NASKAH DRAMA TEKA-TEKI
TEKA-TEKI
Oleh Juwita Puspita
Tokoh :
- Rio =
Jaksa (baik hati, tegas)
- Rania =
Istri Jaksa (baik hati)
- Fina =
Putri Jaksa (baik hati)
- Susan =
Pengacara (tegas, pantang menyerah)
- Toni =
Lelaki (pasrah terhadap keadaan)
- Nino =
Sahabat Jaksa (tidak terduga)
- Miko =
Rekan Tahanan (baik)
- Dito
=Lelaki (bermuka dua)
- Roni = Penolong dan Penculik (pasrah terhadap keadaan)
Suatu hari di waktu pagi tiba, terdapat seorang
Jaksa yang bernama Rio. Rio yang sedang mengantarkan putrinya Fina berangkat ke
Sekolah Dasar itu dengan menaiki mobilnya. Mereka tiba di sekolah pukul 07.00
WIB. Fina masuk ke dalam sekolah,
kemudian Rio bergegas menuju kejaksaan untuk bekerja. Ia memiliki jadwal sidang
pukul 08.00 WIB. Sidang yang dihadapi adalah kasus pembunuhan oleh seorang
laki-laki yang tidak dikenali oleh Rio. Tersangka dalam kasus tersebut bernama
Toni. Kasus pembunuhan yang meresahkan selama 3 tahun tersebut dilakukan oleh
Toni (lelaki berumur 30tahun). Setelah sekian lama mengejar tersangka, ternyata
Toni adalah pelakunya. Ia telah membunuh 10 orang yang semuanya adalah wanita.
Alasan ia membunuh wanita tersebut karena ia tidak menyukai wanita yang jalan
sendirian di malam hari. Jaksa yang menangani kasus tersebut adalah Jaksa Rio.
Rio terkenal sebagai Jaksa yang jujur dan kompeten. Ia apa adanya dalam
menangani dan tidak pernah salah dalam membuat keputusan. Oleh sebab itu,
banyak yang salut kepada dirinya tetapi banyak juga yang membencinya karena ia
selalu dibanggakan oleh kebanyakan orang. Ia seorang Jaksa yang tidak peduli
jika banyak orang yang membencinya. Asalkan seluruh orang tersebut tidak
mengganggu keluarganya. Bagi Rio, Keluarga sangat penting di kehidupannya. Ia
hidup dengan berkecukupan di kota Jakarta.
Rio sudah lama bekerja sebagai Jaksa selama 10 tahun
lamanya dengan lulusan S3 Hukum. Rio memiliki cita-cita sebagai Jaksa karena
terinspirasi oleh Ayahnya yang berprofesi sebagai Jaksa. Ayahnya merupakan
seseorang yang dibanggakan oleh Rio dari dulu karena Ayahnya begitu banyak
mengajarkan dunia hukum kepada Rio sejak mahasiswa. Bagi Rio, sifat Ayahnya
menular pada dirinya dan melekat hingga sekarang.
Sebagai Jaksa, ia memiliki prinsip bahwa dirinya harus adil dan jujur dalam mengambil keputusan. Pada awal ia mendapatkan kasus-kasus hukum, ia terkadang merasa tegang karena sempat terlintas pada pikirannya bahwa ia salah dalam mengambil tindakan akan tetapi ia selalu benar dalam memberikan vonis kepada setiap tersangka. Namun dari tahun ke tahun, ia tidak merasakan gugup lagi karena ia sudah terbiasa.
Suatu ketika, 15 Mei 2019 pun tiba. Hari itu adalah
hari ulangtahun anaknya yang bernama Fina. Ulangtahun anaknya yang berumur 7
tahun. Ulangtahun tersebut dirayakan di rumahnya bersama dengan istrinya yang
bernama Rania. Istrinya cantik dan sangat menyayangi Rio dan anaknya. Rio
selalu pulang tepat waktu walaupun pekerjaannya banyak karena ia selalu
mengkhawatirkan dan selalu ingin bersama dengan keluarganya. Dalam keseharian,
mereka selalu hidup dengan nyaman dan selalu banyak dikagumi oleh kebanyakan
orang karena tidak pernah terlihat ada masalah. Dalam perayaan ulangtahun
anaknya tersebut yang baru selesai pukul 22.00 WIB, Rio pun tertidur karena ia
merasa lelah dan mengantuk. Hingga beberapa jam kemudian, terdapat suatu
kejadian yang tidak terduga terjadi dalam kehidupannya. Hal ini mengubahnya
menjadi seseorang yang tidak berwibawa lagi dan hanya menangis dalam
kesehariannya.
Adegan 1
Pada malam ulangtahun anaknya, Rio tertidur setelah
selesai merayakan ulangtahun anaknya yaitu Fina. Sampai pada waktu itu,
ternyata istrinya masih membersihkan ruangan karena banyak yang berserakan pada
pukul 22.30 WIB sendirian. Sedangkan, anaknya Fina sudah tidur di kamarnya
sendirian. Pada malam itu, istrinya masih belum tertidur hingga jam telah
menunjukkan 23.00 WIB. Tepat jam itu, terdapat suara bel pintu dari luar rumahnya.
Rania (istri dari Rio) terkejut dan merasa heran karena masih ada tamu pada
malam hari. Awalnya, Riana mengira yang datang adalah saudara-saudara dari
Rania atau Rio, akan tetapi dugaan Rania tidak tepat. Pada saat itu yang tiba
adalah Nino. Nino merupakan sahabat dari Rio, Nino pun memiliki profesi sebagai
Jaksa di Kejaksaan yang sama dengan Rio. Nino memang akrab dengan keluarga Rio,
sampai Nino pun mengetahui ulangtahun dari Fina yang merupakan anak dari Rio
dan Rania. Nino datang malam-malam itu karena ingin memberikan hadiah untuk
Fina. Kado tersebut berupa boneka yang dapat merekam suara. Suara yang telah
direkam disitu adalah suara dari Nino yang sedang mengucapkan ulangtahun kepada
Fina.
Bel berbunyi...
Ting tong, ting tong.
Rania pun mendengarnya dan langsung bergegas membuka
pintu.
Rania : “Iya sebentar ya.”
Setelah pintu terbuka.
Nino : “Halo,
maaf ya mengganggu malam-malam begini.”
Rania : “Nino. Malam sekali kamu datang ke rumah,
ada perlu apa? Silahkan masuk terlebih
dahulu.”
Nino : “Terima kasih Rania.”
Rania : “Mas Rio sedang tidur pulas dari tadi, aku
bangunkan dulu ya.”
Nino : “Tidak
perlu Ran, aku hanya sebentar saja. Kasihan kalau kamu membangunkannya,
dia pasti sangat lelah karena banyak kerjaan.”
Rania : “Iya sudah kalau begitu, ada apa Nino?”
Nino : “Maaf
jika aku datang malam-malam seperti ini,
aku hanya ingin memberikan hadiah
untuk Fina, karena aku tahu kalau dia
sedang berulangtahun ke 7 tahun.”
Rania : “Wah, kamu masih ingat ya ulangtahun Fina
padahal kamu kan banyak kerjaan,
sampai menyempatkan ke rumah buat memberikan hadiah kepada Fina. Fina
pasti
senang. Besok akan aku beritahu ke
dia ya. Maaf dia sudah tidur Nino.”
Nino : “Iya
tidak apa-apa. Kalau begitu aku langsung saja ya. Maaf jika mengganggu kamu
terlalu malam.” (dengan tersenyum)
Rania : “Terima kasih ya Nino, sudah memberikan
hadiah ini kepada Fina. Kamu hati-hati
dijalan.”(dengan tersenyum)
Setelah Nino pulang, Rania meletakkan hadiah tadi
disebelah akuarium dekat dengan ruang tengah. Kemudian, Rania pun tidur pada
pukul 23.30 WIB.
Adegan 2
Setelah hal itu terjadi, tiba-tiba Rio terbangun
dari tidurnya. Tetapi, dia terbangun pada tempat yang tidak terduga yaitu
Penjara dengan label merah di baju tahanannya yang menyatakan bahwa dia akan
dihukum mati. Dia tidak ingat mengapa dia bisa ada disitu dan tidak tahu apa
yang sedang terjadi. Dia merasa frustasi dan hanya menangis.
Rio berusaha mengingat-ingat dengan bertanya-tanya
kepada rekan-rekan penjara yang seruangan dengan dia.
Rio : “Mas,
bisa jelaskan mengapa saya bisa disini? Saya tidak tahu apa-apa.”
Miko : “Kamu lupa ingatan lagi?”
Rio : “Saya
tidak ingat apapun. Saya sudah berapa lama disini?”
Miko : “Kamu sudah 1bulan disini. Kamu sering
bermimpi buruk dan terbangun dengan
ekspresi terkejut serta berkeringat.”
Rio : “Saya
tidak ingat apa yang terjadi dalam hidup saya sampai saya berada di penjara
sekarang.”
Miko : “Tenangkan diri kamu, kamu harus berpikir
jernih dan tidak terburu-buru. Tetapi,
label merah ada di baju tahanan kamu. Kamu terkena
vonis hukuman mati.”
Rio : “Iya
saya terkejut melihat ini. Kalau begitu terima kasih informasinya.”
Miko : “Kamu adalah jaksa yang terkenal dan
kompeten. Saya juga masih tak menyangka
bahwa kamu seorang tersangka pembunuhan.”
Rio pun merasa terkejut mendengar kalimat yang
diutarakan oleh Miko (tahanan di Penjara itu). Rio pun termenung dan terdiam
dalam beberapa saat.
Beberapa minggu kemudian, dia masih bermimpi buruk.
Mimpi itu ternyata adalah ingatan yang sebenarnya dari kejadian yang menimpa
Rio. Namun, ingatan itu belum sepenuhnya pulih. Setelah Rio seperti itu dalam
beberapa hari, Rio diperiksa oleh Dokter dalam Penjara. Ternyata memang benar,
Rio mengalami hilang ingatan karena trauma atas kejadian yang menimpanya. Rio
harus benar-benar dalam kondisi tenang agar dia tidak kehilangan ingatan lagi
dan mengalami mimpi buruk. Namun, hal itu tidak bisa dilakukan oleh Rio karena
Rio merasa tidak tenang dan khawatir kepada keluarganya. Rio berencana bertanya
kepada tahanan lain yang ada di dalam ruangannya.
Rio : “Maaf
mas, jika saya memang menjadi tersangka pembunuhan. Siapa yang saya
bunuh?”
Miko : “Kamu beneran tidak ingat atau pura-pura
lupa? Orang yang kamu bunuh adalah istri
dan anak kamu sendiri.”
Rio : “Kamu
tidak bercanda? Hal itu tidak mungkin. Saya tidak akan membunuh istri dan
putri saya.”
Miko : “Renungkan saja.”
Rio memiliki Pengacara yang bernama Susan. Susan
merupakan Pengacara yang selalu gagal dalam membuktikan bahwa tersangka yang
diadili dalam kejaksaan itu benar namun dia tetap berusaha semaksimal mungkin
untuk membuktikan bahwa tersangka belum tentu salah atau bisa saja tersangka
itu bukan tersangka yang sebenarnya. Susan berusaha membuktikan hal tersebut
dengan menangani kasus Jaksa Rio yang menjadi tersangka pembunuhan istri dan
putrinya.
Rio merasa tertekan dan frustasi karena dia hanya
mengingat kejadian itu sedikit. Dalam mimpi itu, Rio melihat sosok berjubah
hitam yang tampak menghampirinya. Namun, Rio belum ingat sepenuhnya karena dia
masih hilang ingatan. Seringkali Rio teringat sepenggal kejadian dari hal yang
sebenarnya terjadi. Dalam beberapa hari, Rio kembali dengan ingatannya dan bisa
mengerti kejadian yang sebenarnya walaupun masih beberapa cerita yang belum dia
ingat.
Susan
yang merupakan Pengacara selalu berusaha mengumpulkan bukti-bukti melalui
cerita dari mimpi-mimpi Rio. Rio menyampaikan ke Susan dengan hal-hal yang
diingat mengenai kejadian dari hal tersebut.
Adegan 3
Rio :
“Dalam ingatan saya yang telah kembali, pada malam itu saya melihat sosok
berjubah
hitam yang menghampiri saya kala itu. Saya dalam posisi menangis dan
terkejut
karena melihat istri saya tidak berdaya.”
Susan : “Mengapa kamu di posisi seperti itu? Istri
kamu tidak berdaya karena apa?” (dengan
penasaran)
Rio : “Saya
melihat ada darah ditubuhnya.”
Susan : “Kamu
yakin? Lalu apakah kamu memang benar membunuh istrimu?”
Rio :
“Tidak, saya sangat menyayangi istri saya. Saya tidak akan membunuhnya dan kami
pun tidak memiliki masalah apapun.”
Susan : “Apa benar di malam itu adalah ulangtahun
dari Fina (putri kamu)? Saya
mendapatkan informasi ini dari pihak
penjara.”
Rio : “Iya
hari itu merupakan ulangtahun putri saya. Lalu saya pun masih belum ingat
keberadaan putri saya.” (dengan menangis)
Susan : “Kamu membunuh putri kamu. Apa benar kabar yang
saya dapat ini?”
Rio : “Saya
mendengarnya dari rekan tahanan di ruangan saya bahwa saya terkena vonis
hukuman mati karena membunuh istri dan putri saya.
Tetapi saya tidak melakukan
itu.” (dengan suara pelan)
Susan : “Saya akan berusaha mengumpulkan
bukti-bukti. Apa kamu ingat barang atau
peralatan apa yang barangkali bisa dijadikan bukti?”
Rio : “Saya
hanya mengingat bahwa ada pisau yang ada di lantai ruang tengah tempat istri
saya tergeletak tidak berdaya.” (dengan suara pelan)
Susan : “Pisau itu penuh darah atau bagaimana?
Ceritakan secara rinci Rio. Saya akan
membantu kamu dan membuktikan
jika kamu memang benar-benar tidak bersalah.”
Rio : “Saya
lihat pisau itu penuh darah dan istri saya memang tertusuk dengan pisau itu.
Tetapi, saya yakin bahwa saya tidak akan
membunuhnya. Saya minta tolong kamu ke rumah saya dan temukan barang bukti yang
bisa diajukan kembali serta tolong periksa rekaman CCTV yang ada di kompleks
Perumahan saya.” (dengan mata berkaca-
kaca)
Susan : “Baiklah, kamu tenangkan diri dahulu.
Pulihkan ingatanmu agar kita segera
mengetahui hal yang terjadi dan tersangka sebenarnya dari kejadian ini.
Harap kamu
bersabar. Saya akan mencoba datang ke rumah kamu
untuk menemukan barang yang
barangkali bisa diajukan sebagai bukti.”
Susan meninggalkan Penjara dan langsung menuju
kediaman Rio. Setelah beberapa menit, Susan tiba di rumah Rio yang berada di
Jakarta Barat. Rumah Rio masih terdapat garis polisi yang membentang panjang
berwarna kuning.
Susan berusaha menelusuri tempat ruang tengah yang
menjadi tempat istri Rio tergeletak dan berdarah.
Setelah beberapa jam di kediaman Rio, Susan masih
tidak menemukan barang bukti apapun. Sehingga, dia berusaha bertanya kepada
Bapak Satpam Perumahan yang menjaga di sekitar itu. Susan menanyakan mengenai
rekaman CCTV pada tanggal 15 Mei 2019, hari kejadian itu berlangsung. Rekaman
CCTV itu ternyata tidak ada pada tanggal 15 Mei 2019, padahal rekaman CCTV di
tanggal lain tetap ada. Susan merasa aneh karena pada tanggal 15 Mei 2019
rekaman itu tidak ada. Susan bertanya kepada Bapak Satpam Perumahan itu dan
ternyata rekaman itu pernah dilihat oleh seseorang laki-laki dan bapak itu
tidak mengetahui identitasnya karena lelaki itu menggunakan jubah hitam. Lelaki
itu melihat secara cepat dan mengancam Bapak Satpam ketika Bapak Satpam
bertanya identitas lelaki itu. Lelaki itu hanya menghapus rekaman CCTV kemudian
lekas pergi.
Susan :
“Pak, saya butuh rekaman CCTV ini. Mengapa tidak ada di tanggal 15 Mei 2019?”
Satpam : “Pada saat tanggal 16 Mei 2019, dini hari
terdapat seseorang lelaki yang datang ke
saya. Posisi saya saat itu sedang mengantuk berat dan terkejut ketika
lelaki itu
datang. Tetapi, dia tiba-tiba mengancam saya untuk memperlihatkan CCTV
Perumahan. Ternyata, dia ingin
melihat rekaman pada malam tanggal 15 Mei 2019
dan menghapusnya. Kebetulan saya pada saat tanggal 15 Mei 2019 tidak
menjaga
di Perumahan ini. Saya tidak kebagian shift saat itu jadi saya tidak
tahu apa isi
rekaman CCTV pada hari itu. Saya
pun diancam dan tidak boleh melihat rekaman
tersebut. Saya tanya identitas dia, namun dia enggan
menjawab. Lalu dia langsung
berlari dan saya tidak bisa mengejarnya karena
posisi di luar tiba-tiba hujan.”
Susan :
“Ciri-ciri dari lelaki tersebut bagaimana Pak?”
Satpam : “Dia tinggi, berjubah hitam dan memakai
sepatu hitam. Wajahnya tidak terlihat
karena dia menggunakan masker hitam.”
Susan : “Baik
Pak, terima kasih atas informasinya.”
Setelah Susan mendapatkan informasi itu, dia merasa
bahwa pembunuh sebenarnya memang bukanlah Jaksa Rio. Menurut analisa Susan, Jaksa
Rio difitnah.
Saat ini, menunjukkan tanggal 17 Juni 2019. Setelah
1 bulan lebih Rio ditahan, dia mulai mengingat dimana dia meletakkan pisau yang
ternyata untuk membunuh Istrinya. Susan kembali ke Penjara untuk menemui Jaksa
Rio pada siang hari.
Susan : “Saya
mendapatkan informasi dari Bapak Satpam Perumahanmu. Tetapi, saya
belum mendapat barang bukti tambahan dari rumahmu.”
Rio : “Tetapi
bagaimana dengan rekaman CCTV pada tanggal 15 Mei 2019?”
Susan :
“Rekaman itu sudah dihapus oleh lelaki yang menghampiri Bapak Satpam itu pada
tanggal 16 Mei 2019. Informasi ini saya peroleh dari Bapak Satpam itu.
Kita harus
menggali lebih dalam kasus ini Pak.” (dengan tatapan serius)
Rio :
“Saya sudah ingat dimana letak pisau itu.Saya meletakannya didalam Akuarium
Ikan di dekat ruang tengah.”
Susan : “Bapak
yakin? Tetapi ini sudah lewat 1 bulan. Apakah masih ada? Lalu, bagaimana
bisa Bapak meletakkannya disitu?”
Rio :
“Saya belum ingat kronologi mengapa saya meletakan pisau disitu.”
Susan :
“Kalau begitu saya akan kembali ke rumah Bapak segera.”
Rio :
“Hati-hati, segera kamu kembali ke sini ya Susan.”
Susan menuju ke rumah Rio pada Malam hari pukul
19.00 WIB. Dia baru bisa mengunjungi rumah Rio pada malam hari karena Susan
masih ada pekerjaan di Kejaksaan.
Namun, ketika Susan akan tiba di rumah Rio saat itu.
Dia melihat dari kejauhan terdapat sosok lelaki yang masuk ke dalam rumah Rio
dengan menggunakan pakaian gelap.
Susan
berusaha mendekat ke dalam rumah Rio tersebut dan turun dari mobilnya untuk
menelusuri lelaki tersebut. Ternyata, lelaki itu adalah Jaksa Nino yang
merupakan sahabat dari Jaksa Rio. Jaksa Nino mengunjungi rumah Jaksa Rio
sendirian tanpa ada pendamping. Pengacara Susan pun terkejut akan hal tersebut.
Dia penasaran mengapa Jaksa Nino hadir malam-malam ke rumah Jaksa Rio. Ternyata
kasus Jaksa Rio ditangani oleh Jaksa Nino sahabatnya sendiri. Dalam artian,
yang memvonis hukuman mati kepada Jaksa Rio adalah Jaksa Nino. Namun, pada saat
di kediaman Jaksa Rio, Susan tidak berani masuk ke dalam rumah karena dia
merasa curigakepada Jaksa Nino karena gerak-gerik Jaksa Nino yang tidak seperti
biasanya. Dalam beberapa menit, Susan melihat Jaksa Nino mengacak-acak
perabotan rumah Jaksa Rio. Seketika Susan heran dan tidak sengaja menjatuhkan
pot bunga yang ada dibelakangnya. Ternyata, Jaksa Nino mendengar suara pot
jatuh itu. Susan pun berusaha melarikan diri dan masuk ke mobil. Jaksa Nino pun
hanya sempat melihat mobil Susan tanpa mengetahui bahwa Susan yang ada didalam
mobil itu. Jaksa Nino pun berusaha mengejar mobil Susan, namun Susan semakin kencang
dalam mengendarai mobilnya. Nino merasa curiga terhadap mobil itu, di satu sisi
Nino takut jika dia dituduh melakukan hal yang tidak baik di rumah Rio. Nino
pun kehilangan jejak mobil Susan karena dia terkena lampu merah. Susan melihat
dari kaca mobil dan merasa lega bahwa Nino sudah tertinggal di kejauhan. Susan
memutuskan bahwa dia tidak pergi ke rumah Jaksa Rio pada malam itu. Susan
memutuskan untuk pulang. Susan kembali ke rumah Jaksa Rio pada keesokan paginya
pada pukul 08.00 WIB.
Adegan 4
Pagi hari tiba, Susan berangkat menuju Kediaman
Jaksa Rio untuk mengambil barang bukti berupa pisau yang digunakan untuk
menusuk Istri dari Jaksa Rio. Ketika Susan tiba di rumah Rio, dia berusaha
secepat mungkin mencari barang bukti tersebut karena Susan masih takut jika
Jaksa Nino menuju ke rumah Jaksa Rio lagi.
Susan : “Dimana ya pisau itu?”
Setelah beberapa menit, Susan menelusuri Akuarium
tersebut, dia menemukan pisau yang dibungkus dengan kantong plastik berwarna hitam. Setelah menemukan itu, Susan
bergegas menuju ke Penjara untuk menemui Jaksa Rio.
Beberapa menit Susan tiba...
Susan : “Pak, saya telah menemukan barang bukti
pisau yang Bapak maksud selama ini.”
Rio :
“Terima kasih Susan. Kerja bagus. Namun, saya masih belum bisa mengingat
mengapa saya meletakkan pisau ini di dalam Akuarium.”
Susan :
“Sekarang Bapak perlahan benar-benar memulihkan ingatan Bapak agar segera
mengetahui. Untuk sementara, pisau ini tidak akan saya simpan di dalam
rumah.
Saya simpan dalam tanah dekat rumah saya
agar tidak ada yang curiga dan
ketahuan pada nantinya Pak.”
Rio :
“Terima kasih Susan.”
Susan : “Oh
iya Pak, ada satu hal yang patut Bapak ketahui.Ketika kemarin malam saya
pergi ke rumah Bapak, disitu ada lelaki tinggi menggunakan
pakaian gelap dan
ternyata dia adalah Jaksa Nino.”
Rio :
“Kamu serius? Mengapa dia berada disitu? Padahal kasus ini sudah berlangsung
lama 1 bulan yang lalu. Apa yang dia lakukan?”
Susan : “Saya
waktu itu sempat melihat dia tapi tidak sepenuhnya. Namun, dia terlihat
mengacak-acak peralatan rumah Bapak dan dia
mengambil boneka. Tetapi, boneka
itu terlihat penting baginya karena dia memegang
erat boneka itu.”
Rio :
“Tolong kamu telusuri dia. Jangan sampai kamu terlihat curiga padanya. Tetapi,
kamu tidak ketahuan dia kan?”
Susan :
“Tidak Pak. Kalau begitu, saya langsung saja mencoba pergi menuju Kejaksaan
untuk menelusurinya.”
Setelah Susan menuju Kejaksaan. Rio masuk ke dalam
sel Penjara lagi dan hingga malam tiba, Rio pun tertidur dan dia memimpikan
kejadian pada malam 15 Mei 2019. Dia mulai mengingat semua hal yang benar
terjadi.
Keesokan harinya, Susan berkunjung lagi ke Penjara.
Ternyata informasi yang diperoleh Susan adalah Nino memiliki bukti lain berupa
boneka yang bisa merekam suara. Boneka itu merupakan hadiah untuk Fina. Namun,
anehnya bukti itu disembunyikan oleh Jaksa Nino pada hari identifikasi lokasi
saat Susan bertemu dengan Jaksa Nino. Hal itu dilakukan agar dia tidak
dicurigai sebagai pembunuh yang sebenarnya.
Adegan 5
Susan : “Pak,
Jaksa Nino memang menyembunyikan sesuatu dan ternyata setelah saya
telusuri dan mendengarkan pembicaraannya dengan seseorang ditelefon
menyatakan bahwa dia menyembunyikan barang bukti yang penting.”
Rio :
“Kamu mendengarkan percakapannya di telefon dengan siapa?”
Susan : “Saya
hanya mendengar Jaksa Nino menyebutkan nama Dito.”
Rio :
“Saya tidak kenal siapa Dito. Namun, saya akan menceritakan sesuatu yang saya
ingat sepenuhnya. Dalam mimpi
saya, terlihat bahwa terdapat seseorang lelaki
berjubah hitam tinggi dan wajahnya mirip dengan Toni. Toni merupakan
tersangka
pembunuhan tempo lalu dengan kasus pembunuhan wanita. Namun, dalam mimpi
saya memang benar bukan saya yang membunuh istri saya sendiri. Tetapi,
lelaki
yang mirip dengan Toni itulah yang membunuh pada malam 15 Mei 2019. Dia
datang dengan membawa pisau tajam. Lalu, menusuk istri saya. Sementara
saya
mendengar jeritan istri saya, lalu saya terbangun dan terkejut karena
hal itu. Tetapi,
lelaki
itu meminta saya untuk tetap diam dan mengakulah sebagai tersangka
pembunuhan
istri dan putriku agar nyawa putriku tidak terancam. Ternyata, putriku
dibawa
oleh lelaki yang merupakan tetangga dekat rumahku. Lelaki itu bernama
Roni.
Roni di minta untuk menyembunyikan putri saya oleh lelaki itu agar nyawanya
selamat.
Sebenarnya, Fina masih hidup Susan. Dia dibawa oleh Roni sekarang.
Namun, saya belum tahu keberadaannya.”
Susan : “Saya
pikir, jika memang benar itu Toni. Maka dia tidak mungkin membunuh istri
saya karena dia berada di Penjara saat itu.”
Rio :
“Jika memang benar seperti ini, bisa saja Toni kabur dari Penjara sementara.
Toni
dikenal cekatan dan gesit.”
Susan : “Jika
memang benar seperti itu, mungkin dia bermaksud membalaskan dendam.
Tetapi, siapa Dito yang dimaksud oleh Jaksa Nino di percakapan telefon?”
Rio :
“Kamu perlu menemui Toni untuk menanyakan hal ini.”
Susan : “Baiklah
Pak, saya akan menemui Toni.”
Adegan 6
Setelah keesokan harinya, Susan menemui Toni. Namun,
saat ditemui. Toni tidak terlalu banyak bicara dan tidak mau berbagi informasi
secara lengkap. Hanya saja Toni berkata bahwa bukan dia pembunuh istri dari
Jaksa Rio. Susan semakin heran dan tidak menyangka jika memang bukan Toni lalu
siapa yang membunuh Istri Jaksa Rio? Susan juga dalam kondisi mencari keberadaan putri Jaksa Rio yang
sedang disembunyikan oleh Roni.
Setelah selesai menemukan informasi kepada Toni,
Susan bergegas menuju rumah Jaksa Rio untuk menemukan bukti lain yang mungkin
bisa menunjang Jaksa Rio untuk bebas dari hukuman. Namun, ketika Susan tiba di
rumah Jaksa Rio pada sore hari, Susan melihat ada lelaki yang ada di dalam
rumah Jaksa Rio. Disangka oleh Susan, lelaki itu adalah Jaksa Nino namun
ternyata lelaki itu adalah orang yang menyembunyikan Fina selama ini. Lelaki
yang bernama Roni ini terkejut ketika ada Susan, dia berusaha kabur. Namun,
Susan berhasil menangkap Roni dengan teknik bela dirinya. Roni pun diajak
bicara oleh Susan di rumah Jaksa Rio. Pada awalnya, Susan tidak mengetahui
lelaki itu ternyata Roni (tetangga rumah Jaksa Rio).
Susan : “Kamu Roni kan?”
Roni : “Bagaimana kamu bisa mengetahui nama saya?
Siapa kamu?”
Susan : “Saya
adalah Susan. Pengacara dari Jaksa Rio. Kamu pasti mengenalnya bukan?”
Roni : “Iya
benar saya mengenalnya, dia adalah tetangga dekat rumah saya.”
Susan : “Apa
yang kamu lakukan di rumah Jaksa Rio?”
Roni : “Saya
hanya mampir saja.” (dengan suara gugup)
Susan : “Kamu
bohong, saya mengetahui bahwa kamu sudah menyembunyikan putri dari
Jaksa Rio. Sekarang kamu jujur saja apa yang sebenarnya terjadi dan
mengapa
kamu menyembunyikan Fina?”
Roni :
“Omong kosong, saya tidak melakukan itu.” (dengan suara gugup)
Susan : “Saya
memang belum ada bukti nyata, namun terdapat saksi mata yaitu Jaksa Rio
sendiri. Kamu sekarang mengaku saja. Jawab pertanyaan saya tadi.”
Roni : “Baiklah, memang benar saya menyembunyikan
putri dari Jaksa Rio. Namun, itu
saya lakukan
karena saya butuh uangcepat untuk biaya operasi adik saya. Saya
terpaksa karena disuruh oleh seseorang dan seseorang
itu membayar saya jika saya
melakukan perintahnya. Namun,
ternyata ketika saya sudah menyembunyikan Fina,
seseorang itu tidak mengirim uang.
Sehingga, nyawa adik saya tidak tertolong
karena tidak segera di operasi.”(dengan suara terisak-isak)
Susan: “Baiklah, siapa seseorang itu? Kamu kenal?”
Roni :
“Pada awalnya, saya tidak mengenalinya karena tiba-tiba dia menuju ke rumah
saya.
Menurutnya, saya diminta tolong karena dekat dengan rumah Jaksa Rio.
Lalu, dia
menawarkan uang. Saya tidak pikir panjang karena pada saat itu saya
memang
membutuhkan uang cepat. Saya sudah pasrah jika saya nanti ketahuan
menyembunyikan putri dari Jaksa Rio. Asalkan Adik saya sembuh. Namun,
ternyata
orang itu tidak menepati janji. Dia bernama Dito. Dia seorang Pengusaha
kaya raya
yang bekerja di Perusahaan Minyak Jakarta. Saya tahu sekarang ini dia
berusaha
mencari saya dan membunuh Fina karena itu saya terus
menyembunyikan Fina.”
Susan : “Saya
akan menyelidiki dan mencari Dito. Kalau begitu, sekarang Fina dimana?
Jaksa Rio selalu menanyakan Fina. Dia sangat yakin bahwa Fina tidak
dibunuh dan
masih selamat.”
Roni :
“Fina sedang ada di Apartemen JKT. Dia sedang demam dan katanya dia butuh foto
Ayah dan Ibunya. Oleh sebab itu, saya ke rumah Jaksa Rio untuk mengambil
foto
itu.”
Susan : “Kamu
akan tetap di Penjara karena kamu sudah
menculik putri dari Jaksa Rio.
Tetapi, sebelum itu kamu harus menjaga Fina sampai Jaksa Rio keluar.
Saya dan
Jaksa Rio masih mencari cara untuk Jaksa Rio bisa keluar dari Penjara.”
Roni :
“Iya. Saya akan melakukan itu, namun saya juga butuh bantuan Pengacara Susan.
Saya minta tolong, cepat temukan cara Jaksa Rio
keluar dari Penjara dalam waktu
yang dekat karena saya khawatir Fina akan segera
ditemukan lalu dibunuh.”
Susan :
“Setelah saya menemukan cara itu, saya pasti menemui kamu. Tunggu saya dalam 5
hari. Jangan sampai ponsel kamu dilacak oleh Dito dan pastinya Dito
memiliki anak
buah. Kamu harus hati-hati. Jangan membuka pintu sembarangan, kunci
erat-erat.”
Roni :
“Baik, terima kasih Pengacara Susan. Oh iya, ada informasi tambahan bahwa
ternyata Dito memiliki saudara
kembar identik. Namun, saudaranya sekarang
berada di Penjara atas kasus pembunuhan. Jika saya tidak salah, namanya
adalah
Toni. Saya pernah membaca di laman internet. Namun, berita itu sudah
dihapus
pada internet. Menurut saya, dalang dibalik itu adalah Dito.”
Susan : “Kamu
serius? Saya akan merundingkan hal ini dengan Jaksa Rio besok.”
Roni : “Iya
saya serius. Saya tunggu kabar selanjutnya.”
Susan : “Baiklah. Sementara ini, kita tidak mungkin
bertukar pesan atau saling bertelefon
melalui ponsel. Lebih baik, kamu jangan menggunakan ponsel terlebih
dahulu.
Gunakanlah telefon umum. Saya akan membawakan ponsel untuk kamu secara
khusus 5 hari lagi. Tunggu saja.”
Adegan 7
Susan langsung pulang pada hari itu lalu dia
menuliskan informasi-informasi yang diperolehnya yang berguna untuk naik
banding pada sidang Jaksa Rio. Sedangkan Roni kembali ke Apartemen JKT.
Keesokan harinya, Susan menuju Penjara untuk menemui
Jaksa Rio.
Susan : “Pak,
saya sudah bertemu dengan Roni. Orang yang menyembunyikan Fina. Intinya,
dia melakukan hal itu karena disuruh oleh seseorang dan ternyata orang
itu bernama
Dito. Saya langsung terkejut karena Dito adalah nama yang disebut oleh
Jaksa Nino
dalam percakapan telefon.”
Rio : “Maksud kamu pembunuh istri saya adalah
Dito? Dia siapa? Mengapa dia melakukan
ini?”
Susan : “Dia
adalah Pengusaha kaya raya dan ternyata dia memiliki saudara kembar identik
yang bernama Toni Pak. Toni itu merupakan orang dengan kasus yang Bapak
tangani kala itu. Sebenarnya, saya bisa menanyakan hal ini kepada Toni.
Namun.
ketika saya menanyakan hal ini, dia tidak banyak bicara. Menurut saya,
dia akan
bicara jika Jaksa Rio lah yang langsung menanyai.”
Rio :
“Saya sudah menemukan cara untuk kabur dari Penjara. Saya melakukan ini untuk
menangkap pembunuh yang sebenarnya dan menemui Fina. Saya sangat
khawatir
dengan dia.”
Setelah Rio berbicara hal itu, Susan menyetujuinya.
Hal ini dilakukan karena memang Jaksa Rio tidak bersalah. Ada 1 bukti yang kuat
yaitu pisau yang digunakan untuk membunuh istri Jaksa karena pisau itu terdapat
sidik jari dari tersangka yang sebenarnya.
Pada saat malam hari, Rio mencocokkan jam dengan
CCTV yang ada di Penjara. Di Penjara itu terdapat beberapa CCTV disetiap sudut
dan juga terdapat menara tinggi. Menara tinggi itu biasanya untuk memantau dari
kejauhan dan untuk memonitor CCTV. Saat itu, dia mencocokkan dengan cara
melewati jendela ruangan selnya lalu dia menghitung dengan baik langkah per
langkah serta menghafalkan kunci per pagar yang harus dilalui. Pagar yang harus
dilalui berjumlah 5 tahap. Setelah melewati kelima pagar itu, dia harus naik ke
menara dan bisa kabur melalui tembok menara. Rencana ini Rio susun sendirian dan
menurutnya dia akan berhasil jika dia bisa mendapatkan kunci masing-masing
pagar tersebut. Kunci-kunci itu berada di beberapa sipir Penjara. Namun, cara
untuk memperoleh kunci itu adalah dia harus mengambilnya di Kantor tetapi itu
sangat sulit.
Setelah dia menelusuri pada malam hari, dia kembali ke sel segera karena akan ada pemeriksaan setiap sel Penjara. Dia berhasil kembali tepat waktu melalui jendela kamar mandi. Namun, malam itu dia terus memikirkan cara lain untuk mendapatkan kunci kelima pagar.
Sampai pada keesokan harinya, terdapat kegaduhan di
dalam ruangannya karena terdapat beberapa orang yang bertengkar tak kunjung
usai. Dari situ, sipir Penjara pun mencoba melerai. Jaksa Rio berhasil
mengambil kunci-kunci itu dan melakukan aksi kaburnya di malam itu secara
langsung. Dia dibantu dengan rekan seruangannya karena rekan-rekannya merasa
prihatin atas kasus Jaksa Rio yang difitnah.
Adegan 8
Malam tiba, Jaksa Rio berusaha kabur dari Penjara.
Rio : “Saya
terima kasih kepada kalian karena telah membantu saya. Jika memang saya
berhasil membuktikan saya tidak bersalah, saya akan membalas kalian
suatu saat
nanti. Semoga saya bisa menemukan putri saya.”
Jaksa Rio sebelumnya sudah menceritakan hal-hal
tersebut kepada rekan Penjaranya.
Rekan : “Baiklah, Jaksa. Semoga kamu berhasil. Saya
doakan yang terbaik.”
Rio :
“Saya minta tolong tetap diam saja jika ada sipir Penjara bertanya. Bilang saja
kalian
tidak mengetahui jika saya kabur dari Penjara.”
Rekan : “Baiklah. Kamu hati-hati. Berjuanglah.”
Rio pun tersenyum dan memulai aksinya dengan
melewati pagar-pagar tersebut secara berhati-hati agar dia tidak tertangkap
CCTV. Ketika dia melewati pagar-pagar itu, dia sempat terkejut ketika terdapat
sipir yang terus berjaga malam itu. Namun, dia harus melewatinya hingga
berhasil melewati menara tinggi. Dia sudah membawa kain panjang yang sudah
dirangkai sebagai bantuan untuk menuruni menara tinggi Penjara.
Ketika Rio akan menuju Menara tersebut terdapat
lampu sorot yang terus berputar. Dia harus menghindari lampu itu. Ternyata,
setelah beberapa menit Rio pun berhasil sampai ke Menara itu dan melewatinya.
Dia pun menuruni Menara dengan cepat dan berhasil.
Saat pemeriksaan malam, para sipir terkejut karena Jaksa Rio tidak ada diruangan. Mulai saat itulah, Jaksa Rio ditetapkan sebagai buronan.
Berita-berita Jaksa Rio sebagai buronan sudah
tersebar. Oleh sebab itu, Jaksa Rio selalu menggunakan pakaian gelap setelah
keluar dari Penjara. Dia dibantu oleh Pengacara Susan yang menjemput Rio kala
itu. Rio berhasil keluar dan dia langsung menuju ke Apartemen JKT bersama
dengan Susan malam itu.
Ternyata, ada kejadian yang tidak terduga.
Adegan 8
Jaksa Rio dan Pengacara Susan telah tiba di
Apartemen JKT. Kemudian Jaksa Rio menanyakan kepada bagian resepsionis. Tetapi,
katanya, orang dengan nama Roni sedang tidak ada di lokasi. Jaksa Rio ingin
membuktikan sendiri. Kemudian, Jaksa Rio menuju ke kamar yang menjadi tempat
Roni dan putrinya Fina (berumur 7 tahun) itu. Ketika sampai dikamarnya.
Rio :
“Apakah benar ada pengunjung yang bernama Roni? Dia ada dikamar berapa?”
Resepsionis : “Iya benar tetapi dia sudah tidak ada
ditempat. Dia ada di kamar 105
sebelumnya. Dia pergi 30 menit yang lalu.”
Rio :
“Pergi kemana Bu?”
Resepsionis : “Saya tidak tahu persisnya, tetapi
saya lihat dia bersama dengan gadis kecil
sekitar 7 tahun yang kelihatannya sedang sakit dan
pucat wajahnya.”
Rio : “Lalu apakah ada Rumah Sakit yang berada di
dekat sini?”
Resepsionis : “Ada Pak. Rumah Sakit JKT 5 yang
berada di perempatan jalan. Bapak belok
kanan dari sini lalu terdapat perempatan. Nah, di
sebelah kanan jalan letaknya
RS itu.”
Rio :
“Baiklah Bu terima kasih.”
Kemudian Jaksa Rio diam-diam menuju ke kamar Roni.
Sementara itu, Pengacara Susan menunggu diluar. Ternyata disitu terdapat surat
yang ditulis oleh Roni yang menyatakan bahwa dia berada di RS terdekat. Roni
menuliskan itu karena dia tahu bahwa Jaksa Rio dan Pengacara Susan akan datang
karena itu hari ke-5 Roni menunggu Rio dan Susan.
Rio dan Susan menuju ke RS itu dan berhasil bertemu
dengan Roni dan Fina disitu. Namun, Susan sedang menunggu di parkiran.
Sedangkan, Rio menuju kamar Fina dirawat. Ketika Rio bertemu Fina, dia merasa
senang dan terharu karena ternyata Fina masih benar-benar hidup.
Fina :
“Papa... Papa, selama ini kemana saja?”
Rio : “Papa tidak kemana-mana lagi. Papa akan
selalu mendampingi kamu nantinya.
Tunggu sebentar lagi ya.” (dengan
meneteskan air mata)
Fina : “Aku
kangen Papa. Mama mana Pa?”
Rio : “Mama
kamu sudah pergi, kamu doakan saja agar Mamamu bahagia.Kamu istirahat
dulu biar cepat sembuh. (dengan meneteskan air mata)
Ketika Fina tertidur, Rio berbincang dengan Roni.
Rio :
“Saya ingin marah namun tidak sanggup marah kepada kamu. Tetapi, saya berterima
kasih karena kamu menjaga putri saya dengan baik.Tolong jaga dia sampai
saya
benar-benar dibuktikan tidak bersalah.”
Roni : “Saya
minta maaf. Namun, saya memiliki bukti tambahan jika Dito pelakunya Pak.
Saya memiliki rekaman suara Dito pada saat dia memberikan perintah
kepada saya
untuk menculik putri Bapak. Rekaman itu berada di saya selama ini, saya
simpan
baik-baik. Sekali lagi saya minta maaf dan akan membantu Bapak.” (Roni
menyerahkan rekaman suara itu kepada Rio)
Rio :
“Saya sudah mendengar semuanya dari Pengacara Susan mengenai penjelasan kamu.
Terima kasih atas bantuannya. Namun, bukankah didalam rekaman itu
terdapat
suara kamu? Kamu akan ditangkap segera jika rekaman suara ini naik
banding di
Pengadilan.”
Roni :
“Tidak apa-apa Pak, saya pantas mendapatkan itu karena saya juga salah. Terima
kasih Pak.”
Keesokan harinya, Jaksa Rio menemui Toni diam-diam
bersama dengan Pengacara Susan. Ternyata, Toni mengaku bahwa sebenarnya dia
bukanlah pembunuh. Pembunuh sebenarnya adalah Dito. Dito saudara kembar dari
Toni. Toni diminta Dito untuk menggantikan Dito menjadi tersangka, jika tidak,
Toni akan dibunuh oleh Dito.
Rio :
“Saya mengetahui bahwa kamu adalah kembaran dari Dito. Kamu tahu bahwa
sebenarnya dia adalah pembunuh istri saya?”
Toni : “Iya
saya tahu Pak. Maafkan saudara saya.
Sebenarnya, dia juga pembunuh 10
wanita. Saya bukanlah pembunuh. Saya diminta untuk menggantikannya
sebagai
tersangka. Saya dipaksa. Jika saya tidak mau, saya akan dibunuh. Dia seperti itu
karena ingin merebut posisi saya sebagai Pengusaha Minyak. Ketika kasus
pembunuhan itu terdengar dan yang menangani Jaksa Rio, otomatis dia
marah dan
membalaskan dendam kepada Jaksa Rio dengan cara membunuh Istri Bapak.”
Pengacara Susan berencana membantu Toni untuk bebas
dan segera menangkap Dito.
Bukti-bukti berupa pisau pun diambil, rekaman suara
diambil lalu naik banding dan hasilnya memang benar sidik jari yang ada di
pisau itu adalah sidik jari dari Dito dan suara itu adalah suara Dito.
Dito pun ditetapkan menjadi buronan dan Dito
sekarang bergerak untuk mengancam putri dari Jaksa Rio. Namun, hal itu berhasil
digagalkan.
Adegan 9
Setelah terkuak bahwa Jaksa Rio bukan pembunuh
sebenarnya dan Toni pun juga begitu. Mereka dibebaskan dari Penjara. Jaksa Rio
langsung menuju ke RS tempat Fina dirawat. Jaksa Rio sudah menebak ketika
berita Dito menjadi buronan disebar, maka Dito akan mencari putri dari Jaksa
Rio.
Jaksa Rio dan Pengacara Susan tiba di RS dengan
dikawal oleh Polisi.
Rio :
“Roni, kamu sudah selesai menjaga putri saya. Terima kasih, dia sudah sembuh.
Terima kasih sudah menjaga putri
saya dengan baik dan penuh kesabaran.”
Roni :
“Terima kasih Bapak.”
Dito pun ditangkap di lokasi RS dan dia ditetapkan
sebagai tersangka dengan hukuman mati dengan kasus pembunuhan 10 wanita dan
istri dari Jaksa Rio serta melakukan perintah penculikan. Sementara itu, Roni
ditangkap dengan hukuman 5 bulan Penjara karena dia telah mengaku dan
berkelakuan baik, dia dibebaskan dalam 3 bulan. Sedangkan, Jaksa Nino telah
terbukti menyembunyikan barang bukti. Dia dipidana selama 5 bulan Penjara.
Jaksa Rio pun kembali dengan pekerjaannya dan selalu
menjaga putrinya dengan baik. Dia selalu mendoakan Istrinya. Jaksa Rio akan
selalu berhati-hati dan tetap hidup dengan bahagia.
BIOGRAFI PENULIS
JUWITA PUSPITA
Saya lahir di Sidoarjo, Pulau Jawa pada 10 September
1999. Sekarang saya tinggal di Malang tepatnya di Perumahan Graha Gardenia, dekat
dengan Bandara Abd.Saleh, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Saat ini saya
sedang menempuh kuliah di Universitas Negeri Malang semester 5 jurusan Sastra
Indonesia dengan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah.
Adapun
pendidikan formal yang pernah saya tempuh yaitu lulus SD pada tahun 2011 di SDN
Saptorenggo 04 Malang. Pada tahun 2014 lulus dari SMPN 14 Malang. Pada tahun
2017, saya lulus dari SMKN 5 Malang.
Hobi saya adalah
membaca dan menyanyi serta berolahraga basket dan bulutangkis. Berbicara
tentang menyanyi, menurut saya menyanyi merupakan kesenangan tersendiri dan
selalu membuat saya bahagia. Sedangkan, Olahraga merupakan suatu kegiatan yang
membuat badan menjadi lebih sehat. Olahraga yang saya minat adalah Basket dan
Bulutangkis. Cita-cita saya ingin menjadi seorang Guru dan Dosen dalam bidang
Bahasa.
Terima kasih
telah membaca karya saya. Semoga kalian menyukainya, mohon maaf apabila ada
kesalahan.
Salam Bahagia,
Juwita Puspita
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi