NASKAH DRAMA "OALAH, MIN!"
Oalah, Min!
Oleh : Mega Novalina Gasper
DRAMA PERSONA:
a.
Amin (penatua tak berduit)
= postur tubuh tinggi, kurus dengan ciri khas kacamata tebal. Amin
berprofesi sebagai tukang sol sepatu, tetapi bukan hanya reparasi, ia menerima
semir sepatu. Amin memiliki pemikiran yang sedikit berbeda dengan
kawan-kawannya, ia terkenal kritis. Hal ini bukan tanpa alasan, Amin sosok yang
gemar membaca, terutama membaca koran harian.
b.
Samsi (si tambun) = pria bertubuh tambun, entah bagaimana ia
bisa menjadi tukang bangunan senior pula, padahal tukang bangunan terkenal
harus cekatan bukan? Mungkin itu sebuah keberuntungan bagi Samsi. Walaupun
sudah cukup umur, Samsi belum menikah. Jelas saja, istrinya pasti tidak tahan
dengan gaya makan Samsi yang bisa dibilang luar biasa. Ia seperti tak mengenal
kenyang, uangnya lebih banyak dipakai untuk memenuhi mulutnya dengan makanan.
c.
Rachmat (kriwul) = seperti panggilannya, rachmat sosok
bertubuh pendek dengan rambut kriwulnya yang khas. Katanya, rambut itu menjadi
daya pemikat. Orang yang belum sungguh-sungguh mengenalnya pasti akan sedikit
takut saat berpapasan dengan kriwul, karena perangainya yang memang terlihat slengekan. Kriwul termasuk anggota yang
paling muda diantara Amin, Samsi, dan Iman, meskipun begitu kriwul ahli dalam
marketing hal ini sesuai dengan pekerjaan sebagai penjual batik keliling.
d.
Iman: Dari namanya saja sudah terlihat bagaimana orangnya.
Iman adalah anggota yang paling pendiam. Dia selalu setia mendengarkan
teman-temannya berdebat, kalau sudah begitu ia akan membantu untuk melerai
kawan-kawannya.
e.
Pemuda: Orang yang menagih utang pada Amin.
f.
Wanita: Seorang wanita (belum terlalu tua) dengan perhiasan
yang cukup mentereng, yang menaruh curiga pada Amin. Menuduh Amin ingin mencuri
motor/barang-barang yang ada dimotor.
BABAK 1
SIANG
INI PANAS TERASA MENYENGAT, SEAKAN-AKAN MATAHARI BERADA DI ATAS KEPALA. SEPERTI
BIASANYA, MARKAS SUKA-DUKA, BEGITU MEREKA MENYEBUT, SELALU MENJADI TEMPAT
ANDALAN UNTUK SEKADAR MENGHILANGKAN PENAT ATAU MENDINGINKAN PIKIRAN. MARKAS
TERSEBUT MERUPAKAN BANGUNAN SETENGAH JADI YANG ENTAH UNTUK APA, CUKUP LUAS
APALAGI HANYA UNTUK BEBERAPA ORANG.
Samsi yang
sedang duduk sambil mengipas-ipaskan badannya dengan koran yang ia temukan di
kursi panjang.
MONOLOG:
Samsi: “ Haduhhh, panas gak umum. Mau di Jakarta, di
Surabaya sama saja ternyata. Sudah hampir lima belas tahun aku
meninggalkan Surabaya, apa ada perubahan? Mbuh ya tambah mumet dipikir”. (melihat koran yang tergeletak di kursi
panjang). “Elahhhdalahh ada koran nganggur gini, enaknya dibuat apa yoo? Y
buat kipas-kipas ae, lha wong aku iki gak lancar baca kok, lagian panas-panas
ngene apa ya gak tambah mumet mikir Negara”.
Tanpa
disadari Samsi, Amin datang dengan wajah lesu
Amin:
“ Kamu disini toh Sam? Sudah lama atau jangan-jangan kamu gak kerja?”
Samsi: “Nah ini, datang-datang langsung menuduh. Lah
kalau aku gak kerja gimana mau buat beli makan Min? Kamu kan tahu sendiri aku
ini hobi makan, seperti baru kenal saja”.
Amin:
“Ya santai tho, tidak perlu jadi marah begitu. Bikin aku tambah badmood wae”.
Samsi: “Gayamu pakai bahasa “badmood badmood” ra cocok Min. Ngomong ae lagi sumpek”.
Amin: “ Lha, ya terserahku tho Sam, wah sudah mulai
mengatur gaya bicaraku. Sam, hari ini kok panas sekali ya, matahari rasanya
hanya berjarak berapa meter dari kepalaku”.
Samsi: “ Itu dia Min, aku jadi membayangkan apa ya
Surabaya juga panasnya begini? Pingin sekali-sekali ke Surabaya, tapi mama –
papaku sudah meninggal, mau ke siapa coba?”
Amin: “Apa ? Mama – Papa?? Heleh blass gak cocok,
lebih bagus aku tadi bilang badmood.
Ya sudah di Jakarta saja sam gak usah aneh-aneh mau pulang ke Surabaya. Belum
tentu di Surabaya
menerima tukang bangunan yang badannya…. (sambil
menggerakkan tangan membentuk pola gentong)
Samsi: “Hehhh kamu ini loo suka menghina fisikku.
Memangnya kenapa kalau aku gentong? Daripada kamu seperti biting, gak ada
isinya sama sekali.”
Amin: “Ehh ehhh, jangan asal ngomong kamu Sam,
biarpun aku seperti biting begini tapi kepalaku ini cukup berisi. Gak seperti
kamu yang diisi cuman perutnya saja, sudah gitu isinya makanan semua”.
Samsi: “Memangnya kepalamu kamu isi apa Min? Air?
Tukang sol saja kok neko-neko! Sudahlah Min, yang paling dibutuhkan itu makan,
kamu gak mungkin bisa kerja semir-semir sepatu kalau gak makan? Betul gak ? Gak
bisa reparasi sepatu, gak dapat uang.”
Amin: “Enak saja, aku bukan sapi glonggongan Sam,
diisi air. Semprul kowe!. Manusia itu memang butuh makan, tapi ya masa hidupmu
mau makan terus, pantas saja gak nikah-nikah, mana ada yang mau dengan kamu?
Masih mending aku lah, aku itu suka membaca, mengisi TTS, bukan tanpa alasan,
kamu tahu? “
Samsi: “Membaca opo? Guayamu membaca. Kamu bisa baca
Min? Aku bilangin ya kamu itu menghabiskan waktu saja dengan membaca apalagi
mengisi TTS. Apa yang kamu dapat? Orang-orang juga tidak akan memuji
kepandaianmu karena kita ini pekerja kelas bawah.”
Amin: “Kamu ini tambah ngawur, membaca itu Sam
banyak manfaatnya. Kamu tahu kisahnya G30SPKI? Tahu Prabowo siapa? Tahu Menteri
Pudji Astuti itu lulusan SMP? Tahu tidak?” Pasti kamu tidak tahu. Aku tahu
karena sering membaca. Jangan sampai aku menjadi seorang tukang sol sepatu yang
gak tahu apa-apa, kan kamu tahu pelangganku ini banyak juga orang-orang elit,
yang pakai sepatu mahal dan yang mau disemir kan cuman orang kaya saja. Nah
kalau aku kelihatan ra ngerti opo-opo, piye? Ngisin-isini wae! Mengisi TTS itu
untuk mengasah otak, kamu tahu? Ya sapa tahu aku bisa dapat hadiah, kamu juga
bakal kecipratan.”
Samsi: “Tambah mumet!. Gak paham aku Min, kalau kamu
gak jadi tukang sol sepatu pasti sudah jadi DPR, sayangnya……
Amin: “Ahhh itu kamu memuji atau apa? Aku sudah
bangga jadi tukang sol sepatu yang punya pikiran seperti DPR, daripada DPR yang
pikirannya, ahh wislahh kowe gak paham”.
Samsi:
“Lah, tapi kamu kan gak ada kesempatan korupsi? Uangmu ya segitu-segitu aja
Min, mbok yaa sadarrrr!”
Saat Samsi
dan Amin terus berdebat, tiba-tiba Kriwul datang
(dengan sedikit berlari)
Kriwul:
“Heehh, kalian disini tho? Kok serius sekali ? Macam rapat anggota DPR”
Amin:
“Datang-datang bikin tambah ruwet, DPR lagi DPR lagi”
Samsi: “Jangan diganggu Wul, dia itu sedang sensi
kalau dibilangin (sambil menunjuk ke arah
Amin)
Amin: “Loo yang suka mulai masalah kamu itu Sam, ya
jelas sensi kalau hobiku membaca dimasalahkan, bilang saja kamu iri soalnya
bacamu itu belum lancar”.
Samsi: “Betul kataku kan Wul, medeniii. Kan aku
benar wong pekerja seperti kita ini yang dibutuhkan apa? Ya mikir caranya dapat
uang.”
Amin:
“Oh terus, terus aku dipojokkan”
Kriwul: “ Wis wis, panas gini kok ya masih ributin
begitu, mending minum ini lho es tebu, uenakkkk tenan”.
Samsi:
“Kamu tahu saja loo Wul, memang paling pengertian sekali”.
Amin: “ Iya Wul, memang enak puol minum es tebu
begini, aku mau beli tapi dari pagi baru dapat satu pelanggan, piye ya”
Samsi: “Itu maksudku, kamu terlalu banyak
menghabiskan waktu buat membaca koran, sampai lupa caranya cari duwit, aku
benar atau benar? Coba dipikir sekarang, pikir realistis saja gitu lho”
Amin: “ Walah, mulai lagi. Kamu ini kenapa tho kok
anti sekali dengan kegemaranku ini, bingung terus ngurusi aku. Aku kan sudah
bilang jangan mau diinjak injak karena kamu gak mengerti apa-apa, paling tidak
negaramu ini lho Sam. Ngerti ra?”
Kriwul: (melongo)
“OOOO, jadi ini karena Amin suka baca koran, terus jadi gak dapat duwit?
Hahahahahha, Oalah Pak Amin yang budiman, ada benarnya juga itu. Kamu jadi gak
dapat uang kan dari pagi”.
Samsi:
“Tak ngombe wae, es tebu iki ae enak, ancen angel dikandani kowe iki”
Amin: “Lah, wis ngombe wae kowe, ancen iku isone.
Ngomong-ngomong, kamu dapat darimana Wul es iki?” Oh, baju batikmu laku semua
tho? Atau dapat kerja sambilan?”
Kriwul:
“ SALAH SEMUA! Aku baru saja membantu nenek tua di dekat pasar itu lho”
Samsi:
“ Wihh kamu ternyata bukan hanya gila, tapi suka menolong”.
Amin: “Aku sungguh terharu mendengar kamu berubah,
bisa jadi tagline berita iki. SEORANG PEDAGANG BATIK KELILING MEMBANTU
NENEK DI PASAR. Wahhh hebat kan pemikiranku, Amin”.
Samsi:
“Wis, ngomong bahasa Indonesia wae Min,
opo maneh kuwi takling-takling”.
Amin: “Nah, makane kowe iki kudu kaya aku, dadi
ngerti omonganku, ancen omonganku dhuwur kok”.
Kriwul: “Wahahahha, terima kasih-terima kasih
kancaku, aku senang punya teman seperti kalian”.
Amin:
“Sik sik, terus es tebu ini?
Kriwul: “Iki yang mau aku ceritakan, setelah aku
membantu nenek itu, nahh tiba-tiba dikasih dua lembar uang lima ribu Minnnnnn,
heheheheh”.
Amin:
“Kamu terima Wul?” (wajah penasaran)
Kriwul:
“Ya gimana ya, jelasss aku terima, lah rejeki, ditolak ra apik”.
Amin+Samsi:
“Sipp, betulll kowe” (sambil menepuk
jidat)
Kriwul: “Hahahahahah, mau gimana lagi? Apa aku harus
belagak tidak mau? Itu malah dosa Min, menolak rejeki. Apa gak ada di koran
yang kamu baca kalau menolak rejeki itu dosa?
Samsi:
“Hayoo, coba jawab Min, pertanyaan sulit ini dari Kriwul”
Amin: (terdiam
sejenak, lalu berdiri) “ Wahh, kalian berdua menguji kemampuanku, yang aku baca bukan tentang tausiah tohh Wul
Wul, sekarang kamu pikir pakai akal sehat sendiri saja lahhh”
Kriwul:
(meletakkan jari telunjuk di kepala)
“Ini aku lagi mikir Min, ahahahha. Kamu ini sungguh lucu”
Amin:
“Lucu opo? Kowe iki wis, gak usah mikir malah gak karuan sidone”
Samsi: “Sebentar sebentar, berarti di koran itu
isinya apa saja Min? Kalau macam tausiah begitu ndak ada. Apa isinya cuman
orang-orang yang ditangkap toh? Hati-hati Min, bisa-bisa jiwa kriminalitas jadi
muncul di pikiranmu”
Amin: (membelalakan
mata) “ Ohhh kurang asem kowe, kowe iki piye tho Sam, Ya masa aku kamu
samakan dengan kasus-kasus di koran. Heee, tak bilangin membaca iki gak melulu
itu Sam. Tapi ada benarnya, harus ditambahi siraman rohani, bahasa kerennya”
Kriwul:
“Aku setuju, Min”
BABAG 2
Saat ketiga
orang ini sedang serius dalam berbincang, datang seorang pemuda mencari Amin
dengan wajah yang marah.
Pemuda:
(memanggil nama Amin) “Mas Minnn, Mas
Aminnnnn!”
Kriwul: (wajah kaget) “Looo Min sapa itu sepertinya mencari kamu”
Kriwul: (wajah kaget) “Looo Min sapa itu sepertinya mencari kamu”
Amin:
“Sapa kuwi? Sam, coba kamu lihat”
Samsi:
“Lho kok jadi aku, kamu habis nyuri apa? Ayo jawab”
Amin:
“Ngawur, suka asal lo mulutmu itu”
Pemuda:
“Mas Aminnnn!”
(lalu Amin keluar dari markas tersebut)
Amin:
“Lho dik Karyo kesini sendiri?”
Pemuda: “Piye tho mas janjinya hari ini bayar uang
beli koran yang kemarin itu, inget? Di tunggu Pak Basuki, kalau bos saya itu
datang terus tanya gimana? Lagipula bisa buat nambah-nambah modal jualan lo”
Amin: (wajahnya
tiba-tiba pucat) “Sebentar sebentar dik Karyo, saya bukan tidak niat bayar,
tapi belum dapat pelanggan dari pagi, ada juga saya buat beli makan 5000”.
Pemuda: “Gimana ya mas Min, utang 5 koran loo.
Harusnya ya dibayar, saya ga mau kembali kalau gak bawa uang, nanti malah saya
yang dimarahin”
Amin: “ Waduh gimana, gak ada sama sekali dik, tapi
saya masih ada koran yang tadi pagi, apa saya kembalikan dulu”.
Pemuda: “ Walahh mas, masa ya ada beli koran habis
dibaca dikembalikan, ini Jakarta lo mas. Mana coba saya lihat!”
Amin:
“Tenang dik Karyo belum saya baca kok. Saya ambil dulu”
(Amin kembali masuk ke dalam markasnya dengan
wajah muram)
Amin:
“Ada yang lihat koranku gak yang di situ, belum aku baca. Ada yang lihat gak?’
Kriwul: “Sabar, datang-datang emosi. Koran yang mana
Min? Aku gak tahu, aku kan datang bawain kamu es tebu. (sambil mencari-cari)
Samsi: “Wis tho, kok bingung lagi dengan koran itu,
heran aku, kamu datang datang tanya itu kenapa? Sudah wajahnya berkerut seperti
jeruk sepet aja”
Amin:
“Koranku mana Sam, aku ditunggu orang ini’
Samsi: “ Sapa tho? Orang yang panggil panggil kamu
tadi? Kamu ajak baca koran juga? Ya ampun Amin heran aku dengan tingkahmu, dia
masih kecil gak mungkin paham dengan omonganmu”
Amin: “Ditanya apa jawab apa, ya kamu itu Sam. Aku
tadi ambil koran tapi belum bayar, nah orang itu datang menagih, karena koran
yang kemarin belum aku bayar juga. Mau aku kembalikan, belum aku baca”
Kriwul: “Oalahhhh Min, kamu sampai segitunya?
Ngisin-isini loo kowe iki. Gak habis pikir aku. Aku gak bisa bantu, gak punya
uang”
Samsi:
“Koran? Ohh koran tho Min, aku tadi lihat, di kursi panjang itu”
Amin:
“Betul betul Sam, ada dimana? Waduhh aku sudah bingung sekali”
Samsi:
“Lalu aku buat kipas-kipas tadi itu looo, dimana ya? (sambil melirik mencari)
Amin:
“Kamu ingat-ingat lagi, aku sudah
ditunggu ini”
Samsi:
(tiba-tiba berdiri) “Ya ampun Min,
tak lungguhi Min, maaf-maaf, tidak
sadar”
Amin: “ Bagaimana kamu Sam, aku sudah bingung
daritadi, itu koran isinya penting, kamu dudukin? Oalahhhh, Gusti!”
(terdengar lagi suara pemuda yang memanggil
nama Amin)
Pemuda:
“Mas Amin!”
(Amin keluar tergesa-gesa membawa koran)
Amin:
“Maaf dik Karyo sampai menunggu lama, maaf sekali”
Pemuda: “Gimana tho mas Min? tanggung jawabnya itu
lhoo, saya sudah nungguin daritadi panas, saya kira ya bawa minum atau apa.
Mana korannya?”
Amin:
“Ini korannya, tapi tapi (wajah takut)
Pemuda: “Lho, mas katanya belum dibaca? Lah modelnya
jelek begini, lungset, saya kira masih rapi, mulus, wahh mau bohongi saya tho
kamu ini? Kalau gak punya uang gak usah sok-sok an baca koran. Mas Amin tahu
rata-rata yang membeli koran itu turun dari mobil, paling tidak turun dari
motor. Lah ini tukang sol sepatu kok ya gaya banget, heran saya”
Amin:
“Lho dik Karyo, jangan asal ngomong. Saya daritadi sudah sabar lo ini”.
Pemuda:
“Ya jelas harus sabar, kan situ yang punya utang. Gimana tho?’
Amin: “Tapi ndak usah bawa bawa hobi saya membaca
itu? Memangnya yang boleh membaca orang kaya saja? Yang naik mobil, naik motor?
Looo melecehkan pekerjaan saya, kamu ini masih muda loo, harusnya kamu juga
rajin baca biar tahu kemajuan Negara ini”
Pemuda: “Wis tho, tidak usah menggurui Mas Min. Saya
tidak ada waktu untuk baca-baca begitu, sekadar duduk bersantai saja sudah
syukur, daripada situ gak mampu bayar tapi mau gaya-gayaan, ya sadar diri saja”
(mendengar keributan di luar, Kriwul dan
Samsi menjadi penasaran dan keluar dari markas tersebut)
Kriwul:
“Waduh, apa tho Min, ini siapa?”
Amin:
“Wis ora usah melu-melu kowe”
Samsi:
“Ngono iku Amin, Wul. Ana apa mas? (bertanya
pada pemuda tersebut)
Pemuda: “Ini lho, temanmu mas. Janjinya mau bayar
uang koran, sudah lima koran belum dibayar, terakhir tadi pagi ngambil lagi,
coba dikasihtahu wong sesama cari uang ya harus yang bener gitu lho”
Samsi:
(menoleh kepada Amin) “Bener tho Min
masalahnya ini?”
Amin: “Iya memang salahku, tapi dik Karyo ini sudah
keterlaluan lho, menghina kegemaranku, saya gak terima”.
Samsi: “Wis meneng o Min, iki masalah utang, piye
tanggung jawabmu. Iki kan gara-gara koran iku pola pikirmu jadi aneh, kriminal”
Amin: “Jok ngawur kowe Sam, kowe iki kancaku opo
guduk? Kudune saling membantu, wahh diragukan”
Kriwul: “Wis wis, iki masalah e tambah ruwet, iki
masalah utang teman teman, piye Min? Bayar o”
Amin: “Aku ini bukan gak mau bayar Wul, tapi belum
ada. Aku kan sudah bilang belum dapat uang , tadi dapat 5000 sudah tak buat
beli nasi”
Kriwul: “Oalahhhh, Min Min, piye terus? Aku ya gak punya
ehh, tadi baju batikku sik kredit. Uang yang dikasih nenek itu tak buat beli es
tebu. Dalam hal ini aku tidak bisa membantu”
Pemuda: “Terus piye Mas Min? Wah kok malah diam,
jangan karena utangmu cuman sedikit looo, gak punya uang mau gaya-gaya”
Amin:
“Wis meneng! Aku ya tak mikir” (hening)
(suara Kriwul memecahkan keheningan)
Kriwul:
“Akuuuu punya ideeeeeee!”
Semua:
“Apa?!!”
Kriwul:
“Ya Amin tetap bayar lahh, tapi besok. Nunggu dia habis keliling, piye?”
Pemuda: “Ohhh gak bisa, saya yang dimarahinnnn. Kamu
tahu Pak Basuki? Dia itu bosku, juragan koran, orang cina, seperti gak tahu aja
orang cina seperti apa. Idemu tak tolak”
Amin:
“Lah aku harus bagaimana? Aku semirkan
sepatumu?”
Pemuda:
“Mas Min, sandal ngene iki apa bisa disemir? Ngendi bayaren utangmu”
Amin:
“Sam, Wul, piyee ikiiiii?
Samsi: “Aku iki mergo sak aken Min, kowe iki ngene
gara-gara opo? Koranmu! Nyesel opo ra? Aku ra duwe duwit titik. Ngene wae kasih
jaminan apa gitu Min kalau semisal kamu tidak bayar”.
Pemuda: “Wis mas, aku bakal jadi korban amukan Pak
Basuki ini, kalau aku sampai dipecat piye? (nada
tinggi, wajah mulai memerah)”
Amin: “Maaf ya dik Karyo, bener-bener gak ada uang.
Aku janji aku akan bayar utang-utangku, kamu pergi saja dulu, bilang ke Pak
Basuki, Pasti akan saya bayar, harus bersabar. Tapi aku masih boleh kan sekali-sekali beli
koran lagi di lapakmu atau bon lagi lah? (dengan wajah melas)
Pemuda: “Waduh mas Min, kamu ini benar-benar sudah
maniak! Ini saja kamu bingung bayar, masih mau nawar lagi. Aku pergi dulu,
sudah ditunggu Pak Basuki ini, buang-buang waktu hanya untuk uang segini”
(pemuda tersebut lalu pergi)
(terdiam beberapa saat)
Kriwul:
“Wis mari ? wis mari kan? Beres kabeh? Oalahhhh, Min Min”
Samsi:
“Halah, aku tak metu sik golek mangan, mikirno Amin nggarai luwe. Wul, melu?”
Kriwul:
“Ndak, aku sik banyak kegiatan, biasa, ada janji Sam (cengengesan)”
Samsi: “Blegedes, janji opo? Paling nagih utang
batik itu tho? Atau mau nemenin Amin? Garing kowe, Amin gak duwe duwit. Piye
Min? Keliling lagi , punya uang buat beli koran lagi. Wis tak tinggal sik” (meninggalkan Kriwul dan Amin)
Kriwul: “Aku ya pamit Min, urusanku buanyaakkkk,
ikut? Oh iya kamu kan habis dapat musibah, gak bisa bayar utang (tertawa mengejek).
Amin: “Awas saja kamu Wul, bocah gendeng, temannya
susah malah ketawa-ketawa, tak gites kowe. Wis sana pergi katanya urusan
banyak”
Kriwul:
“dadahhhh Min (melambaikan tangan, meninggalkan Amin di markas sendiri)
(Amin terduduk diam di depan markas, ia
bingung sebenarnya salah siapa, dia hanya ingin agar bisa punya pikiran seperti
orang-orang elit, seperti langganan-langganannya)
MONOLOG:
Amin: “Ya Tuhan, saya ini orang kecil. Tapi masa
saya harus punya otak yang kecil, pikiran yang kecil. Cukup uang saja yang
tidak banyak, apa masalah saya suka membaca? Apa masalah saya suka koran? Kok
ya ada saja, pekerja kelas bawah seperti saya ini lebih sering tidak dihargai,
bahkan orang-orang yang lewat saja tidak selalu melihat kehadiran saya, apalagi
pemerintah? Negara? Sekolah ya pas, pas-pas an bisa lulus SMP. Paling tidak
saya yang lebih mengenal Negara ini, darimana? Ya dari koran itu, tapi mau beli
koran saja sudah tidak mampu. Harus saya usul ini biar ada subsidi koran murah,
masa ya hanya gas saja.
BABAG 3
SEDARI
SORE AMIN HANYA DUDUK TERMANGU MERATAPI NASIB. IA TAK HABIS PIKIR DENGAN APA YANG TERJADI BARUSAN. RASA
MALU, SEDIH, BINGUNG BERCAMPUR JADI SATU. IA BINGUNG APAKAH KEGEMARANNYA ITU
BENAR ATAU MALAH MEMBAWA PETAKA.
(Iman datang dengan wajahnya yang datar,
sambil membantu orang yang kebetulan parkir di dekat bangunan tersebut)
Iman:
“Ayo, ayooo, mundur sedikit bu, nahhhh di situ saja biar motornya tidak kena
panas”.
Ibu:
“Terima kasih mas, ini uangnya (mengeluarkan
uang dua ribu selembar)”
Iman:
“Ohh, tidak perlu bu, sudah bawa saja uangnya, ini sudah di luar jam kerja
saya”.
Ibu:
“Wah, begitu tho mas, terima kasih banyak ya, saya mau beli ke warung situ
sebentar”
Iman:
“Baik, bu”
(lalu Iman masuk markas tersebut untuk
istirahat sejenak)
Iman:
“Lho ada kamu Min, sudah daritadi atau?”
Amin:
“Sudah Man, aku lagi kesal Man”.
Iman:
“Kesal bagaimana Min? Pantas saja kamu terlihat kusut begitu”
Amin:
“Aku habis ditagih utang koran yang belum aku bayar kemarin-kemarin”
Iman:
“Waduhhh, sungguh Min? Kenapa sampai begitu? Koran itu kamu pakai apa?”
Amin:
“Aku baca-baca Man, aku kan juga ingin tahu perkembangan Indonesia dari waktu
ke waktu”.
Iman: “’Dengan berutang? Tidak harus begitu Min,
kamu banyak bergaul, banyak ketemu orang, pasti bakal banyak mendapat informasi
terbaru.”
Amin: “Ya gimana lagi, kan kamu tahu kegemaranku
cuman itu saja, aku bangga menjadi tukang sol sepatu yang lancar membaca, punya
pengetahuan luas, begitu lo Man”
Iman: “Tapi kamu jadi gak maksimal kerja Min, gak
dapat uang. Emang selain wawasan, di koran itu bisa kasih kamu uang?”
Amin:
“Tentu bisa, aku juga ikutan ngisi TTS
begitu loo Man, sapa tahu juga rejekiku kan”
Iman: “Dapat? (sambil memandang Amin dengan serius)
Amin: “Belum, tapi pasti kalau rejeki juga dapat,
tapi gak tahu sampai kapan (wajah lesu). Sebentar ya, aku haus sekali Man, hhmm
kamu ada uang, kalau boleh aku pinjam dulu”
Iman: “Pinjam? Nah ini, makanya kamu ditinggal teman
– teman pasti karena takut dipinjami sama kamu Min. Ini ambil aja (selembar sepuluh ribu). Hari ini di
pasar lagi ramai sekali jadi hasilku lumayan.
Amin: “Wahhh, terima kasih Man, aku janji langsung
aku ganti, sungguh. Makanya doakan aku dapat hadiah TTS hehehe (cekikikan)
Iman:
(menggelengkan kepala)
(Amin menuju warung dekat markas untuk
membeli minum, sebenarnya ia juga lapar, ia pikir dengan membeli minum bisa
sedikit mengenyangkan perutnya)
MONOLOG:
Amin: “Lumayan dapat sepuluh ribu, kok ya jam segini
masih saja haus tapi sebenarnya lapar juga, tapi mana cukup uang segini,
lagipula aku kan mau simpan buat besok, siapa tahu di perempatan itu ada yang
jual koran seperti biasanya. Konsentrasiku terbuyar semenjak utang koran itu,
jadi tidak fokus menikmati berita-berita yang disajikan. Payah sekali”
(Amin kembali menuju markas, karena memang
hari mulai gelap. Ia berjalan sembari membawa sebotol air mineral. Tiba-tiba ia
melihat potongan koran yang dipakai untuk membungkus kue basah di dashbor
sepeda motor tidak jauh dari markas itu)
Amin: “Lah, wahhh ini kan eman koran dibuat bungkus
makanan. Ini ilmu, informasi penting, masa begini saja tidak tahu. Coba aku
lihat isinya apa, ehhh ehhhh sepertinya ini TTS harian, apa aku minta saja ya
tapi ini motor siapa, masa iya aku ambil langsung, wah jadinya itu mencuri Min”
(tiba-tiba terdengar suara seorang wanita
yang masih belum terlalu tua dengan badan bermandi emas)
Wanita:
“Lo lo lo kamu ngapain di dekat motor saya, hayooo ngaku!”
Amin:
“Nah, ini motor ibu tho, jadi begini…..”
Wanita: “Aku sudah tahu maksudmu, pasti kamu punya
niat jahat kan, dari wajahmu sudah kelihatan orang susah”
Amin: “Wahhh ibu ini kalau ngomong sembarang sekali,
biar kata saya susah tapi saya juga punya pikiran. Saya lihat ini (sambil menunjuk di dashbor motor dengan mata
melotot)
Wanita: “Sudahlah Mas mana ada maling ngaku, masa
cuman mau kue saja sampai harus mencuri, kok nemen banget, begitu itu kalau
orang susah. Ayo ngaku, kalau tidak saya teriakin ini. MAL
Amin:
(sambil memegang tangan si ibu)
“Jangan bu, jangannnnn, wong saya ini bukan maling sungguh saya mau ngambil
koran yang jadi pembungkus kue ini lo”
(datang Kriwul dan Samsi melihat keributan
antara Amin dan wanita tersebut)
Samsi:
(gerakan melerai) “sik tho, ini ana
apa maneh Min?”
Kriwul: “Istighfar Min, ini istri siapa yang kamu
ambil, begitu putus asanya kamu tidak dapat uang sudah berani menggoda istri
orang”
Amin: “Wussshhh, cangkemmu nguawurrrr. Bantu aku tho
Sam, Wul jelasin ke ibunya ini lhoooo”
Wanita:
“Dasar miskin, tidak mau ngaku salah malah minta ditolong temannya”
Amin: “Sammm, kamu kan paling mengerti aku, bantu
aku thoooo. Aku cuman cuman mau ngambil itu lhooo”
Samsi: “Kamu mau ngambil kue itu Min? Ya Gusti,
Amin! Tadi utang, sekarang mengambil kue”
Amin: (wajah
semakin pucat) “bu bu kannnnn, aku dituduh mau maling oleh ibu ini, jelasin
Wul, kan kamu paling pintar kalau masalah begini, aku ini orang bodo tapi tahu
hukum mana mungkin mau mencuri begitu, dusoooo (dengan wajahh memelas pada Kriwul)
Kriwul: “Waduhh ini masalah kompleks e Min, aku ya
bingung. Gimana kronologinya kok bisa kamu ketahuan ngutek-ngutek motor orang
?”
Amin: “Jadi gini Wul, aku tadi
habis beli ini (menunjukkan botol air
mineral) nah lalu aku melihat”
Wanita: “ Wis tho mas, kamu itu ngaku saja tidak
usah cari pembenaran diri, dia ini maling, Mas, saya yang pergoki sendiri.
Pasti mau maling motor, terus uangnya dibuat beli makan, kelihatan mas dari
badannya yang kurus begini kurang makan, kan beda dengan masnya (menunjuk pada
Samsi)
Samsi: (glekkk,
menelan ludah) “Wah gara-gara kamu Min aku jadi ikutan kena, memangnya
barang apa yang hilang bu?”
Wanita: “ Ya gak ada, kan keburu saya pergoki mas,
kalau gak mungkin motor saya ini raib, atau kalau di tempat sepi pasti emas emasan
saya ini sudah dirampok (dengan gaya
memamerkan perhiasan) “
Amin: “Ibu ini sudah keterlaluan Sam, Wul, sangat
menghina. Biarpun saya ini kurus, tapi otak saya ini cukup berisi bu, saya tahu
yang benar mana yang tidak mana, lagipula saya sering baca hukuman untuk
seorang pencuri di koran, saya saja ngeri sendiri. Saya sudah jelaskan saya
hanya mau mengambil potongan kertas ini”
Wanita: “Masa saya tahu tampang seperti kamu ini
bisa membaca, membaca koran lagi. Uang saja pas pasan kok mau membeli koran,
alasanmu klise tidak masuk akal, hayoo tanggung jawab, mau ngambil apa kamu
tadi?!”
Kriwul: “Sebentar sebentar, tenang dulu bu, saya
seperti di arena tinju saja dengan lawan tidak seimbang (meringis). Ini teman kami bu, iya kan Sam? (mengedipkan mata pada Samsi). Dia memang beda dari yang lain, beda
dari kami bu, sedikit gila”
Samsi:
“Wooo, kuwi kancamu Wul, kok diarani gila”
Kriwul: (menyenggol
badan Samsi, berbisik biar aman ) “Iya bu, dia punya sedikit masalah
keluarga, makanya dia aneh begini”
Amin: “Ohhh, kancaku iki seratus persen gendeng
kabeh, aku iki normal, pinter timbang kowe kok diarani gendeng. Bu, saya sudah
bilang saya bukan maling, lagipula saya mau curi apa dari motor ibu? Justru saya menunggu yang
punya motor karena mau minta ini looo”
Samsi: “Lo kan bu, saya sudah bilang orang ini
kasihan sedikit tidak waras, temannya ya koran itu, jadi rasa rasanya dia tidak
mungkin mau mencuri motor ibu.
Wanita: “Jangan berusaha mengelabui saya kamu mas,
jangan-jangan kalian ini kelompok begal atau pencuri kelas kakap ya? Ini pasti
markas kalian. Saya teriak ni yaaa, Malinnnnnn!
Kriwul: “SSsssst , bukaannnnnnnnnn. Kami ini memang
kelompok bu, tapi kelompok tak berduit , nah Amin ini penatua kami, penatua tak
bermodal. Masa ada tampang pencuri dari kami? Tampang kasihan banyak bu,
Amin: “Kan sudah saya jelaskan, saya bukan pencuri
bu, ini juga teman-teman saya. Saya mau minta sobekan koran ini, sapa tahu ada
informasi penting atau ada TTS berhadiah”
Samsi: “Oalahhh, Min, sudah kuduga pasti ya
gara-gara barang ini lagi selalu apes, kamu mbok y sadar tho Min. Kalau sudah
begini bagaimana? Bisa dihajar habis-habisan kamu, aku, Kriwul”
Kriwul: “Gimana kalau ibu ini tidak percaya Min,
kamu ada-ada saja, suka cari bahaya dalam air tenang (berbicara lirih pada Samsi dan Amin)
Wanita: “Saya sudah bilang tidak percaya, bisa saja
kali ini kamu bilang mengambil sobekan koran itu, kalau aku bungkus dengan
daun, lalu kamu bilang mau ambil daunnya juga? Ayo coba jawab!. Dasar maling ya
malinggg, Malingg pak , maling bu!”
(beberapa orang disekitar markas tersebut
menoleh ketika wanita itu mulai bersuara keras, beberapa pedagang yang ada di
situ juga menatap Amin, Samsi, dan Kriwul dengan curiga)
Kriwul: “Waduh Min, orang-orang mulai menatap kita
dengan curiga, kalau sampai dipukuli aku mau kamu duluan, ini kan salahmu Min”
Wanita:
“Maling, malingg, tolong!” (sambil terus
memamerkan perhiasannya)
(orang-orang sekitar semakin menatap curiga,
ada yang mulai mendekat untuk melindungi wanita tersebut)
Amin: “Maaf, bapak-bapak, ibu-ibu, kami bukan
maling. Kami yang biasa tinggal di markas itu, kalian juga sudah sering melihat
kami bukan? Ini hanya salah paham, kami bukan maling”
Pedagang: “Mana ada maling ngaku mas, sudah bu
laporkan polisi saja, bahaya bisa-bisa dia juga curi uang pedagang disini.
Pekerjaannya tidak jelas juga”
Amin: “Bukaannnn, saya ini bekerja sebagai tukang
sol sepatu, kami bukan begal atau penjahat apapun itu, tolong percaya”
Wanita: “Udah tangkap saja mereka ini bapak-bapak
ibu-ibu, mereka ini berbahaya, awas bakal banyak yang hilang barang kalian”
Pemuda: “Wahh, orang ini juga yang berutang koran
pada bos saya, jelas orang kere gak punya uang, sekarang mau mencuri motor
orang, saya gak nyangka mas Min”
Amin:
“Ini tidak seperti yang kalian duga, salah paham semua, tolonggggg mengertiii”
Samsi: “Piye Wull, iki kesalahan kita balik tadi,
seharusnya ngopi-ngopi dulu, ketemu Amin jadi sial lagi. (wajah kesal)
Kriwul:
“Kita sudah mulai dikepunG Min, gimana ini? (tangan bergetar)
Wanita:
“Sudah jelas-jelas mau mencuri , bawa saja ke kantor polisi orang ini”
Amin: “Ampun Bu, saya tidak mencuri, saya memang
susah tapi saya tidak serendah itu. Tolong percaya saya, teman saya ini juga
orang baik-baik”
Pemuda:
“Ngomong tok, iku pasti gawe tuku koran”
(suasana semakin ramai, semakin banyak orang
yang mulai mengerumuni ketiga laki-laki ini)
(Amin mulai berteriak meminta bantuan Iman
yang sedari tadi di dalam markas, tidak menunjukkan diri)
Amin:
“Mannn, mannnnn bantu saya Mannn, Haduh piye iki Sam”
Samsi:
“Aku ya gak eruh Min, Mannnn, bantu kami”
Kriwul: “Apa kita harus lari, runaway gitu, haduhhhh orang-orang ini tambah beringas, kita bisa
dipukuli habis-habisannnn”
(semua mata tertuju pada ketiga pria
tersebut, tidak sedikit yang semakin mendekat dan seakan-akan siap untuk
menghajar mereka)
Warga 1: “ Ayo wes dihajar saja ketiga pria
tersebut, mereka itu kan kerjanya tidak jelas, sangat mungkin mereka jadi
maling”
Warga 2: “Iya, saya setuju apalagi orang itu (menunjuk pada Amin), kelihatan sekali
kacamata tebal, kerjaannya tiap pagi duduk dengan koran, jelas tampang
pengangguran”
Amin: (wajah
tidak terima, mulai memerah) “Enak saja, saya ini punya pekerjaan yang
jelas, memangnya tidak pernah lihat saya berkeliling atau duduk di pinggiran
jalan mencari pelanggan yang mau disemirkan
atau memperbaiki sepatu-sepatu mahal yang rusak dan tetap dipertahankan
orang-orang elit itu? Lalu apa salahnya tiap pagi duduk dengan koran di tangan?
Apa harus selalu dengan sapu atau cangkul agar terlihat sebagai orang yang giat
bekerja?”
Warga 1: “ Sudahlahhhh, orang seperti dia pasti
berkelit, aku saja tidak yakin dia bisa membaca”
Samsi: “ Wis tho Min, mengalah saja, kalau tidak
kita bisa dihabisi hari ini, memang kamu mau kita masuk koran, kan gak lucu
blassss”
Kriwul:
“Panggil Iman, sapa tahu dia bisa menyelesaikan masalah kita”
Amin: “Sebentar sebentar, ibu ini tadi yang dibantu
Iman untuk parkirkan motornya, kita harus panggil Iman”
Wanita:
“Ayo mas-mas tunggu apa lagi, sudah tangkap saja maling ini”
(mendengar keributan di luar, Iman terbangun)
Amin: “Saya panggilkan teman saya dulu, untuk
menjelaskan masalah ini. Imannnnnn Imaannn, tolong bantu kami bertiga”
(Iman yang masih dalam kondisi setengah sadar
mendengar namanya dipanggil-panggil)
Kriwul: “Imannn, bantu kami kalau tidak kami bisa
mati di tangan orang-orang ini, saya masih mau nagih utang batik ke orang-orang
Man” (meringis ketakutan)
(kemudian Iman muncul dengan wajah datar)
Iman:
“Loo, ramai sekali di luar ini ada apa ?”
Amin: “ Gini lo Man, saya dituduh mau maling motor
ibu ini, padahal jelas-jelas saya hanya mau mengambil sepotong koran ini, kan
eman”
Wanita:
“ Alasan saja Mas, mana ada maling mau mengaku”
Iman: “Oalah, potongan koran kumal itu yang
menyebabkan kalian hampir dikeroyok begini, sadar Min”
Wanita: “Mas ini tadi bukannya yang membantu saya
memarkirkan motor, kok bisa kenal mas mas bertiga ini?” Jangaannn jangannnnn (memasang wajah curiga)
Iman: “Tenang bu, saya bukan penjahat, mereka
bertiga ini teman-teman saya. Mereka ini memang uniik, tapi demi Allah mereka
orang baik, seperti saya”
Wanita: “Saya percaya kalau mas ini orang baik tadi
saja saya dibantu dan tidak mau menerima imbalan, tapi apa benar ketiga orang
ini teman mas?”
Iman: “Sungguh, Bu. Saya mengatakan hal yang
sebenarnya, mereka bertiga ini teman saya, memang tampang mereka acak-acakan
begini, tapi mereka punya pekerjaan yang jelas. Ini tempat kami berteduh,
tempat kami tinggal, karena bagi kami mendapat uang untuk makan saja sudah
syukur”
Ibu:
“ Lalu mengapa Mas ini tadi di motor saya, gerak-gerikmu itu sangat
mencurigakan”
Amin:
“Kan sudah saya jelaskan bu, saya…”
Iman: (memotong
pembicaraan Amin) “Teman saya yang satu ini memang agak aneh bu, maklum dia
baru ditinggal istrinya satu tahun yang lalu” (dengan wajah memelas)
Amin:
“Semprulll, kamu sembarang, mmmmhhh mmmmhhhh (Kriwul menutup mulut Amin, agar Amin mau mengiyakan kata-kata Iman)
Ibu: “Oalah, sedikit gila toh Mas ini, kasian
sekali. Pantas saja dia terlihat aneh, ya tolong diperhatikan kan bahaya kalau
sampai berulah seperti ini”
Warga: “Ohh gila toh orang itu, dijaga mas temannya
biar tidak bertindak yang tidak-tidak, kasian orang seperti dia, tidak bisa
menerima kenyataan yang ada”
Iman: “Iya
bapak ibu sekalian , teman saya ini nasibnya sungguh sial, dia tidak
bisa membedakan kenyataan dan mimpinya. Jadi bapak ibu mungkin bisa bubar,
karena ini salah paham”
Ibu:
“Iya, bapak-bapak ibu-ibu ini biar saya selesaikan sendiri, bapak ibu bisa
bubar”
Kriwul:
“Iya, betul itu, bisa membubarkan diri bapak-bapak ibu-ibu” (wajah lega)
Samsi: “ Syukurlah, hampir saja aku mati sia-sia Wul
karena temanmu itu” (menghela nafas
dengan terengah-engah)
Ibu: “Ya sudah kalau begitu, hampir saja orang ini
saya laporkan polisi, tapi karena mas (menunjuk Iman) sudah baik pada saya dan
menjelaskan masalah orang ini, saya jadi ikut iba semoga teman mas lekas
sembuh” (pergi meninggalkan tempat
tersebut)
(terjadi keheningan beberapa saat, mereka masuk
kembali ke markas tersebut)
Kriwul
mencoba memecah keheningan di antara mereka berempat…
Kriwul:
“Alhamdullilah, badan saya tidak jadi remuk dipukuli orang satu kampuuuung” (tertawa kecil)
Samsi: “Sudah dua kali aku seakan akan mengalami
mimpi buruk Min, kamu luar biasa, seperti di film film itu loo, selamat dari
maut”
Amin:
“Memang susah jadi orang susah”
Iman: “Kalau tidak ada saya, kalian pasti sudah di
bawa ke polisi dalam keadaan setengah mati, tidak membayangkan bagaimana
jadinya tadi” (tetap dengan ciri khas
wajah datarnya)
Amin: “Saya masih tidak habis pikir, bisa-bisanya
saya dibilang maling hanya karena saya mendekati motor ibu itu, jelas-jelas
saya hanya ingin mengambil potongan koran itu lo Sam, masa dijadikan pembungkus
kue kan ndak ilok, kamu tahu ndak ilok?”
Samsi: “Tak pikir-pikir malah pikiranmu yang habis
Min, sudah katutan di koran-koran itu, mbuh nandi”
Amin: “Wuss, asal njeplak mesti kowe iki, kenapa
seakan akan membaca ini hal yang dibenci oleh banyak orang? Apalagi orang kere
seperti saya ini, mau pintar saja kok susah sekali, apa orang pintar identik
dengan bangku sekolah?”
Iman: “Ini pertanyaan yang sulit Min, coba kamu tanyakan
pada Menteri Pendidikan atau siapa gitu, kirim lewat koran kesayanganmu itu”
Amin: “Selalu saja kalian ini meledek saya, kalian ini
sungguh teman saya atau bukan sebenarnya? Apalagi kamu Man, kamu juga Sam, Wul,
masa saya dibilang sedikit gangguan jiwa, lebih parahnya lagi saya dibilang
gila karena ditinggal istri saya meninggal. Yang gila itu kalian sebenarnya”
Samsi+Kriwul:
“oalah, Min Min” (tertawa
terpingkal-pingkal)
Iman: “Ya, itu anggap saja koran itu istrimu, nah
kamu jadi sedikit gila karena tidak membaca koran hari ini, betul tidak?”
Amin:
“Tapi aku tidak gila Man, hanya mempertahankan apa yang aku anggap benar”
Samsi: “Benar piye Min? Kami hampir saja mati
gara-gara kamu, kamu ini ndak bisa disabari. Masa kita harus selalu bertengkar
karena hal sepele, kamu ini tetap menganggap kita teman atau bukan Min? Kalau
teman itu tidak membuat teman lainnya dalam masalah, semua masalah ini
sumbernya darimana kalau bukan dari kamu”
Kriwul: “Sudah Sam, jangan terbawa emosi lagi.
Tenaga kita simpan buat besok besok lagi, sapa tahu besok ada lagi yang seperti
ini, hahahahahah” (tertawa lebar)
Amin:
“Huhhh, doamu itu gak mbois blassss”
Samsi: “Memang begitu adanya”
Iman: “Sudah sudah jangan diributkan lagi, nanti
malah kita yang bertengkar disini kan memalukan”
Samsi: “Lah piye Man, puegell aku iki. Mending saiki
aku turu wae, mumet. Wis mikir o dewe Min, Wul kamu juga tidur, Man, jangan
lupa kesehatanmu. Amin biarin aja duduk dipojokkan begitu” (sambil membeberkan
kain-kain sebagai alas tidur)
Kriwul:
“Iya Sam, aku sudah mengantuk juga ini, besok harus cari duit lagi, ya kan
Man?”
Iman:
“Ya sudah, kita istirahat saja. Hari ini cukup melelahkan, Min kamu tidak
tidur?”
Amin: “Tidur saja dulu Man, masih mau lihat
bintang-bintang malam ini, ada perasaan yang tidak menentu”
MONOLOG:
Amin: “Ya Gusti uripku kok nemen sekali, gara-gara
sepotong koran ini hampir saja nyawaku hilang. Sebenarnya apa salah ku? Saya
ini cuman bisa melakukan kegemaran saya membaca koran, tidak yang lain-lain,
tapi rasanya kok seperti tidak didukung oleh semesta. Bahkan saya hampir saja
bertengkar dengan kawan saya, salah siapa? SalahMu? Atau salah saya yang tidak
bisa menjadi orang kaya”
(dalam keheningan malam, Amin terlelap dengan
pikiran yang tak menentu, hatinya bimbang dan bingung, banyak hal yang tidak ia
pahami dan terjadi pada dirinya, Amin yang malang, pikirnya)
BAU EMBUN PAGI MENYERUAK BEGITU PEKAT. PAGI
INI TERASA BERBEDA DARI BIASANYA, LANGIT TAMPAK LEBIH MENDUNG DAN TAK
BERGAIRAH, BEGITU JUGA DENGAN AMIN. PAGI INI IA BANGUN DENGAN PERASAAN YANG
GUSAR, ENTAH APA YANG MEMBUATNYA TAK TENANG.
MONOLOG:
Amin: “Hari ini aku tidak tahu apa yang akan
terjadi, pada harapku bisa tetap menjalankan apa yang menjadi kegemaranku
bahkan hal yang wajib kulakukan, membaca koran-koran pagi dan meresapi setiap
hal yang ada di dalamnya, lalu melanjutkan mencari recehan untuk mengisi perut
dan tetap melanjutkan hidup, memang hidup tidak sesimpel ini, tapi untuk orang
sepertiku, tukang sol sepatu, hal muluk-muluk apa yang bisa dilakukan? Toh,
yang menjadi kesukaanku saja dihujat, ya membaca koran. Apalagi kalau aku
bermimpi menjadi menteri atau pendakwah
sekalipun, pasti aku sudah dituduh gila. Tukang sol sepatu mendadak gila,
hahahah akan seperti itu dikoran”
(Amin
melihat teman-temannya sudah mulai terbangun, walaupun masih mengumpulkan
tenaga)
Kriwul:
“Huuaahhh, kamu bangun sepagi ini Min?”
Amin:
“Pagi darimana, kita masih kalah pagi sama ayam, Wul”
Kriwul: (mengucek ngucek mata) “Hehe, begitu tho
Min, kamu memang yang paling pandai di antara kami”
Amin: “ Saya pikir juga begitu (tersenyum kecil),
kamu saja yang baru sadar. Coba kamu bangunkan yang lain, nanti Samsi malah
telat ke proyek, Iman juga bisa-bisa diserobot orang lahan parkirnya”
Kriwul: “Lalu kamu Min? Wah aku tahu pasti mau melakukan
ritualmu pagi hari, duduk bertengger dengan koran di tangan, begitu? Sudah
terbaca gelagatmu itu”
Amin: “Kan kita hidup di tempat ini sudah cukup lama
Wul, pasti kamu sangat ingat yang jadi kebiasaanku”
Kriwul:
“Iya, termasuk kita mau dipukuli juga kan? (tertawa
menyindir)”
Amin: “Sudah jangan mulai duluan, jangan merusak
pagiku. Sana bangunkan yang lain, malah gak dapat uang nanti mereka”
Kriwul: “Nanti mereka juga bangun bangun sendiri,
kok aneh sekali biasanya tiap pagi mereka
belum bangun, kamu tidak serepot ini Min?”
Amin: “Anggap saja aku mengingatkan mereka agar
semakin banyak penghasilannya, tidak ada tujuan lain”
Kriwul: “Wahh begitu, mungkin dengan mendengarkan
kita berbicara begini mereka akan bangun”
Amin:
“Mungkin, ditunggu saja sebentar lagi. Kau mau ikut aku?”
Kriwul: “Kemana? Ke tempat Pak Basuki itu? Apa kamu
tidak ingat, kamu berutang padanya.
Besar sekali nyalimu”
Amin: “Akan ku bayar juga hari ini, sekalian
mengambil lagi yang baru, aku janji” (bersuara dengan nada lirih)
Kriwul:
“Wah bagus itu, kau sedang banyak uang ya”.
Amin: “Membayar kan tidak harus dengan uang, dengan
apa yang aku punya, mungkin begitu”
Kriwul: “Hahahahha, kau ini sungguh lucu Min. Sudah
sana pergi, sebelum koran-koran itu berubah menjadi bungkus makanan, lalu kau
berusaha mengambilnya, dan kami yang hampir mati dipukuli” (mendelik mata)
Amin: “Ahh semprulll, aku sudah bilang tidak perlu
dibahas. Lagipula bukan mutlak salahku, salah kita, ya sudah terjadi juga.
Kalau begitu aku pergi dulu ya Wul”
Kriwul:
“ Ya pergilah, jangan sampai kehabisan ahahahha”
Amin: “Awas saja, tunggu aku pulang. HAHAHH. Tapi
apa sungguh mereka tidak ada niatan untuk bangun?”
Kriwul: “Sudah, ini biar urusanku, paling paling
mereka bangun setelah ini (menoleh pada Samsi dan Iman). Kau pergi saja dulu,
memangnya membeli koran itu perlu pamit, heh ? (memasang wajah penasaran).
Amin:
“Sudah lupakan saja, nanti tolong kamu bangunkan ya Wul, saya pergi dulu”
Kriwul:
(menganggukan kepala)
Tampaknya setelah kepergian Amin pagi itu untuk membeli koran pada
langganannya, ia tak kunjung kembali, sehari dua hari, tak ada tanda-tanda ia
pulang. Sudah pasti teman-temannya mencari dan bertanya sana-sini, dan belum
juga menemukan titik terang. Ada perasaan gelisah dan Tanya besar dalam pikiran
mereka.
TEPAT DUA MINGGU
KEPERGIAN AMIN
(di markas, hanya ada Samsi dan Iman)
Samsi: “Man, sudah dua minggu ini Amin kok belum
kembali. Apa dia kecewa memiliki kawan seperti kita? Atau dia menikahi seorang
perempuan? Lalu pergi meninggalkan aku, kamu, Kriwul” (wajah muram)
Iman:
“Kamu terlalu keras padanya, dia jadi begitu”
Samsi: “Keras bagaimana? Aku hanya membukakan
pikirannya itu saja, yang aku tahu dia orang yang tebal kuping, alias gak
gampang nesu masio dipaido piye wae”
Iman: “Nah, buktinya dia tidak kembali Sam. Aku juga
bingung jadinya, biar begitu dia teman seperjuangan, iya kan?”
Samsi:
“Bener Man, bener yang kamu bilang itu”
(tak
berselang lama)
(Berlari
dan menghampiri….)
Kriwul:
(terengah-engah) “Sam, Man”
Samsi:
“Ada apa? Kenapa? Kok kamu begitu terkejut?
Iman:
“Orang masih capek habis lari kok kamu tanyai Sam”
Samsi:
“Kamu sebenarnya darimana, kejar maling tho?”
Kriwul: (masih
tetap mengatur nafas) “Ada hal penting yang sangat penting, aku bingung
harus memulai darimana Sam, Man”
Iman:
“Ya dari yang kamu ingat dulu, ada apa memangnya?”
Kriwul: (tiba-tiba
menangis) “Kal kal kalian tahu, aku diberikan ini oleh Pak Basuki (menunjuk
sebuah koran)”
Samsi:
“ Koran? Lalu kenapa koran itu? Kamu kok menangis Wul? (dengan wajah bingung)
Kriwul: “Kamu tahu ini koran siapa? Iniiiiii koran
yang dibeli Amin” (menangis lebih kencang)
Iman:
“Tunggu, tunggu. Apakah tertinggal Wul atau coba jelaskan!”
Kriwul: “Sam, Man, ini memang koran Amin yang
ditemukan di TKP, ini (dompet usang) milik
siapa? Ini milik A A Aminn juga”
Samsi: “Amin?! Dimana Amin Wul dimana? Kita sudah
mencari lama, kamu ketemu dia dimana?
Kriwul:
(bersuara lirih) “Kita akan bertemu
Amin, hari ini juga Sam, Man”
Iman:
“Sungguh? Ayo kalau begitu kita berangkat saja”
Kriwul: (terduduk
lemas) “ Seharusnya pagi itu kalian bangun, seharusnya (menangis kembali) Kita terlambat Sam,
Man. Dia sudah melunasi utangnya”
Samsi:
“Maksudmu bagaimana Wul, utang ? Utang apa Wullllllll? (dengan suara bergetar)”
Iman: “Ayo kita temui Amin, kita bilang bahwa kita
tidak akan melarangnya membaca koran, mengisi TTS tiap pagi, asal dia mau ke
markas ini lagi”
Kriwul: “Hari ini juga kita akan temui dia, kita
akan bawa dia ke markas ini (sambil
menyeka air mata). Kita temui dia disini (menunjukan kertas dengan tulisan tangan):
Jl.
Komp. Rs. Fatmawati No. 1, RT 4/RW. 9, Cilandak, Kota Jakarta Selatan.
Kamar
Jenazah RSUP Fatmawati.
Kriwul:
“Dia telah melunasi utangnya”
SAMSI, IMAN,
KRIWUL TERDUDUK LEMAS. TIDAK ADA YANG BERSUARA, HENING, MUNGKIN DUKA YANG
MENYELIMUTI TELAH MENGUNCI MULUT MEREKA. MEREKA PERGI MENJUMPAI AMIN, DENGAN
IKHLAS. AMIN TELAH MELUNASI UTANGNYA.
SELESAI
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi