NASKAH DRAMA "TOLONG AJARI AKU"
TOLONG AJARI AKU
Oleh : Rifqi
Hayyinul Ula
Kiki
Maesaroh
Via
Sasa
Adek
ADEGAN 1
PADA SIANG YANG MENYINGSING PETANG DAN
SIMILIR ANGIN YANG MEMBUAT TENANG. VIA YANG BARU SAJA MELANGKAHKAN KAKI KELUAR,
TIBA-TIBA KEMBALI DENGAN TERGESA-GESA. IA MEMBANTING PINTU LALU MENUTUPNYA.
GADIS BERPERAWAKAN ANEH TELAH MENGIKUTI LANGKAHNYA.
Sasa :
“Ada apa sis, apa yang terjadi? Kenapa kamu?” (Sasa yang duduk santai
pun
terbangun tiba-tiba).
Via :
“Tutup pintunya, semuanya, jendela-jendela juga, cepat!!!”
Sasa : “Iya…iya…tunggu.” (Sasa segera berlari ke
belakang untuk menutup pintu dapur)
Via : “Ya Tuhan selamatkan kami…tolong-tolong.”
(Via memenjamkan mata rapat-rapat, dan tangannya gemetaran)
Sasa :
“Siapa sih Vi?” (Sasa membuka kelambu jendela pelan-pelan)
Via :
“Dia Vi…”
Sasa :
“Astaghfirullah…”
Via :
“Iya Vi…kenapa dia ke sini lagi?”
Sasa : “Tunggu-tunggu dulu Vi, kamu harus tenang
dulu. Dia sepertinya bukan yang nakutin kita dulu. Bukan kah itu saudaranya?”
Via :
“Iya kah?, ahh sama aja, wajahnya juga sama aja nakutin.”
Sasa :
“Mending kita buka dulu pintunya.”
Via : “Sa…kamu jangan main-main, pikir dulu
baik-baik, kalau dia berontak gimana?”
Sasa :
“Vi…jangan panik, lihat kasian dia, dia masih menunggu di luar.”
Via : “Nggak Sa, kamu nggak boleh ngelakuin
itu.” (Via membentangkan ke dua tangannya menutupi pintu)
Sasa : “Minggir Vi, aku yang akan tanggung
jawab.” (Sambil menarik bahu Via yang menutupi pintu)
Via : “Sa….kamu ini berpikir jernih dong,
kalau sampai seisi kos panik gimana? Mikir dong sa!”
Sasa :
“Udah deh Vi, jangan kebanyakan bicara, cepet minggir!”
Via : “Terserah kamu deh Sa, awas terjadi
apa-apa!” (Via pun meninggalkan Sasa sendirian dengan wajah cemberut kecewa
bercampur ketakutan).
ADEGAN 2
SASA MEMBUKA PINTU PELAN-PELAN, TANGANNYA
SEDIKIT GEMETAR, TERBESIT KERAGU-RAGUAN TAPI DIA TETAP MEMBUKA PINTU YANG SUSAH
DI BUKA ITU.
Sasa :
“A…a…ada apa mbak?”
SELANG 5 DETIK TIDAK ADA JAWABAN
Sasa :
“Kenapa mbak?”
LAGI-LAGI TIDAK ADA JAWABAN
Sasa :
“Mbak…mbak kenapa di sini?” (Suara Sasa meninggi)
Mbak :
“Kikinya ada?” (suara terdengar lirih)
Sasa : “Siapa mbak?” (Lagi-lagi Sasa kurang
mendengar dengan jelas jawaban mbak itu)
Mbak :
“Mbak Kiki ada?”
Sasa :
“Ohh…nyari mbak Kiki? Kenapa nyari mbak Kiki?”
Mbak :
“Mau belajar.”
Sasa :
“Mbak Kikinya lagi keluar, belum balik.”
Mbak : “Ke mana?”
Sasa :
“Ya…keluar mbak.”
Mbak :
“Lah aku mau belajar.” (Matanya mulai berkaca-kaca)
Sasa :
“Lah sudah janjian ta?”
Mbak :
“Belum…”(Dia tertawa malu-malu)
Sasa :
“Lah gimana mbak itu. Saya telephonin mbak Kiki dulu.”
Mbak :
“Apa…?”
Sasa :
“Saya hubungi mbak Kiki dulu biar pulang.” (Nada Sasa meninggi lagi)
Mbak :
“Oh…iya…iya.”
Sasa :
“Oh ya, masuk-masuk mbak.”
SASA SEGERA MENGAMBIL HANDPHONE NYA,
DIA BURU-BURU KE KAMARNYA. SAMBIL MENELEPON, MATANYA TAK LEPAS DARI PERHATIAN
KE MBAK YANG DUDUK ITU YANG TENGAH MEMANDANG ATAP-ATAP KOSNYA, DIA TAKUT JIKA
TERJADI APA-APA.
TUUT…TUUT…TUUT…TUTT….TUUT….TUUT….(TELEPHON BELUM JUGA DIANGKAT OLEH KIKI)
Sasa :
“Mbak, Mbak Kikinya tidak bisa dihubungi, besok aja ya ke sini lagi.”
Mbak :
“Loh kenapa? Aku mau belajar.”
Sasa : “Iya mbak, tapi mbak Kikinya nggak ada di
sini. Masih ada kegiatan di luar.”
Mbak :
“Terus gimana?”
Sasa :
“Iya mbak pulang dulu, atau nggak nanti ke sini lagi.”
Mbak :
“Rumahku jauh.”
Sasa :
“Gimana ya…tapi mbak Kikinya nggak ada.”
Mbak :
“Lah tadi suaranya siapa?”
Sasa :
“Siapa mbak?”
Mbak :
“Tadi itu…”
Sasa :
“Oh…tadi itu suaranya mbak Via”
Mbak :
“Siapa dia?”
Sasa :
“Teman saya dan mbak Kiki”
Mbak :
“Berarti mbak Kiki ada di dalam?”
Sasa : “Astaga…tidak ada mbak, mbak pulang dulu
ya, besok ke sini lagi.” (jemari-jemari Sasa menggenggam kuat.”
Mbak : “Saya tidak mau pulang, saya mau ke
belakang dulu, mau cari makan, lapar habis jalan jauh.” (tiba-tiba tersenyum
sendiri)
Sasa :
“Oh iya saya ambilkan minum mbak, tunggu dulu.”
Mbak :
“Mana?”
Sasa :
“Ini mbak, hati-hati di jalan mbak.”
Mbak :
“Mbak Kiki nggak pulang-pulang ya?”
Sasa : “Iya lagi sibuk sepertinya, saya tutup
dulu ya pintunya. Assalamualaikum…”
Mbak :
“Waalaikumsalam”
SASA MERASA KETAKUTAN SENDIRI, IA INGIN
MENGADU PADA VIA, TAPI PASTI VIA AKAN MENYALAHKANNYA. KEMUDIAN VIA MEMBUKA
HANDPHONENYA DAN SEGERA MENGHUBUNGI KIKI. SETELAH BEBERAPA KALI MENCOBA,
AKHIRNYA TELEPHON SASA TERSAMBUNG JUGA.
ADEGAN 3
Sasa :
“Assalamualaikum Ki, Alhamdulillah tersambung juga.”
Kiki :
“Wa’alaikumsalam, ada apa Sa?”
Sasa :
“Kamu kemana aja sih, dari tadi nggak bisa dihubungi.”
Kiki :
“Aku lagi konsultasi ke dosen tadi, apa yang terjadi Sa?”
Sasa :
“Haduh…nyebelin banget pokoknya.”
Kiki :
“Kenapa…kenapa?”
Sasa :
“Pertama aku berantem sama Via.”
Kiki :
“Terus-terus?”
Sasa : “Bentar dulu dong, hmmm…..kamu ingat anak
kecil yang ditakutin sama anak kos di sini?”
Kiki :
“Sebentar…oh iya…iya ingat. Apa yang dilakukannya emang?
Sasa : “Bukan dia sih, tapi kayaknya tadi
kakaknya. Pakai kerudung juga kok tadi dia.”
Kiki :
“Oh iya…iya…aku ingat…aku ingat. Dia sepertinya baik.”
Sasa : “Nah tadi tuh saking kaget plus takut,
pas mbak itu dating Via langsung nutup tuh pintu. Habis itu kita berantem,
soalnya aku maksa buat dia bukain pintu, kasihan ngelihat wajah mbaknya dari
jendela tapi sayangnya Via si keras kepala itu bener-bener nggak mau bukain
pintu. Setelah lama kita berdebat dan aku yakinin dia kalau ada apa-apa yang
nanggung baru dia mau pergi dari, tapi ya sambil marah-marah nggak jelas gitu.”
Kiki :
“Lah kamu sendiri nggak takut?”
Sasa :
“Menurut kamu? Ngelihat wajah orang yang memelas gitu?”
Kiki :
“Oke-oke, keren Sa.”
Sasa :
“Keren apanya?”
Kiki :
“Keren atas keberanianmu.”
Sasa :
“Itu gara-gara kamu Ki.”
Kiki :
“Aku?...kamu ini aneh, aku diluar kok aku yang kena masalahnya.”
Sasa :
“Dia tuh nyariin kamu.”
Kiki :
“Hah…. Aku?”
Sasa :
“Iya cantik…”
Kiki :
“Loh kenapa dia nyariin aku?”
Sasa :
“Katanya mau belajar di kamu?”
Kiki :
“Nggak mungkin ah, pasti bercanda kamu itu.”
Sasa :
“Allahu akbar, sumpah Ki dia tuh nyariin kamu.”
Kiki :
“Nah yang jadi pertanyaan dia tahu namaku dari mana coba?”
Sasa :
“Ya…jangan tanya aku lah, mana aku tahu.”
Kiki :
“Kenapa harus aku?”
Sasa : “Ahh mungkin dari para tetangga. Secara
di kos ini kamu yang paling deket sama bu RT, terus kamu yang sering ikut
acara-acara kampung ini. Nah mungkin ada salah satu orang yang nyuruh mbaknya
buat belajar ke kamu?”
Kiki :
“Kok bisa ya…”
Sasa :
“Ya bisalah Ki, eh itu tadi mungkin ya…”
Kiki :
Ngomong-ngomong siapa nama mbaknya?”
Sasa :
“Astaga…iya lupa dari tadi omong-omongan belum nanya namanya.”
Kiki :
“Hmm…dasar pelupa.”
Sasa :
“Ihh biarin, syirik aja loh.”
Kiki :
“Ihh…”
Sasa :
“Udah deh Ki buruan balik, aku takutnya mbaknya ke sini lagi nanti.”
Kiki :
“Oke-oke ini hampir selesai. Sampai ketemu nanti.”
Sasa :
“Oke jangan lama-lama, hati-hati.”
Kiki :
“Siap, terima kasih Sasa.”
ADEGAN 4
Via :
“Kiki…kamu ke mana aja sih.”
Kiki :
“Nggak ke mana-mana cuma ngurusin berkas KKN.”
Via :
“Sumpah, jantungku mau copot loh.”
Kiki :
“Hey kenapa? Alay banget sih.”
Via : “Kamu nggak tau rasanya orang yang
tiba-tiba bertemu orang yang ditakutinya.”
Kiki :
“Ohh orang aneh, ehh anak kecil yang dulu ke sini ta?”
Via :
“Iya, ehh kamu kok udah tau?”
Kiki :
“Iya tadi pas mau balik, tiba-tiba Sasa telephon.”
Via : “Iya Ki…jantungku dag dig dug terus, aku
takut dia ngapa-ngapain di kos kita.
Kiki :
“Perasaanku sepertinya nggak sih Vi.”
Via : “Entah apa yang ada di pikiranmu, dan
Sasa. Kalian dengan mudah menganggap dia sebaik itu. Padahal dulu dia bikin
ulah di kos kita.”
Kiki : “Bentar-bentar Vi, sepertinya dia bukan
orang yang kamu maksud. Sepertinya dia adalah saudaranya.”
Via : “Kalau pun itu saudaranya. Barangkali
wataknya tidak jauh beda dengan adeknya.”
Kiki :
“Huss jangan berprasangka buruk dulu.”
Via : “Lalu aku harus gimana Ki? Sumpah aku
tadi takut banget. Dia dating juga nggak ngomong apa-apa. Cuma diam aja, nggak
jelas. Nggak permisi atau ngucapin salam.”
Kiki : “Dia kan emang kelihatannya beda Vi
dengan kita, tapi aku yakin dia baik kok.”
Via : “Haduh terserah kamu. Mendingan kamu
ngomong dulu sama Bu Kos sama Bu RT dulu tentang dia. Minta wejangan. Jadi
kalau ada apa-apa kita nggak salah langkah.”
Kiki :
“Iya-iya Via. Kamu yang tenang juga.”
Via :
“Baiklah Vi.”
Kiki :
“Kamu tadi berantem ya sama Sasa.”
Via :
“Iya. Dia nyebelin banget sih.”
Kiki : “Eh…udah saling minta maaf sana. Nggak
baik tau marah-marahan terus.”
Via :
“Entar dulu Ki. Aku masih ngontrol emosiku dulu.”
Kiki :
“Iya deh, pokoknya jangan lama-lama. “
Via : “ Dia sih yang seharusnya minta maaf ke
aku dulu, soalnya dia yang nyebelin.”
Kiki : “Haduh aku bingung harus bela siapa,
terserah kalian sih. Pokoknya inget kita udah seperti saudara bahkan keluarga
di sini.”
Via :
“Iya…iya…Ki.”
Kiki :
“Udah dulu ya aku mau ke kamar dulu.”
Via :
“Oke. Pokoknya jangan lupa pergi ke Bu RT atau Bu Kos.”
Kiki :
“Siap.”
Via :
“Oke aku percaya kamu.”
Kiki :
“Eh Sasa ke mana?”
Via :
“Tau deh, mana ada urusan aku dengannya.”
Kiki :
“Haduh kalian ini kayak anak kecil aja.”
Via :
“Eh Ki mendingan kamu yang jaga-jaga di ruang tamu aja deh.”
Kiki :
“Loh kenapa?”
Via :
“Ya jaga-jaga aja, takutnya mbak nya ke sini lagi.”
Kiki : “Via…Via…dia bukan hantu kali. Udah
tenang aja, nggak usah setakut itu.”
Via :
“Oke-oke, udah masuk-masuk sana.”
Kiki :
“Da…da…da…”
ADEGAN 5
PAGI HARI MINGGU YANG DINGIN MEMBUAT
ORANG-ORANG TAK INGIN MELEPASKAN LEKAT SELIMUT
DENGAN TUBUH MEREKA. TERLALU NYAMAN ATAU MALAS SERINGKALI BERCAMPUR
ADUK, TIDAK DAPAT DIPISAHKAN. INTINYA
TIDUR DI PAGI HARI ADALAH PILIHAN SEBAGIAN BANYAK ORANG YANG MEMBUAT NYAMAN,
BEGITU PULA DENGAN KIKI. DI TENGAH KENYAMANANNYA, TIBA-TIBA ADA YANG MENGETUK
PINTU KAMARNYA BERKALI-KALI.
Via :
“Ki bangun, Ki bangun…”
Kiki :
“Siapa?”
Via :
“Aku Ki. Via.”
Kiki : “Kenapa sih Vi, ini baru jam setengah
enam, kenapa kamu udah bikin ramai.”
Via :
“Udah deh bangun jangan tidur mulu.”
Kiki : “Sok-sok an kamu, biasanya kamu yang
malah bangun sampai jam sepuluh.”
Via : “Ki buka matamu! Lihat di luar banyak
ibu-ibu yang senam pagi, ada bu RT juga.”
Kiki :
“Terus maksud kamu apa?”
Via :
“Yah samperin bu RT lah.”
Kiki :
“Ya ampun Vi, itu kan bu RT nya lagi senam masak kita gangguin.”
Via : “Ya bukan gitu. Kamu siap-siap nunggu
ibuknya selesai senam terus baru kamu samperin ibuknya, begitu maksudku.”
Kiki :
“Sebenarnya kamu juga bisa menyampaikan ke ibuk RT sendiri.”
Via : “Ye…bukan gitu lah. Kan ini hubungannya
sama kamu, kan kamu juga yang paling deket sama ibu-ibu di sini.”
Kiki : “Haduh pasti yang dihubung-hubungin aku,
kalian sebenarnya juga bisa dekat sama ibu-ibu di sini asal nggak individualis
aja.
Via :
“Duh buruan bangun, jangan banyak ceramah.”
Kiki :
“Dibilangin kok.”
Via :
“Udah deh ayuk-ayuk keluar. Tak temenin deh.”
Kiki :
“Hmmm….iya-iya.”
Via :
“Ayo Ki cepet.”
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN…
Kiki :
Ini kapan senamnya selesai?”
Via :
“Iya…iya Vi, biasanya jam setengah tujuh udah selesai.”
Bu RT :
“Kiki…halo sayang, ayo ikut senam.”
Kiki :
“Eh iya bu.”
Via :
“Tuh kan ibunya senang banget ketemu kamu.” (Berbisik kepada Kiki)
Kiki :
“Udah diam aja.”
Via :
“Ibu kita ingin bicara sesuatu.”
Kiki :
“Eh Vi….kamu kok selancang itu.”
Bu RT :
“Iya…bentaar-bentar ya. Bentar lagi selesai.”
Kiki :
“Maaf ya bu.”
SETELAH SENAM SELESAI, VIA MENDORONG-DORONG
KIKI AGAR CEPAT MENDATANGI BU RT YANG TENGAH BERISTIRAHAT SETELAH MELAKUKAN
SENAM PAGI.
Via :
“Ayo-ayo Ki.”
Kiki :
“Tunggu dulu. Tenang dong Vi.”
Via :
“Oke-oke.”
Kiki :
“Permisi bu…”
Bu RT :
“Iya nak…ada apa ada apa?”
Kiki : “Maaf sebelumnya sudah mengganggu waktu
ibu. Begini bu, kemarin sore itu tiba-tiba mbak-mbak yang ditakutin anak kos
datang ke kos dan tiba-tiba cariin Kiki buk. Dia bilang kalau mau belajar sama
Kiki. Kiki ya bingung buk, soalnya dia kok tahu nama Kiki.”
Bu RT :
“Oalah itu sepertinya Maesaroh.”
Via :
“Yang matanya agak juling ya bu? Ya yang tingginya selengan saya?”
Bu RT :
“Iya benar, dia Maesaroh.”
Kiki :
“Begini bu, dia tiba-tiba ingin belajar dengan saya.”
Bu RT : “Iya Ki…maaf ya ibu belum sempet bilang
sebelumnya. Udah seminggu yang lalu Bu Endang yang punya les-lesan itu bilang
ke ibu, kalau anak-anaknya risih dengan kedatangan Maesaroh di tengah-tengah
kelas les mereka. Sebenarnya Bu Endang nggak papa, kan juga sekalian mengajar.
Nah tapi anak-anak di situ pada tidak mau, sampai mereka menjadi malas belajar
dan akhirnya nggak masuk les. Terus Bu Endang tanya ke ibu, gimana solusinya
gitu. Terus maaf ya Ki, ibu yang menyarankan si Maesaroh bu belajar di kamu.”
Kiki : “Oalah begitu ya bu, tapi begini bu
teman-teman pada takut dengan kedatangan dia.”
Bu RT : “Oalah begitu ta. Dia itu beda loh Ki sama
yang satunya. Kalau dia itu kakaknya yang semangat belajar. Mungkin yang sering
nakut-nakutin itu adeknya, Sri namanya. Kalau Sri kan sering minta-minta uang
kan ya? Kalau nggak dikasih malah marah-marah.”
Kiki : “Kenapa ya bu…kok mereka berdua terlihat
aneh, maksudnya fisiknya juga seperti ada kelainan.”
Bu RT : “Iya mbak, kata orang-orang sih itu gara-gara
bapak ibunya itu sekandung.
Kiki :
“Hah…jadi menikah dengan saudara sendiri?”
Bu RT :
“Iya Ki, jadi besok kamu kalau cari pasangan harus hati-hati ya…”
Kiki :
“Iya bu.”
Bu RT : “Begini saja, kalau si Maesaroh datang lagi
nggak papa ya. Dia bukan anak nakal, semangat belajarnya tinggi. Kalau kamu
misalnya ada kegiatan di luar. Bilang aja kalau belajarnya sementara libur
dulu.”
Kiki : “Iya bu, kalau saumpama ada apa-apa lagi
saya akan segera bilang ke ibu.”
Bu RT : “Iya Ki semoga tidak ada apa-apa. Semoga
dengan ketulusanmu, segala tugas-tugasmu dipermudah.”
Kiki :
“Amiin bu….Kiki sama Via pamit pulang dulu.”
Bu RT :
“Iya nak, makasih sebelumnya.”
Kiki :
“Sama-sama bu.”
Via :
“Semoga tidak aan terjadi apa-apa ke depannya.”
Kiki :
“Kamu sih yang terlalu panik.”
Via :
“Lha gimana lagi Ki, wajarlah.”
ADEGAN 6
DIBALIK TERIK CAHAYA SORE YANG TERHALANG OLEH KELAMBU JENDELA,
KIKI TERUS BERPIIR BAGAIMANA IA NANTI AAN BERBICARA EPADA
MURID BARUNYA. PASTI SEDIIT SULIT ARENA YANG DIHADAPINYA TIDA LAH SAMA SEPERTI
ORANG BIASANYA. TIBA-TIBA IA TERPEKIK DENGAN BAYANG-BAYANG YANG SEDARI TADI
MENGINTIPNYA DI DEPAN PINTU. LALU IA MENENGOK KELUAR TERNYATA ADA SESEORANG YANG DIA
TUNGGU-TUNGGU.
Kiki : “Eh mba, Mbak Mae kah namanya?
Mae : “Saya?”
Kiki : “Iya mbak.”
Mae : “Maesaroh.”
Kiki : “Mau belajar ya?”
Mae : “Iya, Mba Kiki ada?”
Kiki : “Ada, silahkan masuk mbak.”
Mae : “Mba Kiki di mana?”
Kiki : “Perkenalkan dulu, ini saya yang namanya Kiki.” (Kiki menguluran tangannya
Mae : “Oh....” (ia menyalami tangan Kiki, hanya tersenyum bahagia)
Kiki : “Ke sini naik apa mbak?”
Mae : “Jalan kaki.”
Kiki : “Jauh apa deket?”
Mae : “Jauh, capek.”
Kiki : “Saya ambilkan minum dulu
ya.”
Mae : “Iya, tapi jangan lama-lama ya.”
Kiki : “Emang mbak mau ke mana?”
Mae : “Mau di sini, belajar.”
Kiki : “Oh iya-iya, tunggu sebentar…Mau belajar apa
mbak?”
Mae : “Terserah.”
Kiki : “Loh kok terserah, mbak pengin bisa
apa?”
Mae : “Pengin pintar.”
Kiki : “Yaudah gini aja, baca buku ini dulu ya.”
(Kiki menyodorkan buku cerita)
Mae : “Iya.”
Kiki : “Di baca yang keras dan jelas
mbak ya.”
Mae : “Yang mana?”
Kiki : “Di baca halaman satu dulu.”
LALU MAE MULAI MEMBACA SATU PER SATU KATA YANG
TERDAPAT DALAM CERITA ITU DAN KIKI MENJELASAN ISI DARI CERITA ITU. MAE TERLIHAT
BERSEMANGAT MENDENGARAN PENJELASAN DARI KIKI YANG DISANGKUTPAUTKAN DENGAN KEHIDUPAN
SEHARI-HARI.
Kiki : “Nah mbak sampai di sini
dulu ya belajar kita, besok dilanjut
lagi.”
Mae : “Besok aku mau ke sini lagi.”
Kiki : “ Iya mbak. Eh mbak sudah bisa
hitung-hitungan?”
Mae : “Sedikit, kalau angkanya banyak nggak bisa.”
Kiki : “Oh begitu, yaudah besok latihan baca
sama menulis ya.”
Mae : “Iya”
Kiki : “Oh iya ini ada jajan, di makan ya, masukin tas dulu.
Bilang apa mbak Mae? Makasih”
Mae : “Makasih.”
ADEGAN 7
KEESOKAN HARINYA MAE
DATANG LAGI KE KOS, TAPI TERNYATA DIA DITEMANI SAUDARANYA YANG
DITAKUTI OLEH ORANG-ORANG. SASA YANG INGIN KELUAR DAN SUDAH
BERADA DI TENGAH-TENGAH PINTU TIBA-TIBA BERTERIAK KERAS. IA SANGAT KETAKUTAN. KEMUDIAN SEISI KOS PUN KELUAR DARI KAMAR TERMASUK KIKI.
Sasa : “Tolong...tolong... Kiki cepat keluar.”
Kiki : “Sa...tenang-tenang, kamu masuk kamar dulu.”
Sasa : “Kiki lihat sepatuku dipakai itu loh.”
Kiki : “Iya iya bentar tak minta dulu.”
Sasa : “Mbak itu saudaranya Mbak Mae?”
Mae : “ Iya itu adek.”
Kiki : “Tolong bilangin sepatunya jangan dipakai ya, ini mau
dipakai yang punya.”
Adek : “Enggak mau, sepatunya bagus.”
Sasa : “Eh cepat kembalikan, saya mau
ada urusan.”
Adek : “Enggak mau, aku suka sepatunya.”
Sasa : “Kiki sepatuku.”
Kiki : “Adek kembalian ya sepatunya.”
Adek : “Apa kamu? Ini sepatuku.” (kemudian adek Mba Mae lari keluar)
Sasa : “Sepatuku.”
Kiki : “Maaf ya Sasa.”
Sasa : “Maaf-maaf...itu sepatu baru.” (Sasa benar-benar marah)
Kiki : “Kamu boleh pinjam sepatuku Sa.”
Sasa : “Jangan mikirin aku, pokoknya aku ingin sepatuku kembali, kalau enggak Mba Mae yang
tak usir dari sini.”
Kiki : “Jaga mulutmu Sa!” (Kiki langsung menyenggol tubuh Sasa)
Sasa : “Aku nggak pernah berfiir
kalau kejadiannya sampai seperti ini. Kemarin aku sangat
menyesal tidak mengikuti ucapannya
Via malah bertengar dengannya.”
Kiki : “Sa tenang dulu, setelah ini kita selesaikan bersama.”
Sasa : “Itu urusanmu.” (Sasa pergi ke kamar dengan
perasaan yang sangat sedih).
Kiki : “Mbak Mae masuk silahkan masuk. Loh kenapa nangis?”
Mae : “Mbaknya tadi marah-marah.”
Kiki : “Enggak papa jangan kuwatir. Oh iya kalau sampai
rumah adeknya dibilangin ya kalau segera dikembalian
sepatunya ke sini lagi.”
Mae :”Iya, nanti tak bilangkan.”
Kiki : “Adeknya memang suka marah ya?.”
Mae : “Iya, dia suka marah-marah.”
Kiki : “Mbak berarti sering
berantem sama adeknya?”
Mae : “Iya sering, tapi setelah itu aku langsung
pergi.”
Kiki : “Oh begitu, adeknya umurnya
berapa?”
Mae : “Emm…20 tahun.”
(Dia sambil menggerak-gerakkan tangannya untuk menghitung)
Kiki : “Ah masak sih, berarti
sama seperti saya dong. Loh berarti Mbak Mae usianya
berapa?”
Mae : “23 tahun.”
Kiki : “Hah...beneran mbak
Mae : “Iya.”
Kiki : “Nggak kelihatan ya.”
Mae : “iya, soalnya aku pendek.”
Kiki : “Mungkin, eh tapi bukan karena itu kok, memang mbak Mae kelihatan muda.
Sekarang waktunya membaca ya, melanjutkan yang
emarin.”
BEBERAPA WAKTU KEMUDIAN…
Kiki : “Sudah mbak Mae?”
Mae : “Sudah.”
Kiki : “Oh iya Mba Mae, belajarnya libur sebulan
dulu ya, soalnya saya mau pergi ke luar kota ada tugas
uliah.
Mae : “Ke mana?”
Kiki : “Jauh mbak, di Bengkulu.”
Mae : “Jauh ya.”
Kiki : Iya jauh.”
Mae : “Lama?”
Kiki : “Iya mbak lama satu bulan.”
Mae : “Terus gimana?”
Kiki : “Belajarnya libur dulu, mbak belajar di
rumah ya, nanti saya bawakan beberapa buku untuk dibaca.”
Mae : “Kok lama?”
Kiki : “Iya mbak memang
biasanya satu bulan.”
Mae : “Yah...jangan lama-lama.”
Kiki : “Nanti belajarnya bisa dilanjut pas watu
saya sudah embali.”
Mae : “Iya.”
Kiki : “Faham kan mbak? Kalau saya nggak ada belajarnya di mana?”
Mae : “Di rumah.”
Kiki : “Nah searang mbak boleh pulang
dulu.”
Mae : “Jajannya mana?”
Kiki : “Loh belajar kok minta jajan?”
Mae : “Kan kemarin juga dikasih.”
Kiki : “Loh nggak boleh gitu
mba, belajarnya harus ikhlas, nggak boleh belajar karena nanti mau
dikasih jajan. Kemarin saya pas ada jajan, sekarang nggak punya.”
Mae : (Dia hanya tertawa)
Kiki : “Belajarnya harus apa mbak?”
Mae : “Ikhlas.”
Kiki : “Pintar. Jangan lupa ya mbak belajaranya
libur satu bulan.”
ADEGAN 8
SETELAH LIMA HARI TIDAK KE KOS, TIBA-TIBA MBAK MAE DATANG
LAGI. SEPERTI KEBIASAANNYA DIA DATANG HANYA DIAM SAJA DAN
TIDAK BERKATA SEBELUM
DITANYA. SASA YANG MELIHAT MAE TIDAK MAU MENYAPA LAGI, SEMENTARA VIA YANG MELIHAT
MAE YANG SUDAH BERDIRI KURANG LEBIH SATU JAM PUN DI DEPAN PINTU AHIRNYA MERASA IBA DAN MEMBERANIKAN DIRI BERBICARA KE MAE.
Via : “Cari siapa mbak?”
Mae : “Mba Kiki ada?”
Via : “Loh kan Mba Kiki di Bengkulu ada tugas kuliah.”
Mae : “Masih lama kah?”
Via : Iya mbak, kan kemarin baru berangkat.”
Mae : “Lama ya?”
Via : “Iya mbak.”
Mae : “Bilangkan saya minta oleh-oleh.”
Via : “Apa? Oleh-oleh?”
Mae : “Iya.”
Via : “Iya nanti saya sampaikan.”
Mae : “Tapi aku mau belajar.”
Via : “Belajar di rumah aja ya.”
Mae : “Nggak ada yang mau ngajarin.”
Via : “Kemarin pesennya mbak Kiki apa?”
Mae : “Disuruh belajar.”
Via : “Yaudah belajar sendiri dulu aja.”
Mae : “Aku pengin sama mba Kiki.” (Sambil berakaca-kaca)
Via : “Haduh bagaimana ya mbak. Mbak beneran pengin
belajar?”
Mae : “Iya.”
Via : “Kalau saya carikan guru
gimana?”
Mae : “Tapi aku nggak punya uang.”
Via : “Ngga papa nanti saya yang tanggung. Jadi nanti mba Mae
setiap sore tetap ke sini ya, nanti ada guru buat mbak Mae.”
Mae : “Iya.”
Via : “Senang mbak?”
Mae : “Iya.”
Via : “Maaf ya saya nggak bisa nemani
soalnya saya juga ada kegiatan di luar.”
DENGAN KEBAIKAN DARI VIA, AKHIRNYA MAESAROH
TETAP BISA BELAJAR MESKI TANPA KEHADIRAN KIKI.
BIOGRAFI PENULIS
Rifqi Hayyinul Ula adalah mahasiswi Pendidikan
Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah angkatan 2017 di Universitas Negeri Malang.
Dia berasal dari kota angin yaitu dari Kabupaten Nganjuk Jawa Timur. Selain
menjadi mahasiswi, dia juga merupakan santri di Pondok Pesantren Sabilurrosyad
Malang. Dia aktif dalam berbagai komunitas literasi yaitu Media Santri, Kobis
Rajut Sastra Kompas, Komunitas Pecinta Kata-kata, dan Griya Sastra. Kalian
dapat menghubunginya melalui instagram @hyla.ri.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi