NASKAH DRAMA VALOUT LYNX



Valout Lynx
            Di sebuah sudut kota, di gang sempit.di jalanan kota Manhattan, New York. Samuel tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang tergeletak dilantai jalanan gang didepan restoran Anggle Eyes. Terdapat beberapa luka lebam dibeberapa sekujur tubuhnya, matanya memandangi Samuel dan seperti ingin meminta pertolongan, peluru caliber 44 menembus dadanya hingga berlubang mengeluarkan darah yang banyak..
Samuel            : (panik) “Ada apa denganmu!”
Seseorang        : (dengan berbicara terbata-bata) “ Tolonglah aku yang sedang sekarat ini”
Samuel            : “ Ada apa denganmu, apa yang telah terjadi?”
Seseorang        : (dengan berbicara terbata-bata) “ Aku sekarang tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa meminta tolong bantuan. Tolonglah aku tuan.”
Samuel            : (dengan gelisah) “Ayo aku antarkan ke rumah sakit!”
Seseorang        : (lemas tak berdaya) “Sudah terlambat jika pergi ke rumah sakit, dari pada memikirkan aku lebih baik bawalah dokumen ini pergi jauh-jauh dari sini.”
Orang itu memberikan dokumen dalam map warna coklat yang terdapat bercak darah orang itu dan diberikannya kepada Samuel.
Samuel            : “Apa ini?”
Seseorang        : (sambil mengulurkan tangan memberikan dokumen itu) “Sebaiknya bawalah dokumen itu jauh-jauh sebelum ada yang mengejarmu, jagalah dokumen itu, dan bawalah ke tempat yang aman.”
Samuel            : (sambil menerima dokumen itu) “Tapi, bagaimana keadaanmu?”
Seseorang        : (sambil batuk mengeluarkan darah) “Aku hanya bisa pasrah. Semua kuserahkan padamu.”
Samuel            : “Baiklah aku turuti kalau itu maumu.”
Setelah Samuel berlari menyelamatkan dokumen yang dia bawa, beberapa preman datang menghampiri seseorang itu yang sudah tak lama lagi menemui ajalnya.
Preman            : “Hei! Dimana kamu meletakkan dokumen itu?”
Seseorang        : (sambil menutup mata)“Percuma.”
Preman            : (kesal) “Sial, Dasar bedebah! Bunuh dia!”
Preman 2         : “Siap bos!”


Di suatu sisi, setelah kabur dan menyelamatkan dokumen itu Samuel menemui temannya yang bernama Eiji Okumura dan menceritakan kejadian itu.
Samuel            : (sambil berteriak)“Eiji!”
Eiji                   : (penasaran) “Ada apa Samuel, kau teriak-teriak?”
Samuel            : “Bantulah aku, di depan gang restoran Angle Eyes ada orang sekarat!”
Eiji                   : “Oke, ayo kita kesana cepat sebelum polisi datang.”
            Samuel dan Eiji langsung bergegas menuju tempat dimana orang sekarat itu tergeletak, namun sayang polisi lebih dulu datang di TKP. Banyak orang berkumpul juga disana menyaksikan penemuan mayat orang itu.
Samuel            : (sambil menggerutu) “Sial, kita terlambat.”
Eiji                   : ”Memangnya tadi ada apa?”
Samuel            : “Akan kuceritakan nanti di markas.”
Eiji                   : “Apakah ini kelakuan dari Alex?”
Samuel            : “Sudahlah, ayo kita kembali sebelum ada orang yang mencurigai kita.”
Eiji                   : “Baiklah kalau begitu.”
            Akhirnya mereka tiba di markasnya, di Manhattan selatan, New York. Samuel mulai menceritakan Kronologi kejadian yang di alami pagi tadi kepada Eiji.
Samuel            : “Sepulang mengawasi Black Spades, aku melewati gang restoran Angle Eyes dan disana aku terkejut terdapat orang sekarat disana meminta bantuanku.”
Eiji                  : “Apakah dia musuh Alex?”
Samuel            : “Entahlah, tapi aku tidak familiar dengan orang itu.”
Eiji                  : (semakin penasaran) “Siapa orang itu?”
Samuel            : “Aku pernah melihatnya berada di ruang kerjanya Papa Dino.”
Eiji                  : “Apakah dia rekan bisnisnya Papa Dino?”
Samuel            : “Aku semakin curiga, sebelum kematiannya dia memberikanku sebuah dokumen, dan dia bilang untuk membawanya ke tempat yang aman jangan sampai ada orang lain tahu. Setelah itu aku pergi.”
Eiji                  : “Mungkin dokumen itu sifatnya rahasia?”
Samuel            : “Entahlah. Tapi ada preman yang mengejar orang itu untuk merebut dokumen ini. Aku melihat peluru caliber 44 bersarang didadanya.”
Eiji                  : “Mungkin kematian orang itu dibunuh oleh para preman yang mencoba mengambil dokumen ini tapi tidak berhasil mendapatkannya.”
Samuel            : “Sebaiknya kita menyimpan dokumen ini ke tempat yang aman.”
Eiji                  : “Yeah, mungkin ada orang lain yang mengincarnya.”
Samuel            : “Eiji, rahasiakan ini dari anak-anak.”
Eiji                  : “Tenang, akan kurahasiakan.”
            Samuel dan Eiji bergegas mencari tempat aman untuk menyimpan dokumen itu, sebelum banyak diketahui banyak orang lain. Setelah selang waktu beberapa jam para anak buah Samuel berdatangan kembali ke markas setelah bertugas.
Shorter            : (masuk kedalam markas) “Hei bos. Kemana saja kau hari ini?”
Samuel            : “Aku hanya diam disini istirahat di markas saja.
Sao                  : “Bos, apakah kau melihat berita hari ini?”
Samuel            : (pura-pura tidak tahu) “Memangnya ada kejadian apa?”
Sao                  : “Sepertinya ada pembunuhan, bos. Terdapat kasus penemuan mayat, aku melihatnya di distrik dekat restoran Angle Eyes.
Samuel            : (bergeming)
Kevin              : “Apakah kita harus menginvestigasinya bos? Karena pembunuhan ini masih di sekitar wilayah kita?”
Eiji                  : “Sudahlah, Bos kalian sepertinya sedang kelelahan, kita bahas nanti persoalan ini.”
Samuel            : “Entahlah, aku merasa pusing sekarang.”
Shorter            : (bingung) “Bos?”
Samuel            : “Aku ingin istirahat sebentar, kalian jangan ada yang mengganggu.”
Sao, Shorter, Kevin: (menjawab dengan lantang) “Siap Bos!”
            Sementara, Samuel istirahat karena sepertinya pusing memikirkan bagaimana carannya menyimpan dokumen itu dengan aman, karena tidak mungkin dia simpan terus-terusan hanya didalam laci lemari saja, suatu saat pasti akan ada yang menemukannya. Eiji semakin penasaran dan curiga  dengan peristiwa tersebut dan ingin mengetahuinya apa yang sebenarnya terjadi dibalik kasus pembunuhan ini.
            Keesokan harinya Samuel bangun dari tidurnya, ia tidur cukup lama. Seketika itu dia teringat akan kejadian kemarin yang ia alami. Penuh dengan teka-teki dalam peristiwa kemarin, dalam kematian seseorang itu terlihat janggal antara yang ia lihat. Dia heran dengan peluru yang bersarang didadanya orang itu merupakan peluru dari pistol amunis artileri 44mm kaliber. Peluru itu hanya diprosuksi PT Fire Wolf dan orang yang mempunyai surat ijin leasing di Manhattan, New york hanyalah Papa Dino. Tanpa banyak pikir untuk mengetahui jawabannya Samuel bergegas menemui Papa Dino. Seorang bos mafia gembong narkoba New York yang selalu ditakuti dari seluruh geng Amerika, sekaligus ayah tiri dari Samuel.

            Samuel keluar dari kamar dan siap bergegas menemui Papa Dino tanpa ada siapapun yang mengetahuinnya.
Samuel            : (sambil mengancingkan kancing atas kemejanya) “Kevin, aku pergi dulu kau jagalah markas.”
Kevin              : “Bos, mau kemana? Akan kutemani, Bos.”
Samuel            : “Ini bukan urusanmu, kau jaga saja markas.”
Kevin              : “Baiklah, Bos.”
Samuel            : “Awas saja kalau terjadi kenapa-kenapa.”
Kevin              : “Tidak akan, Bos!”

            Samuel pun pergi dari markas mendatangi ayah angkatnya yang sudah lama tidak bertemu dengannya, waktu 10 tahun bukanlah waktu yang pendek. Sedangkan itu Eiji yang baru saja datang dari rumah dengan mengendarai motor klasiknya Kawasaki W 175 dengan velg coklat, tiba di markas.

Eiji                   : (sambil membuka helmnya dan mematikan mesin motornya) “Dimana, semua orang?”
Kevin              : “Bos lagi keluar, Shorter bersama Chung menemui anak buahnya, Sao sedang bertugas di markas utara.”
Eiji                  : “Samuel pergi keluar kemana?”
Kevin              : “Entahlah, aku tidak tahu.”
Eiji                  : (Bergeming)
Kevin              : “tunggulah sebentar, mungkin setelah ini Bos akan kembali.”
Eiji                  : “Baiklah akan kutunggu disini.”
Kevin              : “Ngomong-ngomong, sepertinya ada yang kalian berdua rahasiakan, memangnya kalau boleh tau apa itu?”
Eiji                  : “Bukan apa-apa, aku hanya ada keperluan saja dengan Samuel.”
Kevin              :  “Baiklah kalau tidak ada apa-apa. Eh tadi aku mendengar berita bahwa temuan mayat pada kasus pembunuhan di dekat restoran Angle Eyes telah terindentifikasi.”
Eiji                  : (pura-pura tidak begitu penting) “Memangnya siapa?”
Kevin              : “Mayat yang ditemukan itu ternyata orang yang bernama Christopper.”
Eiji                  : (seketika itu kaget, namun harus bisa menyembunyikannya) “Oh...”
Kevin              : “Seperinya aku pernah mendengar nama itu, tapi entah dimana.”
Eiji                  : (berbicara dalam hati) “Benar dugaan Samuel, orang itu memang rekan kerja Papa Dino. Aku harus bergegas memberitahu Samuel!”
Kevin              : “Eiji, kau baik-baik saja?”
Eiji                  : (sambil berlari tergesa-gesa meninggalkan markas) “Kevin, aku pergi dulu!”
Kevin              : (berteriak) “Hei, Eiji kau mau kemana?”
Eiji                  : “Sudahlah!”
Kevin              : (menggerutu) “mengapa orang orang meninggalkanku, memangnya ada apa? Sial, hari ini aku sendirian.” 

            Sementara itu, Samuel telah tiba di kediaman rumah Papa Dino. Tanpa penjagaan seperti biasanya, sepertinya Papa Dino telah mengetahui kedatangan Samuel.
Dok, dok, dok (suara ketukan pintu)
Papa Dino       : (duduk santai menunggu di sofa ruang tamu) “Masuklah.”
Samuel            : (masuk ke ruang tamu dengan tatapan mata dingin) “Kau masih ingat denganku?”
Papa Dino       : “Sudahlah, jangan basa-basi lagi, aku tau maksud kedatanganmu kesini.”
Samuel            : “Syukurlah kalau kau tau maksud kedatanganku, Dino.”

            Suasana langsung menjadi tegang antara ketegangan Samuel dan Papa Dino.
Papa Dino       : “Serahkan saja dokumen itu, nak.”
Samuel            : “Jadi, penemuan mayat kasus pembunuhan itu karena ulahmu?”
Papa Dino       : (mulai mengancam) “Ini bukan urusan anak usia 19 tahun. Sudahlah jika gengmu masih ingin bertahan di Manhattan, patuhilah aku.”
Samuel            : (menolak dengan mentah-mentah) “Aku tidak semudah itu kau hancurkan seperti kawan-kawanku yang telah kau musnahkan, Dino.”
Papa Dino       : “Hmm.. baiklah kalau itu keputusanmu yang kau ambil.”
Samuel            : (berjalan keluar, sambil mendobrak pintu) “Akan kucari sendiri, apa maksud dari dokumen itu!”
Papa Dino       : (tertawa kecil) “Rupanya kau ingin bermain-main denganku, Samuel.”
Papa Dino       : (berteriak memanggil) “Pengawal, Pengawal!”
Pengawal        : “Iya, Bos?”
Papa Dino       : “Ambil paksa dokumen itu di tangan Samuel, sekaligus brondong dengan peluru.”
Pengawal        : “Siap, Bos.”
Sementara itu, Eiji menuju rumah Papa Dino untuk menyusul Samuel yang sudah pasti berada disana, namun sesampainya disana dia justru tidak bertemu dengan Samuel.
Eiji                   : (menanyakan kepada penjaga gerbang) “Dimana Samuel?!”
Penjaga            : “Kau terlambat, Samuel telah pergi.”
Eiji                   : (kesal) “Sial, pergi kemana?!”
Penjaga            : “Aku tidak tau dan bukan urusanku.”
Eiji                   : (semakin kesal) “Brengsek!”

            Samuel dalam perjalan kembali ke markas sambil memikirkan bagaimana cara dia mengetahui apa isi dokumen itu dan maksud tujuannya dari papa Dino menginginkan dokumen itu.
Dalam perjalan pulang di dalam kereta komuter.
Samuel            : (bergeming memikirkan dokumen itu) “Hmm.. bagaimana caranya aku mengetahui apa maksud dan tujuan Dino menginginkan dokumen itu? Apa aku membukannya saja dan melihat apa isinya didalamnya? Sial aku merasa ada rencana jahat Dino dibalik dokumen itu.

Tak lama memikirkan itu Samuel menerima telepon.
Samuel            : (sambil mengangkat telepon) “Ada apa Kevin, kau menelponku?”
Kevin              : (ketakutan) “Bos, markas kita diserang!”
Samuel            : (kaget) “Apa katamu! Sekarang kau dimana?”
Kevin              : “Aku melarikan diri, bos. Aku kalah jumlah, mereka membawa machine gun semua.”
Samuel            : “Apa ada yang terluka disana?”
Kevin              : (lega) “Untungnya aku melarikan diri, bos.”
Samuel            : (cemas) “Bagaimana keadaan anak-anak yang lainnya?”
Kevin              : “Di markas hanya ada aku saja, anak-anak belum ada yang ke markas dari tadi pagi, Bos.”
Samuel            : “Kevin, apakah kau tau siapa yang menyerang markas kita?”
Kevin              : “Entahlah, Bos. Aku melihat ada 2 mobil van hitam depan didepan markas, lalu segerombolah orang bertuxedo hitam memberondong markas dengan peluru, Bos?”
Samuel            : “Apakah ada yang masuk ke markas?”
Kevin              : “Ada 3 orang masuk menggeledah markas, tapi tidak menemukan apa-apa, Bos.”
Samuel            : “Baiklah, aku akan segera kesana.”
Kevin              : “Baik Bos, tolong secepatnya.”
Samuel            : (sambil menutup telepon) “Beraninya kau menghancurkan markasku, Dino.”

Tak lama kemudian Dino menelpon Samuel.
Papa Dino       : “Ini belum seberapa, Nak.”
Samuel            : (diam)
Papa Dino       : “Aku sudah tahu dari pengawalku, dokumen itu berada di tanganmu. Ketika Christopher sekarat, dia memberikannya kepada seseorangkan. Aku tahu orang itu adalah kau Samuel.”
Samuel            : (hanya diam saja)
Papa Dino       : “Serahkan saja dokumen itu, jika orang-orang disekelilingmu ingin selamat.”
Samuel            : “Kau sudah puas?”
Papa Dino       : “Aku akan membawakan rivalmu kembali ke New York.”
Samuel            : (langsung menutup telponnya)
           
            Sesampainya Samuel di markas, dia langsung masuk ke markas yang sudah hancur dibrondong peluru, untuk mengambil dokumen itu. Sedangkan anak buah Samuel semua berkumpul di halaman depan markas.
Kevin              : “Bos?”
Samuel            : (langsung masuk ke markas mengambil dokumen itu)
Sao                  : “Sebenarnya apa yang dirahasiakan oleh bos?”
Shorter            : “Entahlah, aku pun tidak tahu apa permasalahannya.”
Kevin              : “Sepertinya, bos merahasiakan ini agar kita tak terlibat tapi malah begini situasinya.”
Chung             : “Terus bagaimana ini?”
Jack                 : “Bos sebenarnya harus terus terang kepada kita, karena kitalah anak buahnya, semua permasalahan kita harus jalani bersama-sama, mekipun itu susah atau senang.”
Kevin              : “Benar apa yang dikatakan Jack.”

Tak lama setelah itu, Eijipun datang.
Eiji                   : (turun dari motornya) “Dimana Samuel?”
Sao                  : “Bos ada didalam.”
Eiji                   : “Kenapa markas jadi begini?”
Shorter            : “Panjang ceritannya, Samuel ada di dalam.”
Eiji                   : “Baiklah.”

Sesampainya Eiji tiba di markas dia langsung menemui Samuel didalam.
Eiji                   : “Samuel, aku tahu pembunuhan kemarin adalah ulahnya papa Dino.”
Samuel            : “Markas hancur ini juga ulahnya.”
Eiji                   : (kaget) “Apa!, jadi papa Dino yang menyerang markas kita?”
Samuel            : “Sepertinya aku harus terus terang tentang dokumen ini kea anak-anak. Aku sepertinya tidak sanggup menanganinnya sendirian melawan Dino.
Eiji                  : “Tapi.”
Samuel            : “Alex akan kembali pulang, kita harus siap untuk berperang.”
Eiji                  : “Kau tahu darimana kalau Alex akan datang?”
Samuel            : “Si brengsek itu memberitahuku.”
Eiji                  : “Terus bagaimana rencanamu?”
Samuel            : “Siapkanlah senjata dan amunisi, aku akan terus terang kepada anak buahku.”
Eiji                   : “Baiklah.”

Sementara itu dilain sisi papa Dino menelpon Alex.
Papa Dino       : “Lama tak jumpa, Alex.”
Alex                : “Suatu kehormatan bagiku bisa dipanggil lagi oleh Tuan.”
Papa Dino       : “Kau sama seperti dulu ya.”
Alex                : “Ada permasalahan apa, Tuan?”
Papa Dino       : “Biasa, permasalahan seperti dulu.”
Alex                : “Anak itu berulah lagi?”
Papa Dino       : “Kucing yang dulunya ku rawat, kini sudah menjadi singa.”
Alex                : “Jangan khawatir Tuan, aku akan segera kembali.”
Papa Dino       : “Cepatlah lex, singa itu butuh pawang.”
Alex                : (sambil menutup telpon) “Baiklah Tuanku.”
Samuel pun terus terang dengan permasalahan yang dia hadapi kepada anak buahnya. Setelah itu mereka bekerja sama untuk melindungi dokumen itu, dari tangan Dino.
Samuel            : “Sebelum aku melawan Dino, aku harus mengetahui maksud dan tujuannya mengetahui dokumen ini.”
Eiji                  : “Apa, rencanamu kali ini?”
Samuel            : “Aku akan pergi bertemu Mario, dia ahli segalanya. Aku ingin mengetahui isi didalam dokumen itu.”
Eiji                  : “Aku akan mengantarkanmu.”
Samuel            : “Jangan khawatirkan aku, bersiaplah untuk berperang dengan anak-anak.”
Eiji                  : “Baiklah.”

            Samuel berangkat menemui Mario yang berada di Chicago. Samuel pergi kesana menggunakan pesawat terbang untuk sampai disana. Dua hari setelahnya Samuel bertemu dengan Mario disebuah kedai kopi di sebuah distrik yang terpencil di Chicago.
Samuel            : (memanggil seseorang yang duduk didepan tempat barista) “Mario.”
Mario               : (sedikit pangling) “Samuel, bagaimana kabarmu?”
Samuel            : “Kabar baik, teman lamaku.”
Mario               : “Apa yang bisa aku bantu?”
Samuel            : (sambil mengeluarkan map coklat itu kehadapan Mario) “Aku membawakanmu dokumen ini, apakah kau bisa mengetahui isinya?”
Mario              : (sambil menerima dokumen itu dari tangan Samuel) “Aku check dulu.”
Samuel            : “Silahkan saja.”

Setelah beberapa menit mengecheck dokumennya Mario mulai menjelaskan apa isi dokumen itu.
Mario              : “ Sebenarnya dokumen ini berisi kode rahasia dari zat kimia, yang mana zat ini sangat berbahaya jika radiasinya terkena manusia.”
Samuel            : (penasaran) “Terus, apa efek dari penggunakan zat ini?”
Mario              : “Tak sembarang orang mempunyai kelegalan membawa zat ini. Zat ini biasanya di campurkan larutan asam amino dan di ekstrak dengan pil double L agar menjadi pil yang sempurna dan bereaksi dengan baik.”
Samuel            : (tidak memahaminya) “Maksudnya?”
Mario              : “Singkatnya itu dokumen berisi kode rahasi untuk membuat orang mati.”
Samuel            : “Jadi ini racun?”
Mario              : “Bukan, jika orang mati keracunan akan dapat diketahui ketika otopsi. Tapi ini ketika orang menelan pil itu, pilnya akan berlarut hilang seperti tidak menelan apa-apa. Akan tetapi efeknya membuat pasien yang menelan pil itu akan merasa frustasi sendiri tanpa sebab dan berujung kepada keinginan untuk bunuh diri tanpa adanya masalah dan tekanan atau disebabkan hal yang lain. Para ilmuwan biasanya menyebutnya dengan sebutan Vallot Lynx alias pil juling membawa kematian.”
Samuel            : “Vallot Lynx?”
Mario              : “Iya, itu adalah senjata berhantu mengerikan abad ini.”
Samuel            : (berbicara dengan hati) “Sekarang aku tahu, cara Dino untuk melengserkan George dari jabatannya sebagai walikota New York. Dengan begitu dia dapat menguasai New York. Hmm.. sungguh licik kau Dino.”
Mario              : “Samuel kau mendapatkan ini dari mana?”
Samuel            : “Maaf Mario, aku harus pergi.”
Mario              : (heran) “Loh, Samuel kita belum berbicara banyak kenapa kau pergi!”
Samuel            : “Sudahlah kapan-kapan kita bicara lagi.”
Samuel mengambil jam penerbangan kembali ke New York untuk secepatnya memberitahui Eiji dan teman-temannya, namun pada saat ingin lepas landas Samuel mendapatkan pesan dari Alex.
Samuel            : (melihat notifikasi pesan) “Apa ini? Dari Alex?
Pesan itu berisikan pesan Alex berisi “kita selesaikan permasalahanmu dengan Dino di stasiun kereta bawah tanah Manhattan jam 3 sore, dan jangan lupa bawa pasukanmu, ini sampai titik darah penghabisan.”
Samuel            : “Baiklah aku terima tantanganmu, Lex.”

            Sesampainya di New York, Samuel menceritakan semua yang dia ketahui kepada teman-temannya dan Eiji. Hingga pada akhirnya sampailah pada jam 3 sore di stasiun kereta bawah tanah. Suasana tegang dirasakan di stasiun kereta bawah tanah Manhattan yang terbengkalai.
Alex                : (situasi tegang) “Sebelum tetesan darah pertamamu keluar, aku tanya sekali lagi, apakah kau masih ingin memberikan Vallout Lynx itu kepadaku.”
Samuel            : “Langkahilah dulu mayatku.”
Alex                : “Aku yakin kalian semua sudah mengetahui apa itu Vallot Lynx. Hanya permasalahan sepele ini saja kau keras kepala, Samuel.”
Samuel            : “Aku dan teman-temanku lebih baik mati daripada seluruh warga New York yang mati.”
Anak Buah Samuel sekaligus teman-temannya : “Kami siap berkorban demi jatuhnya korban lebih banyak!”
Eiji                  : “Ayo kita buktikan geng mana yang paling layak memimpin New York.”
Alex                : (sambil berteriak) “Tanpa basa-basi lagi, serang!.”
Samuel            : (emosi membawa) “Serang!.”
Akhirnya duel geng antara geng Alex dengan geng Samuel pun terjadi, dalam pertarungan tersebut Alex harus menerima kekalahannya melawan Samuel. Dia tewas ditangan Samuel, gengnya dipukul mundur oleh gengnya Samuel. Namun sayang, Eiji sahabat karib Samuel harus gugur dalam pertarungan itu.
Sedangkan dilain tempat, papa Dino harus merasakan dinginnya hotel prodeo. Samuel melaporkannya ke polisi seusai dari Chicago ke atas dugaan upaya pengkudetaan wali kota George dan kelegalan perizinan dokumen rahasia, selain itu papa Dino bertanggung jawab atas kematian rekan kerjanya yaitu Christopher. Papa Dino juga dituntut atas bisnis narkoba, kasino, dan prostitusinya. Banyak perusahaan Dino bangkrut karena bisnis haramnya itu, banyaknya utang yang membelitnya membuatnya dia depresi berat, frustasi. Dia bunuh diri dengan menelan pil Vallout Lynxnya sendiri.

TAMAT

Profil penulis - Muhammad Maulana Iqbal, laki-laki 20 tahun yang berasal dari salah satu kota terbesar kedua di Jawa Timur yaitu Malang. Anak pertama dari tiga bersaudara ini sedang menempuh pendidikan s1 di Universitas Negeri Malang (UM) jurusan sastra Indonesia, angkatan 2017. Bisa dikatakan sebagai penulis yang amatir. Belum mahir dalam hal menulis, makan menjadi kata pertama yang ia fikirkan saat pulang dari kegiatan perkuliahan. Perlu pembenahan dalam tulisan-tulisan yang akan ia buat. Tercetaknya sebuah buku tentang tulisan-tulisan dari tangannya masih menjadi sesuatu yang sedang ia kejar dan ia usahakan. Riwayat pendidikan: TK PGRI 02 Kaliurang Lowokwaru Malang, (2003-2005); SDN Tamanharjo Singosari Malang (2005-2011); SMPN  Singosari Malang (2011-2014); SMAN 1 Singosari Malang (2014-2017).




Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK