NASKAH DRAMA "USAHA TIDAK MENGKHIANATI HASIL"
Usaha Tidak Mengkhianati Hasil
Drama
Persona :
1. Nenek
Yati : pekerja keras, penyabar, gigih,
penyayang, bijaksana
2. Ayah : terlalu mudah percaya, tidak mudah putus
asa, pekerja keras, telaten
3. Meera
(cucu dari nenek) : bandel, egois,iri
hati
4. Bu
Titik : penipu, sombong, licik
5. Pemuda : sabar, gigih, pekerja keras
6. Ibu : jahat, pembohong, kejam
7. Laki-laki : sombong, jahat
Sinopsis
Seorang nenek bernama Yati berumur
60 tahun tengah berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama cucu nya yang
masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Mereka hanya tinggal berdua di rumah sederhana dengan dinding bambu yang
dianyam. Sementara ayah Meera sedang mengadu nasib di perantauan dan hampir 3
tahun ini tidak pernah pulang. Nenek Yati yang terlihat sudah renta masih
semangat untuk berusaha mencukupi kehidupannya. Tiap hari ia berjalan mengitari perkampungan untuk mendapatkan sejumput
uang dengan menjadi pedagang kue yang ia buat sendiri dengan tangannya yang
sudah mulai berkeriput.
Meera mulai penasaran dengan
keberadaan orang tuanya. Akhirnya ia memutuskan untuk menacari sendiri orang
tuanya yang sudah lama tidak pernah pulang. Ketika di hutan, Meera bertemu
dengan sosok pemuda yang ternyata dia adalah kakak kandung dari Meera yang
selama ini telah berpisah. Pemuda ini menceritakan semua kejadian yang dialami
orang tuanya.Ia menceritakan semasa kecilnya ia sudah berpisah dengan adek
kandungnya, karena dulu sewaktu bayi ada seseorang yang membawa kabur bayi itu.
Akhirnya, mereka mencari keberadaan
ibunya yang bekerja di Jakarta. Mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan
ibunya karena bertahun-tahun lamanya ibunya tidak pernah pulang ke rumah. Tapi
ternyata semua harapan itu musnah seketika. Ketika Meera dan kakaknya itu
berhasil bertemu dengan ibunya, ibunya malah tidak mengenali mereka. Mereka
sangat kecewa dan terpukul, mengapa sosok ibu yang mereka cari-cari malah tidak
mengenali anaknya sama sekali. Dari situ muncul alasan yang lain, ternyata pada
saat di Jakarta ibunya berselingkuh dengan teman satu kerjanya. Hingga saat ini
mereka sudah menikah dan mempunyai anak. Itulah yang menjadi alasan ayah dan
ibu Meera bercerai. Ayah Meera yang merasa frustasi karena ditinggal selingkuh
oleh istrinya, akhirnya ia memutuskan untuk merantau ke luar kota. Selain untuk
menenangkan pikirannya yang saat itu tidak karuhan, ia juga bekerja untuk
memnuhi kebutuhan hidupnya.
Setelah bertahun-tahun tidak pulang,
akhirnya ayah Meera pulang dari tempat mengadu
nasibnya, dan nenek Yati menjadi berhenti untuk berjualan kue. Ayah Meera memutuskan
untuk pulang ke kampung halamannya setelah dulu ia diberi kabar oleh
tetangganya bahwa nenek Yati sedang sakit. Akhirnya setelah kepulangannya dari
kota metropolitan itu, ia berusaha untuk membuka kedai mie ayam yang ia dapat
dari hasil perasan keringatnya saat di perantauan. Tuhan memang adil, disaat nenek Yati sudah berbaring lemah di atas kasur
rentah, bisnis yang dilakoni Denny berjalan dengan lancar. Setelah beberapa
tahun usahanya berjalan dengan mulus tanpa rintangan, tetapi kini tiba-tiba usahanya
telah gagal dalam sekejap. Ia menandatangani sebuah surat pernyataan yang
diberikan oleh pegawainya yang mengatakan bahwa pernyaataan itu adalah kontrak
antara dirinya dengan karyawanya. Ia tidak sadar bahwa dirinya telah tertipu
oleh karyawan sekaligus tetangganya sendiri. Akibat kejadian itu ia menjadi
stress hebat. Setiap hari ia hanya bisa menyesali kejadian waktu itu.
Setelah
beberapa bulan ayah Meera mulai bangkit lagi dari keterpurukannya, ia mulai
menekuni usahanya lagi dan menatanya lagi dari awal. Ayahnya akhirnya bisa membuka
usaha sembako yang sukses. Kini ia sudah mempunyai lima belas cabang toko
sembako dan dua puluh orang pekerja. Kehidupanya kini pun berubah. Tetapi tetap
saja ia masih menerapkan kesederhanaan dan bersedekah dengan orang-orang di
sekitarnya. Ia sekarang percaya bahwa sebuah usaha memang tidak akan
menghianati hasil.
PROLOG
BABAK
1
ANGIN
SEPOI-SEPOI MENAMPAR PIPI KERIPUT NENEK YATI SAAT IA BERJALAN MELALUI JALAN
BERBATU KERIKIL TANPA ALAS KAKI DI TENGAH SAWAH. FISIKNYA YANG TERLIHAT TUA,
TAPI TIDAK DENGAN JIWA PEKERJA KERASNYA. SAAT ADA SESEORANG YANG INGIN MEMBELI
DAGANGANNYA, NENEK YATI BERHENTI LALU MELETAKKAN TAMPAH YANG BIASA IA BAWA
SEBAGAI TEMPAT KUE-KUENYA ITU. IA MEMINTA PELANGGAN UNTUK MEMILIH SENDIRI KUE
YANG SEPERTI APA YANG INGIN IA BELI.
Bu Titik : “Nek, kok kemarin saya nggak lihat
nenek dagang?” tanya Bu Titik dengan wajah sedikit geram.
Nenek : “Kemarin saya nggak enak badan,
bu maaf,” tersenyum lalu mengelap kasar air asin yang sudah menganak sungai di bagian
pelipisnya.
Bu Titik : “Ohhh pantesan depan rumah gak ada
yang ramai teriak-teriak. Eee ternyata tukang teriak-teriak lagi sakit. Yaelah,
emang udah tua kali yaa makanya sakit-sakitan mulu.”
Nenek : “Nggak bu, memang kemarin saya
lagi masuk angin, jadi saya nggak jualan dulu.”
Bu Titik : (sambil memilih kue) “Halahhh udah
deh gausah banyak alasan. Kalau umur udah tua yaudah terima aja kali kalau
sakit-sakitan. Nihh saya beli 5 aja dehh. Berapa ini semua?”
Nenek :
“5 kue 10.000 bu…”
Bu Titik : “Lhah, kok mahal banget sihh.
Perasaan dulu 1 kue cuma 1.000. Bisa-bisanya kamu menaikkan harga biar dapat
keuntungan lebih, ya kan”
Nenek : “Astaghfirullah, nggak bu Titik.
Saya menaikkan harga kue soalnya emang harga tepung dan gula lagi mahal. Ini
aja saya cuman ambil untung 500 rupiah tiap kue.”
Bu Titik :
“Kata siapa tepung sama gula lagi mahal??? Orang saya aja kapan hari beli harganya
masih normal kok.”
Nenek :
“Baru kemarin bu naiknya. Saya juga kaget waktu beli di pasar kok harga sembako
mulai naik.”
Bu Titik :
“Halah, udah lah nggak usah banyak omong kamu. Nihh saya kasih 5.000 aja, kan udah langganan tiap hari.”
(sambil memberikan uang 5.000 kepada nenek)
Nenek :
“Maaf bu, bukannya untung tapi ini saya malah rugi banyak bu,” kata Nenek dengan
raut wajah sedih.
Bu Titik :
“Yaudah yaudah, ini saya bayar dulu 5.000, kurangnya saya bayar besok. Saya cuma bawa 5.000
doang soalnya.”
Nenek :
“Yasudah bu, nggak apa kalau besok kurangannya. Makasih ya Bu Titik.”
BABAK 2
MEERA HARI INI MENDAPATKAN MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
TENTANG PEKERJAAN ORANGTUA. MEERA SEDIH, RAUT WAJAH POLOSNYA SEKETIKA BERUBAH
MENJADI MURAM KETIKA DITANYA GURUNYA MENGENAI PEKERJAAN ORANGTUA. MEERA HANYA
BISA MENANGIS LALU PERGI KE LUAR KELAS. BEGITU IA SAMPAI DI RUMAH DAN MELIHAT
NENEKNYA SEDANG ISTIRAHAT SAMBIL MENYESAP KOPI DIPENUHI KEPUL ASAP DI ATASNYA,
IA LANGSUNG MENGUTARAKAN PERTANYAAN NYA
Meera :
“Nek, aku mau tanya sesuatu. Sebenernya ayah ibu Merra itu kemana sih?”
Nenek :
“Kenapa Meera tiba-tiba tanya begitu, nak?”
Meera :
“Aku penasaran aja nek, soalnya dari kecil Meera nggak pernah lihat ayah ibu satu rumah dengan Meera.”
Nenek :
“Meera sayang, sebenarnya ayah ibumu masih bekerja di luar kota. Mereka bekerja
juga untuk biaya sekolah kamu biar kamu pintar, nak.” jawab Nenek sesekali mengelus kepala
Meera.
Meera :
“Tapi Meera iri sama teman-teman Meera, nek!!!” ucap Meera dengan nada tinggi
dan mata yang berkaca-kaca.
Nenek :
“Iri kenapa sayang?” (sambil memegang pundak Meera)
Meera :
“Teman-teman Meera setiap pulang sekolah pasti dijemput oleh ayah atau ibu mereka.
Sedangkan Meera kenapa tidak pernah dijemput ayah atau ibu Meera!! Meera malu nek sama teman-teman
Meera. Mereka selalu ngata-ngatain aku kalau
aku tidak punya ayah ibu,” ujarnya sambil menangis.
Nenek :
“Kamu tidak boleh iri nak sama teman-temanmu. Mungkin saja orang tua mereka
tidak bekerja, makanya bisa menjemput sekolah. Sedangkan ayah ibumu rela merantau
untuk bekerja supaya kamu bisa sekolah dengan pintar nak. Sudah jangan nangis lagi.” (memeluk Meera yang
sedang menangis tersedu-sedu)
Meera :
“Tapi kenapa Tuhan tidak adil, nek !!! Kita hidup cuman berdua saja, trus makan
juga pas pasan. Penghasilan nenek juga cuman dari dagangan kue. Ditambah lagi rumah
kita sering bocor kalau hujan. Meera pengen mencari ayah ibu aja, biar hidup Meera
tidak susah lagi kayak gini.”
Nenek :
“Hussstt, kamu nggak boleh bilang gitu Meera. Kita hidup seperti ini harus disyukuri.
Coba kamu lihat seumuran kamu yang masih banyak tinggal di kolong jembatan. Mereka
tidak punya rumah dan bekerja meminta-minta uang di jalanan.”
Meera :
(sambil tetap menangis) “Nggak tau ah, intinya Meera pengen cari ayah ibu sekarang
juga. Mereka dimana nek sekarang? Katakan pada Meera, kemanapun pergi nya Meera akan cari
mereka!!”
Nenek :
“Meera sayang, kamu jangan gitu lah nak. Tunggu saja, sebentar lagi ayah ibumu
pasti akan kembali pulang untuk bertemu denganmu. Mereka pasti juga sangat rindu sama Meera.”
Meera :
“Iyaa, tapi sampai kapan nek Meera menunggu? Meera udah capek dari dulu dijanjiin
mulu katanya ayah ibu bakalan pulang. Tapi apa kenyataannya? Sampai sekarang mereka
nggak pulang-pulang,” jawab Meera dengan kesal.
Nenek :
(mulai terbawa emosi) “Yaudah, kalau Meera nggak nurut sama nenek, pergi sana! Cari ayah ibumu sendiri,
nggak usah balik lagi ke rumah nenek!!”
Meera :
“Oke, Meera akan cari sendiri mereka. Tapi nenek jangan pernah nyariin aku. Aku bakal cari ayah ibu sampai
ketemu, titik!!!”
Nenek :
“Yasudah kalau itu kemauanmu. Nenek nggak bakal tanggung jawab kalau semisal
kamu ada apa-apa di jalan. Nenek juga nggak akan kasih kamu uang untuk makan dan
transportasi.”
BABAK 3
MEERA LANGSUNG BERGEGAS MENUJU KAMARNYA DAN
SEGERA MERAPIKAN BAJU-BAJUNYA UNTUK IA BAWA BEBERAPA HARI KE DEPAN.SEBENARNYA
IA MASIH RAGU-RAGU UNTUK MENCARI SENDIRI KEBERADAAN ORANG TUANYA,TAPI RASA
PERCAYA PUN MENGUATKAN HATI MEERA. IA PERCAYA JIKA DIRINYA AKAN BERTEMU DENGAN
ORANG TUANYA KEMBALI. MEERA MULAI BERJALAN MENYUSURI HUTAN HINGGA WAKTU SUDAH
LARUT MALAM. TIBA-TIBA IA BERTEMU DENGAN SEORANG LAKI-LAKI YANG SEDANG
BERPAPASAN DENGANNYA
Pemuda :
“Dek, kamu ngapain malam-malam sendirian lewat hutan. Emang mau kemana
kamu?” tanya seorang pemuda.
Meera :
“Saya mau cari orang tua saya kak.”
Pemuda :
“Lhah, emang orang tuamu kemana?”
Meera :
“Kata nenekku orang tuaku sedang merantau untuk bekerja. Tapi mereka tidak pernah
pulang. Makanya aku pengen cari mereka biar bisa ketemu.”
Pemuda :
“Kasihan sekali kamu dek, lagian ini sudah malam loo. Yaudah gini aja, gimana
kalau kamu malam ini tidur di rumah kakak, besok pagi kakak bantu buat cari orang tua adek.”
Meera :
“Tapi kakk……” jawab Meera dengan ragu-ragu
Pemuda :
“Udah lah, dari pada kamu nanti kenapa-kenapa di hutan. Soalnya disini banyak
hewan buas. Hiiii masak kamu nggak takut.” (sambil menakut-nakuti Meera yang wajahnya mulai
tegang)
Meera :
“Meera takut kak kalau digigit hewan buas.”
Pemuda :
“Makanya itu, ayo ikut ke rumah kakak sekarang.”
Akhirnya Meera berjalan mengikuti pemuda itu
menuju rumahnya. Setelah sampai, Meera langsung duduk di kursi tamu. Pemuda itu
pun membuatkan secangkir teh hangat untuk Meera. Mereka saling
berbincang-bincang hingga lupa waktu semakin larut malam.
Pemuda :
“Oiya kakak belum tau nama kamu. Siapa panggilan kamu, dek?”
Meera :
“Meera, kak.”
Pemuda :
“Meera??” (sontak kaget karena nama tersebut seperti tidak asing di telinganya)
Meera :
“Iyaa, Meera nama panggilanku. Kenapa kak?” (tanya Meera dengan kebingungan)
Pemuda :
“Kakak kayak nggak asing aja sama nama itu. Soalnya dulu kakak pernah diceritain
sama ibu kalau sebenernya kakak itu punya adek. Tapi ibu bilang saat bayi, ia dibawa lari oleh
seseorang. Hingga pada akhirnya ibu pasrah dan mencoba
untuk ikhlas.” (sambil menatap Meera dengan wajah sedih)
Meera :
“Ya ampun, maaf ya kak gara-gara Meera kakak jadi sedih keinget adeknya dulu. Tapi kok bisa yaa
kebetulan banget ceritanya hampir sama kayak aku.”
Pemuda :
“Lha iya, kok kebetulan banget gitu yaa namanya sama, latar belakang ceritanya
juga sama. Yaudah, tidur gih sana. Besok pagi-pagi kita berangkat cari orang tuamu.”
Meera :
“Iya kak, kamarnya yang mana?”
Pemuda :
“Itu yang deket pintu belakang.”
Meera :
“Yaudah, Meera masuk kamar dulu ya kak”
BABAK 4
KEESOKAN HARINYA, MEERA BANGUN PAGI-PAGI DAN
SEGERA MEMPERSIAPKAN PERJALANANNYA UNTUK MENCARI ORANG TUANYA. PEMUDA ITU MASIH
TERLELAP DALAM TIDURNYA, IA TIDAK BERANI MEMBANGUNKANNYA. TAK LAMA KEMUDIAN,
MEERA MENCOBA KELUAR DARI RUMAH ITU, TAPI APA DAYA SEMUA PAGAR RUMAH MASIH
TERKUNCI. SAMPAI PADA AKHIRNYA MEERA MELIHAT SEBUAH FOTO DI ATAS ALMARI YANG
HAMPIR SAJA JATUH. SEKETIKA MEERA MENGAMBIL FOTO TERSEBUT DAN TIBA-TIBA PEMUDA
ITU TERBANGUN
Pemuda :
“Apa yang kamu liat Meera?”
Meera :
“Hmm ini kak foto keluarga kakak. Soalnya tadi fotonya hampir jatuh,makanya aku mau benerin.”
Pemuda :
“Oalah iyaa. Jadi difoto itu adalah keluarga kecil kakak Meer.”
Seketika Meera sangat terkejut karena foto yang
ia lihat ada wajah neneknya.
Meera :
“Lhoh kak, ini siapa?”
Pemuda :
“Ini nenek aku Meer. Dulu kami masih tinggal bersama. Tapi setelah kejadian ayah dan ibu cerai, kami sudah
tidak satu rumah lagi dengan nenek. Nenek memutuskan
untuk tinggal sendiri karena ia tak sanggup melihat orang tuaku bercerai.”
Ucap pemuda dengan raut wajah sedih.
Meera :
“Apa??? Ini tidak mungkin!! Tidakkkk, ini pasti cuma bercanda!!” (sahutnya dengan
suara melengking)
Pemuda :
“Kenapa sih kamu Meer, aneh banget.”
Meera :
“Nenek yang ada di foto itu adalah nenek aku yang saat ini tinggal bersamaku,kak.”
Pemuda :
“Haaa?? Apaaa?? Ini pasti tidak mungkin,karena kata ibuku dulu nenek sudah meninggal
gara-gara sakit-sakitan.”
Meera :
“Percaya aku kak, dia masih hidup. Dia tiap hari kerja untuk memenuhi kebutuhanku.
Tapi apa, sekarang aku meninggalkan
nenek di rumah sendirian demi
mencari orang tuaku.”
Pemuda :
“Nggak nggak nggak… Nggak mungkin Meer, kamu pasti bohong!!”
Meera :
“Astagaa, aku nggak bohong kak, kalau nggak percaya liat sendiri aja.”
Pemuda :
“Kalau memang benar nenek masih hidup, kenapa dia nggak pernah balik ke rumah
ini lagi??”
Meera :
“Aaaaa aku benci dengan kehidupanku sekarang ini. Sebenarnya aku ini anak siapa kak???” tanya Meera
dengan bingung.
Pemuda :
“Kalau memang benar kamu bisa nunjukin nenekmu, berarti…..”
Meera :
“Berarti apa kak?? Tolong katakan dengan jelas!” ucap Meera dengan sedikit membentak.
Pemuda :
“Berarti kamu itu sebenarnya adek kandungku yang selama ini kita cari-cari.”
MEERA SUDAH TIDAK BISA BERKATA-KATA. MENDENGAR
KATA-KATA ITU DIA TERLIHAT SHOCK DAN MENANGIS SEJADI-JADINYA. IA SANGAT
TERPUKUL MENDENGAR AYAH IBUNYA CERAI SEJAK IA MASIH BAYI. SEKETIKA, IA LANGSUNG
MEMINTA PAMIT KEPADA PEMUDA ITU UNTUK MELANJUTKAN PERJALANANNYA MENCARI ORANG
TUANYA
Meera :
“Katakan pada Meera dimanakah ayah dan ibu berada, Kak??”
Pemuda ;
“Ayah dan ibu sudah tidak bersama lagi dek. Mereka sudah hidup masing- masing
sejak mereka memutuskan untuk berpisah.”
Meera :
“Lha ya, pasti kakak kan tau keberadaan mereka sekarang dimana! Gak mungkin
banget kalau kamu nggak tau”
Pemuda :
“Aku sih cuma tau ibu.Terakhir ibu berpamitan denganku untuk pergi ke Jakarta.
Disana ia mencari rezeki, katanya setiap 3 bulan sekali ia pulang ke rumah untuk menjenguk ku.
Tapi sekarang ibu tidak pernah pulang ke rumah.”
Meera :
“Lhah, berarti kakak tiap hari cuman tinggal sendirian??”
Pemuda :
“Iya Meer, kakak udah biasa hidup sendiri. Kakak juga mencari uang sendiri untuk
makan sehari-hari.”
Meera :
“Ohhh, ternyata ada yang lebih susah dari aku. Tapi aku selalu tidak bersyukur dengan
kehidupanku saat ini.”
Pemuda :
“Kamu harus bersyukur dek dengan kehidupanmu saat ini. Kita juga sudah tidak mempunyai keluarga
yang lengkap, berdoa saja supaya kita segera dipertemukan
dengan orang tua kita.”
Meera :
“Iya kak, aku pengen seperti temen-temen Meera. Mereka bisa tinggal bersama kedua
orang tuanya.”
Pemuda :
“Kamu tidak usah iri atau malu kepada teman-temanmu. Mereka punya jalan masing-masing.
Mungkin kita seperti ini diberi cobaan oleh Tuhan supaya kita tetap selalu bersyukur dan
selalu beribadah.”
Meera :
“Iya kak, permintaan Meera kali ini Meera cuman pengen ketemu ayah ibu.”
Pemuda :
“Yaudah, kalau Meera pengen ketemu mereka Meera harus sabar dulu mencari mereka.”
Meera :
“Iya,kak. Yaudah yuk kita lanjutkan perjalanan untuk mencari mereka.”
BABAK 5
TAK LAMA KEMUDIAN, MEREKA BERGEGAS BERANGKAT
UNTUK MENCARI IBUNYA YANG SEDANG MERANTAU DI JAKARTA. DI TENGAH JALAN, BUS YANG
MEREKA TUMPANGI TIBA-TIBA MOGOK DI JALAN. MEERA YANG TAK KUAT MENAHAN KENCING
MEMINTA SANG KAKAK UNTUK MENEMANINYA MENCARI KAMAR MANDI
Meera : “Aduh,kak aku
udah nggak kuat nihhh..”
Pemuda : “Nggak bisa
ditahan bentar apa itu kencingnya?”
Meera : “Udah nggak
bisa,kak. Ini udah di ujung soalnya. Lagian ini kan masih diperbaiki
bis nya.”
Pemuda : “Yaudah, ayo
kakak anter cari kamar mandi terdekat.”
MEREKA KEMUDIA TURUN DARI BUS DAN MENCARI KAMAR
MANDI TERDEKAT. SAYANGNYA LOKASI KAMAR MANDI TERSEBUT BERADA CUKUP JAUH DARI
LOKASI IA BERHENTI
Meera :
“Mana sih kak kamar mandinya. Masak sepanjang jalan nggak ada kamar mandi
sih.”
Pemuda :
“Ya sabar dong Meera. Ini kan emang dekat hutan,makanya jarang terlihat pemukiman
warga atau masjid.”
Meera :
Ya ampunnn, ini udah nggak bisa ditahan lagi nih kak. Apa Meera pipis di semak-semak
hutan situ aja kali yaa.”
Pemuda :
“Hehhh, ngawur kamu itu. Sembarangan aja mau pipis di hutan.”
Meera :
“Lha mau gimana lagi??!! Ini kita udah jalan lumayan jauh tapi tetep aja nggak ketemu
kamar kecil!!”
Pemuda :
“Kamu emang mau pipis di hutan terus ntar dimarahin sama penunggunya???”
Meera :
“Ya tinggal bilang aja lah sama orang yang nunggu hutan nya kalau mau numpang
pipis bentar.”
Pemuda :
“Goblok kamu itu!!! Penunggu itu maksudnya makhluk tak kasat mata begokk, bukan
warga setempat!!”
Meera :
“Ohhhh, ya bilang dong kak dari tadi. Kan Meera juga nggak tau apa maksudnya, hmmmm..”
Pemuda :
“Udah-udah, itu loo kita udah denger adzan dari masjid. Kayaknya kita udah deket sama lokasi masjid ini.”
Meera :
“Oh iyaa itu kak di sebrang jalan ada masjid.”
AKHIRNYA MEREKA MENUJU KE MASJID SEKALIAN
MELAKSANAKAN SHOLAT MAGHRIB. SETELAH ITU, MEREKA BERGEGAS UNTUK KEMBALI MENUJU
BUS YANG IA TUMPANGI TADI.
Pemuda : “Ayo dek keburu
nanti bus nya udah jalan.”
Meera : “Iya kak,
bentar-bentar.” Sembari membenarkan baju nya yang terlihat lusuh
Pemuda : “Udah ayo
buruan, nggak usah lemot kamu!”
SETELAH BERJALAN MENUJU LOKASI AWAL, TIBA-TIBA
PEMUDA TERSEBUT LUPA ARAH JALAN PULANG.
Pemuda : “Lhoh dek,
bentar-bentar.”
Meera : “Kenapa,kak?
Ada yang ketinggalan??”
Pemuda : “Nggak nggak.
Perasaan tadi jalan yang kita lewati bukan sini deh.”
Meera : “Eh, iya juga
ya kak. Tadi kita itu kayak lewat hutan-hutan gitu kan yaa.”
Pemuda : “Nah, makanya
itu. Tapi sekarang kita kok jadi lewat kuburan yaa, anjirrr.”
Meera : “Wah, kayaknya
nggak beres nih kak. Aku udah mulai merinding nihh, gimana
dong terusan?”
Pemuda : “Husss, kamu
ngomong apa sihh. Suka sembarangan mesti kalau ngomong.”
Meera : “Lhah, emang
bener kak. Masak kakak nggak ngerasain kayak merinding- merinding
gitu sih? Apa jangan-jangan disini….”
Pemuda : “Ahh tau ah,
ngomong sama kamu itu kayak ngomong sama tembok!! Nggak jelas banget kamu itu!” Seketika langsung pergi
meninggalkan Meera.
Meera : “Kakkk, jangan
tinggalin aku dong. Iya deh iyaa maap. Meera cuman bercanda
aja kali.” Sambil mengejar sang kakak.
Pemuda : “Udah selesai
bercandanya??”
Meera : “Iya kak,
maaf. Meera tadi kesel aja sama kakak, marah-marah mulu sihh.”
Pemuda : “Udah tau
situasinya kayak gini malah dibuat bercandaan yang nggak jelas!!”
PEMUDA TERSEBUT SEMAKIN KESAL DENGAN MEERA YANG
MEMBUAT LELUCON YANG TIDAK PENTING. IA TERUS MENYUSURI JALAN HINGGA AKHIRNYA
MEREKA BISA KEMBALI KE LOKASI AWAL
Meera : “Kakk, kok bus yang kita naiki tadi nggak ada?”
Pemuda : “Haa, yang bener
kamu Meer?!!”
Meera : “Iya kak,
Meera nggak salah liat. Coba deh liat di ujung sana.”
Pemuda : “Lhohhh, kok udah
nggak ada bus kita tadi???”
Meera : “Kannn kan,
apa kata Meera.”
Pemuda : “Anjirrr, cobaan
apalagi iniii!!”
Meera : “Kok bus nya
cepet banget yaa benerin mesin nya yang mogok.”
Pemuda : “Ini semua itu
gara-gara kamu, tau nggakkk!!!”
Meera : “Lhah, kok
jadi Meera yang disalahin.”
Pemuda : “Ya jelas kamu
lahh yang salah. Coba aja kamu nggak minta suruh nyariin kamar
mandi, kita nggak bakalan kayak gini.”
Meera : “Ya kan emang
Meera udah kebelet banget tadi, coba kalau kakak yang kebelet.
Pasti kakak juga nggak tahan kan, hayoolooo.”
Pemuda : “Emang kamu ini
nyusahin aja hidupnya!! Pantes aja nenek nggak betah ngurusin
kamu yang kaya gini.”
Meera : “Kamu itu bisa
diem nggak sih kak!!! Masak dari tadi ngomel-ngomelll muluuu!
Panas tau kuping Meera!!”
Pemuda : “Ya kamu itu
yang banyak bacot!! Gara-gara kamu kakak
jadi emosian mulu!”
Meera :
“Yaudah maaf-maaf kalau Meera ngeselin. Trus ini nasib kita gimana sekarang?”
Pemuda :
“Udah, kita balik aja ke tempat tadi. Kali aja ada warga yang mau bantu kita.”
MEREKA MEMUTUSKAN KEMBALI KE MASJID UNTUK MEMINTA
BANTUAN DARI SALAH SATU WARGA. NAMUN, TAK ADA SEORANG PUN WARGA YANG BERADA DI
MASJID TERSEBUT.
Meera : “Lhah kak,
ternyata udah sepi tuh masjid nya”
Pemuda : “Lhohhh, ini
masak nggak ada orang sama sekali sihh di masjid.”
Pemuda : “Goblok!! Ini
sudah jam berapa??!! Pastinya warga sudah pada tidur semua lahh”
Meera :
“Ya apa salahnya kalau kita coba dulu.”
Pemuda :
“Halah nggak usah, solusimu nggak ada yang tepat.. Daripada ntar kita jauh- jauh ke rumah warga tapi ujung-ujungnya
mereka udah pada tidur semua.”
Meera :
“Kayaknya Meera apa-apa selalu salah deh di mata kaka” Dengan raut wajah sedih
Pemuda :
“Emang solusimu itu nggak ada yang bisa nyelesaiin masalah.”
Meera :
“Yaudah deh, sekarang terserah kakak aja maunya gimana.”
Pemuda :
“Kakak putuskan bahwa malam ini kita tidur di masjid ini aja.”
Meera :
“Whattt, apaaa?? Tidur di masjid??”
Pemuda :
“Iya lahhh, jalan satu-satunya ya ini. Kalau kamu nggak mau tidur sini yaudah terserah, cari aja tempat buat tidur
sendiri sana!!”
Meera :
“Hmmmm.. yaudah deh Meera ngikut kakak aja.”
Pemuda :
“Nahhh ya gitu dong, nggak usah banyak rewel.”
BABAK 6
KEESOKAN HARINYA, PEMUDA ITU BERSAMA MEERA BANGUN
DAN SEGERA MENYELESAIKAN PERJALANAN NYA UNTUK BERTEMU DENGAN IBU NYA. AKHIRNYA
MEREKA MENEMUKAN TUMPANGAN MOBIL UNTUK PERGI KE JAKARTA.
Meera : “Alhamdulillah
ya kak, rezeki kita. Kita bisa dapet tumpangan gratis kayak gini.”
Pemuda : “Iya dek, kalau
kita bersabar insyaAllah Tuhan selalu membantu kita.”
Meera : “Iya kak bener. Meera rasanya udah kangen banget sama
ibu. Pokoknya kalau ntar ketemu, Meera langsung peluk
ibu.”
Pemuda : “Ya sama dek,
kakak juga udah kangen banget ini gara-gara ibu nggak pernah pulang sama sekali.”
Meera : “Semoga aja ibu
selalu sehat terus ya kak.”
Pemuda : “Aminn aminn”
SETELAH BEBERAPA JAM, AKHIRNYA MEREKA SAMPAILAH
DI TEMPAT TUJUAN. KEMUDIAN MEREKA MENYUSURI JALANAN IBU KOTA SAMBIL MENCARI
ALAMAT RUMAH IBUNYA.
Pemuda : “Kayaknya ini
alamatnya di gang yang itu deh dek.”
Meera : “Yaudah kita
masuk gang situ aja kak, kali aja emang bener alamatnya disitu.”
Pemuda : “Iya,Meer. Nggak
tau kenapa yaa feeling kakak kok nggak enak sih.”
Meera : “Lhah, nggak
enak kenapa kak?”
Pemuda : “Ya nggak tau,
kayak tiba-tiba itu kakak punya fikiran yang aneh-aneh.”
Meera : “Haa,
maksudnya kak?”
Pemuda : “Nggak jadi deh,
udah lupakan aja. Mungkin Cuma feeling kakak aja.”
MEREKA TERUS MENYUSURI RUMAH-RUMAH HINGGA PADA
AKHIRNYA IA MENEMUKAN ALAMAT YANG IA TUJU.
Meera : “Eh kak, coba
liat deh rumah itu! Bener nggak sih nomor rumahnya 30 B?”
Pemuda : “Bentar-bentar.
Coba kakak cek lagi alamatnya di hp. Eh iyaa dek, bener 30B.”
Meera : “Lhah iyaa,
berarti bener yang itu kak rumahnya. Tapi kok keliatannya sepi banget
yaa.”
Pemuda : “Iya yaa. Eh
bener nggak ya rumahnya yang ini, tapi kok rumahnya gede banget gitu yaa.”
Meera : “Mungkin aja
ibu jadi asisten rumah tangga di rumah ini kak.”
Pemuda : “Yaudah,
bismillah aja. Semoga ini bener alamat ibu.”
BABAK 7
DENGAN PENUH HARAPAN, MEREKA LANGSUNG MENDEKATI
RUMAH ITU DAN MENCOBA UNTUK MENGETUK RUMAH ITU.
Pemuda :
“Assalamu’alaikum.” Sambil mengetuk pintu berulang kali.
Laki-laki :
“Waalaikumsalam. kalian siapa sih?? Tolong ya dibaca dengan jelas, di depan
rumah itu ada tulisannya pemulung dilarang masuk!!!”
Pemuda : “Mohon maaf,pak.
Kami disini bukan untuk meminta-minta. Tapi tujuan kedatangan
kami kesini untuk mencari ibu kami yang sudah lama nggak pulang-pulang.”
Laki-laki : “Lhah, terus
maksud kalian kesini apa?? Kalian cari ibu kalian di rumah ini?”
Pemuda : “Iya,pak. Saya
sudah melihat alamat ibu saya benar pak, disini rumahnya.”
Laki-laki : “Ya nggak
mungkin lahh ibu kalian disini Orang dari penampilan kalian itu udah kayak orang miskin,
pakaian compang camping pula.”
Pemuda : “Iya pak, maaf.
Emang dari kemaren kita itu banyak musibah untuk sampai kesini. Kita
memang berasal dari desa pak.”
Laki-laki : “Pantes aja
dari pakaian kalian udah keliatan kalau dari desa.”
Pemuda : “Iya,pak memang
seperti itu. Bagaimana, pak? Apakah saya bisa bertemu dengan
ibu saya?”
Laki-laki : “Ibu siapa
sih?? Disini itu cuman ada aku, istri dan anak-anakku trus sama pembantu.
Udah lah, nggak ada ibu kalian disini. Pulang aja sana!!!”
Pemuda : “Kita nggak
bakalan pulang sebelum bertemu dengan ibu kami!”
Laki-laki : “Kalian itu
bener-bener ngeyel yaa kalau dibilangi. Kalau saya bilang nggak ada yaudah berarti emang
nggak ada. Cari di rumah lain sana!!”
Pemuda : “Nggak pak, kami
akan tetap di rumah ini. Karena feeling saya mengatakan bahwa ibu
saya berada di rumah ini.”
Meera : “Tolong
perkenankan kami masuk,pak. Kami hanya ingin bertemu sebentar dengan
ibu kami. Kami mohon pak.”
Laki-laki : “Nggakk, nggak
bisa pokoknya!! Apa perlu saya panggin satpam rumah buat ngusir
kalian biar kalian pergi dari sini!!”
Meera : “Jangan
pak,jangan usir kami. Kami hanya ingin dipertemukan oleh ibu kami.”
Pemuda : “Iya, pak. Apa
bapak tidak kasihan dengan kami yang jauh-jauh dari desa ke kota hanya demi mencari ibu
kami.”
Meera : “Kalau bapak
tetap tidak mengizinkan kami untuk bertemu dengan ibu saya, kami terpaksa akan masuk ke
dalam rumah bapak.”
Laki-laki : “Yaudah
silahkan kalau kalian mau masuk rumah. Toh juga percumah disini nggak
ada ibu yang kalian cari-cari itu.”
MEERA DENGAN PEMUDA ITU AKHIRNYA MASUK KE DALAM
RUMAH TERSEBUT SAMBIL BERTERIAK-TERIAK MEMANGGIL IBUNYA.
Pemuda : “Ibuuu, ibuuu…
Apakah ibu disini?”
Meera : “Ibu, kalau
memang ibu di rumah ini kami hanya meminta satu permintaan. Keluarlah
ibu..”
TAK LAMA KEMUDIAN, KELUARLAH IBU-IBU SEKITAR
BERUMUR 45 TAHUN DARI DALAM KAMARNYA
Ibu : “Ada apa
sih ini pagi-pagi udah rebut aja.” Dengan sedikit kesal
Laki-laki : “Ini lo mah,
ada 2 anak yang cari ibunya disini. Udah aku bilang nggak ada tapi tetep aja mereka ngotot
kalau ibunya disini.”
Ibu : “Mana sih
anaknya?”
Laki-laki : “Itu ada di ruang tamu mereka.”
Ibu : “Coba aku
liat, mana sih yang bikin keributan.” Sambil berjalan menuju ruang
tamu”
TAK LAMA KEMUDIAN, SANG IBU TERLIHAT KAGET
TERNYATA ANAK-ANAK TERSEBUT MERUPAKAN ANAK ANDUNGNYA YANG TELAH DITINGGAL
BERTAHUN-TAHUN LAMANYA
Meera : “Ibuuuuuu…” sambil
menangis memeluk erat ibunya.
Pemuda : “Ibu… ini bener
ibu kandung kami kann. Ibu masih ingat dengan kita?”
Ibu : “Hahhh,
ibu?? Kalian mengapa memanggil saya ibu?”
Pemuda : “Ibu inget nggak
sih, aku sama Meera ini bukk, anak kandung ibu yang telah ibu tinggal bertahun-tahun
lamanya karena pekerjaan ibu di luar kota.”
Meera : “Iya buu, ini
Meera yang waktu kecil Meera diculik sama orang Ini sekarang Meera
udah gede buk.”
Ibu : “Hehh
kalian, ibu itu tidak punya anak selain anak ibu yang bernama Rizky. Dia tinggal di rumah ini
dengan ibu. Kalian ini lo siapa ngaku-ngaku jadi anak kandung ibu??!!”
Pemuda : “Astaghfirullah
hal’adzim, ibu tega banget sama kita. Aku masih inget banget
wajah ibu 7 tahun yang lalu sebelum ibu memutuskan untuk merantau. Dan
saat ini wajah ibu tetap sama dan terlihat tidak ada perubahan.”
Meera : “Iya buu,
Meera kangen banget sama Ibu. Ayo ibu pulang kampung dengan aku dan kakak.” Tetap
memeluk ibunya yang berada di sampingnya
Ibu : “Ihh
dibiangin enggak, aku itu bukan ibu kalian. Kalian aja yang mimpi kali punya
ibu dengan wajah mirip seperti saya.”
Laki-laki : “Udah, usir
aja anak-anak ini dari rumah sini. Nggak ada gunanya mereka disini,
malah yang ada buat keributan aja pagi-pagi.”
Pemuda : “Baiklah, kalau
memang ibu tidak mau mengakui bahwa kami adalah anak ibu, ami sangat kecewa dengan perlakuan ibu seperti
ini. Ibu selama ini ternyata
sudah menikah dengan orang lain, dan terjawab sudah mengapa ayah
menceraikan ibu kami ditinggal begitu saja seperti tidak punya salah.” Dengan suara sambil menangis.
Meera : “Ibu yang
melahirkan kami, ibu juga yang menyusui kami saat kecil. Tapi mengapa
balasan ibu seperti ini, padahal kami jauh-jauh dari rumah hanya untuk
mencari ibu karena kami benar-benar sangat rindu.”
Pemuda : “Kami akan pergi
dari rumah ini. Tapi ingat, suatu saaat nanti ibu akan mendapatkan
sebuah penyesalan dan mulai dari situ ibu akan sadar tentang ini semua. Terima kasih
atas perlakuannya yang sangat membuat kecewa. Assalamu’alaikum.”
BABAK 8
DENGAN TETAP MENANGIS, MEREKA PUN TERPAKSA
MENINGGALKAN RUMAH TERSEBUT. MEREKASANGAT TERPUKUL DAN KECEWA MELIHAT PERLAKUAN
IBUNYA SEPERTI ITU KEPADA MEREKA. AKHIRNYA MEREKA MEMUTUSKAN UNTUK KEMBALI
PULANG DAN BERTEMU DENGAN NENEK MEREKA
Meera :
“Assalamu’alaikum. Nenekkk…” Teriak memanggil nenek dengan tangisannya.
Nenek :
“Wa’alaikumsalam. Lhohhh, Meeraaaa… Ya ampun, nenek udah kangen banget
sama Meera. Lhoh, ini kok ada kakakmu? Bagaimana kalian bisa bertemu?”
Pemuda : “Ceritanya
panjang sekali, nek. Intinya aku sama Meera bareng-bareng cari ibu kemaren.”
Nenek : “Oalah jadi
kalian kemaren pergi ke Jakarta berdua saja?”
Pemuda : “Iya, nek. Kami
pergi hanya berdua saja.”
Nenek : “Trus
bagaimana hasilnya? Apakah kalian berhasil bertemu dengan ibu?”
Pemuda : (terdiam dengan
raut wajah yang sedih dan sangat terpukul)
Nenek : “Lhoh, mengapa
kamu hanya terdiam? Meera juga kenapa kok menangis? Ada apa dengan ibumu???”
Pemuda : “Sebenarnya kami
sudah bertemu dengan ibu, nek. Tapii…”
Nenek : “Tapi kenapa
nak? Coba ceritakan saja nak.” Sambil merangkul Meera dan pemuda
itu.
Pemuda : “Tapi ibu
memperlakukan kami dengan kejam.”
Nenek : “Haaa, masak
ibu kalian kejam sama anaknya sendiri?”
Meera : “Iya, nek.
Jadi, waktu kami bertemu dengan ibu, ia itu tidak mau mengakui kami nek kalau sebenarnya
kami adalah anak kandungnya.”
Pemuda : “Iya nek, dan
lebih parahnya lagi ia sudah menikah dan mempunyai anak satu. Dan akhirnya ibu mengusir kami dari
rumah itu.”
Nenek : “Gilaa emang
ibu kalian itu. Nenek nggak habis piker kok ibu kaian sudah berubah
seperti itu. Tapi emang feeling nenek juga sudah berkata lain ketika Meera berpamitan untuk
mencari ibunya.”
Pemuda : “Lha ya itu nek.
Padahal ekspektasi kami kalau aku sama adek bertemu dengan
ibu aku akan mengajak ibu untuk kembali ke kampung halaman, supaya kita bisa
kumpul bareng lagi.”
Meera : “Tapi apa, ibu
malah memperlakukan kita seperti itu. Hati siapa yang tidak menangis
dan sangat kecewa diperlakukan seperti itu oleh ibunya sendiri.”
Nenek : “Iya
cucu-cucuku. Nenek juga paham apa yang kalian rasakan saat ini. Marah,
sedih, kesal itu pasti ada. Tapi yakinlah, suatu saat nanti ibumu akan mendapatkan
karma dan penyesalan dalam hidupnya.”
Pemuda : “Iya nek, aku
juga bilang gitu sama ibu Tapi, ibu tetap tidak menghiraukan kami sama sekali. Hingga
akhirnya aku sama Meera terpaksa meninggalkan rumah
itu dengan berat hati.”
Nenek : “Sudah sayang,
kalian jangan sedih dan menangis lagi. Suatu saat nanti nenek
yakin kalian akan dipertemukan kembali dengan ibu kalian. Jadi sudah, sekarang kita hidup bertiga dulu saja.”
Sambil mengelus-elus kepala cucunya.
Pemuda : “Iya nek, bener
kata nenek.”
Nenek : “Ingat saja,
lambat laun ibumu akan mengalami rintangan dalam kehidupannya.
Entah itu permasalah dengan keluarganya, kantornya ataupun perekonomian
nya. Karena itu merupakan suatu balasan dari Tuhan karena ia sudah memperlakukan kalian
seperti itu.”
Meera : “Iya nek.
Semoga saja ibu segera sadar dan bisa kembali berkumpul bersama lagi dengan kita.”
Nenek : “Iya nak.
Sekarang tugas kalian berdoa saja, semoga orang tua kalian selalu diberi
kesehatan dan bisa membuka pintu hatinya kembali.”
Pemuda : “Aminn ya
Allah..”
Nenek : “Yasudah,
nenek ambilkan makan dulu. Kalian istirahat dulu sana.”
TERDENGAR SUARA KERAS DARI DAPUR. MEERA DENGAN
KAKAKNYA LANGSUNG MENUJU KE DAPUR. TERNYATA NENEK SUDAH TERJATUH DI LANTAI
Pemuda : “Astaghfirullah,
nek. Nenek kenapa kok bisa jatuh?” Mengangkat tubuh nenek
yang sudah terbujur lemas.
Meera : “Ya ampun
nenek kenapa?”
Nenek : “Nggak apa
nak, nenek cuma pusing aja tadi waktu mau masak.”
Pemuda : “Astaga, badan
nenek panas juga. Udah nek, nenek istirahat aja di kamar. Nanti biar aku masak
sendiri aja buat makan.” Sambil menuntun nenek kearah
kamar tidur.
Nenek : “Iya nak,
nggak tau kenapa dari kemaren nenek itu pusing banget Mungkin salah satunya juga gara-ggara
mikir Meera yang nggak pulang-pulang.”
Meera : “Ya ampun
nekk, maafin Meera yaa, udah bikin nenek kepikiran sampai sakit.”
Nenek : “Iyaa nggak
papa nak, yang penting sekarang kalian sudah kembali dengan keadaan
baik-baik aja.”
Meera : “Iya nek. Aku
buatkan the hangat dulu ya nek.”
BABAK 9
TAK LAMA KEMUDIAN TERDENGAR SUARA PINTU GERBANG
SEPERTI ADA YANG MEMBUKA. SANG KAKAK LANGSUNG MENUJU KE TERAS RUMAH, MEMASTIKAN
SIAPA YANG MASUK KE RUMAH. SUNGGUH TERKEJUTNYA KETIKA MEMBUKA PINTU, TERNYATA
ORANG ITU ADALAH AYAHNYA SENDIRI.
Pemuda : “Ayahhhh…”
Ayah : “Lhoh, kakak..
Ayah kangen banget sama kamu nak. Kamu sekarang udah tumbuh
dewasa ya, saking ayah lama tidak pulang ke kampung.”
Pemuda : “Iya yah. Aku
juga kanget banget sama ayah. Ayah gimana kabarnya?”
Ayah : “Alhamdulillah
baik, sayang. Maafin ayah yaa jarang pulang, karena ayah masih
bekerja di luar kota.”
Pemuda : “Iya yah,
kemaren aku sama Meera juga berniat untuk bertemu dengan ibu. Tapi balasan ibu sangat
membuatku kecewa. Ibu tidak mengakui aku dan Meera
sebagai anak kandungnya yahh.”
Ayah : “Sudah, nak.
Kamu nggak boleh sedih lagi. Kan sekarang ayah udah pulang ke kampung lagi.”
Pemuda : “Iya yah, rasa
sedih itu udah tergantikan sama kedatangan ayah.” Dengan raut wajah yang sangat
bahagia.
Ayah : “Mana adekmu
sama nenek?”
Pemuda : “Itu yah di
dalem. Nenek lagi sakit.”
Ayah : “Astaga,
berarti bener. Soalnya dari beberapa hari yang lau perasaan ayah udah nggak enak, akhirnya
ayah memutuskan untuk berhenti bekerja dan akhirnya
pulang kampung.”
Pemuda :
“Iya yah, nanti ayah ganti pekerjaan aja disini. Kalau bisa kakak juga
bantu-bantu ayah kok.”
AYAH LANGSUNG MENUJU KE KAMAR NENEK DAN SEKETIKA
SUASANA BERUBAH MENJADI HARU
Ayah :
“Assalamu’alaikum ibuk..”
Nenek : “Wa’alaikumsalam.
Anakku cah bagus, kapan kamu datang le?”
Ayah : “Alhamdulillah
barusan ibuk. Maaf ya bu, saya baru bisa pulang saat ini. Karena
tuntutan pekerjaan diluar kota.”
Nenek : “Iya le, tidak
papa.”
Ayah : “Terus saat
ini siapa yang membiayai Meera dan kakak?”
Nenek : “Ya aku sediri
le. Ibu tiap hari berjualan roti agar bisa makan dan membiayai sekolah
Meera.”
Ayah : “Udah,
sekarang gini aja bu. Ibu kan sudah tua, sekarang biar aku aja yang bekerja.
Ibu istirahat yang banyak aja yaa. Lagian ibu juga udah tua, jadi rawan
terkena penyakit.”
Nenek : “Iya lee,
terima kasih yaa. Trus kira-kira kamu akan mencoba bekerja apa lee?”
Ayah : “Aku mencoba
membuka usaha mie ayam. Kecil-kecilan dulu aja bu.”
Nenek : “Iya nak nggak apa. Asal kamu ulet dan bekerja keras,
insyaAllah akan membuahkan
hasil.”
3 HARI KEMUDIAN, USAHA MIE AYAM SUDAH DIJALANKAN.
HINGGA PADA AKHIRNYA USAHA TERSEBUT LANCAR DAN SANGAT RAMAI.
Nenek : “Alhamdulillah
ya le. Ibu seneng kalau liat usaha mu dari nol sudah berhasil.”
Ayah : “ Iya bu,
alhamdulillah aku juga bersyukur dan nggak percaya kalau ternyata bisa selaris ini.”
Nenek : “Ya disyukuri
le, ini adalah rezekimu .”
Ayah : “Iyaa, semoga
saja kedepannya juga terus laris seperti ini, aminn.”
Nenek : “Ibu cuman
bisa membantu doa ya lee. Aminn”
Ayah : “Amin buu..”
BABAK 10
1 MINGGU
KEMUDIAN AYAH MENGALAMI KEBANGKRUTAN DALAM USAHA MIE AYAM YANG DIBANGUNNYA. IA
TERTIPU DENGAN SALAH SATU KARYAWANNYA YANG MEMINTA UNTUK MENANDATANGANI SEBUAH
PERNYATAAN. DARI SITU, SANG AYAH SANGAT STRESS KARENA USAHANYA BANGKRUT
Nenek :
“Ya Allahle, belum aja seminggu usaha kamu sudah ditipu sendiri oleh karyawanmu.”
Ayah :
“Iya bu, bodohnya aku karena saat itu aku tidak membaca secara keseluruhan tentang
perjanjian yang aku tanda tangani.”
Nenek :
“Jangan salahkan dirimu, le. Mungkin inin adalah ujian dari hidupmu, bagaimana kamu agar bisa bangkit. Kamu harus semangat,
tidak boleh patah
semangat le.”
Ayah :
Iya bu. Tapi aku tidak habis piker, bisa-bisanya karyawanku itu menipu aku dengan
menandatangani kontrak kerja.”
Nenek :
“Sekarang, tenangkan pikiranmu dulu. Perbanyaklah mengaji dan memintaah kepada
Allah agar semuanya diberi kemudahan oleh-Nya.”
2 BULAN KEMUDIAN, SANG AYAH BANGKIT DARI KETERPURUKANNYA. IA
MENCOBA KEMBALI MEMBUKA USAHA BARU BERUPA MENJUAL KEBUTUHAN SEMBAKO DI DEPAN
RUMAHNYA. DAN TERNYATA BENAR, USAHA YANG IA BANGUN KEMBALI MEMBUAHKAN HASIL
Ayah :
“Terima kasih ya Allah. Engkau telah mengabulkan doa-doaku selama ini. Usaha
yang aku bangun saat ini malah lebih jauh meningkat daripada yang lalu.”
Nenek :
“Aku sangat bangga sama kamu le. Kamu orang yang tidak pernah putus asa.
Dalam kegagalan kamu mencoba untuk bangkit kembali, dan saat ini kembali
membuktikan bahwa kamu bisa bangkit dari keterpurukanmu.”
Ayah :
“Iya bu. Ini juga berkat ibu yang selalu mendoakan ku setiap sholat. Terima kasih ya bu. Aku akan tetap
melanjutkan usaha ini agar bisa menghidupi keluarga
kita dan membahagiakan ibun dan anak-anak.”
Nenek :
“Alhamdulillah, le. Ibu bersyukur mempunyai anak seperti kamu. Pesan ibu, kamu jangan mudah puas dengan
segala hal. Selalu tetap rendah hati dan jangan
sampai lupakan kewajiban sholatmu. Pesan ibu itu.”
Ayah :
“Iya bu. Aku akan selalu ingat pesan ibu ini. Dan memang benar ya bu, usaha tidak akan mengkhianati hasil.”
Nenek :
“Iya, benar sekali le. Memang suatu usaha yang kita lakukan akan sebanding dengan
hasil yang kita dapatkan. Dan alhamdulillah kamu sudah mendapatkan
sesuai dengan hasilnya. Ibu sangat bangga.”
-
SELESAI –
BIOGRAFI PENULIS
Nama :
Sindy Novia Larensi
TTL :
Kediri, 6 November 1998
Alamat : JL.
Banjaran Gg 1/190, Kota Kediri
Pendidikan : S1
Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah,
Universitas Negeri Malang
Jurusan :
Sastra Indonesia
Email :
sindynovia13@gmail.com
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi