NASKAH DRAMA USTAD PUNYA ANAK
USTAD PUNYA ANAK
Achmad Al-Farizi
DRAMA PERSONA
SALEH: berwibawa, wajah keriput, rambut putih, dan bertongkat
MINA: penyabar, wajah sedikit keriput, rambut putih sebagian
JUPRI: cupu, polos, muda
YONO: sedikit nakal, muda, berpakaian rapi, banyak uang
WAWANG: cerewet, penghasut, lucu
AHANG: cerewet, penghasut, nakal, pintar
BABAK 1
SEORANG LELAKI TUA DUDUK DI KURSI RUANG
TAMU RUMAHNYA MENGHADAP KE ARAH MUSHOLLAH TEMPAT IA MEMBAGI ILMU SAMBIL
MENUNGGU KOPI BUATAN ISTRINYA. IA DUDUK MELAMUN SAMBIL MERENUNG DAN MEMIKIRKAN
NASIB KELANJUTAN KEHIDUPAN KELUARGANYA .
SALEH : “Ya Gusti… hidup tambah hari tambah
tua. Memikirkan diri tidak lagi tambah baik. Badan yang sudah bungkuk, tak lagi
bisa bekerja dengan maksimal. Berjalan pun harus menggunakan tongkat, bagaimana
nasibku di masa depan ini? (Berbicara sendiri)”
MINA: “Healah Pak, Pak. Masih saja seperti
itu. Apa kamu tidak bosan mengeluh tiap pagi begini? (meletakkan kopi dan
kudapan di atas meja depan Saleh duduk)”.
SALEH: “Ya mau
bagaimana lagi Bu, Bu. Hidup sudah tua begini, anak tidak pernah ada di rumah,
kepada siapa nanti akan hidup kalau salah satu di antara kita mati terlebih
dahulu?”
MINA: “Anak kita
bukan tidak pernah ada di rumah Pak. Dia kan sedang mencari ilmu, mungkin saja
dia masih sibuk.”
SALEH: “Begini, Bu.
Sesibuk apapun seorang anak, pasti dia tidak akan lupa dengan orang tuanya.”
MINA: “Dia tidak
lupa dengan kita, Pak. Hanya saja dia masih punya kewajiban yang lebih penting.”
SALEH: “Bu! (nada
bicaranya semakin meninggi) Anak kita itu sudah lupa dengan kita, masa sudah
seminggu lebih tidak ada kabar. Apakah wajar seorang anak seperti itu?”
MINA: “Bapak, Si
Jupri itu tidak lupa kepada kita. Namanya juga orang mencari ilmu, Pak! Siapa
tahu, mungkin dia banyak tugas yang harus dikerjakan, atau mungkin dia bekerja
sampingan supaya dia tidak selalu meminta uang kepada kita (tetap dengan suara
yang halus).”
SALEH: “Apa Bu?
Bekerja? (Berdiri dan berjalan ke arah depan) Ibu kan sudah tau sendiri, Bapak
selalu memberikan uang lebih setiap bulannya. Biasanya setiap malam dia pulang
dan makan di sini. Apakah itu kurang? (dengan nada tinggi). Jadi, Bapak pikir,
dia tidak akan bekerja. Karena semua kebutuhannya sudah terpenuhi Bu.”
MINA: “Iya, Bapak
yang sabar saja. Mungkin beberapa hari ke depan, Jupri akan pulang dan membawa kabar bahagia.”
SALEH: “Kabar
bahagia katamu? Jangankan kabar bahagia, ditanya saja dia tidak pernah
menjawab. Bahkan selalu menghindar dari kita. Baru kalau minta uang dia
berbicara kepada kita. Hanya itu saja, jika ditanya untuk apa, dia hanya
menjawab “urusan anak muda” lalu pergi tanpa berterimakasih.”
MINA: “(Mengurut
dada) Sudahlah Bapak, yang sabar saja. Siapa tahu itu memang kebutuhannya dalam
mencari ilmu. Dia kan lebih tahu apa
yang dibutuhkan di sana.”
SALEH: “Sabar
sabar sabar saja katamu, kamu hanya
membela dia dibanding keluarga kita. Kita sudah tua Bu, hidup kita tidak akan
lama lagi.”
MINA: “Bapak!
(membentak) Jangan berbicara seperti itu (dengan nada tinggi), tidak baik!
Tiada yang tahu sampai kapan umur kita kecuali Allah Pak! Kelahiran, kematian,
rezeki, dan jodoh tidak ada yang tahu.”
SALEH: “Bukannya
Bapak berpikiran seperti itu, hanya saja memang sudah waktunya kita
mengandalkan anak kita, anak satu-satunya, tidak ada lagi harapan kita selain
dia.”
MINA: “Iya Bapak, saya mengerti, tapi
alangkah baiknya kalau Bapak mencoba berbicara baik-baik dengan si Jupri.”
SALEH: “Berbicara baik-baik bagaimana lagi
Bu? Dia sekarang sudah tidak pernah pulang lagi, bahkan dia sudah tidak peduli
dengan kita. (menghela napas panjang) Sekarang kita lihat saja, adakah kabar
darinya?”
MINA: “tidak, (mewek)”
SALEH: “Apakah dia pernah menengok musollah
yang selama ini kita rawat?”
MINA: “tidak. (mewek)”
SALEH: “Apakah dia pernah membantu kita
merawat sawah kita?”
MINA: “tidak. (mewek)”
SALEH: “Apakah dia pernah membawa arit
mencari pakan sapi kita?”
MINA: “tidak (mewek)”
SALEH: “Apakah dia datang ketika kita
panen?”
MINA: “Iya”
SALEH: “Apakah dia datang ketika sapi kita
beranak?”
MINA: “Iya”
SALEH: “Itu
sudah membuktikan kalau anak kita hanya datang ketika kita untung Bu,
dia hanya memanfaatkan kita tanpa ingin membantu kita, dia hanya………”
MINA: “(memotong pembicaraan Saleh dengan
nada tinggi) Sudah pak sudah, biar bagaimanapun dia tetaplah anak kita, anak
satu-satunya yang seharusnya kita pelihara, kita berikan kasih sayang, kita
didik dengan baik bukan malah menjelek-jelekkannya Pak. kalau seperti ini, apa
Bapak sudah berkaca dengan diri Bapak, sudah pantaskah Bapak dijuluki orang tua
yang baik? Sudah benarkah didikan Bapak selaku orang tua? Apa Bapak sudah
merasa paling benar dalam mendidik anak? Apakah Bapak…….”
SALEH: “(memotong pembicaraan Mina dengan
nada tinggi), Iyaa Bu, Aku yang salah, semua aku yang salah. Aku yang salah
mendidik, dan Kamu, istriku yang seharusnya punya andil dalam mendidik anak
kita, kemana saja? Mengapa baru sekarang berkata seperti itu? Mengapa tidak
engkau saja yang mendidik supaya semuanya benar dan tidak melenceng kelakuan
anak kita?”
MINA: “Pak, kelakuan anak kita tidak
melenceng, hanya saja dia belum sempat memberikan kabar kepada kita. Sudahlah
kita tunggu saja kabarnya.”
SALEH: “Ya sudah semoga saja, dia berada di
jalan yang benar (kembali ke tempat duduknya sambil menyedu kopi dan memakan
kudapan)”
SETELAH BEBERAPA DETIK KEMUDIAN, SALEH
BERBICARA LAGI
SALEH: “Tapi begini Bu, Anak kita sudah keterlaluan, dia sudah tidak peduli lagi dengan
kita.”
MINA: “Bapak selalu saja seperti itu.”
SALEH: “Tapi memang benar Bu. Lihat! Pada saat kita butuh peran seorang
anak untuk membantu keluarga kita, apakah dia hadir di hadapan kita? Tidak ada
Bu, yang ada hanya santri-santri, mereka bukan siapa-siapa kita, mereka hanya
anak tetangga kita, tapi, mereka peduli kepada kita. Terus anak kita ke mana?”
MINA: Ya kan anak kita sedang tidak di rumah Pak.
SALEH: “Setidaknya jenguklah orang tuanya. Dia tidak akan tahu
kalau kita sedang merindukannya. Bahkan kalau kita sakit pun, aku yakin dia
tidak akan merawat kita.”
MINA: “Bapak!! Anak kita tidak
sekejam itu!”
SALEH: “Buktinya, dua bulan yang lalu dia datang pada saat aku
sedang sakit, tapi dia datang hanya meminta uang saja kan? Setelah itu dia
langsung mengangkat kaki dari rumah ini kan?”
MINA: “Mungkin dia sibuk Pak”
SALEH: “Yaa mungkin, untungnya ada anak tetangga yang mau kamu
repoti.”
MINA: “Siapa Pak? (sedikit bingung)”
SALEH: “Siapa lagi kalau bukan santri-santriku”
MINA: “Oh Iya Pak. Santri Bapak memang yang terbaik (dengan wajah
sedikit tidak enak)”
SALEH: “Ya sudah lah Bu, Semoga anak kita selalu ingat pesanku.”
MINA: ”Memangnya apa pesan
Bapak?”
SALEH: “Aku selalu menasihatinya, jangan menghabiskan uang untuk
hal yang tidak baik, seperti pasaran, merokok, mabuk-mabukan, karena itu semua
bisa menjadi bencana buat kita.”
MINA: “Bapak tenang saja, anak kita tidak akan seperti itu kok Bu.”
SALEH: “Kamu terlihat begitu yakin dengan anak kita, dunia luar
berbahaya Bu, apalagi kita tidak tahu seperti apa anak kita sekarang.”
MINA: “Aku yakin didikan Bapak pasti baik. Santri saja bisa bapak
didik, apalagi anak sendiri. Sudah lah bapak tenang saja, aku yakin dia tidak
senakal itu.”
SALEH: “Iya Bu, anak kita memang tidak
senakal itu, tapi bagaimana kehidupan di luar tanpa ada peran orang tua.”
MINA: “Kalau sudah dididik Bapak, saya yakin
iman dan taqwanya tidak akan goyah. Saya yakin Pak, santri Bapak saja sudah
seperti itu, apalagi anaknya. Bapak tidak usah khawatir, percaya saja dengan
anak kita.”
SALEH: “Ya Bu,
aku berusaha tenang saja, semoga saja perkataanmu itu terbukti.”
MINA: “Oh iya Pak, tadi Pak Rusman datang,
dia meminta Bapak untuk hadir ke acara khitanan anaknya nanti malam (mengambil
undangan dari meja lalu menyerahkan Saleh).”
SALEH: “Oh iya, Bu. Berarti nanti malam ibu
yang mengajari anak-anak di mushollah ya.”
MINA: “Iya Bapak. Kalau begitu saya ke
belakang dulu, mau mencuci baju dulu.”
SALEH: “Ya sudah, saya juga mau
membersihkan mushollah dulu, setelah itu saya pergi ke sawah.”
MINA: “Iya Bapak, semangat yah.”
SALEH: “Semangat juga Bu.”
MEREKA BERDUA BERGEGAS KE TEMPAT MASING-MASING, MINA PERGI KE KAMAR
MANDI UNTUK MENCUCI BAJU, SEDANGKAN SALEH PERGI KE MUSHOLLAH UNTUK MENYAPU DAN
MERAPIKANNNYA.
BABAK 2
DI SEBUAH RUMAH KOS TERDAPAT SEORANG PEMUDA YANG TENGAH MEMIKIRKAN
HIDUPNYA, DIA MERASA BANYAK SEKALI MASALAH YANG DIHADAPINYA. SEHINGGA
MEMBUATNYA DEPRESI.
JUPRI: Agghhhh. (berteriak). Mengapa hidupku seperti ini, tiada lagi
yang aku punya sekarang, pacar tiada, harta pun tiada, bahkan orang tuaku pun
tidak peduli padaku, mereka hanya membeiku uang bulanan, setelah itu tak ada
lagi perhatiannya padaku.
Banyak orang yang mengaku teman, tetapi mereka datang hanya pada saat
aku menerima uang dari Bapak, Ibuku.
TERDENGAR BUNYI KETOKAN PINTU PERTANDA ADA ORANG YANG DATANG
YONO: “Mad, Mamad! (berteriak di balik pintu)”
JUPRI: “Iya, masuk saja tidak dikunci.”
YONO: “Astaga! (kaget). Kok kamu di sini sendirian? Mana Mamad? Lalu apa
yang kamu lakukan di sini?”
JUPRI: “Mamad masih belum pulang sejak kemarin, aku di sini menumpang
tidur. (menunduk dengan wajah lesu)”
YONO: “Kenapa kamu tidak pulang ke rumahmu? Apa kamu sudah tidak diakui
sebagai anak orang tuamu? Haha (dengan ekspresi mengejek).”
JUPRI: “Dasar kamu! Percuma aku pulang ke rumah, orang tuaku tidak akan
mempedulikanku. Apa lagi Bapakku, dia hanya mementingkan musollah dan
santri-santrinya. Kapan anaknnya dipikirkan?”
YONO: “Waah!! Bapakmu kyai Jup? Waah hebat yaa (dia terkagum-kagum)”
JUPRI: “Yaa benar, karena kehebatannya dia lupa dengan anaknya (dengan
wajah kesal)”
YONO: “Jangan berburuk sangka kepada orang tua Jup. Meskipun begitu
mereka sudah membesarkanmu (mengelus pundak Jupri).”
JUPRI: “Bukannya berburuk sangka No, Tapi sudah kenyataannya Bapakku
tidak mempedulikanku, dia hanya mementingkan kepandaian dari anak-anak tetangga
yang dititipkan kepadanya.”
YONO: “(terdiam sekitar 5 detik), ya sudah kalau pikiranmu masih saja
berkata seperti itu. Aku tidak bisa apa-apa. Ya sudah ayo ikut aku Jup!”
JUPRI: “Kemana? (bingung)”
YONO: “Ke warung kopi”
JUPRI: “Untuk apa?”
YONO: “Beli bensin. Ya ngopi lah Jup, kumpul-kumpul dengan teman-teman.”
JUPRI: “Nah itu lebih baik, ayo berangkat!”
YONO: “Lah, kamu tidak mandi?”
JUPRI: “Gak usah, yang penting aku kuat. Ayo berangkat, keburu siang.”
MEREKA PERGI KE TEMPAT NGOPI UNTUK BERTEMU DENGAN TEMAN-TEMANNYA,
SESAMPAINYA DI TEMPAT KOPI
YONO: “Nah, Ayo pesan minuman apa saja Jup. Bebas. Nanti aku yang bayar,
mau minuman keras, minuman lunak, silakan!”
JUPRI: “Minuman keras, No? Aku anak ustad gak boleh mennyentuh hal
seperti itu.”
YONO: “Iya minuman keras, Es Batu maksudnya.”
JUPRI: “Yaelah , aku pikir minuman beralkohol No”
YONO: “(tertawa) kalau itu beda lagi Jup, tapi kamu jangan, biar aku
saja yang minum itu.”
JUPRI: “Mending jangan deh No, daripada nanti kamu sendiri yang rugi.”
YONO: “Tau apa sih kamu Jup, selama ini kamu hanya anak rumah yang gak
pernah keluaran, mana kamu tahu tentang gitu-gituan. Apalagi kamu kan cupu.”
JUPRI: “Katanya itu tidak baik untuk kesehatan tubuh.”
YONO: “Ka…ta… nya… (mengucapkan secara pelan tapi keras), kata-kata yang
belum ketemu faktanya.”
JUPRI: “Tapi benar No. Berdasarkan buku yang aku baca, para ahli
mengatakan Unsur dalam alohol jika bertemu dengan tubuh maka akan
menyebabkan…..”
YONO: “(memotong pembicaraan Jupri) Alaah sudahlah Jup, aku tidak butuh
teorimu. Kamu ingin pesann apa? Biar aku yang memesan, kamu duduk saja di sini.”
JUPRI: “Ya sudah, aku pesan susu jahe saja, banyakin susunya jahenya
sedikit saja.”
YONO: “Siaap bos, perintah dilaksanakan.”
YONO PERGI KE TEMPAT PEMESANAN UNTUK MEMESAN MINUMAN JUPRI DAN
MINUMANNYA. SETELAH MEMESAN IA KEMBALI MENGHAMPIRI JUPRI DI TEMPAT DUDUKNYA.
JUPRI: “No, tempat ini mengapa sangat sepi?”
YONO: “Ini masih pagi, nanti pasti banyak orang yang datang.”
JUPRI: “Oalah seperti itu.”
KEMUDIAN DATANG PELAYAN YANG MEMBAWA MINUMAN PESANAN JUPRI DAN YONO.
PELAYAN: “Mas, ini pesanannya, Kopi susu dan susu jahe ya Mas?”
YONO: “Iya mas benar, Terima kasih yaa. (kemudian memberikan susu jahe
kepada Jupri).”
JUPRI: “Okee Makasih No.”
TIDAK LAMA KEMUDIAN DATANG DUA ORANG LAKI-LAKI YANG MERUPAKAN TEMAN YONO
MEREKA JUGA KENAL DENGAN JUPRI.
AHANG: “Hei Wang, coba lihat ke sana, di sana ada Yono dengan temannya.”
WAWANG: “Iya Hang. Waah ada teman yang bisa diajak berbuat dosa. Jadi,
kita tidak hanya berdua, Haha.”
AHANG: “Ayo kita ke sana Wang!”
WAWANG: “Laksanakan!”
MEREKA MENGHAMPIRI JUPRI DAN YONO YANG SEDANG MENYERUPUT MINUMAN MEREKA
MASING-MASING
AHANG & WAWANG: “Hei (mengagetkan Yono)”
YONO: “Jancikk!!”
JUPRI: “Astaga!! (Bersamaan dengan Yono)”
YONO: “Healaah, ternyata kalian?”
AHANG: “(tertawa dengan keras) Hahaha. No, Kok tumben kamu ke sini?”
YONO: “(Tersenyum) Ini si Jupri lagi galau, makanya aku ajak ke sini. Di
sini kan tempat untuk bersenang-senang.”
WAWANG: “Ya iya lah. dulu temanku juga ada yang galau tingkat dewa,
terus dia ke sini.”
JUPRI: “Terus? (penasaran)”
WAWANG: “Mati di sini.”
YONO: “Heh ngawur!”
WAWANG: “Ya nggak lah, dia minum minuman khas di warung ini, lalu dia
sembuh.”
JUPRI: “Minum apa Wang?”
WAWANG: “Nanti aku pesankan, tenang saja.”
WAWANG DAN AHANG TIBA-TIBA BERDIRI DAN MEMESAN MINUMAN UNTUK DIRINYA
SENDIRI. SETELAH ITU MEREKA KEMBALI KE TEMPAT DUDUK JUPRI DAN YONO
JUPRI: “Kamu pesan apa Wang?”
WAWANG: “Nanti kamu tahu sendiri, pokoknya minumanku adalah minuman
ternikmat sedunia.”
AHANG: “Daripada kamu penasaran, mending kamu coba nanti dan rasakan
keajaiban minuman kami.”
WAWANG: “Aku jamin kamu pasti ketagihan, soalnya ini ouweenak tenan.”
JUPRI: “Aku gak percaya, sebelum ada buktinya.”
AHANG: “ Ya sudah ditunggu saja.”
TIBA-TIBA DATANG PELAYAN MEMBAWA DUA BOTOL BERWARNA HIJAU LUMUT DAN 2
GELAS KECIL DAN MEMBERIKANNYA KEPADA WAWANG DAN AHANG.
WAWANG: “Terima kasih ya Mas.”
AHANG: “Wow, ini yang kita tunggu-tunggu, minuman terenak di dunia,
hahaha (tertawa dengan keras)”
WAWANG: “Ayo kita nikmati Hang (mengangkat botol kemudia mengadukan
botolnya dengan botol Ahang) Cheers”
AHANG: “Cheers (bersamaan dengan Wawang)”
SETELAH MENEGUK MINUMAN DALAM BOTOL ITU, KEMUDIAN AHANG DAN WAWANG
MENAWARKAN MINUMANNYA KEPADA YONO DAN JUPRI.
AHANG: “Ayo No gak usah malu-malu, orang dulu kamu juga sama sepertiku.”
YONO: “Loh Jangan salah! Aku tetap seperti dulu kok. Ayo Jup, langsung
takiiss.”
JUPRI: “Kamu saja dulu, aku gak boleh minum minuman itu oleh ayah dan
ibuku.”
WAWANG: “Tenang saja Jup, ini minuman baik, tidak berbahaya.”
AHANG: “Santai Jup, ini bukan minuman keras.”
JUPRI: “Masa? (dengan wajah tidak percaya)”
WAWANG: “itu loh kalau kamu ingin tahu minuman keras (menunjuk ke salah
satu gelas).”
JUPRI: “Apa itu?”
WAWANG: “ES BATU, Hahaha.”
JUPRI: “Anjay, aku serius Wang!”
YONO: “Ayo lah Jup, gak usah malu-malu. Ayo langsung sikat.”
JUPRI: “Aku masih ingat pesan orang tuaku kok, No. Sudahlah kamu saja,
aku tidak!”
YONO: “Halah, ini yang namanya teman?
Segitu doing? Katanya teman karib? “
JUPRI: “Aku tidak mau mengecewakan orang
tuaku, No.”
YONO: “Memangnya, orang tuamu peduli
denganmu Jup? Nggak kan? Jadi untuk apa mengingat orang tuamu? Toh orang tuamu
lebih memilih anak tetangganya daripada kamu haha.”
AHANG: “Nah bener tuh Jup. Apalagi orang
tuamu gak peduli denganmu.”
WAWANG: “Ditambah lagi kamu galau mikirin
mereka, waah cocok banget, auto sembuh pikiranmu, ayo minum ini Jup”
JUPRI: “Ya sudah demi pertemanan, aku coba
yaa, sedikit dulu tapi.”
YONO: “Nah gitu dong, awal-awal sedikit
dulu, setelah itu kita minum bersama.”
JUPRI: “Oke, mana giliranku?”
AHANG: “Waah Siap, Ini untukmu Jup, kalau
kurang tambah lagi, tenang saja.”
WAWANG: “Kalo kurang kamu tinggal pesan
saja.”
JUPRI: “Oke, Aku siap-siap saja.”
YONO: “Hahaha, keren. Kamu memang temanku
paling keren Jup.”
JUPRI: “Ya iya dong.”
MEREKA BEREMPAT SEMAKIN LAMA SEMAKIN MENIKMATI MINUMAN YANG MEREKA
MINUM, SAMPAI KEEMPAT ANAK TERSEBUT MABUK TOTAL.
YONO: “Bagaimana Jup? Puas?”
JUPRI: “Masih belum No, kalau masih ada, ayo pesan lagi!”
YONO: “Bilang saja ke Wawang atau Ahang kan mereka pakarnya.”
JUPRI: “Wang, ayo pesen lagi (berbicara dalam keadaan mabuk).”
WAWANG: “Oke Jup, kita tambah lagi”
AHANG: “(menyentil dan berbisik kepada Wawang) Heh Wang! Kalau nambah,
kamu yang bayar ya?”
WAWANG: “Ngawur kamu, uang dari mbahmu?”
AHANG: “Lah gimana? Kamu mengiyakan loh.”
WAWANG: “Kan goblok aku kalau mabuk.”
AHANG: “Aku gak heran kok, goblokmu kan dari lahir.”
WAWANG: “Jupri kan sedang mabuk, gimana kalo kita peralat dia?”
AHANG: “Nah, ide bagus. Gimana Wang?”
WAWANG: “Nah, itu yang gak tau.”
AHANG: “Dasar goblokmu sampe ke DNA, yaudah dipikir bersama.”
WAWANG: “Gimana gimana?”
AHANG: “Dia kan gak sadar? Bagaimana kalau kita tawari dia yang bayar,
kan dia yang pingin. Nah, pada saat kita ngomong, jangan lupa direkam biar dia
gak bisa ngelak.”
WAWANG: “Waah terbaik idemu.”
AHANG: “ Ya iya lah, siapa dulu, Ahang bin Ahong gitu.”
WAWANG DAN AHANG LANGSUNG MEMPERSIAPKAN RENCANANYA. MEREKA MULAI
BERBICARA DENGAN JUPRI.
WAWANG: “Jup, mau nambah lagi?”
JUPRI: “Ayo, ini masih belum terasa.”
AHANG: “Ayo aku temani kamu, tapi aku dan Wawang sudah tidak punya uang
lagi, uangku sudah habis buat beli minuman yang tadi.”
JUPRI: “Gak usah mikir uang. Langsung pesan saja, ntar aku yang bayar.”
WAWANG: “Siap, aku pesan ya?”
JUPRI: “Iya dong”
JUPRI YANG SEDANG DALAM POSISI MABUK TIDAK SADAR BAHWA PERCAKAPANNYA
DIREKAM OLEH AHANG.
WAWANG: “(membawa 2 botol minuman) Ayo Jup, pesananmu sudah datang.”
JUPRI: “Ayo kita mulai lagi.”
MEREKA MELANJUTKAN KEMBALI KEGIATAN MINUM-MINUMNYA HINGGA SI JUPRI
PINGSAN DAN TIDAK KUAT BERDIRI.
WAWANG: “No, Yono. Ayo kita pulang!”
YONO: “Bagaimana dengan Jupri? Dia kan pingsan?”
AHANG: “Sudah lah No, daripada kita terkena masalah, mending kita
tinggal saja dia.”
MEREKA PERGI MENINGGALKAN JUPRI YANG SEDANG TERGELETAK. LALU DATANG
SEORANG PELAYAN YANG MEMBANGUNKAN DAN MENAGIH UANG UNTUK MINUMANNYA
PELAYAN: “Mas, bangun. Tokonya sudah mau tutup.”
JUPRI: “Ini masih pagi Mas. Saya enak tidur jangan diganggu.”
PELAYAN: “Pagi darimana mas? Coba dibuka dulu matanya. Naaah, tuh sudah
gelap.”
JUPRI: “Oh iya Mas. Oke makasih ya sudah membangunkanku.”
PELAYAN: “Iya Mas sama-sama.”
JUPRI: “Daah Mas, Assalamualaikum.”
PELAYAN: “Waalaikumsalam. Hee Mas, jangan asal pergi, kamu masih punya
tanggungan.”
JUPRI: “Lah tanggungan apa lagi Mas?”
PELAYAN: “Semalam kamu mabuk dengan temanmu, nah temanmu pesan minuman
katanya kamu yang bayar?”
JUPRI: “Mana mungkin saya berbicara seperti itu Mas? Aku saja tidak
punya uang buat pergi ke sini. Kalau tidak karena diajak teman, aku gak akan ke
sini.”
PELAYAN: “Oke kalau gitu, aku kasih buktinya yaa (mengambil hp lalu
menunjukkan kepada Jupri), ini mas, monggo disimak baik-baik..”
JUPRI: “Waah gimana Mas? Aku gak bawa uang sama sekali. Bagaimana kalau
saya menyerahkan skartu dan dokumen penting? Sumpah aku gak punya uang sama
sekali.”
PELAYAN: “Ya sudah kalauseperti itu, besok pagi jam 8 saya tunggu di
sini. Mas harus membayar semuanya, oke?”
JUPRI: “Terima kasih Mas. Maaf sebelumnya”
PELAYAN: “Aku tunggu kejujuranmu ya Mas.”
JUPRI: “Siap Mas, aku pasti kembali kok. Aku pulang dulu ya,
Assalamualaikum.”
PELAYAN: “Waalaikumsalam, hati-hati Mas.”
PELAYAN: “Kasihan orang itu, sebenarnya baik, tapi karena temannya yang
gak tau diri, dia tertipu oleh semuanya.”
Babak 3
SETELAH PERGI DARI TEMPAT NGOPI, JUPRI
LANGSUNG PULANG KE RUMAHNYA. DIA MERASA KEBINGUNGAN DAN TIDAK TAHU HARUS
MELAKUKAN APA, SEHINGGA IA MENGETUK PINTU RUMAHNYA DALAM KEADAAN MABUK DAN
MULUT BERAROMA ALKOHOL, NAMUN KEDUA ORANG TUANYA TERTIDUR PULAS MENYEBABKAN SI
JUPRI LAMA MENUNGGU DIBUKAKAN PINTU.
JUPRI: “(mengetuk pintu) Bapak, Ibu, anakmu pulang.”
JUPRI: “Bapak, ini Jupri Pak.”
SETELAH SEDIKIT LAMA MENUNGGU, AKHIRNYA SALEH DAN MINA BANGUN JUGA.
MINA: “Pak, Bapak! Itu seperti suara Jupri Pak.”
SALEH: “(sambil menguap) Jupri siapa Bu?”
MINA: “Jupri anak kita Pak, emang siapa lagi?”
SALEH: “Haduh Bu, Ibu jangan mimpi. Ayo tidur lagi.”
MINA: “Bapaaaak! Ayo kita bukakan pintu! Anak kita sedang di luar.”
SALEH: “Ya sudah kamu saja yang buka, nanti aku menyusul.”
MINA: “Ya sudah aku yang buka.”
MINA BERJALAN KE ARAH PINTU DAN MEMBUKA PINTU., TIBA-TIBA….
MINA: “ (kaget) Astaghfirullah Nak! Ngapain kamu pulang malam-malam
seperti ini?”
JUPRI: “Oh berarti aku tidak boleh pulang ya Bu? Ya sudah kalau seperti
itu aku…..”
MINA: “(memotong pembicaraan Jupri) Bukan begitu Nak,maksudku apa yang
kamu lakukan malam-malam seperti ini?”
JUPRI” “Nanti aku jelasin ya Bu. Sekarang aku mau masuk dulu bertemu
Bapak.”
MINA: “Ya sudah ayo masuk! Aku panggil Bapakmu ya.”
JUPRI: “Iya Bu.”
MINA DAN JUPRI MASUK KE RUMAH MEREKA, MINA MENUJU TEMPAT TIDUR SALEH
UNTUK MEMBANGUNKANNYA.
MINA: “(menggoyang-goyangkan tubuh Saleh) Pak, Bapak, Ayo bangun!”
SALEH: “Apa iu Jupri Bu? (dalam keadaan setengah merem).”
MINA: “Iya itu Jupri anak kita. Dia mau bertemu denganmu.”
SALEH: “Ayo kita temui dia!”
SALEH DAN MINA KE RUANG TAMU UNTUK MENEMUI JUPRI ANAKNYA, SESAMPAINYA DI
RUANG TAMU SALEH LANGSUNG MEMELUK SI JUPRI.
SALEH: “Jupri. Lama tidak bertemu Nak. Bapak rindu kamu Nak.”
JUPRI: “Sama Pak. Jupri juga rindu Bapak.”
SALEH: “(melepas pelukannya dengan Jupri)”
JUPRI: “Ada apa Pak?”
SALEH: “Mulutmu kok bau alkohol? Apa yang kamu lakukan Nak?”
JUPRI: “(Mencium bau mulutnya) nganuu.. tadi akuu…”
SALEH: “Kamu minum minuman keras Jup?”
JUPRI: “Iya Pak?”
SALEH: “Apa kamu lupa apa yang nasihat Bapak Ibumu?”
JUPRI: “Tidak Pak.”
SALEH: “Lantas mengapa kamu masih melakukan itu?”
JUPRI: “Aku dipaksa teman Pak.”
SALEH: “Kamu menghilangkan orang tuamu dari hatim hanya demi
teman-temanmu yang berandalan itu?”
MINA: “Sudah Pak, sudah. (mengelus pundak Saleh). Jangan diulangi lagi
ya Nak, itu perbuatan tidak baik.”
SALEH: “Ini Bu. Ini yang selama ini kamu percaya. Ini yang selama ini
kamu bangga-banggakan.”
MINA: “Sabar Pak, sabar.”
SALEH: “Mau sabar bagaimana lagi bu? Ini yang kita harapkan, ini tonggak
kesejahteraan keluarga, ini masa depan keluarga kita. Kalau begini, keluarga
kita tidak punya masa depan bu. Hancur semua.”
SEMUA TERDIAM SEJENAK
SALEH: “Anak yang selama ini kita rawat, tapi dia tidak punya sumbangsih
terhadap keluarga kita. Kalah dengan anak tetangga yang selalu ada buat kita.
Apapun yang kita butuh, mereka selalu siap membantu. Berbeda dengan anak kita
sendiri. Bukannya membantu tetapi malah membuat kerusakan dalam keluarga kita.”
MINA: “Tapi kalau tidak kepepet dia tidak akan melakukan itu Pak.”
SALEH: “Mau kepepet atau tidak aku tidak mau tahu, yang jelas aku tidak
mau punya anak yang sukanya minum minuman keras.”
MINA: “Dia baru datang Pak. Seidaknya disambut dengan baik lah sedikit.”
SALEH: “Untuk apa menyambut seorang anak yang lupa dengan orang tuanya.
Bahkan merusak harapan orang tuanya.”
JUPRI: “Maaf Pak, Bu. Mungkin ini tidak akan terjadi kalau Bapak dan Ibu
masih peduli denganku.”
SALEH: “Kami kurang peduli apa denganmu? Uang selalu kami beri, nasihat
sudah tiada hentinya aku ucapkan, terus apa lagi?”
JUPRI: “(agak meninggi) Bapak bilang apa? Anak tidak hanya butuh uang,
Pak. Jupri juga butuh kasih sayang orang tua. Bapak dan Ibu hanya mementingkan
anak tetangga saja. Mengurus santri-santrinya. Kapan Bapak mau mengurusku.
Bahkan Bapak tidak pernah bertanya bagaimana sekolahku, bagaimana ujianku,
bagaimana kehidupanku. Bapak hanya ceramah, ceramah terus.”
SALEH: “Justru itu, Itu adalah bentuk kepedulianku terhadapmu.”
JUPRI: “Oh jadi seperti itu? Kalau begitu buktikan kepedulian Bapak
kepadaku.”
SALEH: “Bagaimana?”
JUPRI: “Kalau kepedulian Bapak hanya berlandaskan materi, oke. Sekarang
aku minta uang 1 juta.”
SALEH: “Untuk apa? Sekarang keluarga kita tidak punya uang sama sekali.
Bapakmu sudah tua, sudah tidak berpenghasilan lagi. Pekerjaan Bapak hanya sebagaiustad
tidak punya bayaran, hanya dibutuhkan keikhlasan.”
JUPRI: “Aku tidak mau tahu. Pokoknya sekarang aku mau menuntut
kepedulian Bapak. Aku mau minta uang 1 juta.”
SALEH: “Untuk Apa? Kalau untuk hal yang positif akan aku usahakan, tapi
kalau untuk hal yang negatif, mending kamu keluar dari rumah ini dan jangan
pernah panggil aku Bapak.”
JUPRI: “Yaa, aku terlilit hutang.”
MINA: “Utang apa Nak? Bukannya kami selalu mengirimuang untukmu? Apakah
itu masih kurang?”
JUPRI: “Kurang banyak bu.”
SALEH: “Memangnya uang yang kami kirim kamu gunakan untuk apa?”
JUPRI: “Ya sekolah Pak. Tiap hari aku butuh makan.”
SALEH: “Uang sebanyak itu hanya untuk membeli makan? Wah keterlaluan,
kamu sama sekali tidak memikirkan orang tuamu.”
JUPRI: “untuk apa memikirkan kalian? Kalian saja tidak pernah
memikirkanku.”
SALEH: “Jaga mulutmu kalau bicara Nak. Kami di sini kerja hanya untuk
kebahagiaan kamu.”
JUPRI: “Buktinya, aku tidak bahagia sekarang. Kalau kalian ingin aku
bahagia, beri aku uang 1 juta, aku akan bahagia.”
MINA: “Uang dari mana Nak? Kamu tahu sendiri kan kondisi Bapakmu.”
JUPRI: “Aku tidak mau tahu, pokoknya hari ini harus ada.”
SALEH: “Beri aku jawaban, untuk apa uang itu?”
JURPI: “Bayar utang (menjawab dengan cepat)”
SALEH: “Utang apa?”
JUPRI: “Membeli minuman”
SALEH: “Minuman apa?”
JUPRI: “Minuman keras.”
SALEH: “(menampar Jupri) Sekarang pergi dari rumah ini dan jangan pernah
kembali.jangan pernah sebut aku Bapakmu!”
MINA MENANGIS KARENA TIDAK TEGA MELIHAT ANAKNYA DITAMPAR DAN DIUSIR.
SEMENTARA JUPRI PERGI MENINGGALKAN RUMAH DENGAN TIDAK MEMBAWA APA_APA
SALEH: “Kurang ajar! Itu Bu, anak yang selama ini kamu percayai.”
MINA: “Bapak keterlaluan, tega sekali menampar dan mengusir anak yang
idak punya apa-apa.”
SALEH: “Mau bagaimana lagi Bu. Dia sudah mencoreng muka keluarga kita.”
TAK LAMA KEMUDIAN, JENDELA RUMAH SALEH PECAH AKIBAT BATU YANG DILEMPAR
OLEH ORANG YANG TIDAK DIKENAL, BATU ITU TERBUNGKUS OLEH KERTAS YANG BERTULISKAN
“HATI-HATI TIDAK AKAN LAMA LAGI KAMU AKAN MATI.”
SALEH: “(mengambil kertas itu) Kurang ajar! Siapa yang mengirim ini?”
MINA: “:Sudahlah Pak, ayo kita tidur! Itu Cuma gertakan saja.”
AKHIRNYA MEREKA KEMBALI KE KAMAR MEREKA TETAPI MEREK TIDAK BISA TIDUR
MEMIKIRKAN ANAKNYA.
MENJELANG SUBUH, DATANG SESEORANG YANG TAK DIKENAL BERTOPENG MENYELINAP
LEWAT JENDELA. MEREKA MENGOBRAK-ABRIK RUMAH SALEH UNTUK MERAMPOK, MENCARI UANG
DAN BERKAS-BERKAS PENTING UNTUK DIJUAL, SEMENTARA SALEH DAN MINA MASIH TERTIDUR
PULAS. HINGGA PADA AKHIRNYA SALEH DAN MINA TERBANGUN. MEREKA KAGET MELIHAT
ORANG BERTOPENG MEMBUKA LEMARI DAN MELEMPAR BAJU DI DALAMNYA. DENGAN GAGAH
BERANI SALEH MENCOBA MENGHALANGI MEREKA, DAN AKHIRNYA MEREKA BERTARUNG. TANPA
DIKETAHUI SALEH, ORANG ITU MEMBAWA PISAU UNTUK MELINDUNGI DIRINYA. KARENA SALEH
MERUPAKAN ORANG YANG PUNYA ILMU BELA DIRI, IA PUN BERHASIL MERAMPAS PISAUNYA
DAN KEMUDIAN BERHASIL MENGALAHKAN ORANG ITU DENGAN SEKALI TIKAM DI PERUTNYA.
HINGGA AKHIRNYA….
SALEH: “(membuka topeng dan terkejut) Jupri!”
JUPRI: “(dengan terbata-bata) Maafkan aku Pak! Bukan maksudku ingin
berbuat jahat kepada Bapak, tapi aku benar-benar butuh uang itu.”
SALEH: “Maafkan Bapak juga Nak, Bapak tidak punya uang sama sekali.”
JUPRI: “Ibu! Maaffkan aku yang mengecewakanmu Bu. Tidak usah ingat-ingat
lagi semua tentangku ya Bu. Bapak Ibu, kalian yang sabar ya, aku minta maaf
semoga kalian selalu dalam lindungan Allah (sedikit demi sedikit mulai menutup
mata).”
SALEH: “Jupri! Jupri! Kamu masih kuat,bertahanlah Nak!”
AKHIRNYA JUPRI MENUTUP MATA
SALEH & MINA: “(Berteriak) JUPRIIIIIIIIIII!”
TAMAT
Penulis
bernama Achmad Al-Farizi. Biasanya orang-orang memanggil dengan sebutan Farizi.
Lahir di Situbondo, 28 Juli 1999. Penulis merupakan anak tunggal dari kedua
orang tuanya. Mereka tinggal di Dusun Karang Kene’, Desa Pokaan, Kapongan,
Situbondo. Ia pernah menempuh pendidikan di SDN 2 Pokaan, SMPN 2 Panji, SMAN 1
Situbondo, dan sekarang adalah mahasiswa aktif S1 Pendidikan Bahasa, Sastra
Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang.
Penulis juga aktif di beberapa
organisasi baik di kampus maupun luar kampus, di antaranya pernah menjadi
mentor Bimbingan Baca Al-Quran Universitas Negeri Malang, staf CO ARMASSI
(organisasi daerah asal Situbondo), dan sekarang diamanahi sebagai anggota
penalaran di Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri
Malang.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi