurun, ibu sudah berusaha untuk pihak sekolah tidak mencabut, tapi ibu hanya bisa membantu kamu sebisa ibu” (menenangkan Sinta)

Sinta: (mulai menangis sesegukan)
Bu Ratih: “Sinta mau tidak mau kamu harus menerima ini”
Sinta: “APA BU! Menerima apa yang harus saya terima! Kehidupan saya, masalah-masalah saya!” (menangis frustasi)

Bu Ratih: “Sinta, sudah nak, tahan emosimu ibu tau ini sulit”
Sinta: “kenapa sih bu hidup saya sesulit ini, ibu tau kan bapak saya sakit butuh banyak uang, belum lagi masalah hutang saya sama Andin yang buat sekolah saya jadi taruhannya dan lihat bu! Sekarang semuanyaaaaa terjadi” (menangis histeris)
Bu Ratih: (tercengang mendengar semua perkataan Sinta) “Sinta kamu sabar ya nak” (mencoba memeluk Sinta)

Sinta: “saya permisi bu!” (melepaskan pelukan bu Ratih dan berlari pergi seraya
menangis)


BAGIAN 5

KINI SINTA TIDAK TAU APA LAGI YANG HARUS DILAKUKANNYA SEKOLAHNYA SUDAH HANCUR, BEASISWA DI CABUT, HUTANG SAMA SEKALI BELUM TERBAYAR, SEMUA ITU MEMBUATNYA FRUSTASI. IA MEMUTUSKAN UNTUK PERGI KE ATAS GEDUNG SEKOLAH. HARI ITU TIDAK ADA LAGI JALAN BAGINYA YANG IA TAU IA HANYA INGIN MENGAKHIRI HIDUPNYA

Sinta: “udah gak ada gunanya lagi aku hidup sekarang! Semuanya udah hancur gak ada lagi yang bisa aku pertahanin” (menangis sesegukan)

Sinta Mulai Berjalan Ke Arah Pinggiran Atap Gedung Ia Ingin Mengakhiri Semuanya, Sampai Akhirnya Suara Seseorang Membuyarkan Lamunanya

Adi: “JANGAN!!!!” (mencoba menahan Sinta)
Sinta: (menoleh dan tak percaya) “Adi? Kenapa kamu ada di sini?”
Adi: “Sinta, dengerin aku gak seharusnya kamu ngelakuin ini apapun masalah
kamu! Aku ada di sini! aku bisa bantu kamu”
Sinta: “ENGGAK!!! Kamu gak akan bisa! Kamu gak tau seberapa berat masalah aku” (melarang Adi mendekati dirinya)

Adi: “Sin! Kamu harus inget bapak kamu! Kalo kamu pergi siapa yang nemenin bapak? Siapa yang bantuin bapak?” (meyakinkan Sinta)

Sinta: “gak tau di, aku bingung semua masalah kayaknya dateng gak ada
hentinya!”  
Adi: “dengan cara kamu kayak gini buknan malah nyelesein masalah tapi kamu malah tambah masalah”

Sinta: (hendak meloncat)
Adi: “SINTA!!!” (berhasil menggapai tangan Sinta)
Sinta: “lepasin!! Ngapain kamu narik aku!” (berlari ke tempat semula)
Adi: “SINTA!!! Aku gak akan pernah ngelepasin kamu” (menarik tubuh Sinta)
Sinta: “lepasin aku brengsek!!” (mencoba melepaskan cengkraman tangan Adi)
Adi: “silahkan kamu marah sama aku, kalo itu buat kamu bisa tenang”(menenangkan Sinta)

Sinta: “udahlah kamu gak tau apa-apa di, kamu pergi dari sini!!” (membentak Adi dengan nada tinggi)

Adi: “udah kamu dengerin aku! Kamu harus mikirin bapak, jangan Cuma mikirin dirimu sendiri! Kamu masih punya bapak, masih banyak yang peduli sama kamu! Kamu lihat sekarang aku di sini aku nemuin kamu, karena aku peduli sama kamu!”

Sinta: (terdiam dan makin menangis) “semua gak ada yang peduli sama perasaan aku di, mereka semua mentingin dirinya sendiri!”

Adi: “gak semua orang jahat sin, coba kamu buka hati kamu, kamu rasain orang-orang yang sayang sama kamu”

Sinta: (menangis menjadi-jadi)
Adi: “kamu nangis aja, tumpahin semua rasa kecewa kamu, kalo kamu udah siap kamu bisa cerita semuanya sama aku”

Sinta: “waktu kamu gak ada, banyak banget masalah yang aku hadepin” (mulai
menceritakan kepada Adi)
Adi: “iya, aku tau kok kamu bisa hadepin itu semua”
Sinta: “bapak sakit, belum lagi masalah di sekolah, karna bapak sakit aku jadi harus pinjam uang, aku pinjam uang sama Andin temen sekelasku”

Adi: “terus maslahnya apa sin, kan tinggal ganti aja, jadi masalah kamu di mana”
Sinta: “justru itu masalahnya! Kamu tau aku gak bisa ganti uang itu, Andin tau kalo aku gak bakal sanggup bayar utang sama dia, akhirnya dia kasih syarat kalau aku harus mau nurutin semua apapun yang dia suruh”

Adi: “kamu sampek ngelakuin itu?” (kaget dengan apa yang diceritakan oleh
Sinta)
Sinta: “iya, aku udah gak ada pilihan lain bapak butuh biaya buat berobat, dan gara-gara semua itu aku kehilangan beasiswa aku, di sini sekolah biaya mahal mana mampu aku bayar aku udah gak ngerti harus kayak gimana”

Adi: “udah kita turun sekarang kita cari tempat yang enak buat kita bicara”
Sinta: “iya di” (mengikuti Adi )
Sinta Dan Adi Turun Melalui Tangga Sembari Menenangkan Sinta Yang Masih Gemetar Karena Kejadian Tidak Mengenakkan Yang Hampir Saja Terjadi

Sinta: “aku kayaknya udah harus keluar dari sekolah di, aku juga harus cari uang buat bayar hutangku ke Andin”

Adi: “Sin, kamu gak perlu sampai keluar sekolah, aku bisa bantu kamu, kamu gak usah pikirin gimana caranya ngembaliin uangnya”

Sinta: “jangan di, hutangku udah terlalu banyak, aku gak mau nambah hutangku ke kamu”

Adi: “Sinta, aku ikhlas bantu kamu, aku gak mau kalo kamu sampai putus sekolah, karna dulu kamu sendiri yang bilang kalau ilmu itu penting dalm hidup kita”

Sinta: “aku gak tau lagi harus ngomong apa sama kamu di, kamu selalu aja bantu aku pas aku lagi kesusahan” (memandang Adi dengan penuh rasa terimakasih)

Adi: “sekarang mending kita pulang, aku anter kamu sampai rumah yuk, jangan lupa besok aku bakal jemput kamu lagi, dan aku mau ketemu sama temenmu yang namanya Andin, kita selesein masalah kamu satu persatu”

Sinta: “makasih ya di, kamu baik banget sama aku”

BABAK 3

BAGIAN 1
HARI BARU TELAH DATANG. SEGALA KECEWA, SAKIT, DAN MARAH KINI TELAH BERLALU. HIDUP DENGAN PELANGI BARU TELAH DIMULAI. DOA-DOA BAIK SELALU TERCURAHKAN. MASALAH SATU PERSATU MULAI DISELESAIKAN.

Adi: “selamat pagi Sinta”
Sinta: “selamat pagi Adi” (senyum sumringah)
Adi: “tadi aku udah menemui kepala sekolah sama wali kelasmu, masalah biaya sekolah kamu gak usah mikirin, semua udah selesai sampai kamu lulus nanti”
Sinta: “maksud kamu apa?”
Adi: “iya, udah lupakan sekarang aku pengen ketemu sama temenmu Andin, apa hari ini kalian kosong?”

Sinta: “sebenernya hari ini sekolah ada rapat jadi kemungkinan besar bakal
pulang pagi”
Adi: “ya sudah aku tunggu di sini aja, biar gak bolak balik juga”
Sinta: “oke aku masuk kelas dulu ya di” (melambaikan tangan pergi
meninggalkan Adi)
Lonceng Berbunyi Jam Masih Berjalan Selama Dua Jam Pertanda Semua Murid Sudah Boleh Meninggalkan Sekolah
Sinta: “Ndin, bisa nggak kamu ikut aku sebentar”
Andin: “Haduh! Ngapain sih, jangan lupa nanti malam tugas dari Pak Dian kamu kerjain dan aku tunggu besok pagi”

Sinta: (tersenyum) “ iya, tapi sekali ini aja aku mau kamu ikut aku”
Andin: (dengan terpaksa) “iya deh, awas kalo kamu macem-macem!”

Di depan sekolah Adi berdiri menunggu kedatangan Sinta dan Andin

Sinta: “Adi” (menepuk bahu Adi)
Adi: (menoleh) “oh udah selesai”
Sinta: “oh iya kenalin ini Andin”
Andin: (tercengang sambil jabat tangan) “Andin”
Adi: “Adi, oh iya Andin maaf saya langsung to the pont aja ya, karna saya gakbanyak waktu, mulai sekarang kamu gak bisa nyuru-nyuruh Sinta sesuka hati kamu. Sekarang kamu tinggal sebutin berapa nominal yang udah Sinta pinjem ke kamu sekalian juga nomer rekening kamu, nanti biar langsung saya kirim ke rekening kamu”

Andin: “HAH! Maksud kamu kamu bakal bayarin semua utang Sinta, emang kamu siapanya sih, sok banget” (tatapan sombong)

Adi: “saya rasa kamu gak perlu tau tentang hal itu”
Andin: “oh oke sebentar” (menulis di secarik kertas)
Sinta: “ndin, kamu ngapain”
Andin: “nih, nominalnya lengkap sama rekening aku” (menyodorkan kertas ke
arah Adi)
Adi: “oke, sekarang kamu boleh pergi, dan ya jangan sekali-kali kamu gangguin
Sinta, karna kalo kamu ngelakuin itu kamu bakal tau akibatnya!” (penuh penekanan)

Andin: (bergidik ngeri) “oke, oke baiklah aku pergi”

Andin pergi meninggalkan Sinta dan Adi

Sinta: “makasih ya di, kamu udah mau bantuin aku buat nyelesein semua
masalah-masalah aku”
Adi: “iya biasa aja kali Sin, oh iya gimana keadaan bapak kamu”
Sinta: “alhamdulillah keadaanya udah membaik, dan bapak udah mulai jualan
lagi, sekarang aku harus cari kerja buat nambah-nambah penghasilan bapak”

Adi: “gimana kalau kamu kerja di rumah makan aku aja, kamu boleh kerja
sehabis kamu pulang sekolah”

Sinta: “beneran di”
Adi: “iya beneran kamu bisa mulai kerja kalau kamu udah siap”
Sinta: “makasih di” (tersenyum bahagia)

TAMAT












TENTANG PENULIS
Ida Ratnasari lahir pada tanggal 17 Mei 1999 di Jember provinsi Jawa Timur. Ia memulai Pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 1 Tanggul dan lulus pada tahun 2011. Di tahun yang sama ia melanjutkan sekolah menengah pertama di SMP Negeri 4 Tanggul dan lulus tahun 2014, selanjutnya ia melanjutkan pedidikannya. kembali di di SMA Negeri 1 Tanggul dan lulus tepat pada tahun 2017. Setelah ia menamatkan pendidikannya di bangku SD, SMP, dan SMA Tepat pada tahun 2017 ia melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi negeri yang berada di kota Malang yaitu di Universitas Negeri Malang, ia adalah mahasiswa Fakultas Sastra dan mengambil prodi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah. Sejak tahun 2017 sampai saat ini tahun 2019 ia masih terus menempuh pendidikannya dan hampir menyelesaikan semester ke 5. Penulis juga aktif di organisasi kampus, penulis merupakan anggota UKM GERMAN UM. Kesibukannya sebagai mahasiswa dan anak kos tidak menyurutkan semangatnya untuk menjadi penulis, karena baginya menulis merupakan cara mengekspresikan diri dan menuntaskan segala imajinasi yang tidak ada batasnya.


Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK