NASKAH DRAMA SEPOTONG COOKIES


Sepotong Cookies
Oleh: Herlina Tri Anggraini (170211604579)

Tokoh
1.      Sahrul                          : Sahabat Bram, pemuda polos dan rajin
2.      Alina                           : Sahabat Bram, gadis desa cantik dan lugu
3.      Bram                           : Sahabat Sahrul dan Alina
4.      Cyntia                         : Teman baru Bram
5.      Hansen                        : Kekasih Cyntia
6.      Bude Harti                  : Ibu Sahrul
7.      Bude Jum                    : Ibu Alina
8.      Bude Laksmi               : Ibu Bram
9.      Pak Uztad Sobirin       : Pemuka agama di desa
10.  Pak Rahman                : Bapak Bram
11.  Pak Sutoyo                  : Bapak Sahrul
12.  Dokter
13.  Polisi 1, 2, 3
BABAK 1
ADEGAN I
 (Lampu Fade in, menyorot keluarga Sahrul, suasana desa di pagi hari)
Sahrul : (Adegan Sahrul membantu kedua orang tuanya)
(Lampu Fade in, menyorot keluarga Alina, suasana desa di pagi hari)
Alina : (Adegan Alina menemani ibunya duduk di sebuah bangku)
(Lampu fade out, fade in, menyorot Bram dan keluarga)
Bram  : (Bercengkrama dengan kedua orang tuanya dan terlihat  selalu disayangi)

ADEGAN II
(Lampu fade in)
Pada suatu malam di rumah Bram.
Bram              : Ma, Pa aku ingin berkuliah di Jakarta.
Bu Laksmi     : Tidak, mama tidak setuju. Ada-ada saja kamu ini.
Bram              :  Tapi Bram sudah dewasa dan ingin mandiri.
Bu Laksmi     : (Nada meninggi) Mama bilang tidak ya tidak. Kamu Tanya saja pada papamu apakah diizinkan atau tidak.
Pak Rahman : (Tengah membaca koran) Sebenarnya papa juga kurang setuju kalau kamu kuliah di Jakarta. Di sana tidak ada sanak saudara nak.
Bu Laksmi     : Kami ini sayang sama kamu nak, orang tuamu ini tidak mau kamu sesuatu yang tidak baik terjadi padamu.
Bram              : Kenapa mama dan papa selalu mengekang keinginan Bram. Bram ini ingin mencoba hidup mandiri seperti kawan-kawan Bram, seperi Alina dan Sahrul.
Bu Laksmi     : Hah Alina dan Sahrul. Anak kampungan itu. Sebenarnya mama juga tidak ingin kamu berteman dengan mereka.
Pak Rahman : (Mencoba menyahut) Ma..
Bram              : (Berdiri) Mama tidak berhak melarang aku berteman dengan siapapun termasuk Alina dan Sahrul biarpun mama menganggap mereka kampungan atau buruk bagi Bram.
Bu Laksmi     : (Mengelus kepala Bram) Tapi Bram, mama hanya tidak ingin kamu menjadi anak yang rusak.
Bram              : (Menoba menjelaskan) Tidak ma, mereka tidak merusak Bram. (Pergi meninggalkan mama dan papanya)
Pak Rahman : Tunggu Bram, baiklah papa mengizinkanmu kuliah di Jakarta.
Bu Laksmi     : Tapi, pa.
Pak Rahman : Sudah ma, dia anak semata wayang kita.
Bu Laksmi     : (Dengan sedikit terpaksa) Baiklah.
Bram              : (Berbalik badan dan memeluk papa dan mamanya) Terima kasih mama, papa. Aku sangat sayang kalian.
BABAK 2
ADEGAN III
(Lampu fade in, pagi hari)
 (Di rumah makan Padang milik ayah Bram, tempat Alina bekerja)
Bram              : (Duduk di sebuah bangku) Hai Lin, lagi sibuk ya?
Alina               : (Sedang mengantarkan pesanan pembeli) lumayan Bram. Ada apa?
Datanglah Sahrul yang membeli sarapan.
Sahrul             : Eh Pak Bos ada di sini ternyata.
Bram              : Ah kamu bisa saja Rul.
Sahrul             : (Tertawa) Hahaha.
Bram              : Eh kebetulan kalian di sini. Aku juga kebetulan ingin menyampaikan sesuatu.
Alina               : Mau menyampaiakan apa Bram?
Bram              : Begini Lin, Rul aku kan diterima di Universitas Widya Jakarta, jadi aku mau pamintan sama kalian.
Sahrul             : Wah senang mendengarnya Bram. Jujur aku juga ingin kuliah, tapi untuk saat ini masih sulit. Selamat ya (menepuk pundak Bram).
Alina               : Wah selamat ya Bram, kami pasti akan merindukanmu karena jarang bertemu.
Bram              : (Meledek Alina) Jangan sedih gitu dong Lin.
Alina               : Nggak, aku nggak sedih kok.
Sahrul            : (Ikut meledek Alina) Kok nangis.
Alina               : (Muka kesal) Ih enggak.
Tiba-tiba Bu Laksmi (Ibu Bram) melintas di depan mereka yang tengah bercengkrama.
Bu Laksmi     : (Berdehem sambil melirik sinis pada Alina dan Sahrul) Ehem, ehem.
Alina               : (Mengangguk) Bu Laksmi, baik bu saya akan bekerja dengan baik.
Bu Laksmi     : Jangan kalian dekati anak saya. Kalian tidak pantas.
Bram              : Ma, sudah. Mereka tidak seburuk itu.
Alina               : Sudah Bram, kita tidak apa-apa kok. Lagian mamamu juga tidak salah.
Sahrul             : Iya Bram.
Bram              : (Memohon kepada mamanya) Tidak tidak Lin tidak, Ma sudahlah.
Sahrul             : Oh iya, pesananku sudah selesai aku mau langsung pergi kerja dulu ya. Assalamu’alaikum.
Alina, Bram, B. Laksmi: Wa’alaikumsallam.
Alina               : (Dengan muka sedih) Aku juga mau balik  ke belakang dulu.
Bram              : (Memasang muka kesal) Mama kenapa sih?
Bu Laksmi     : (Mengelus pundak Bram) Sudahlah, mama hanya sayang padamu Bram, mengertilah itu.




BABAK 3
ADEGAN IV
(Lampu fade in, suasana pagi hari)
(Bram mengundang Sahrul dan Alina untuk makan di rumahnya)
Bram              : Oh iya langsung saja, kenalin ini Alina dan ini Sahrul teman Aku.
Cintya             : (Menyalami Alina dna Sahrul) Namaku Cintya dan ini pacar aku, Hansen.
Hansen           : (Menyalami Alina dan Sahrul) Hansen (memainkan tangan Alina).
Alina               : (Segera melepas tangan Hansen).
Sahrul             : Oh iya, bagaimana kuliahmu Bram?
Bram              : Asik banget kok, apalagi ada dua temanku ini Cintya dan Hansen.
Hansen           : Hahaha bisa aja kamu.
Cintya             : (Tertawa kecil)
Alina               : (Tertawa) Memang suka begitu dia.
Sahrul             : Oh iya Bram, sudah malam aku dan Alina pulang dulu ya.
Bram              : Buru-buru banget sih.
Alina               : Kan takutnya timbul fitnah, sudah malam.
Bram              : Iya sudah kalau begitu hati-hati.
Alina               : Assalamu’alaikum.
Bram              : Wa’alaikumsallam.
(Lampu Padam)
BABAK 4
ADEGAN V
Seminggu kemudian, di kamar Bram saat Bram tengah di luar rumah.
Hansen           : (Menunjukkan tanda-tanda sakau)
Cintya             : Kamu kenapa Sen.
Hansen           : Sepetinya aku sakau Cin, sudah seminggu aku gak ngonsumsi.
Cintya             : Bagaimana kalau kita beli saja.
Hansen           : Yang bener aja kamu. Pasti kita dicurigai.
Cintya             : Kan ada cookies.
Hansen           : Wah pintar juga kamu. Kamu hubungi sekarang kurirnya, aku sudah gak kuat.
(Cintya menghubungi kurir)
Cintya             : Hallo, ini saya Cintya. Tolong kirimkan 2 kotak Cookies ke alamat ini.
(Beberapa jam kemudian)
Cintya             : (Menerima paket dari kurir dengan tangan gemetar) Terima kasih pak.
(Tak sengaja Bram melihatnya dan mengikutinya)
(Cintya dan Hansen tengah memakan cookies)
Bram              : Kalian makan apa?
Hansen           : (Berkata pada Cintya) Udah jujur raja.
Cintya             : Kamu mau ambil aja, ini kan makanan kesukaanmu.
Bram              : Wah iya (Memakan cookies)
Hansen           : Gimana enak kan?
Bram              : Iya.
(Selang beberapa menit kemudian)
Bram              : (Merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya) Eh tiba-tiba kok aku keliyengannya ya.
Cintya            : (Tersenyum sinis)
Hansen           : Sejujurnya itu adalah cookies ganja.
Bram              : (Terkejut dan memuntahkannya) Apa maksudmu?
Cintya             : Iya, itu adalah cookies ganja. Kami ini pengguna.
Bram                : (Hendak marah namun ada sesuatu yang mempengaruhinya untuk memakan cookies itu kembali hingga akhirnya ia kecanduan).
(Lampu padam)
BABAK 5
ADEGAN VI
(Lampu fade in, suasana sore hari)
Alina               : (Dengan nafas tersengal-sengal) Bram, Sahrul.
Sahrul             : Eh Alina, kebetulan ini Bram lagi bagi-bagi oleh-oleh katanya dari Hansen.
Alina               : (Curiga) Oh iya, terima kasih.
Bram              : Oh iya, aku pergi dulu ya.
Alina               : Kenapa terburu-buru?
Bram              : Tidak apa-apa kok.
(Bram pergi meninggalkan Alina dan Sahrul)
Alina               : Rul, tadi aku hampir dilecehkan Hansen teman Bram. Aku curiga deh ada sesuatu yang gak bener.
Sahrul            : Yang benar saja kamu Lin?
Alina               : Iya bener. Aku curiga sama oleh-oleh itu deh. Lebih baik jangan kamu makan dulu Rul.
Sahrul            : Okelah Lin.
Alina               : Aku punya rencana, bagaimana kalau besok main ke rumah Bram dan lihat seperti apa mereka.
Sahrul            : Iya lin.
BABAK 6

ADEGAN VII
Keesokan harinya, di kediaman Bram. Suara  sirine polisi mengepung kediaman rumah Bram. Suasana tampak mencekam.
Polisi 1            : (Mengetuk pintu rumah Bram) Buka pintunya sekarang juga.
Tidak ada respon sama sekali dari penghuni rumah.
Polisi 2            : (Mendobrak pintu rumah)
Polisi 3            : (Matanya mencari-cari keberadaan Cintya dan Hansen)
Polisi 1            : Sepertinya di sana ada suara Pak.
Polisi 3 &2     : (Bergegas menuju tempat suara)
(Bram, Hansen dan Cintya tergolek tak berdaya karena sakau).
(Tiba-tiba Sahrul datang, sehingga ia  meyaksikan kejadian penangkapan tersebut).
Sahrul            : Ada apa ini pak?
Polisi 3            : Mereka adalah buronan, karena diduga kuat telah menyalahgunakan dengan memiliki dan mengkonsumsi.
Sahrul            : Wah tidak mungkin pak, mereka anak baik-baik.
Polisi 2            : Mari ikut kita ke rumah sakit, kita buktikan bersama-sama dengan tes urin dan darah.
(Bergegas menuju rumah sakit)

ADEGAN VIII
(Lampu fade out, latar berada di rumah sakit dengan penjagaan sangat ketat oleh polisi)
Dokter                        : (Memeriksa keadaan dan melakukan tes darah)
Pak Sutoyo     : (Menghubungi kedua orang tua Bram)
Dokter                        : Hasil tes darah menyatakan bahwa ketiga anak ini positip narkoba.
Pak Sutoyo     : (Terkejut)
Sahrul              : (Terkejut) Apa dok, narkoba?
Dokter                        : Iya. Kemungkinan besar mereka sakau.
Sahrul             : (Menghungi Alina untuk segera datang).
(Orang tua Bram datang bersama Alina)
Pak Rahman  : Bagaimana keadaan Bram?
Dokter                        : Ibu yang sabar, mereka bertiga positip narkoba.
Bu Laksmi     : (Pingsan).
Bu Jum, Alina: (Membopong Bu Laksmi).
Pak Rahman  : (Terkejut dan hampir pingsan) Tidak mungkin.
Bu Harti         : (Sambil sesekali menangis) Sabar pak, kita cari solusinya bersama-sama.
Pak Rahman : Baiklah saya ingin mereka direhabilitasi dan mendapat bimbingan spiritual. Setelah mereka sadar, panggilkan Pak Uztad Sobirin.
(Tiba-tiba Bram tersadar)
Bram              : Ma, Pa maafin Bram.
Pak Rahman : (Hendak menampar Bram, namun dicegah oleh Pak Sutoyo).
Bu Laksmi     : (Tersadar) Kamu kenapa seperti ini nak?
Bram              : Bram merasa terkekang ma. Mama dan Papa selalu membatasi gerakku. Aku ingin berteman dengan orang lain mama selalu melarang. Hingga ahirnya secara tidak sengaja aku terjerumus dalam bujuk rayu narkoba, menuruti temanku dan aku meneruskannya. Maaf ma.
Bu Laksmi     : (Menangis) Maafkan mama nak, mama yang terlalu sayang padamu hingga mama terlalu mengekangmu. Mama tidak tahu mana yang selama ini baik untukmu. Alina dan Sahrul yang mama nilai buruk ternyata tidak seburuk penglihatan mama. Sedangkan Cintya dan Hansen malah tidak mama sangka menjerumuskanmu.
Semua            : (Menangis).
(Semua saling memeluk Bram secara bergantian)
Pak Rahman : (Berbicara dengan nada memohon) Pak saya mohon, biarkan anak saya menjalani rehabilitasi dan bimbingan spiritual. Selanjutnya pihak berwajib boleh memproses anak saya sesuai prosedur.
Polisi 1            : Ya, akan kami perbolehka, namun dengan pengawasan pihak berwajib.
Pak Rahman : (Menyalami polisi) terima kasih Pak.

Bram mejalani rehabilitasi dengan pihak BNN dan bimbingan dari Uztad Sobirin, namun dengan pengawasan pihak berwajib, hingga nantinya akan dilakukan penindakan oleh pihak berwajib. Sedangkan Cintya dan Hansen dipulangkan oleh polisi ke pada orang tuanya dan selanjutnya akan dilakukan penindakan sesuai prosedur. Semua pihak saling menyadari kesalahan masing-masing dan berniat untuk tidak mengulanginya kembali.

TAMAT





Tentang Penulis


Nama asli Herlina Tri Anggraini. Herlina, anak bungsu dari 3 bersaudara, lahir di Banyuwangi pada 29 Desember 1998, dari seorang ayah pedagang dan ibu seorang ibu rumah tangga yang ingin agar anak-anaknya berpendidikan tinggi. Herlina merupakan lulusan dari SMP Negeri  1 Cluring tahun 2014. Kemudian menlanjutkan pendidikan SMA-nya di sebuah SMA di Bnayuwangi yakni SMA Negeri 1 Glagah, dan lulus pada tahun 2017. Saat ini Herlina sedang menempuh pendidikan S1-nya di sebuah perguruan tinggi, yakni Universitas Negeri Malang, dengan mengambil jurusan Sastra Indonesia, prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) sebagai angkatan tahun 2017.




Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK