NASKAH DRAMA TULUS DAN IKHLAS





TULUS DAN IKHLAS
Astari Tri Vianinsia


Berlatar di sebuah rumah sakit jiwa dengan sebuah ruang yang didesain seperti sebuah ruang keluarga sekaligus ruang tamu. Ruang ini sengaja dibuat agar terasa hangat dan nyaman. Di ruang ini, ada Pak Tulus yang sedang bersantai sembari membaca koran. Istrinya, Bu Ikhlas, datang dari arah dapur membawakan segelas teh hangat sebagai pelengkap koran pagi suaminya.
Bu Ikhlas        : “Pak, ibu dengar dari Jeng Dina, katanya suami Bu Tiani kemarin malam kena   OTT.” (menaruh teh di meja)
Pak Tulus        : (terdiam cukup lama, matanya tajam menatap koran yang dipegangnya) “Bapak baru saja baca beritanya, Buk.”
Bu Ikhlas        : (ikut duduk di sebelah suaminya) “Loh sudah keluar beritanya?” (melihat headline koran yang dipegang suaminya) “Loh, jadi OTTnya betulan?” (wajah tidak percaya)
Pak Tulus        : “Pantas saja Bapak merasa tidak enak selama berada di bawah kepemimpinannya, Buk.” (aku Pak Tulus, wajahnya bingung)
Bu Ikhlas         : “Wah, padahal suaminya Bu Tiani itu selalu dibangga-banggakan, Pak.”
Pak Tulus        : (ingin menyela tapi tidak bisa)
Bu Ikhlas        : “Waktu arisan, santunan, kunjungan. Nggak ada habis-habisnya Bu Tiani memuji suaminya.” (nada sedikit kesal)
Pak Tulus        : “Memangnya Ibu nggak pernah bangga-banggain bapak?” (menggoda)
Bu Ikhlas         : “Seperlunya saja, Pak.” (tersenyum malu)
Pak Tulus        : (tiba-tiba tercenung) “Sebenarnya Bapak pernah ditawari, Buk.”
Bu Ikhlas         : “Ditawari?” (bingung)
Pak Tulus          : “Mungkin jika bapak menerima tawaran itu, wajah bapak juga ada di koran pagi ini.” (menghela napas)
Bu Ikhlas terkejut bukan main. Dia menutup mulut menggunakan tangan.
Pak Tulus        : “Kan bapak tidak jadi ikut, Buk. Tidak perlu khawatir.” (menenangkan)
Bu Ikhlas         : (panik) “Tapi, Pak, bisa saja Bapak juga terseret masalah ini.”
Pak Tulus        : “Tenang saja, tidak akan.” (nada santai)
Bu Ikhlas         : “Lingkungan kerja Bapak itu keras. Ibu takut.”
Pak Tulus        : “Sudahlah, jangan khawatir.” (menepuk pundak istrinya)
Bu Ikhlas         : “Ibu jadi ingat Pak Zul yang kena OTT tahun kemarin, Pak.”
Pak Tulus        : “Gubernur yang dulunya pemain sinetron itu?”
Bu Ikhlas        : (mengangguk) “Waktu Pak Zul kena OTT, orang-orang yang tidak bersalah justru dia seret, Pak. Dikambinghitamkan.”
Pak Tulus        : “Benar-benar kejam dia, Buk.” (menyeruput teh hangatnya)
Bu Ikhlas        : “Ibu takut, suami Bu Tiani juga bertindak seperti Pak Zul.” (matanya mulai berkaca-kaca)
Bu Ikhlas         : “Ibu tidak mau kerja keras Bapak dizolimi orang, Pak.” (air mata tumpah)
Pak Tulus        : “Sudah, Buk, kita berdoa saja semoga hal-hal buruk tidak terjadi menimpa bapak ataupun Ibu.” (menggenggam tangan istrinya, berusaha menenangkan)
Bu Ikhlas         : “Aamiin. Semoga.” (menghapus air matanya dengan cepat)
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu diketuk dari luar. Bu Tulus kemudian berdiri dan membuka pintu. Terlihat seorang lelaki dengan kemeja biru laut yang dilapisi snelli berdiri di depan pintu.
Bu Ikhlas         : “Eh, Dokter!” (terkejut) “Bapak ya yang manggil Dokter ke sini?”
Dokter I          : (menggeleng) “Oh, tidak Bu. Saya ke sini karena ada cek kesehatan rutin. Sesuai jadwal.” (tersenyum)
Bu Ikhlas         : “Kami sehat lho, Dok.” (agak tersinggung)
Dokter I          : “Iya, saya tahu itu, Bu. Cek kesehatan ini bertujuan agar Ibu dan Bapak bisa lebih waspada pada kemungkinan penyakit-penyakit yang sekarang sedang tren menjangkit masyarak—“
Pak Tulus        : (menyahut) “Korupsi maksud Dokter? Iya, sekarang ini memang sedang tren sekali.”
Dokter I           : (terdiam)
Bu Ikhlas        : “Ya sudah, Dokter silakan duduk dulu. Saya mau buatkan minum buat Dokter.”
Dokter I           : (canggung) “Tidak perlu repo—“
Pak Tulus        : “Dokter tidak perlu khawatir, minuman yang akan Dokter minum hasil dari uang halal kok. Silakan duduk.” (menyilakan tamunya duduk)
Dokter I           : “Ba-baik, Pak Tulus.” (mengikuti arahan Pak Tulus untuk duduk)
Pak Tulus        : “Dokter sudah baca koran pagi ini?”
Dokter I           : “Eh, belum Pak.” (kaku dan canggung)
Pak Tulus        : (memberikan koran pagi ini kepada Dokter) “Silakan Dokter baca dulu,”
Dokter I           : (menerima koran) “Ketua DPR, Seno Tovanto semalam didatangi KPK.”
Pak Tulus        : “Benar sekali, Seno itu teman saya. Sejak kami sekolah menengah bahkan. Dulu dia orang yang sangat taat pada aturan, tidak suka ketidakadilan.” (menghela napas)
Dokter I           : “Berbeda sekali dengan keadaan saat ini,” (prihatin)
Pak Tulus        : “Benar. Tapi saya yakin dia seperti itu karena ada seseorang yang menyetirnya.” (memandang koran yang dipegang Dokter I dengan sendu)
Bu Ikhlas        : (muncul dari dapur, membawa segelas teh hangat) “Saya buatkan teh hangat, gulanya pakai gula jagung kok, Dok. Tidak perlu khawatir gula darah naik.”
Dokter I           : “Terima kasih, Bu.”
Bu Ikhlas         : (meletakkan teh di atas meja) “Silakan,” (duduk di samping suaminya)
Pak Tulus        : “Bagaimana menurut Dokter?”
Dokter I           : (bingung) “Maksud Bapak yang bagaimana?”
Pak Tulus        : “Tentang seseorang yang seperti Seno, yang sengaja mengambil uang rakyat.”
Dokter I           : “Menurut say—‘
Bu Ikhlas        : “Apa mungkin orang yang seperti suami Bu Tiani itu mengalami gangguan jiwa?” (penasaran)
Dokter I           : “Bisa jadi.” (melirik ke arah jendela ruang tamu Pak Seno)
Bu Ikhlas        : “Karena tidak bisa membedakan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan?” (bergerak mendekat ke arah Dokter I, seakan meminta jawaban yang bisa membuatnya puas)
Dokter I           : “Bisa jadi begitu, Bu.” (menggeser duduknya menjauh dari Bu Ikhlas)
Pak Tulus        : “Rugi sekali sekolah tinggi, menghabiskan uang dan waktu tapi pada akhirnya berbuat zalim.” (menggeleng-gelengkan kepala)
Bu Ikhlas         : “Benar kan, Dok?”
Dokter I           : “Be-benar sekali.” (kikuk)
Bu Ikhlas        : “Dokter jangan sampai seperti itu, rugi besar.” (mengarahkan jari telunjuk pada koran yang masih dalam pegangan Dokter I)
Dokter I           : (tidak menjawab)
Pak Tulus        : “Kita akhiri saja diskusi kita ini. Pasti setelah ini Dokter juga masih harus kerja. Silakan periksa kesehatan kami.”
Dokter I           : “Baik, Pak.” (menghembuskan napas lega)
-
Di luar jendela ruang keluarga Pak Tulus yang sengaja dibuat itu, seorang dokter lainnya tengah berbincang dengan seorang laki-laki berjas rapi, seorang pejabat negeri. Mereka memantau kegiatan yang tengah dilakukan oleh Pak Tulus dan istrinya yang sekarang sedang diperiksa dokter.
Pak Seno         : “Bagaimana perkembangan mereka berdua?” (bersedekap dan mengangguk-angguk serius)
Dokter II         : (melihat data pada meja dada yang dipegangnya) “Masih sama seperti pertama kali datang ke sini, Pak. Memori mereka terhenti pada kejadian sebelum didatangi pihak berwajib.”
Pak Seno         : “Bagus. Setidaknya mereka tidak ingat apapun.”
Bu Tiani          : (muncul secara tiba-tiba) “Bagaimana Pak?”
Pak Seno         : “Aman.” (menatap istrinya sebentar lalu kembali melihat Pak Tulus dan Bu Ikhlas)
Bu Tiani          : ‘Kalau begitu, sebaiknya kita segera berangkat. Bapak harus segera menuju wilayah timur untuk kampanye. Jangan sampai kita kehilangan suara.”
-
Tepat ketika Pak Seno dan istrinya akan pergi Pak Tulus yang selesai diperiksa berteriak. Bu Tiani dan suaminya tidak jadi melangkahkan kakinya untuk pergi dan kembali melihat keadaan Pak Tulus.
Pak Tulus        : “Aarghh.” (berteriak dan menjambak rambutnya)
Bu Ikhlas        : “Pak, pak. Bapak kenapa?” (menarik tangan suaminya agar tidak menjambak rambutnya lagi)
Dokter I          : “Pak Tulus tenang dulu, tenang.”
Pak Tulus        : “Mana Seno! Mana dia!” (berteriak seperti orang kesurupan)
Bu Ikhlas        : “Ibu tidak tahu dimana suami Bu Tiani itu, Pak.” (berusaha memegang pergelangan tangan suaminya agar tenang)
Pak Tulus        : “Bajingan itu, berani-beraninya dia menyalahkanku mencuri anggaran ktp elektronik!” (berdiri, lalu berjalan mengitari ruangan)
Bu Ikhlas         : (menutupi wajahnya dengan telapak tangan dan mulai menangis)
Pak Tulus        : “Mana ada teman yang mengorbankan temannya agar bisa mencuri! Hei, Seno bajingan! Keluar kau!” (menunjuk-nunjuk langit-langit ruangan seakan Pak Seno ada di atasnya)
Dokter II masuk ke dalam ruang keluarga dengan tiga perawat mengikutinya. Seorang perawat perempuan menggiring Bu Ikhlas agar masuk ke dalam kamar untuk ditenangkan. Dua perawat yang lain membantu Dokter I dan Dokter II memegangi Pak Tulus agar tidak hilang kendali.
Pak Tulus        : “Mana Seno!” (berteriak marah)
Dokter II         : “Bapak sabar dulu, sebentar lagi Pak Seno akan datang.”
Pak Tulus        : “Seumur hidup bahkan matimu, kau tidak akan pernah tenang Seno. Kau akan dihantui kesalahmu. Mengorbankan temanmu, mengambil uang rakyatmu, menipu ketulusan dalam dirimu!” (memberontak, mencoba melepaskan cengkraman perawat)
Dokter menyuntikkan sesuatu kepada Pak Tulus. Tidak berselang lama, Pak Tulus pingsan. Di luar ruang keluarga itu, Pak Seno dan istrinya memperhatikan. Pemandangan yang dilihat Pak Seno dari kaca itu membuat dirinya stagnan, matanya bergetar.
Bu Tiani          : “Pak, Bapak!” (menepuk pundak suaminya yang terlihat seperti orang melamun)
Pak Seno         : (linglung) “Hah?”
Bu Tiani          : “Ayo kita pergi, biarkan Tulus ditangani dokter. Bapak harus kampanye.” (ajaknya tanpa menghiraukan keadaan di dalam ruang keluarga yang tidak keruan)
Mereka berduapun pergi, meninggalkan Pak Tulus dengan ketulusannya yang dikhianati oleh temannya sendiri.
Narasi:
Realita yang terjadi, justru mereka yang waras pikiran dan hati terjebak dalam kotornya hirarki. Mereka yang gila mendapatkan tempat tertinggi. Dengan rakyat yang sejatinya dibohongi.


PROFIL PENULIS NASKAH

Astari Tri Vianinsia lahir di Blitar pada tanggal 5 Juli 1999. Memiliki hobi membaca buku dan cuitan di twitter ketika memiliki waktu luang. ‘Tulus dan Ikhlas’ adalah naskah drama pertama yang dia buat dengan harapan bisa melahirkan naskah-naskah drama lainnya.

Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK